RE:Verse

RE:Verse
15.II Aku Tak Mengenalnya



Ketika aku dan Alma menduduki kursi yang ditujukan untuk kami, para pelayan membawa troli-troli berisi berbagai jenis kue dan teko perak elegan yang tampak mahal. Mereka mengisi cangkir-cangkir mewah di atas meja dengan cairan teh hangat beraroma menenangkan. Setelah semuanya tertata rapi di atas meja, para pelayan itu membungkuk hormat dan pergi meninggalkan kami.


Aku memandang ke arah seorang pria muda di hadapanku dengan senyuman yang tak sengaja tersungging di wajahku. Keringat dingin yang beberapa saat lalu menggangguku juga sudah mulai mengering. Sekarang tubuhku telah kembali tenang.


Aku tak mengenalinya, dia bukan Undead God. Hanya kalimat seperti itulah yang langsung terlintas di dalam pikiranku sesaat setelah melihat wajah seseorang yang sedang duduk di hadapan kami.


"Nona Ferrero, bisakah kau memberikan kami sedikit ruang untuk berbicara secara pribadi?"


Kedua bola mata lelaki itu menatap Carla yang masih berdiri tegak di belakang kami seraya memberikan perintah. Tampaknya orang ini tidak mau diganggu bahkan oleh bawahannya sekalipun. Kalau begitu, kenapa dia tetap membiarkan seseorang yang terbalut armor perak lengkap di belakangnya berada di sini?


Terus terang aku sedikit merasa cemas saat melihatnya. Perlengkapan yang dipakainya terlalu tertutup dan tampak berbeda jika dibandingkan dengan imperial knight yang lain. Aku bahkan tak bisa melihat sosok di balik armor logam itu sedikit pun.


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Kudengar suara langkah kaki Carla yang mulai menjauh. Kemudian, derit khas dari pintu kayu yang terbuka dan menutup kembali mengantarkan kami berempat ke dalam keheningan.


"Tak perlu terlalu tegang, negara kita tidak sedang dalam kondisi perang."


Suaranya kembali menghancurkan suasana hening yang baru saja terbangun di antara kita. Dia tersenyum dengan ramah, mengangkat kaki kanannya, lalu menumpangkannya di atas paha kirinya sendiri.


"Yang Mulia, perhatikan tata krama Anda di hadapan seorang tamu."


Seseorang yang berbicara adalah sosok di balik armor logam yang masih berdiri di belakang Sang Raja. Dia meletakkan ujung sarung pedang besarnya di lantai dan menjadikannya sebagai tumpuan kedua tangan. Benar-benar gaya yang khas dari seorang ksatria.


"Aku sedang tidak dalam acara resmi, jadi abaikan saja tata krama merepotkan itu." Seakan sadar bahwa dirinya hanya terlibat dalam percakapan dengan ksatrianya, dia mengalihkan pandangan ke arah kami seraya kembali berbicara, "maafkan aku."


"Permintaan maaf itu terlalu berlebihan, Yang Mulia. Sekarang kami hanyalah rakyat biasa yang sedang menumpang di wilayah Anda." Aku membalas kata-katanya dengan nada dan kalimat yang sopan.


"Baiklah, lupakan basa-basinya. Aku yakin Nona Ferrero sudah menjelaskan alasan kedatangan kalian kemari."


Dia mungkin sedang memastikan apakah kami sudah memahami isi di dalam prosposalnya atau tidak. Oleh karena itu, aku menganggukan kepala sebagai penanda bahwa aku telah mengerti situasinya dengan baik.


"Nah ... sebenarnya aku juga memberikan proposal palsu kepada Nona Ferrero."


Apa maksudnya? Apakah isi proposal yang disampaikan oleh ksatria wanita itu juga salah? Hei, dia sampai menghabiskan 24 koin emas hanya untuk hal tersebut. Bagaimana bisa kau menipunya?


"Jadi, tentang mantra perintah itu ...?"


"Hanya sebuah tes. Kau tidak perlu tahu alasan di balik tes itu. Namun, kenyataan bahwa kalian tetap datang kemari setelah mendengarnya sudah cukup membuatku terkesan."


Jika proposal itu hanyalah sebuah bahan untuk menguji kami, maka dia sedang menilai apakah kami layak atau tidak. Kurasa pilihan kami untuk datang kemari dinilai sebagai kriteria yang memenuhi standar kelayakan. Walaupun aku mengerti sampai batas tertentu, tetapi aku masih tidak memahami motif sebenarnya dari semua ini.


"Apakah informasi tentang perang juga hanya bagian dari ujian?"


Sayang sekali, padahal aku cukup tertarik untuk menontonnya jika memang terjadi perang.


"Ah, mengenai hal itu, kemungkinannya cukup besar." Lelaki di hadapanku memberikan konfirmasi bahwa apa yang disampaikan oleh Carla sebelumnya tidak semuanya omomg kosong.


Jika kupikirkan lagi, memang tidak mungkin orang ini bisa membohongi Carla yang bekerja sebagai pengumpul informasi. Lagipula peperangan bukanlah hal yang bisa dipakai untuk main-main. Jadi, kredibilitas dari kabar tentang kemungkinan adanya perang setidaknya cukup tinggi.


"Aku akan mengatakannya sebagai hadiah atas lulusnya kalian dari tes yang kuberikan. Walaupun terjadi perang, Marquis Canaria sudah bukan lagi ancaman bagi kami. Jika kalian tidak ingin orang itu mati, maka kusarankan kalian untuk mencegahnya ikut andil dalam perang kali ini."


Aku sedikit tersentak saat dia mengatakan hal itu dengan nada seakan mengintimidasi.


Perang terakhir antara dua kerajaan ini terjadi beberapa tahun yang lalu dengan salah satu bagian dari Hutan Besar Eryas dipilih sebagai arena peperangan. Setidaknya menurut sudut pandang dan pengalaman selama aku hidup, kemungkinan untuk mereka mendapatkan orang yang terampil sejak masa setelah perang terakhir berakhir itu sangat kecil. Pencarian anak muda yang berbakat, pelatihan intens, dan menyediakan peralatan yang mumpuni. Beberapa tahun tidaklah cukup untuk melakukan itu semua.


Walaupun aku tidak tahu sebaik apa Marquis Canaria, tetapi aku yakin dia setidaknya hampir mendekati Enam Pendeta. Kalau tidak, tak mungkin pihak kerajaan musuh sangat khawatir dengan kehadirannya di medan perang. Jika memang demikian, maka setidaknya dia bisa membunuh Hellhound seorang diri.


Kenyataan bahwa pihak kerajaan sudah tidak mengkhawatirkannyalah yang membuatku agak tersentak. Satu-satunya hal yang kupikirkan hanyalah daywalker bersaudara. Kalau memang seperti itu, maka bisa dipastikan bahwa pemimpin negara ini sudah mengetahui identitas mereka sejak awal. Status yang kuyakini sebagai kerajaan boneka yang dikendalikan oleh undead dari belakang layar kini meningkat menjadi kerajaan yang melakukan kontrak dengan undead. Keadaanya lebih buruk daripada yang aku bayangkan. Namun, setidaknya aku bisa sedikit bernapas lega mengetahui kenyataan bahwa raja itu sendiri bukanlah Undead God.


"Terima kasih atas kebijaksanaan Anda, Yang Mulia. Saya akan mengingatnya dengan baik." Aku menjawab perkataannya sesopan yang aku bisa.


"Terakhir, kudengar adikmu sanggup menggunakan mantra kegelapan sampai tingkat yang cukup tinggi, apakah itu benar?" Kedua matanya kini beralih memandang Alma yang sejak tadi hanya terdiam seraya menyesap teh dan memakan kue-kue yang disediakan.


"Benar, Yang Mulia. Semuanya berkat senjata kuno yang diturunkan di antara keluarga marquis kami."


Aku sengaja mengatakan bahwa sumber kekuatan Alma berasal dari senjatanya. Rumor yang beredar di Kota Trowell memang seperti itu adanya. Mereka meyakini bahwa senjata-senjata Alma memberinya akses untuk menyentuh ranah sihir yang tidak biasa. Mengetahui hal ini, aku tidak memutuskan untuk menyangkal rumor tersebut. Kurasa akan lebih baik jika mereka berpikir seperti itu alih-alih menganggap Alma sebagai kontraktor. Lagipula manusia biasa mustahil untuk dapat menggunakan senjata-senjata Alma. Jadi, saat mereka memutuskan untuk mencuri dan menggunakannya, hal yang menunggunya hanyalah ajal. Selain itu, untuk melepas paksa kontrak senjata yang terjalin antara Alma dengan senjatanya, mereka harus membunuhnya terlebih dahulu. Berdasarkan semua itu, kesempatan untuk seorang manusia dapat menggunakannya sangatlah kecil.


"Kalau begitu, bagaimana jika kalian bermalam di sini untuk satu malam? Ada berbagai hal yang ingin kuketahui. Juga, kita bisa mengadakan pesta pribadi sampai menjelang pagi."


"Yang Mulia ..."


Kelihatannya ksatria itu ingin memprotes lagi, tetapi Raja menghentikannya dengan isyarat tangan.


Tinggal di istana merupakan hal yang sangat berbahaya. Tidak mungkin aku bisa tenang berada di dekat dua daywalker semalaman tanpa kekuatan yang cukup. Namun, mengingat kembali kenyataan bahwa undead sejak awal tidak terlalu peduli dengan takhta ketuhanan dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Undead God membuatku berpikir lagi. Mungkin alih-alih menjadi musuh, aku bisa mencegah perang besar antara iblis dengan undead jika keasalah pahaman kami dapat teratasi.


Para undead menyerang karena mereka pikir aku ingin memenuhi dunia fana dengan para iblis sedangkan aku menyerang mereka karena kupikir Undead God ingin merebut takhta ketuhanan. Bukankah jika aku sanggup meningkatkan hubungan kami secara perlahan, semua masalah itu dapat dihindari? Bahkan peluang untuk menjadi rekan tidaklah nol.


Masalah selanjutnya hanya ada satu. Aku tidak yakin apakah Alma dapat membantu dalam menciptakan hubungan yang baik dengan para undead. Dia sering berbicara dan beberapa kali hampir bertindak semaunya. Jika itu manusia, mereka masih memiliki akal untuk mengambil keputusan yang tepat di saat seperti itu. Namun, undead bukanlah makhluk dengan akal yang stabil. Mereka cenderung agresif ketika mengalami sedikit hawa permusuhan.


"Tentu saja hal ini adalah sebuah kehormatan bagi kami. Namun, Alma memiliki beberapa urusan yang mendesak di ibukota. Sebagai gantinya, saya akan menerima hadiah Anda dengan senang hati."


Kelihatannya Alma kebingungan dengan arah pembicaraan ini. Tentu saja pasti akan jadi begitu mengingat tidak ada satu masalah pun yang mendesaknya. Namun, kecerdasannya yang sedikit membuat dirinya cukup bijak untuk tidak bertanya di saat-saat seperti ini.


"Sayang sekali kalau memang begitu adanya. Namun, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Lagipula kita akan minum-minum sampai pagi. Jadi, aku mengerti kenapa kau ingin menjauhkannya."


Sama sekali bukan itu alasannya. Aku tidak peduli apakah dia mau meminum alkohol atau tidak. Aku hanya tidak ingin dia mengacaukan rencanaku. Hanya itu alasan satu-satunya.


Manusia akan dianggap dewasa dan diperbolehkan untuk menikah serta meminum alkohol ketika usia mereka menginjak 15 tahun. Jadi, jika dilihat dari sudut pandang manusia, Alma yang sekarang masih berusia 14 tahun memang belum diperbolehkan untuk meminum alkohol. Namun, kami berdua sebagai iblis sebenarnya tidak begitu peduli dengan aturan ini.


Terserahlah, hal yang terpenting sekarang adalah izin dari Raja.


Pada akhirnya aku menyuruh Alma untuk menginap di kota dan mengurus hal-hal yang berhubungan dengan guild. Aku juga memberikan 20 koin emas kepadanya. Setelah kupikirkan lagi, tampaknya berdiam diri di penginapan atau sekadar jalan-jalan di kota akan membuatnya cepat bosan. Jadi, aku memperbolehkannya untuk mengambil quest jika dia memang ingin melakukannya. Semoga saja dia tidak membuat kekacauan selama aku tidak ada di sampingnya.


Hey, kenapa aku menjadi agak khawatir saat dia akan pergi tanpaku?


--------


Dipublish di Mangatoon pada Hari Sabtu 30 November 2019


Pukul 11:00 AM


Note : Naluri seorang kakak ...? :3