
Baru sehari terlewat setelah pertarungan sengit Alma yang membuat tubuhnya rusak. Seharusnya wajar jika perkembangan penyembuhan Alma masih belum ada peningkatan sama sekali. Jadi, alasan yang mendasari kenapa Carmen ingin menjenguknya jelas bukan karena hal itu.
Sebenarnya sejak pertama kali kami bertemu, gadis pendeta ini memang sudah menunjukan perilaku yang aneh. Aku sendiri masih tidak begitu paham dengan jalan pikirannya. Memangnya dia tidak punya pekerjaan lain di kuil?
Ketika kami memasuki salah satu kamar di penginapan, pandangan mata Carmen langsung menuju ke salah satu dari dua tempat tidur yang ada di sana. Tidak perlu ditanyakan lagi, pastinya dia memandangi Alma yang terbaring tidak sadarkan diri.
Tubuh kecil Alma hanya ditutupi oleh sehelai kain putih tipis hingga batas leher. Sementara itu, topeng persona yang dia pakai masih tetap menempel erat dan menutupi seluruh wajahnya.
"Bolehkah aku melihat luka-lukanya?" Carmen meminta izin padaku.
Sebenarnya agak aneh mendengar dia bertanya seperti itu. Maksudku, pertanyaannya lebih cocok jika ditanyakan kepada Alma selaku pemilik luka. Namun, karena dia tidak sadarkan diri, seharusnya tidak apa-apa untuk langsung memeriksanya tanpa perlu bertanya pada siapa pun.
Ah, apa mungkin karena di balik selimut itu tubuh Alma tidak ditutupi pakaian sama sekali? Tetap saja, mereka dari gender yang sama, 'kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yah, bukan berarti aku akan khawatir jika yang melihatnya adalah laki-laki.
Tunggu dulu, mungkin Carmen bertanya karena aku adalah kakaknya? Kalau tidak salah, hubungan darah di dunia fana saling mengikat begitu erat. Jadi, dia meminta izin karena aku adalah keluarganya. Untung saja aku segera memahaminya sebelum bertindak ceroboh dan mencurigakan.
"Tentu." Aku memberikan persetujuanku.
Perlahan Carmen mulai membuka kain yang menutupi tubuh telanjang Alma.
Tangan kiri Alma meleleh sampai tulang lengannya dapat kami lihat dengan jelas. Sementara itu, tangan kanannya benar-benar hanya menyisakan tulang saja tanpa sedikit pun daging yang tersisa.
Kulit dan lemak di bagian perut dan dada sudah benar-benar meleleh, hanya menyisakan serat-serat otot yang rusak. Ah, aku bisa melihat rongga dadanya yang sedikit terbuka dan denyut jantung Alma yang masih berdetak. Entah kenapa aku merasa bahwa ini adalah pemandangan yang bagus.
"Luka yang benar-benar mengerikan. Sebenarnya iblis macam apa yang menjalin kontrak dengannya?"
Carmen yang bergumam seperti itu membuatku kembali mengingat penjelasannya kemarin. Sederhananya, tubuh yang dirasuki iblis dinamai sebagai kontraktor. Walaupun orang yang melakukannya dapat memiliki kekuatan besar secara langsung, tetapi jiwa mereka akan saling memengaruhi. Oleh karenanya, jika kontraktor dan jiwa yang terikat pada tubuhnya tidak memiliki ambisi yang sama, mereka akan berusaha untuk melenyapkan jiwa satu sama lain.
Sebenarnya sebelum aku terjebak di masa lalu, hal seperti kontraktor itu tidak ada. Sebagai gantinya, kami hanya menyebutnya sebagai kebangkitan yang tidak sempurna. Namun, kebangkitan tidak sempurna dengan kontraktor adalah kasus yang agak berbeda.
Kebangkitan tidak sempurna merujuk pada makhluk dari Tartarus atau Heaven yang dimanifestasikan ke dunia fana melalui tubuh yang sudah ada. Dalam kasus ini, hanya tubuh makhluk yang sudah tidak memiliki jiwa yang dapat digunakan. Sebagai hasil dari ritual pemanggilan tersebut, jiwa yang dipanggil dapat mengendalikan tubuh itu dan hidup seutuhnya di dunia fana. Ya, seperti diriku saat ini yang terjebak dalam tubuh anak manusia.
Perbedaan kontraktor dengan kebangkitan tidak sempurna bukan hanya di situ saja. Ketika melakukan ritual pemanggilan untuk kebangkitan tidak sempurna, sama sekali tidak ada risiko bahwa tubuh akan hancur hanya karena ketidak cocokan. Kekuatan dari jiwa yang dipanggil akan tetap sama, hanya saja tubuh mereka menjadi lemah dan butuh menyesuaikan diri dengan tubuh yang terlampau kecil. Sementara itu, kontraktor memiliki efek samping yang mengerikan. Jika tidak memenuhi kondisi-kondisi tertentu, tubuh kontraktor akan hancur dengan sendirinya.
Menurut Carmen, Alma adalah kontraktor. Untungnya, jiwa iblis yang menjalin kontrak dengannya tidak mengendalikan tubuhnya dan hanya meminjamkan kekuatannya kepada Alma. Omong kosong apa lagi ini?
Jiwa iblis yang dimaksud olehnya pastilah Fiora. Tidak mengendalikan tubuh Alma? Justru Fiora yang selama ini menggerakkan tubuh itu karena Alma yang asli sudah mati. Lagipula dia sendiri mengakui bahwa identitas sebenarnya di balik tubuh kecil itu adalah salah satu bawahanku, Gatekeeper Fiora. Jadi, mustahil Almaria yang mengendalikan tubuhnya.
Yah, aku juga tidak bisa menyalahkan Carmen. Dia pasti menilai berdasarkan tindakan Alma yang melawan hellhound dan archdemon alih-alih menjadi sekutu mereka.
Lupakan masalah sepele itu untuk sementara.
Uniknya, saat aku ragu apakah Alma adalah kontraktor atau kebangkitan tidak sempurna, ciri-ciri dari efek samping seorang kontraktor terpampang jelas di hadapan kami. Saat itulah kasus ini menjadi jauh lebih rumit dari yang aku kira.
Berdasarkan apa yang dijelaskan Carmen, tubuh Alma rusak karena tidak memenuhi kondisi dimana dia dapat menggunakan kekuatan sebesar itu. Sebagai hasilnya, kumpulan mana kegelapan yang sangat kental mulai menyebabkan semacam korosi pada tubuhnya sendiri hingga terlihat layaknya lilin yang meleleh. Sederhananya, Alma tidak memiliki cukup dosa untuk menahan kekuatan sejati Fiora.
Aturan konyol apa lagi ini?! Siapa yang menambahkan aturan bodoh macam ini? Apakah semua kekonyolan ini juga disebabkan oleh sihir yang digunakan Sang Pahlawan? Dunia ini menyimpang semakin parah.
"Untung saja sihir penyembuhku bisa menutup semua pendarahannya."
Ah, jujur aku berterima kasih padamu karena sudah melakukannya. Tubuh Alma jadi stabil berkat sihirmu. Tapi tetap saja, aku masih agak kesal dengan semua penjelasan konyol yang kau katakan seolah-olah ini adalah hal yang lumrah. Padahal jelas-jelas dulu tidak ada aturan seperti itu!
Tunggu dulu. Bukankah sejak awal konsep sebab-akibat di dunia ini sudah mulai tidak konsisten? Maksudku, saat pertama kali aku memanggil Fiora, tubuhnya baik-baik saja. Padahal waktu itu tubuh Alma benar-benar menahan seluruh kekuatan Fiora. Seharusnya jika aturan ini mulai berlaku sejak Pahlawan merapalkan mantra padaku, tubuhnya akan langsung meleleh tidak bersisa.
Hal ini juga terjadi pada saat kami masuk ke dalam markas para bandit. Aku masih ingat dengan jelas bahwa Alma menggunakan Mantra Orbis yang merupakan sihir kegelapan tingkat empat belas dan tubuhnya tidak mengalami hal buruk apa pun. Kalau begitu, apakah aturan dasar tentang kontraktor ini baru berlaku beberapa waktu lalu?
Sungguh kenyataan yang merepotkan ...
Ah! Tidak ... jangan katakan ...! Jangan-jangan aku juga akan mengalami hal yang sama jika melepas segelku?! Mengerikan ... benar-benar mengerikan!
"Kabar baiknya, Robbert dapat menggunakan reverse untuk menyembuhkannya."
Kalimat yang diucapkan oleh Carmen sesaat yang lalu lebih dari cukup untuk membuatku tersentak karena terkejut. Dia mengucapkan sesuatu yang sangat ingin aku ketahui dengan nada santai.
"Reverse?!"
"Semacam sihir unik yang hanya bisa digunakan oleh Robbert. Mantra itu sanggup memundurkan urutan kejadian yang menimpa sebuah objek."
Robbert, ya? Seorang pendeta yang menduduki kursi ketiga dalam ordo. Tidak kusangka aku menemukan informasi ini secara kebetulan. Kalau memang konsepnya seperti itu, maka tidak heran jika diriku dipaksa mundur 3.000 tahun oleh sihir ini. Namun, bagaimana bisa sebuah sihir ilusi memengaruhi dunia?
Selain itu, kenapa Robbert juga bisa menggunakannya?
Apakah Sang Pahlawan adalah keturunan Robbert di masa depan? Jika memang benar demikian, kenapa aku tidak pernah tahu sebelumnya bahwa ada pendeta sekuat Robbert di masa lalu? Aku benar-benar bingung.
"Satu minggu." Masih tenggelam dalam pemikiranku sendiri, Carmen tiba-tiba berkata seperti itu.
"Maksud Anda?"
Walaupun aku menyebutnya sebagai Carmen dalam pikiranku untuk memudahkanku dalam membedakan dia dengan pendeta lain, tentu saja tidak mungkin aku menggunakan bahasa yang tidak hormat kepadanya. Aku hanya pernah memanggil namanya secara langsung pada saat Alma memggunakan mantra razrusheny. Sisanya, aku selalu berbicara sopan dan formal kepadanya.
"Beri aku waktu satu minggu. Robbert sudah menggunakan reverse kepadaku karena kemarin aku sempat kehabisan seluruh mana dan terluka. Dia membutuhkan waktu satu minggu untuk dapat menggunakannya lagi."
Ternyata mantra itu membutuhkan cooldown, ya? Bagaimana bisa mantra yang bukan bertipe kegelapan memiliki cooldown seperti itu? Sekarang aku jadi agak penasaran.
Khusus untuk mantra suci, selain mereka yang membutuhkan grimoire sebagai katalis, para penghuni langit memiliki organ khusus yang kami sebut sebagai gift. Bentuknya bermacam-macam, tetapi kebanyakan berupa sepasang sayap putih yang juga dapat digunakan untuk terbang. Yah, hampir tidak ada bedanya dengan para makhluk fana yang memiliki katalis untuk menggunakan sihir alam.
Kelebihan para penghuni langit terletak pada tidak adanya pelafalan mantra kecuali mantra-mantra yang menembus hingga gerbang ketuhanan. Mereka juga tidak memiliki cooldown dan dapat digunakan sebanyak mungkin selama kapasitas mana masih mencukupi. Sayangnya, kualitas mana yang tersebar di dunia fana sangatlah sedikit dan sekali gift mereka terpotong, para penghuni langit akan kehilangan kemampuan mereka untuk menggunakan mantra suci.
Dunia memang selalu berjalan dalam keseimbangan. Di samping kelebihannya yang luar biasa, kelemahan para penghuni langit dalam menggunakan mantra juga cukup menakutkan.
Ah, aku juga pernah punya dua pasang sayap saat masa kejayaanku. Maksudku, bukan sayap para iblis yang hanya dapat digunakan untuk terbang saja, tapi benar-benar gift yang membuatku mampu menggunakan mantra suci. Sayangnya Fiora telah memotongnya di masa lalu sehingga aku tidak dapat menggunakannya lagi. Alasan ini jugalah yang membuatku memiliki cukup banyak pengetahuan mengenai mantra suci dan kegelapan.
Tunggu dulu ...
"Beliau bisa menggunakan mantra hebat itu seminggu sekali?!"
Saat aku menyadarinya, aku sangat terkejut dan tidak sadar bertanya dengan nada yang keras. Bagaimana bisa sebuah mantra ilusi yang bahkan berpengaruh pada makhluk sepertiku dapat digunakan secara terus-menerus?! Sungguh tidak masuk akal!
"Begitulah." Carmen menjawab pertanyaanku dengan nada yang datar. "Walau bagaimanapun, dia tetaplah salah satu dari enam pendeta. Mantra itu memberinya kemampuan untuk memundurkan urutan kejadian sebuah objek hingga dua minggu sebelumnya."
Mendengar penjelasan singkatnya membuatku menghela napas lega.
Berbeda dengan mantra Sang Pahlawan yang sanggup memundurkan waktu hingga sekitar 3.000 tahun, batas maksimalnya Robbert hanya dua minggu. Artinya, sihir mereka hanya mirip secara konsep, tidak benar-benar serupa. Namun, kabar baik ini juga sekaligus memberiku kabar buruk. Ada kemungkinan bahwa sihir itu bahkan tidak berpengaruh pada iblis seperti Alma dan menghambat penyembuhannya.
Lupakan masalah ini untuk sementara.
"Apa tidak masalah menggunakan mantra yang hanya bisa digunakan seminggu sekali pada Alma?" Aku bertanya padanya setelah jatuh ke dalam pemikiranku cukup lama.
"Tidak apa-apa. Robbert itu sangat kuat. Sampai sekarang tidak ada satu pun musuh yang sanggup memaksanya menggunakan mantra itu."
Ucapannya membuatku semakin penasaran dengan batas kekuatan pendeta yang bernama Robbert. Jika memang tidak ada lawan yang sebanding dengannya, setidaknya kekuatan orang itu setara dengan demon lord dan di atasnya. Apakah dia layak menjadi lawanku di masa depan?
Ah ... jika tidak ada Hestia, mungkin sekarang aku sudah datang menemuinya dan mengajaknya untuk saling membunuh.
"Tapi ini pertama kalinya aku melihat efek samping dari bejana darah." Carmen tiba-tiba membahas topik itu lagi sekaligus membuatku tersadar.
Terima kasih, gadis pendeta. Aku jadi ingat kembali tentang kemungkinan tubuhku hancur jika membuka segelku. Rupanya beberapa waktu lalu aku terlalu besar kepala. Masalahku sekarang bukan hanya Hestia, tetapi aturan dunia juga menjadi ancaman yang mengerikan. Mulai saat ini aku harus mengingatnya baik-baik.
Perjumpaanku dengan Carmen tidak begitu lama. Dia pamit untuk pergi ke suatu desa di dekat bibir hutan. Tampaknya Carmen kemari karena memiliki sedikit urusan di dekat sini. Aku lega dia tidak terlalu lama menghabiskan waktu untuk berbincang denganku.
Setelah kami berpisah tepat di depan penginapan, aku memutuskan untuk kembali ke rencana awalku. Kali ini tidak akan ada lagi seseorang yang menghambatku, 'kan? Yah, semoga saja tidak ada.
-----
Selasa, 06 Agustus 2019
Pukul 12:29 PM
Note : -