RE:Verse

RE:Verse
17.III Alkemis



Pagi berikutnya Alma dibangunkan oleh suara keras yang mengagetkan. Dia segera tersadar dan langsung melompat dari tempat tidur kerasnya. Begitu menyadari asal dari suara yang sampai sanggup menggetarkan tanah untuk beberapa saat, Alma menghela napasnya.


Akibat dari apa yang dia lakukan terhadap Sang Putri kemarin, Alma memanen apa yang dia tabur. Dia ditempatkan persis di sebelah lab alkimia yang berisik. Alma juga tidak diizinkan untuk mendekat dan menunjukan wajahnya di depan Putri Estelle. Kelihatannya gadis keras kepala itu benar-benar membencinya.


Meskipun Evans datang kepadanya dan terus-menerus meminta maaf, dia masih tetap kesal dengan perlakuan kekanakan yang menimpanya. Walau begitu, Alma yang enggan membayar uang denda pembatalan quest, dengan terpaksa mengikuti semua perintah yang dia terima. Selama tidak menyuruhnya untuk melakukan hal-hal yang di luar batas, maka itu akan baik-baik saja.


Kemarin Alma diberi tahu bahwa turnamen akan diadakan hari ini. Jadi, dia diwajibkan untuk datang menemui Evans sesaat setelah sarapan pagi. Sayangnya, alarm alami --ledakkan yang datang dari bangunan di sebelahnya-- membangunkannya terlalu pagi.


Alma meregangkan tubuhnya seraya menguap. Kemudian, dia memasang semua perlengkapannya dan lekas keluar dari kamar sempit yang cukup pengap itu.


Dia melangkah menuju kolam air mancur yang ditenagai oleh sihir.  Sesampainya di sana, Alma membasuh wajahnya sampai dirasa cukup.


Mentari baru saja terbit beberapa menit yang lalu. Jadi, cuaca di luar masih cukup gelap dan dingin. Para siswa juga belum terlihat di mana pun. Walaupun begitu, ruangan yang berada di sebelah kamarnya masih tetap memancarkan cahaya dari lubang ventilasi.


Sejak semalam cahaya yang menerangi ruangan itu tidak pernah padam, menandakan bahwa ada seseorang yang tetap berada di dalamnya. Meskipun begitu, sampai detik ini tidak ada satu pun orang yang keluar atau masuk ke sana. Menyadari hal ini membuat Alma penasaran, tetapi dia enggan untuk melihatnya secara langsung.


Sarapan pagi diantarkan oleh pelayan yang biasanya mengurus asrama para siswa ke dalam kamar pengapnya. Memang kualitas bahan yang dipakai untuk membuat sarapan terlihat baik, tetapi porsinya cukup kecil. Hanya ada sedikit potongan apel yang telah dikupas, sup yang berisi sayuran, dan segelas teh hangat.


Tentu saja, Alma tidak bisa protes dengan semua yang dia dapatkan.


Gadis itu mulai mencicipi sup hangat di atas meja kamarnya. Sesaat kemudian, matanya sedikit melebar dan langsung menyambar sup itu dengan lahap. Dia bahkan sampai mengeringkan kuah supnya.


"Ah ... makanan yang kaya rasa."


Indera pengecap iblis sebenarnya tidak terlalu baik. Hal ini membuatnya tidak terlalu menikmati makanan saat berada di tubuh aslinya. Namun, lemahnya kemampuan dalam mengecap sebenarnya adalah keuntungan dalam bertahan hidup di Tartarus. Bahan makanan di dunia bawah sangatlah tidak enak dan pahit. Jadi, memiliki indera pengecap yang buruk merupakan suatu keharusan bagi para iblis.


Ketika dirinya ditempatkan pada tubuh manusia, Alma tahu bahwa makanan akan menjadi sesuatu yang benar-benar menggoda. Namun, sampai hari ini dia tidak pernah mendapatkan makanan selezat sup yang baru saja dimakannya.


"Apa selama ini makanan yang kumakan berkualitas sangat rendah?"


Saat dia mengingatnya dengan teliti, sampai hari ini dirinya belum pernah mencicipi makanan kelas atas yang ditujukan untuk bangsawan. Jadi, kelihatannya wajar jika tingkat kelezatan antara masakan yang dibuat oleh rakyat biasa dengan seorang koki profesional yang sudah lama melayani para anak bangsawan memiliki perbedaan yang jauh. Namun, setelah memikirkannya sekali lagi, Alma merasakan kejanggalan.


Aku pernah memakan makanan kelas atas sebelumnya, 'kan?


Jika dia mengesampingkan ingatannya saat masih tinggal di mansion, ada beberapa kesempatan saat dia memakan makanan yang layak. Restoran mewah selama perjalanan ke ibukota, makanan manis yang disiapkan di kastil, dan makanan yang dia santap semalam. Namun, anehnya tak ada satu pun dari makanan itu yang memiliki kelezatan luar biasa seperti ini.


Alma merasa sangat aneh saat dia memikirkannya secara mendalam. Akan tetapi, karena masalah ini dinilai sepele olehnya, Alma memilih untuk mengabaikannya dan lekas keluar dari kamarnya lagi.


Sekarang mentari sudah mulai meninggi, menghangatkan udara dingin di sekitar akademi. Alma juga bisa melihat beberapa siswa yang berjalan ke berbagai arah. Suasana sunyi beberapa waktu lalu kini mulai ramai seperti sebelumnya.


Saat dirinya bermaksud untuk pergi menemui Evans, tiba-tiba perhatian Alma berpindah kepada tiga orang siswa yang sedang bermain-main tak jauh darinya. Dua dari mereka membentuk bola-bola es kecil dan melemparkannya kepada siswa terakhir. Kemudian, gelak tawa dapat terdengar ketika bola-bola es itu mengenai targetnya dan meninggalkan bekas memar yang samar.


Dilihat dari situasinya, mereka kelihatannya sedang mempraktekan sihir elemental. Namun, daripada disebut sebagai latihan, mereka malah terlihat seperti sedang bermain-main. Tentu saja anak terakhir yang menjadi target permainan cukup menderita.


"Ayo cepat bangun! Kau pikir kutu buku sepertimu cocok untuk dekat-dekat dengan Putri Yulia?!"


Ah ...


Alma langsung tahu apa yang sedang mereka lakukan begitu mendengar suara kasar salah satu penyerang.


Kejadian seperti ini sebenarnya cukup sering, bahkan di antara para iblis. Namun, tingkat penyerangan yang dilakukan oleh iblis berada pada level yang jauh lebih mengerikan seperti mengoyak dan memotong-motong tubuh target sampai sekarat, merapalkan mantra regenerasi, lalu melakukannya kembali sampai korbannya memohon sendiri untuk dibunuh.


Tentu saja alasan di balik penyerangan seperti itu bukan karena memperebutkan pasangan. Bagi iblis,  pasangan hanya metode untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap suatu wilayah. Jadi, memperebutkan pasangan adalah hal konyol yang tidak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun.


Lebih baik aku pergi sekarang.


Saat Alma menyadari bahwa dirinya sudah sedikit membuang waktu, dia segera melangkah melewati tiga orang bermasalah tersebut. Alma bahkan tidak peduli ketika melihat anak lelaki malang itu mulai diinjak-injak begitu saja. Anehnya, siswa lain dan para staf akademi juga tidak ada yang begitu peduli dengan mereka. Hal ini membuatnya cukup penasaran.


Mungkin salah satu penyerang adalah orang yang berasal dari keluarga berpengaruh di akademi sebagaimana Putri Estelle di akademinya. Jadi, para siswa bahkan staf pengajar tidak berani menegurnya walau seburuk apa pun kelakuannya. Kalau begitu, Alma yang merupakan orang luar bahkan tidak memiliki hak sama sekali untuk ikut campur.


Tepat ketika dia berjalan semakin jauh dari lokasi itu, jumlah keributan di belakangnya kian meningkat. Kali ini bahkan banyak dari siswa yang menghentikan langkah mereka dan saling berbisik memandang ke arah ketiga siswa laki-laki sebelumnya. Menyadari hal ini membuat Alma ikut menghentikan langkahnya seraya berbalik untuk ikut memandang mereka.


Tidak jauh dari lokasi ketiga siswa tadi, sosok gadis kecil dengan rambut cokelat berdiri di sana. Dia memakai topi khas penyihir yang cukup besar dan mencolok serta armor kulit ringan di atas pakaian kotornya. Noda hitam memenuhi pakaian dan wajahnya, tetapi tampaknya dia tidak begitu peduli.


"Yah ... kupikir ada apa ribut-ribut di depan labku, ternyata ada bocah yang sedang bermain di sini." Gadis itu berbicara dengan nada ceria ke arah ketiga siswa tersebut.


Alma yang memperhatikannya mulai tertarik dengan sesuatu. Di samping kiri dan kanan kepala gadis itu, tumbuh sepasang telinga lancip dan memanjang. Memang tidak sepanjang telinga elf pada umumnya, tetapi cukup mencolok di antara manusia. Ketika dia terus memperhatikan bagian itu dan menggali lagi semua ingatannya tentang berbagai macam ras yang pernah dipelajarinya di dalam buku milik keluarganya, Alma mencapai suatu kesimpulan yang paling memungkinkan.


"Dwarf, ya? Atau anak elf?" Alma bergumam pelan.


"Beraninya kau menyebut kami bocah, dasar bocah!" Salah satu siswa membalas dengan nada membentak.


Jika dilihat dengan lebih teliti, memang gadis itu lebih kecil daripada ketiganya. Namun, usia dari ras yang berbeda tidak bisa dinilai hanya dengan melihat penampilannya saja. Pengetahuan umum menyatakan bahwa manusialah yang memiliki usia paling pendek. Jadi, menyebut anak manusia yang belum berusia dua puluhan sebagai bocah sepertinya cukup bisa diterima.


"Betapa kasarnya. Anak-anak harusnya lebih sopan kepada kakak ini, 'kan?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


"Jangan remehkan kami, sialan!"


Salah satu siswa mengangkat tangannya, mungkin bersiap untuk merapalkan mantra dan menyerang gadis kecil itu. Namun, siswa di sebelahnya menghentikannya tepat sebelum dia merapalkan mantra.


"Cukup, Alexis." Dia memegang salah satu bahu siswa tersebut.


"Wah ... kupikir kau akan mengajakku bermain juga. Kenapa malah berhenti?"


Lelaki itu hanya mencibir saat mendengar kalimat penggoda yang diucapkan oleh gadis kecil di hadapannya.


Dia memandangi siswa yang masih tersungkur di tanah seraya berkata, "kali ini kau kulepaskan."


Kemudian, pandangannya yang tajam beralih kepada gadis di hadapannya. Walaupun tatapannya terlihat mengancam, gadis itu tidak mengubah raut wajahnya yang masih menunjukan senyum ramah. Tentu saja Alma tahu bahwa wajah ramah itu hanyalah sebuah bentuk ejekan.


"Jadi, apakah putra kedua direktur akademi ini akan bersedia bermain denganku kali ini?" Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya.


"Kau tahu siapa beliau dan berani bertingkah sombong seperti ini?!" Siswa yang bernama Alexis kembali membalas kata-katanya. Namun, siswa di sampingnya mengangkat tangan sebagai isyarat untuk diam.


"Aku tidak sudi menghabiskan waktu dengan demihuman maniak sepertimu." Lelaki itu berbalik dan berjalan menjauh. "Ayo pergi, Alexis."


"Betapa kasarnya. Kakak ini hampir menangis mendengar kata-katamu, kau tahu?" Gadis itu kelihatannya menggoda lagi. Akan tetapi, kedua siswa tersebut mengabaikannya dan menjauh begitu saja.


Alma memandanginya dengan wajah yang cukup penasaran. Dia ingin tahu pengaruh macam apa yang dimiliki gadis itu sampai-sampai bisa membungkam seseorang yang memiliki status tinggi di akademi.


Ketika dia masih jatuh ke dalam renungan, siswa memar itu tiba-tiba berbicara.


"Terima kasih banyak."


"Lupakan saja. Aku hanya terganggu oleh suara berisik kalian. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi."


Gadis itu berjalan meninggalkannya, menuju sebuah ruangan tepat di samping kamar tidur yang Alma tempati. Kemudian, dia masuk ke dalamnya seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ah ... jadi dia sumber ledakkan yang selalu mengganggu itu, ya?"


Alma kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui Evans dan menghadiri turnamen yang akan diadakan siang nanti.


-------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 01 Februari 2020 pukul 12:00 PM