
Proses keluarnya kami dari kelompok Gabe dan Hellen dapat diselesaikan dengan cepat. Selain itu, pendaftaran kelompok baru juga tidak sesulit sebelumnya walau jumlah anggota kami hanya dua orang. Hal ini mungkin terjadi akibat dari hak istimewa yang Alma dapatkan.
"Apa nama yang akan kalian gunakan untuk party baru ini?"
Seorang kakek tua dari kuil bertanya kepada kami. Dia tidak lain adalah Jerome, orang yang mengemban tanggung jawab untuk mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pendataan anggota guild. Jadi, sudah sepatutnya dia menjadi orang yang harus kami temui lagi jika ingin membuat kelompok baru.
Jerome adalah seorang pendeta yang mempelajari Kelas Exorcist. Keahliannya termasuk hal yang berhubungan dengan sihir penyegelan rumit dan kutukan. Inilah sebabnya dia dan para exorcist lain sering dipilih sebagai penanggung jawab untuk menjaga data-data penting yang ada dalam sebuah organisasi. Bukan hanya guild petualang dan perdagangan, bahkan pihak kerajaan pun mempekerjakan para exorcist.
"Bagaimana dengan Demoniac Knight?" Alma bertanya padaku dengan wajah polos dan nada yang serius.
"Tidak. Aku merasa aneh mendengarnya."
"Dua Bersaudara?"
"Nama macam apa itu?"
"Darkness?"
"Lebih baik kau diam saja. Aku mulai agak kesal."
Semua saran Alma terdengar tidak cocok. Namun, aku juga bukan orang yang berbakat dalam menamai sesuatu. Rasanya sulit untuk memilih nama yang sederhana tetapi tetap memiliki makna.
Kami hanya berdiri diam di depan meja resepsionis untuk waktu yang cukup lama. Tidak ada sedikit pun nama yang melintas di kepalaku. Sudah kuduga bahwa sesuatu seperti ini seharusnya tidak coba aku lakukan.
Apakah sebaiknya kuserahkan saja pemberian nama kepada Alma walaupun ide-idenya juga payah?
"Jika memang masih sulit, bagaimana kalau ditunda terlebih dahulu?" Jerome tiba-tiba mengusulkan ide saat menyadari bahwa aku bermasalah dengan hal ini.
"Apakah bisa seperti itu?"
Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh Jerome atas pertanyaanku, aku mengetahui beberapa solusi sederhana mengenai hal ini.
Jika aku memutuskan untuk tidak memberi nama dan kelompok kami mulai dikenal luas, orang-orang akan memberi julukan tersendiri untuk memudahkan dalam menandai kami. Lalu, kalau sudah seperti itu, kami dibebaskan untuk mengambil nama julukan tersebut secara resmi atau tidak. Jadi, sebenarnya tidak akan ada masalah walaupun kami tak menamai party ini sekarang juga.
Yah ... aku akan memutuskannya seperti itu.
"Baiklah aku mengerti. Kalau begitu, kosongkan saja nama kelompoknya untuk sementara."
Karena aku adalah rank C sedangkan Alma sudah berada pada rank A, Jerome menawarkan peringkat silver untuk kelompok kami. Dia menilai bahwa quest tingkat silver harusnya dapat kami atasi tanpa masalah. Jadi, aku memutuskan untuk menyetujuinya tanpa banyak bertanya.
Bukankah sistem peringkat di dunia ini terlalu mudah? Atau hal ini terjadi karena memang kami berdua yang memiliki kemampuan abnormal? Lagi-lagi aku mempertanyakan hal yang tidak penting.
Baiklah, sekarang kuserahkan sisanya pada Alma. Aku tidak mau ikut campur dengan urusan antara dua orang gadis. Jadi, kubiarkan Alma mengambil langkah untuk menyelesaikan masalahnya. Lagipula dia yang memutuskannya sendiri.
"Apakah dengan hak akses peringkat A milikku memperbolehkanku untuk menggunakan ruangan khusus tamu di guild?" Alma bertanya kepada Jerome.
Seperti yang sudah kami duga, setiap peringkat petualang memiliki hak akses yang berbeda-beda. Semakin tinggi rank yang mereka miliki, maka semakin istimewa hak akses yang mereka peroleh.
"Tentu saja. Petualang peringkat A memiliki akses untuk menggunakan ruangan khusus tamu. Tempat itu sedang tidak digunakan. Apakah kau mau menggunakannya sekarang juga?"
Alma menganggukan kepala sebelum membalas pertanyaan Jerome.
"Aku ingin berbicara empat mata dengan Isabelle. Apakah boleh?"
Mendengar namanya disebut, Isabelle yang sedang sibuk melayani petualang lainnya mengalihkan pandangan kepada Alma. Dia sepertinya sedikit bermasalah dengan pernyataan gadis itu.
"Silakan ke lantai dua. Aku akan mengurus laporannya dan menyuruh pelayan untuk menyiapkan segalanya." Jerome menyetujuinya tanpa ada masalah.
Walaupun begitu, Isabelle sepertinya ragu-ragu untuk meninggalkan meja resepsionis. Yah, aku bisa mengerti bagaimana perasaannya. Walaupun sudah mulai sore, tempat ini masih cukup ramai oleh para petualang. Jadi, meninggalkan meja resepsionis pada jam sibuk seperti ini tentu saja akan merepotkan resepsionis lain. Namun ...
"Tidak apa-apa kalau hanya sebentar."
Seorang gadis resepsionis lain yang berdiri di samping Isabelle memberikan izin baginya untuk pergi. Hal ini melunturkan keraguan Isabelle yang sebelumnya mengganggu.
"Terima kasih banyak." Isabelle mengarahkan senyuman pada resepsionis itu sebelum akhirnya pergi menaiki tangga bersama Alma di belakangnya.
"Jadi, mau di sini bersamaku atau ... ?"
Aku menoleh ke arah Gabe dan Hellen yang masih bersamaku. Mereka saling berpandangan untuk sesaat sebelum menerima tawaranku.
"Kurasa tidak masalah untuk sedikit bersantai."
Kami bertiga berjalan menuju salah satu meja yang tidak digunakan oleh siapa pun seraya memesan minuman dan beberapa makanan ringan.
Jujur saja, aku sedikit jengkel dengan situasiku sekarang. Ingin rasanya kuhempaskan semua orang yang mengangguku agar mereka menjauh dari sini. Namun, aku masih tetap berusaha untuk ramah dan menjawab setiap pertanyaan yang mereka tanyakan padaku.
Tidak sampai satu jam, Alma terlihat menuruni tangga kayu. Tepat di belakangnya, Isabelle mengikutinya seraya terisak dengan kedua bola mata yang berair dan memerah. Wajahnya yang sebelumnya putih juga ikut memerah sebagai bagian dari tangisannya.
Dia mungkin tidak mau ditinggalkan di kota ini. Maka dari itu, wajar jika gadis ini menangis mendengar kami akan pergi menuju ibukota tanpa membawanya. Namun, menilai dari raut wajah yang ditunjukan oleh gadis berambut hitam itu, kurasa dia sukses meyakinkan Isabelle.
Petualang yang sebelumnya mengerubungi meja kami mulai melangkah mundur ketika Alma mendekat. Mereka menatap dalam diam, terlihat penasaran dengan hal yang membuat Isabelle berekspresi seperti itu.
"Masih ingat sebelumnya aku mengatakan bahwa siapa pun yang mengganggu Isabelle akan mati?" Alma tiba-tiba berbicara lantang. "Maaf, aku adalah pengecualian. Jadi, pernyataanku tak berlaku untukku."
Siapa yang peduli dengan hal remeh seperti itu? Aku yakin orang-orang di sini bahkan tidak ada yang berpikir sampai ke sana. Lagipula mereka tidak memiliki hak sama sekali untuk menagih ancaman Alma.
Pada akhirnya kami melanjutkan proses pendataan dan mengajukan permintaan untuk bepergian. Oleh karenanya, kami kembali dipanggil ke lantai dua oleh Guild Master dan berdiskusi untuk beberapa waktu dengannya.
Sejauh kami menghabiskan waktu di guild, Isabelle tetap pada suasana hatinya yang buruk. Saat kami pergi meninggalkan ruangan guild pun Isabelle masih tetap terisak. Namun, dia tidak berusaha untuk mengutarakan apa pun kepada Alma. Kurasa dia tidak mau membuat Alma marah. Gadis itu memilih untuk menerima semua intruksinya dan menahan diri untuk protes.
Kami berpisah dengan Gabe dan Hellen, lalu memutuskan untuk bermalam di penginapan yang sebelumya aku tempati. Ketika akan beristirahat, aku mendiskusikan beberapa hal sekaligus menyusun rencana untuk perjalanan besok. Aku juga berusaha menggali sejauh mana pola pikir Alma menyimpang. Tentu saja tanpa bertanya secara langsung kepadanya.
Pagi-pagi sekali kami berdua sudah melakukan checkout dari penginapan yang kami tempati. Kemudian, kami membeli makanan kering dan dua buah kantong kulit sederhana yang kami isi dengan perbekalan dan air minum.
Memang benar bahwa kami tidak membutuhkannya sama sekali berkat magic storage. Namun, aku dan Alma tidak bisa menggunakannya secara sembarangan untuk menghindari kecurigaan. Oleh karena itu, perbekalan menjadi kamuflase sederhana yang kupilih.
Ah, mengingat bahwa selama perjalanan kami akan sering singgah di kota atau desa, aku tidak membawa terlalu banyak bekal. Semua yang kubawa hanyalah camilan kering yang biasa dimakan untuk mengganjal perut. Lagipula kami bisa berburu jika memang tidak ada makanan yang tersisa.
"Apakah kita perlu untuk mampir terlebih dahulu ke guild?" Aku bertanya pada Alma setelah semua persiapan selesai.
Kemarin kami sudah membuat laporan tentang kepergianku ke luar kota. Karena hal inilah Guild Master memberikan dua buah gulungan dan mengatakan bahwa kami harus menyerahkan gulungan tersebut ke cabang guild ibukota. Jadi, kembali ke guild hanya untuk pamit sebenarnya tidak diperlukan. Namun, aku tetap menanyakannya sekadar ingin tahu apakah Alma menginginkan untuk bertemu dengan Isabelle sebelum pergi atau tidak.
"Tidak perlu. Kurasa akan lebih baik untuk segera pergi." Alma menjawab pertanyaanku dengan nada yang sedikit menyiratkan kesedihan.
Tidak kusangka dia menolak tawaranku seperti itu. Kupikir dia akan menerimanya guna melihat Isabelle untuk terakhir kalinya. Ternyata dia malah menolak kesempatan ini begitu saja.
Baiklah, karena dia sudah memutuskannya, aku memilih untuk langsung menuju gerbang barat dimana kereta yang akan kami tumpangi berada.
Berjalan kaki menuju gerbang barat ternyata cukup menguras waktu. Setidaknya butuh satu jam untuk mencapai tempat itu. Akan lebih cepat jika kami menggunakan sedikit ketangkasan, tetapi hal ini akan menimbulkan kecurigaan. Ah, jadi manusia itu cukup merepotkan.
Tidak jauh dari gerbang barat, aku melihat siluet dari orang-orang yang kami kenal. Mereka adalah Gabe, Hellen, dan ketiga adiknya. Bahkan aku dapat melihat Isabelle berdiri di samping kelima orang tersebut.
Rupanya mereka menunggu kami.
"Jaga baik-baik dirimu sampai kita bertemu lagi." Aku bersalaman dengan Gabe diikuti Hellen dan ketiga adiknya.
Selanjutnya, aku mengucapkan salam perpisahan kepada Isabelle senatural mungkin. Dia hanya tersenyum ramah padaku, membalas kalimatku dengan bahasa yang sopan.
"Kakak! Janji untuk kembali, ya?"
"Iya, harus!"
Kedua adik Gabe berbicara dengan nada yang lantang sementara anak terakhir hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia menyetujui pernyataan dari saudari-saudarinya. Seperti biasa, mereka terlihat sangat bersemangat.
"Anda berjanji untuk kembali, 'kan?" Dari sudut penglihatanku, samar kudengar suara Isabelle yang ragu-ragu. Dia bertanya kepada Alma dengan wajah yang menunduk lesu.
"Tentu saja. Kau adalah bagian dari keluarga kami. Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja."
Alma tersenyum ke arahnya, kemudian memeluk Isabelle yang masih terlihat tidak tenang.
Menjijikan ... saking menjijikannya sampai-sampai membuat perutku mual. Bagaimana bisa Alma bertingkah sangat menjijikan seperti itu?
Aku memalingkan wajah hanya untuk menghindari pemandangan yang mengganggu di hadapanku. Walau betapa tidak sukanya aku dengan adegan seperti itu, tetap saja aku harus menahan diri.
Bertahanlah diriku, semua ini demi menyembunyikan diri dari Hestia.
Akhirnya kami berpisah dengan semuanya dan berjalan menuju gerbang barat Kota Trowell. Aku dan Alma melalui jalur pemeriksaan dan membayar pajak perjalanan kepada para penjaga gerbang. Kemudian, melangkah keluar dari kota menuju kereta kuda dimana Carla sudah menunggu.
---------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Minggu 02 November 2019
Pukul 07:40 PM
Catatan : -