RE:Verse

RE:Verse
16. Putri dari Negara Tetangga



Cabang guild di wilayah Timur ibukota adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan dua cabang guild lainnya. Tempat ini selalu ramai oleh para petualang dan tamu yang datang untuk mengajukan quest. Selain itu, tidak jarang pula seseorang datang kemari untuk mendaftar menjadi seorang petualang baru.


Menjelang siang hari tampaknya pengunjung mengalami peningkatan. Hal ini dapat dengan mudah kau lihat melalui banyaknya orang yang memenuhi meja-meja di dalam ruangan guild. Berbeda dengan cabang guild kecil, kelihatannya cabang guild ini sering menjadi tempat pertemuan para petualang untuk berdiskusi dan menghabiskan waktu. Jadi, banyak dari mereka yang hanya duduk-duduk seraya mengobrol dan menyantap hidangan alih-alih mendatangi papan permintaan.


Seorang pria dengan pakaian sederhana duduk di salah satu kursi tanpa ditemani oleh orang lain. Di atas mejanya tergeletak beberapa hidangan dan dua botol anggur minim alkohol. Dia bukanlah seorang petualang, melainkan seorang bangsawan negara tetangga yang sedang memiliki pekerjaan di ibukota kerajaan ini.


Namanya adalah Viscount Evans, dia ditunjuk sebagai seorang kapten dari divisi kecil yang dibuat khusus untuk melindungi salah satu keluarga kerajaan. Jadi, pada saat seseorang yang dia lindungi melakukan perjalanan politik ke negara ini, sudah pasti dirinya akan ikut sebagai pengawal pribadi.


Memang tidak ada yang salah dengan hal ini. Hanya saja, saat lelaki itu mengetahui fakta bahwa pengawal yang diperintahkan untuk ikut dalam rombongannya sangat minim, Evans merasa agak khawatir. Dia memang termasuk ke dalam prajurit yang terampil hingga ditunjuk untuk menempati posisi kapten, tetapi hanya itu saja. Dirinya merasa tidak cukup baik dalam melaksanakan tugas dengan unit yang sangat sedikit.


Viscount Evans mendatangi guild bukan tanpa alasan. Dia sebenarnya sedang mencari kandidat yang cocok untuk tugas melindungi tuannya selama beliau berada di ibukota. Lelaki itu membutuhkan beberapa petualang yang cukup terampil dengan peringkat tinggi dan pengalaman bertarung yang sudah teruji. Hanya saja, karena sifat majikannya agak merepotkan dan kebanyakan petualang adalah orang tanpa tata krama, lelaki itu berakhir dengan kesulitan untuk menemukan petualang yang menurutnya cocok dalam misi ini.


Pada akhirnya, hingga waktu menjelang siang lelaki itu belum juga mendapatkan satu pun kandidat.


Sudah kuduga ini adalah ide yang bodoh. Evans menghela napas karena kecewa.


Ketika dirinya larut dalam hidangan di tengah suara gaduh yang seakan menjadi ciri khas dari guild, pintu utama ruangan itu mulai terbuka hingga lonceng yang dipasang di atasnya berbunyi untuk beberapa saat. Memang bukanlah hal yang aneh jika seseorang datang ke tempat ini. Namun, melihat sosok yang kini berjalan masuk ke dalam bangunan guild membuat dirinya sedikit mengerutkan dahi.


Sosok itu adalah seorang perempuan muda yang mengenakan rok hitam selutut dan sebuah kemeja hitam polos yang tidak dikancingkan. Sepatu kulit hitam sederhananya sangat kotor dan hampir tidak layak dipakai, tetapi kelihatannya gadis itu tidak peduli.


Tubuhnya agak pendek dan cukup kecil. Sementara itu, raut wajah dan pandangan dari kedua bola mata cokelatnya yang tajam terkesan tidak mudah berubah. Sulit untuk menebak apakah dirinya seorang petualang ataukah tamu yang ingin mengajukan quest hanya dengan melihatnya.


Ketika gadis muda itu melangkah tepat di sampingnya, dia akhirnya sadar bahwa sosok tersebut membawa senjata yang tidak sedikit. Padahal penampilannya sendiri sama sekali tidak menunjukan kesan seorang petarung.


Kedua belati hitam terpasang menyilang di belakang pinggangnya. Evans juga dapat melihat sebilah pedang satu tangan hitam yang tersarung pada punggungnya. Selain ketiga senjata tersebut, gadis itu juga memakai topeng logam aneh di samping kepalanya serta membawa tas selempang cokelat sederhana.


Menilai dari bagaimana penampilan gadis muda tersebut, Viscount Evans tambah mengerutkan dahi.


Jika gadis muda yang kini sedang berjalan ke arah Resepsionis Guild adalah seorang petarung jarak dekat, maka tubuhnya yang sama sekali tak memakai armor adalah sebuah kesalahan besar. Namun, jika dia memang bukan seorang petarung, lalu kenapa dirinya membawa senjata sebanyak itu? Terlebih lagi, bukankah topengnya menutupi sebagian bidang penglihatannya?


Mungkinkah dia ingin mendaftar menjadi petualang?


Viscount Evans memang bukan seorang petualang, tetapi dirinya cukup tahu sedikit tentang mereka. Orang-orang amatir sering mengutamakan penampilan dan berusaha untuk tampil menonjol di antara petualang lainnya dibanding memperhatikan keselamatan dirinya. Jadi, melihat orang baru yang berpenampilan unik dan mengesampingkan keselamatannya sudah bukan hal yang aneh lagi. Setelah menyimpulkan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, dirinya yakin bahwa gadis muda di hadapanya pasti akan mati cepat jika sudah berhasil terdaftar sebagai seorang petualang.


Dia menghela napas seraya kembali mengalihkan pandangannya ke arah hidangan yang ada di atas meja.


"Selamat datang di cabang guild pertama Kota Prusia, apakah Anda ingin mengajukan permintaan?"


Di tengah menikmati hidangan yang dia pesan, Evans masih dapat mendengar dengan samar ucapan Resepsionis Guild. Karena sedikit penasaran, secara tidak sadar dia mulai fokus untuk mendengarkan percakapan mereka di tengah kegaduhan para petualang.


"Tidak, aku datang bukan untuk mengajukan quest." Gadis itu menjawab datar.


Melihat penampilan gadis muda tersebut, wajar jika orang-orang menganggapnya sebagai tamu yang ingin mengajukan quest. Mereka mungkin berpikir bahwa senjata-senjata yang dibawa olehnya hanyalah untuk pertahanan diri. Kelihatannya hanya Evans seorang yang berpikir bahwa gadis itu datang untuk mendaftar. Namun, saat mereka mendengar bahwa kedatangannya kemari bukanlah sebagai pengaju quest, semuanya pasti mencapai kesimpulan yang sama dengannya.


"Hey, bocah." Dari sudut matanya, Evans melihat seorang petualang pria menumpangkan tangan kanannya pada bahu kecil gadis itu. "Tempat ini tidak cocok untuk anak-anak. Pulanglah sebelum tubuhmu tidak utuh lagi."


Memang ucapan pria itu terkesan cukup kasar dan arogan, tetapi Evans setuju dengan saran tersebut. Tidak sedikit petualang baru yang mati hanya karena minimnya pengetahuan mereka tentang keselamatan diri. Jadi, rasanya wajar jika pendatang baru yang terlihat tidak layak akan diintimidasi demi kebaikannya.


Menurut pengalamannya sebagai seorang ksatria yang pernah ikut ambil bagian pada perang besar di masa lalu, gadis muda tersebut sama sekali tidak layak. Dia hanya memperhatikan persenjataan dan tidak mau repot-repot membeli alat pelindung apa pun untuk melindungi tubuhnya. Alih-alih membeli armor, gadis muda tersebut malah membeli topeng aneh tidak berguna. Evans bahkan tidak yakin apakah gadis di hadapannya bisa mengayunkan senjatanya dengan benar atau tidak.


Sekarang, setelah semuanya berjalan ke arah yang tidak baik dan beberapa petualang mulai menatapnya, Evans yakin bahwa gadis itu pasti akan mengurungkan niatnya. Menyadari hal ini membuat dirinya merasa sedikit kasihan kepada gadis muda tersebut, tetapi semua yang mereka lakukan memiliki maksud baik. Jadi, demi kebaikannya, Evans berusaha menahan diri untuk ikut campur ke dalam permasalahan ini.


Di luar dugaan, alih-alih gemetar ketakutan dan lekas pergi dari sini, gadis itu mengabaikan sepenuhnya kata-kata pria di sampingnya dan malah menggeser topeng hitamnya hingga menutupi seluruh wajah. Kemudian, dia kembali berbicara kepada resepsionis yang masih berdiri di hadapannya tanpa dapat berbuat apa-apa.


Gadis itu mengambil dua buah gulungan dari dalam tas kulit yang dia bawa, lalu menyerahkannya ke meja resepsionis.


"Hey, Bocah Desa. Apa kau mengabaikanku?" Sadar bahwa peringatannya tidak didengar, petualang di sebelahnya berbicara dengan nada yang dalam dan tajam.


Evans dapat merasakan kemarahan yang terkandung di dalam kata-kata itu. Dia bahkan menyadari bahwa tangan kanan berototnya mencengkram bahu kiri gadis tersebut semakin kuat.


Di tengah suasana yang semakin menegang, kegaduhan perlahan mereda. Mereka yang pada awalnya tidak memedulikan gadis itu kini mulai berbisik seraya mengalihkan pandangan ke arahnya. Perubahan suasana seperti ini tentu saja membuat Evans khawatir. Gadis itu mungkin sedang dalam bahaya dan orang-orang tampaknya tidak berani untuk ikut campur. Dia yakin jika ini terus berlanjut, seseorang pasti akan terluka.


Apa-apaan dengan organisasi aneh ini? Apa tidak ada staf keamanannya? Kenapa orang lain diam saja?


Tangan kanan Evans mulai mengepal kuat sementara pandangannya tetap fokus ke arah mereka berdua. Statusnya sebagai ksatria membuat dirinya merasa bahwa ini adalah salah satu tanggung jawabnya. Jadi, tanpa banyak berpikir lagi, Evans mulai berdiri dari kursinya dan bermaksud untuk melerai mereka. Namun, tepat sebelum dia sempat untuk mendekat, suara resepsionis yang gugup mulai terdengar.


"Maafkan saya karena sudah bertindak tidak sopan sebelumnya, Nona Almaria!" Wanita resepsionis itu langsung membungkuk sementara tubuhnya agak gemetar.


Semua orang --termasuk petualang yang berdiri di sampingnya-- tidak mengerti dengan perubahan tiba-tiba yang terjadi. Mereka hanya bisa terdiam mematung tanpa mengatakan apa-apa.


"Sesuai dengan rekomendasi dari Guild Master cabang Kota Trowell, kami akan langsung membuatkan Anda identitas diri sebagai petualang peringkat A. Namun, sebelum itu, bisakah Anda meluangkan waktu untuk bertemu Guild Master terlebih dahulu?"


Ruangan yang sebelumnya hening kini mulai gaduh oleh bisikan-bisikan di antara para petualang. Mereka saling berdiskusi penuh keheranan, memandang aneh kepada gadis misterius yang baru saja mencuri perhatian semua orang di dalam ruangan itu.


Dia ... peringkat A ...?


Evans bahkan menelan ludahnya sendiri saat menyadarinya.


Perkamen yang ditulis oleh orang-orang penting biasanya memiliki lambang yang mengandung sedikit sihir. Sejauh yang dia tahu, mustahil untuk memalsukan perkamen-perkamen seperti itu. Jadi, tidak ada yang akan ragu dengan keaslian dari perkamen tersebut.


Selanjutnya, mencuri perkamen memang bisa dilakukan. Namun, apakah ada orang bodoh yang mau mencuri perkamen dari seorang petualang peringkat A? Jika memang ada dan ternyata perkamen tersebut dapat dicuri, maka sudah jelas bahwa Sang Pencuri lebih hebat dari pemilik asli perkamen itu. Lagipula pihak guild biasanya akan mengambil sampel darah untuk pemeriksaan terakhir. Jadi, pada dasarnya mencuri perkamen adalah hal yang sia-sia.


Setidaknya hal inilah yang membuat Evans yakin dengan informasi yang baru saja dia dengar.


"Bisa kau jauhkan tangan kotormu dari bahuku sebelum kau kehilangannya?" Nada dingin yang mengancam memecahkan lamunan Evans seketika.


Dia kembali menatap kepada sosok gadis tersebut untuk melihat perkembangan keadaannya. Wajah yang ditutupi oleh topeng hitam aneh tersebut kini menatap ke arah petualang pria yang masih memegangi bahu kirinya. Menyadari untuk siapa ucapan itu ditujukan, pria yang pada awalnya terlihat mengintimidasi kini menyingkirkan tangannya dengan tergesa-gesa.


"Ma-maafkan aku."


Hanya kalimat pendek seperti itulah yang mengakhiri konflik di antara mereka. Gadis bertopeng tersebut berjalan santai menaiki tangga menuju lantai dua tanpa melakukan pembalasan apa pun. Kelihatannya gadis itu tidak terlalu peduli dengan sikap arogan yang sebelumnya ditujukan kepadanya. Menyadari hal ini membuat Evans menghela napas karena lega sekaligus tertarik dengannya.


"Kedatanganku ke sini sepertinya untuk bertemu dengannya." Dia bergumam seraya melanjutkan menikmati hidangan di atas meja yang sempat terhenti beberapa waktu lalu.


---------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 07 Desember 2019


Pukul 12:00 PM


Note : Viscount Evans pernah disebutkan oleh Raja Ignis di dalam bab [13.Perpisahan] dan pernah disinggung sebagai pusat komando tertinggi yang melindungi Kastil Mutiara milik Putri Estelle --putri bungsu dari Kerajaan Ignis yang merupakan keturunan langsung Ratu-- di dalam bab [10.IV Para Ksatria].


Dan, sebenarnya ada sedikit plothole mengenai ukuran tubuh dengan kecocokan senjata. Ras iblis memiliki tinggi rata-rata 3 meter (Fiora bisa dibilang bertubuh mungil karena hanya setinggi 225 cm), otomatis senjata yang mereka pakai itu bisa disebut raksasa. Dari sinilah muncul keanehan dimana ukuran belati yang Alma pakai terlampau imut. Jadi, detail tambahan kutambahin pada bab awal dimana magic item selalu menyesuaikan ukuran penggunanya :3


Maaf atas keteledoranku ini heu ...