RE:Verse

RE:Verse
19. Peringkat Tiga



Estelle melangkah memasuki arena untuk melakukan pertandingan putaran ketiga. Sorakan yang dia dengar dari arah penonton tidak begitu dipedulikan olehnya. Apa yang menjadi fokusnya hanya satu, yaitu untuk mengalahkan musuhnya secepat yang dia bisa seraya membuktikan keterampilan pedang hebatnya.


Kemarin dia sudah dipermalukan oleh seorang petualang di hadapan putra bangsawan lain. Petualang itu juga meremehkan kemampuannya dan mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya hanya mengalah padanya. Tentu saja hal ini membuat Estelle sangat kesal.


Hari ini dia akan membuktikan pada petualang itu bahwa dirinya bisa menang dengan mudah bahkan saat melawan siswa dari negara lain. Setidaknya seperti itulah rencana pada awalnya. Akan tetapi, setelah melihat bahwa lawannya hanyalah seorang gadis yang tampak lebih muda darinya, Estelle tambah kesal. Dia merasa bahkan akademi ini juga meremehkannya dan memberikan hak istimewa untuk melawan perwakilan terlemah mereka. Walaupun begitu, dia tidak bisa protes kepada tuan rumah hanya karena sesuatu seperti ini. Lagipula menentukan siapa yang akan dia hadapi bukanlah haknya. Jadi, Estelle dengan terpaksa menerimanya dan bermaksud untuk menyelesaikan semuanya secepat mungkin.


Ketika suara penanda bahwa pertandingan dimulai berbunyi, Estelle berkonsentrasi pada sebuah cincin yang melekat di jari manis tangan kirinya. Benda itu adalah item sihir buatan para dwarf yang disiapkan kerajaan untuknya. Batu permata zamrud yang tertanam di dalamnya merupakan batu sihir yang menyimpan mana dalam jumlah besar.  Ketika dia mengaktifkannya, mana di dalamnya akan mengalir ke dalam tubuh dan memperkuat semua otot dan tulangnya.


Teknik ini disebut sebagai seni augmentasi dan merupakan hal dasar yang harus dikuasai oleh para petarung.


Memang kelihatan cukup praktis saat orang-orang melihatnya. Namun, sebenarnya memusatkan perhatian pada aliran mana sambil fokus bertarung merupakan hal yang sulit. Jadi, seseorang yang sanggup menggunakan augmentasi ke seluruh tubuhnya cukup jarang ditemui. Karena alasan ini pulalah Estelle hanya mengalirkannya pada kedua kaki, tangan kanan, dan kedua bola matanya saja untuk mempertahankan konsentrasinya.


Kedua kakinya diperkuat, membuatnya dapat berpindah dengan sangat cepat. Tangan kanannya kini bahkan bisa meremas batu sampai hancur. Sementara itu, ketajaman penglihatannya akan mengimbangi pergerakannya yang meningkat.


Sebagai pelopor, keempat tempat ini merupakan batas minimum yang harus mendapat perhatian lebih.


Ketika Estelle selesai dengan persiapannya yang hanya memakan waktu beberapa detik, dia mulai menarik pedang kesayangannya dan bersiap untuk menyerang.


Pedang miliknya merupakan pedang satu tangan yang tipis dan ringan. Lebar pedangnya juga cukup sempit sehingga agak tidak efektif bila digunakan untuk menebas. Oleh karena itu, aliran seni pedang yang dipilih oleh Estelle adalah Aliran Pedang Salvator. Sebuah aliran kuno yang dipelopori oleh Keluarga Knight Salvator di masa lalu. Mereka juga keluarga yang pertama kali mengenalkan rapier ke dunia dan mempopulerkannya hingga sekarang.


Pedang milik Estelle bukanlah rapier asli, melainkan hanya pedang pendek hybrid yang hampir menyerupai rapier. Bahan pembuatannya merupakan logam langka yang ringan dan kuat, sebuah logam yang disebut Mithril. Selain itu, pedangnya juga ditanami batu sihir yang dapat diganti ketika jumlah mana yang berada di dalamnya habis terpakai. Batu itu menambahkan atribut angin saat diaktifkan, membuat bilah dan mata pedangnya jauh lebih tajam daripada pedang biasa. Bersama dengan pedangnya, Estelle dapat memotong bongkahan besi tanpa kesulitan yang berarti.


Ketika dirinya bersiap untuk menyerang, suara khas gadis kecil tiba-tiba menggetarkan gendang telinganya.


"Wah, wah. Setelah memaksaku yang bukan seorang petarung untuk ikut meramaikan pertandingan, mereka memasangkanku dengan seorang gadis kecil imut. Apa yang sebenarnya akademi ini inginkan dari kita berdua?"


Estelle yang mendengar kalimatnya menjadi semakin kesal. Dilihat dari mana pun, lawan di hadapannya jauh lebih kecil daripada dirinya. Selain itu, dia bahkan tidak membawa senjata yang layak untuk menandingi pedang langka miliknya.


Tanpa mau repot-repot membalasnya, Estelle langsung melesat ke arahnya dengan kecepatan penuh. Dia memotong jarak di antara keduanya hanya dengan dua kali lompatan dan langsung mengarahkan mata pedangnya tepat ke arah leher gadis kecil itu.


Waktu seakan berjalan lebih lambat di depan penglihatannya yang dipertajam oleh sejumlah besar mana. Estelle bahkan sanggup memperhatikan ujung mata pedangnya yang kini telah menyentuh batas kulit leher kecil musuhnya. Kemudian, pedang itu menembusnya dengan mudah seakan memotong mentega.


A-apa yang terjadi?!


Estelle yang menyadarinya mulai panik. Seharusnya pedang itu terhalang oleh perisai sihir yang disiapkan pihak penyelenggara untuk menghidari luka fatal dan kematian. Akan tetapi, pedangnya tidak mengenainya dan malah menembus langsung ke leher gadis itu. Tentu saja dia menjadi panik. Apalagi tempat dimana dirinya menusuk adalah salah satu bagian paling vital.


Ketika Estelle masih jatuh ke dalam kepanikan dan menghentikan pergerakannya untuk sesaat, dia tiba-tiba mendengar suara menjengkelkan itu lagi.


"Whoa?! Penampilan memang bisa menipu! Benar-benar gadis imut yang mengerikan!"


Estelle berbalik dan melebarkan pandangannya ketika mendapati seorang gadis kecil berdiri tak jauh darinya. Sosok itu memegang dadanya sendiri, seakan dikejutkan oleh sesuatu.


[Luar biasa! Serangan kejutan yang dilakukan oleh Yang Mulia Putri Estelle berada dalam kecepatan yang mengejutkan. Akan tetapi, Cellica dapat mengimbanginya dan menghindar pada saat-saat terakhir!]


Seketika itu juga suasana arena menjadi riuh dipenuhi oleh suara-suara penonton. Beberapa orang bahkan berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan, semakin memeriahkan pertarungan diantara keduanya.


"Ap-bagaimana bisa?!"


Walaupun suasana menjadi lebih berisik dari sebelumnya, Estelle mengabaikan semuanya karena masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebelumnya dia telah melihat gadis itu tertusuk tepat pada bagian leher. Dia bahkan mengkonfirmasinya dengan sangat yakin berkat augmentasi yang dilakukannya terhadap kedua bola matanya sendiri. Namun, kenyataannya gadis itu masih berdiri tanpa sedikit pun terluka.


"Jika itu peserta lain, mereka pasti sudah kehilangan satu poin sekarang." Gadis itu memujinya secara tidak langsung, tetapi Estelle sama sekali tidak senang. "Baiklah, mari kita serius."


Wajahnya yang ceria kini berubah. Gadis kecil itu menatap dengan pandangan yang tajam seraya menyunggingkan senyum ejekan. Dia melompat-lompat kecil untuk beberapa waktu, mengayunkan tinjunya berulang kali seakan sedang melakukan pemanasan.


Menyadari perubahan dari pergerakannya, Estelle juga mempersiapkan dirinya dengan baik. Berkat kemampuan gadis itu dalam menghindari serangan berkecepatan tinggi dari pedang miliknya, dia tidak akan lagi meremehkan lawan di hadapannya. Estelle sekarang yakin bahwa gadis kecil itu bukanlah musuh yang dapat dia anggap remeh.


Senjatanya hanyalah sepasang gauntlet. Jadi, jangkauan serangannya tidak akan terlalu jauh. Ditambah lagi kedua tangannya sangatlah kecil dan pendek. Di sisi lain, Estelle menggunakan pedang satu tangan ringan. Dia memiliki kelebihan pada jangkauan serang senjatanya. Jika dirinya memanfaatkan hal ini dengan baik dan menjaga dirinya tetap berada di luar jangkauan gauntlet, Estelle pasti akan menang.


Memegang keyakinan ini, dia mempersiapkan diri untuk bertahan dari serangan yang mungkin dilakukan oleh musuhnya.


"Gelombang pertama, setengah dari kekuatanku. Kusarankan kau untuk menghindarinya apa pun yang terjadi. Aku datang!"


Jika Estelle berniat untuk menghindarinya secara menyeluruh dan memperlebar jarak, maka dia harus berbalik dari posisinya sekarang dan menggoyahkan keseimbangannya sendiri. Hal ini berisiko mengingat betapa cepat pergerakan gadis kecil itu. Saat musuhnya memutuskan untuk mengejar, Estelle yakin dirinya tidak akan bisa mengelak lagi. Menghindari serangannya pun bukan ide yang baik. Gadis kecil itu belum menunjukan tanda-tanda akan menyerang. Dia hanya melesat ke arahnya dengan sangat cepat. Jadi, Estelle tidak tahu sama sekali apakah musuhnya akan menyerangnya dengan tinju ataukah tendangan.


Di tengah penilaiannya, jarak mereka sudah sangat dekat. Estelle telah memasuki jangkauan serang dari gauntlet dan melihat gadis itu mengayunkan tangan kanan ke arahnya. Menyadari hal ini membuat Estelle secara reflek menghalangi lintasan serangan musuhnya dengan menggunakan pedang miliknya. Dia mengubah aliran mana miliknya hanya kepada kedua tangan dan kakinya untuk menahan serangan tersebut.


Bilah pedang dan gauntlet beradu, mengeluarkan bunyi melengking layaknya tumbukan antara logam dengan logam. Dia pikir dengan tubuhnya yang diperkuat oleh mana, dirinya dapat menghentikan serangan gadis kecil itu. Akan tetapi, Estelle bahkan tidak bertahan lebih dari dua detik. Sebagai gantinya, dia kehilangan keseimbangan pijakannya dan terdorong ke belakang.


"Kuh!"


Dia memekik dan berguling beberapa kali. Saat tubuhnya membentur tanah, Estelle melihat bgaimana perisai sihir miliknya pecah. Pedang miliknya terlepas dari genggamannya, terlempar dan jatuh tak jauh darinya.


Suasana arena tiba-tiba menjadi hening. Namun, saat tubuh Estelle berhenti berguling, suara berisik dari berbagai arah bahkan lebih intens. Komentar-komentar penuh sukacita yang beresonansi juga terdengar jauh lebih bersemangat dari sebelumnya.


[Cellica mendapatkan satu poin hanya dalam satu serangan! Kekuatan monsternya memang tidak perlu diragukan lagi!]


Ketika mendengar kalimat seperti itu, gadis tersebut berbalik menghadap kursi komentator dan meneriakinya dengan kesal. Dia menunjuk ke arah salah seorang siswa laki-laki yang sedang memegang sebuah alat sihir di depan mulutnya.


"Hei apa-apaan dengan panggilan itu?! Turun kau ke sini, idiot! Beraninya kau menyebutku monster!"


Melihat bahwa musuhnya sedang lengah, Estelle segera meraih pedang sihirnya. Sensasi ngilu pada kedua tangannya membuat dia bergetar, tetapi Estelle berusaha mengabaikannya. Dia kembali menggunakan augmentasi pada kedua kaki, mata, dan tangan kanan seperti sebelumnya. Lalu, dia melesat ke arah gadis yang memunggunginya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencapai kecepatan maksimal.


"Cepat turun dan hadapi ak-- bhuakh!"


Kali ini ujung mata pedangnya berhasil mendarat di punggung gadis kecil itu, membuat musuhnya jatuh tersungkur ke depan dan menghantam tanah dengan keras. Gadis itu bahkan sempat berguling untuk beberapa saat sebelum akhirnya terkapar di tanah.


[Oh! Seperti yang diharapkan dari Tuan Putri Kerajaan Ignis! Beliau sanggup mendaratkan pukulan mematikan pada si maniak gila itu dan mendapatkan poin balasan!]


Para penonton saling menyuarakan teriakan semangat mereka. Tidak sedikit dari mereka yang tertawa disertai dengan tepuk tangan meriah. Mereka mungkin menganggap cara Estelle mendapatkan poin itu cukup konyol. Namun, karena tidak ada aturan yang melarang untuk menyerang dari belakang, kesalahan sepenuhnya dipegang oleh lawannya yang tidak fokus pada pertandingan dan serangan Estelle dianggap tidak melanggar aturan.


"Kau," gadis kecil itu mulai bangkit dari tanah seraya mengucapkan kalimat protes, "dasar bocah nakal! Tidak boleh menyerang saat ak-- whoa?!"


Tanpa menunggu gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Estelle memotong jarak secepat yang dia bisa dan mengayunkan pedangnya. Namun, reflek musuhnya saat sedang fokus ke arahnya berada pada tingkat yang luar biasa. Akan sulit bagi Estelle untuk kembali mendapatkan poin jika gadis itu memperhatikannya. Walaupun begitu, Estelle terus melakukan serangan tanpa memberikan kesempatan bagi lawannya untuk meninggalkan posisi bertahan.


Dia menjaga jangkauan pedangnya pada batasan maksimum guna menjauhkan diri dari pengguna gauntlet itu. Estelle terus menekannya dari luar lingkup serangan lawannya. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari serangannya yang bisa mengenai gadis itu.


Dia kuat ... dia sangat kuat.


Setelah menghindari semua serangannya cukup lama tanpa sedikit pun melakukan kesalahan, gadis itu tiba-tiba mengubah gerakannya. Dia menangkis tusukan menggunakan gauntlet-nya dan membuka sedikit jeda pada serangan pedang Estelle yang berkepanjangan. Kemudian, gadis itu menyeringai seraya mengayunkan tinju tangan kirinya.


"Giliranku~"


Berdasarkan serangan sebelumnya, Estelle tahu bahwa menahan serangannya tidaklah mungkin. Menghindari pukulannya juga akan berbahaya karena gadis itu mungkin akan melanjutkan serangannya menggunakan tangan kanan. Jadi, dia memilih untuk melompat mundur sejauh yang dia bisa, berusaha keluar dari jangkauan serang gauntlet musuhnya.


Jarak di antara mereka terbuka lebar. Walaupun begitu, Estelle sama sekali tidak menurunkan penjagaannya. Dia sangat yakin bahwa gadis itu dapat memotong jarak dengan mudah kapan pun yang dia mau. Akan berbahaya jika Estelle tidak memperhatikannya walau hanya satu detik.


"Kusarankan kau untuk menghindar." Gadis itu mulai menyusun kuda-kudanya lagi. "Aku datang!"


Estelle melihatnya melesat dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Menjauh darinya dan menjaga jarak tidaklah mungkin. Jadi, dia juga mempersiapkan dirinya dan menyerang saat gadis itu masuk ke dalam jangkauan pedangnya.


Pedang sihir melesat dengan tebasan vertikal ke bawah, mengincar bahu kiri lawannya dengan harapan dapat melukainya sebelum serangan gadis itu mencapai dirinya. Dia mengerahkan segala kekuatannya pada serangan itu. Namun, saat bilah pedang dan gauntlet akan beradu, sebuah kilatan hitam menghantam pedangnya hingga terlepas dari genggaman Estelle.


Suara dentingan logam tidak bertahan lama karena sesaat setelahnya terdengar gemuruh tepat di hadapan Estelle. Debu dan tanah tiba-tiba terhempas oleh angin hingga mengaburkan pandangan, membuatnya terbatuk untuk beberapa waktu.


Tangan kanannya terasa ngilu akibat momentum yang dihasilkan dari tumbukan pedangnya. Walaupun begitu, Estelle tidak terlalu memperhatikannya. Dia hanya menatap kosong pada sosok berambut hitam yang kini berdiri tidak jauh darinya.


-------------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu, 29 Februari 2020 Pukul 12:00 PM


Note : -