RE:Verse

RE:Verse
15.I True Vampire



Saat tubuhku masih merupakan iblis sepenuhnya dan telah menguasai sebagian besar dunia fana, aku pernah mendeklarasikan perang yang keliru. Ingatanku tentang hari itu memang agak pudar, jadi aku tidak terlalu mengingat detailnya dengan baik. Namun, beberapa hal yang menyulitkanku untuk mengakhiri perang besar yang berlangsung lebih dari lima tahun tersebut masih meninggalkan bekas di dalam ingatanku.


Pemimpin tertinggi kekaisaran musuh adalah salah satu dari sedikit makhluk yang mendapat gelar dewa, Undead God. Tidak perlu dipertanyakan lagi, sudah sangat jelas bahwa dia cukup kuat. Aku bahkan agak kewalahan saat melawannya. Namun, hal yang sekarang membuatku khawatir bukanlah dirinya.


Ketika aku melawan Undead God secara langsung, tidak ada satu pun makhluk dari kedua kubu yang berani ikut campur ke dalam pertempuran tersebut. Undead God memang tidak memberikan larangan spesifik untuk ikut campur, tetapi aku pribadi tidak ingin mendapat gangguan dari siapa pun. Jadi, untuk mencegah makhluk lain mengganggu pertarungan kami yang menyenangkan, aku memerintahkan Seven Deadly Sins untuk mengurus anak buah terkuat yang dimiliki oleh Undead God.


Ketujuh raja iblis itu hanya melawan dua musuh. Keduanya merupakan undead yang masuk ke dalam jenis vampire tingkat tinggi, seorang true vampire. Karena kemampuan uniknya yang memungkinkan mereka untuk bergerak pada siang hari dengan leluasa, tidak seperti vampire pada umumnya yang lemah terhadap cahaya mentari, kami menyebut mereka sebagai daywalker.


Meskipun aku tidak melihat pertarungannya secara langsung, aku tahu persis bahwa kedua daywalker tersebut pastilah sangat kuat. Buktinya, tujuh raja iblis yang seharusnya menang secara jumlah, cukup kewalahan melawan keduanya. Jujur saja hal ini benar-benar sulit dipercaya.


Apakah kau tahu apa yang lebih tidak bisa kupercaya lagi dari kisah yang baru saja kuceritakan? Salah satu daywalker ada di sini, di hadapanku. Dia menyamar sebagai seorang putri dari Kerajaan Cygnus, Putri Emas Adelaide. Bagaimana bisa aku lengah dan melupakan tentang kemungkinan adanya keberadaan mereka di wilayah manusia?


Aku tidak tahu sebesar apa tingkat bahaya dari seorang daywalker karena aku belum pernah sekali pun melawan mereka secara langsung. Namun, aku yakin bahwa keberadaan mereka saat ini sudah lebih dari cukup untuk membunuhku jika aku lengah sedikit saja.


Bisa-bisanya aku masuk ke dalam wilayah berbahaya seperti ini tanpa memiliki rencana apa pun.


Carla mengantarkan kami untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu dan mengganti pakaian dengan sesuatu yang layak. Kurasa memang tidak sopan untuk bertemu seorang penguasa tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu. Jadi, aku menyetujuinya dan mulai membersihkan diri.


Selama para pelayan yang diperintahkan oleh Carla sibuk menggosok tubuh manusiaku, pikiranku terus berkecamuk. Aku masih saja kehilangan ketenangan setelah melihat dari dekat sosok yang kuyakini sebagai salah satu dari dua daywalker.


Bagaimana bisa orang itu menjadi putri di kerajaan ini? Kenapa orang-orang tidak menyadari sosok aslinya? Apakah penyamarannya di kerajaan ini merupakan salah satu rencana dari Undead God?


Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih.


Para pelayan membantuku mengenakan sebuah pakaian yang cukup mewah. Mereka juga membantuku memasangkan ikat pinggang yang terhubung dengan pedang milikku. Kepiawaian mereka dalam menangani masalah ini benar-benar patut untuk dipuji. Pelayan istana memang tidak dapat diremehkan.


Setelah keluar untuk kembali bertemu dengan Carla, aku melihat Alma yang kini sudah memakai sebuah gaun berwarna hitam. Melihat rambut hitamnya yang terurai dihiasi beberapa aksesoris rambut dan topeng hitam yang kupinjamkan padanya membuat aura bangsawan yang selama ini memudar mulai kembali terpancar darinya. Pandangan tajam dari kedua bola mata cokelatnya juga terlihat seperti mata seorang bangsawan jahat yang suka merendahkan rakyat jelata. Sayangnya, senjata-senjata yang dia bawa merusak kesan mewah itu sendiri.


Kemungkinan besar kesan yang sama juga terpancar dariku. Walau bagaimanapun, tubuhku adalah darah daging yang sama dengan tubuh milik Alma, jadi seharusnya aura kami akan sangat mirip. Terserahlah, aku tidak punya waktu untuk mengurusi masalah sepele seperti ini sekarang.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Saat kami kembali berjalan melewati lorong istana, aku berbicara kepada Carla.


"Tentu, apakah ada masalah?" Carla merespon pertanyaanku dengan nada datar yang biasanya.


"Tidak ada. Aku hanya penasaran, apakah Putri Emas memiliki saudari?"


Sejauh yang aku tahu, Daywalker Adelaide memiliki saudari kembar yang bernama Arabella. Wajah mereka mirip, tetapi warna rambutnya jauh berbeda. Adelaide memiliki rambut pirang keemasan yang ikal. Mungkin inilah sebabnya dia dijuluki sebagai putri emas. Sementara itu, saudarinya memiliki rambut lurus berwarna putih keperakan dengan bola mata berwarna biru pudar. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa memiliki perbedaan. Namun, hal itu tidaklah penting. Apa yang harus kuketahui sekarang adalah tentang ada atau tidaknya Arabella di kerajaan ini.


"Kurasa hal yang wajar jika kalian tidak tahu. Beliau memiliki saudari, julukannya adalah Putri Perak Arabella. Kedua Yang Mulia Putri merupakan orang yang sangat terkenal di seluruh penjuru kerajaan ini. Mereka dijuluki sebagai sepasang permata dari istana."


Benar-benar mimpi buruk! Bagaimana bisa kedua daywalker berada di tempat ini?! Jika kedua anak buah terkuat milik Undead God berada di sini, maka tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga ada di sini. Skenario terburuknya adalah identitas sebenarnya dari Raja Cygnus itu sendiri merupakan Undead God.


Melawannya bukanlah hal yang mudah. Setidaknya aku perlu menggunakan semua kekuatanku untuk membunuhnya. Namun, jika kedua daywalker ikut campur ke dalam pertarunganku, bahkan diriku sendiri tidak yakin dapat mengalahkan mereka bertiga sekaligus. Selain itu, begitu aku mengeluarkan seluruh kemampuan yang kumiliki, Hestia pasti akan langsung tahu kehadiranku.


Sialan! Aku harus segera pergi dari sini bagaimanapun caranya! Walaupun aku bersembunyi di balik tubuh manusia, risikonya masihlah terlalu besar untuk langsung bertatap muka dengan Undead God.


Kami mungkin bisa saja menghindari pertarungan melalui negosiasi. Namun, aku tidak yakin bagaimana caraku untuk meyakinkannya agar tidak membunuhku di situasi yang jelas-jelas menguntungkan pihaknya. Entah apa yang harus kulakukan, pokoknya aku harus mempertaruhkan segalanya untuk mengamankan nyawa kami di situasi sekarang ini.


"Memberi tahukan kedatangan Petualang Yehezkiel dan Almaria!"


Saat aku masih terjebak dalam kekalutan, suara lantang Carla membuatku terkejut dan segera tersadar. Tubuhku bahkan mulai gemetar secara tidak sengaja. Jika aku dapat melihat diriku sendiri, saat ini wajahku juga pasti sudah memucat.


Kami berdiri menghadap pintu kayu ganda dengan corak kaligrafi yang rumit. Di samping kiri dan kanan pintu berdiri masing-masing seorang imperial knight bersenjatakan tombak dan armor lengkap. Mereka memalingkan kepalanya ke arah kami tanpa melakukan pergerakan apa pun lagi. Jika saja kedua ksatria itu tak menggerakan kepalanya, mungkin aku akan menganggapnya sebagai patung alih-alih ksatria yang sebenarnya.


"Seluruh senjata dilarang untuk dibawa masuk, bisakah kalian menitipkannya kepada ksatria istana?" Carla berbicara pelan, melirik ke arah senjata yang kami bawa.


Ketika Alma akan melepaskan sepasang belati dan pedang satu tangan hitam yang masih tetap dia pasang walaupun dirinya memakai gaun, aku memberi tanda padanya untuk berhenti. Meninggalkan senjata kami di situasi genting bukanlah pilihan yang baik. Aku harus meyakinkan mereka agar tetap mengizinkan kami untuk membawa semua senjata.


"Bagaimana kalau aku keberatan?" Nadaku menajam, menatap Carla dengan pandangan tidak senang.


Di saat genting seperti ini, penting bagi kami untuk selalu membawa persenjataan. Aku tidak bisa membiarkan penjagaanku jauh lebih lemah daripada keadaan sekarang. Tidak ada jaminan bahwa identitas asliku masih belum diketahui oleh pihak musuh. Tak ada yang bisa menjamin juga bahwa Undead God tidak tertarik untuk membunuhku. Jadi, menaruh senjata milik Alma bukanlah pilihan yang baik.


"Sebenarnya itu hanya tata krama. Tidak akan ada masalah walaupun kau membawanya karena ksatria yang menjaga Yang Mulia Raja ada di dalam. Beliau juga sudah sering memberikan izin seperti itu sejak tahun lalu. Jadi, aku akan memberi kalian izin jika kalian mengajukan keberatan." Gadis itu menjawab pertanyaanku dengan enteng.


"Baiklah, aku akan bertanggung jawab atas izin yang kuberikan."


Tepat setelah Carla menyelesaikan kalimatnya, pintu kayu ganda dengan corak rumit di hadapan kami yang dijaga oleh dua ksatria mulai terbuka. Suara berderit yang muncul akibat gesekan dari bagian engsel pintu seakan mengantarku menuju salah satu sumber masalah terburuk yang pernah kuhadapi selama ini. Ketika pintunya terbuka dengan sempurna, aku langsung membalas tatapan mata Sang Raja yang tengah duduk di atas sofa mewah tak jauh dari posisi kami berdiri.


Lelaki muda itu tersenyum dengan pandangan mata yang tajam. Tanpa sadar, aku juga membalas senyuman penuh intimidasi itu dengan seringai di wajahku.


---------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Minggu 24 November 2019


Pukul 03:00 PM


Note :


Ku apdet lagi uwu ...


Apdet sekarang adalah karena tercapainya pencapaianku sebagai author amatir/pemula di Mangatoon :3


Ku mau konfirmasi masalah yang sebenernya udah sering ditanyain (bukan hanya di Mangatoon, tapi di facebook dan wattpad juga).


"Apdetnya kok lama banget sih, percepat dong ..."


Sebelum mengemukakan alasan, ku akan mengakuinya bahwa apdetnya yang lama (gak secepat author2 hebat lain yang bisa apdet 1 chapter per hari) memang 100% karena ketidak mampuanku dalam menulis secepat itu tanpa menurunkan kualitas tulisan. Jadi, ku minta maaf secara pribadi.


Alasan lain yang mendasari ini antara lain :




Ku gak ajuin kontrak ke Mangatoon lho. Apa yang kalian baca ini bisa dibilang gak menghasilkan apa pun padaku (yah walaupun bisa dibilang pendapatanku dari view rata2 75 rupiah per hari, tapi sampe hari ini gak ada sepeser pun yang pernah masuk ke dalam dompetku).




Berkenaan dengan poin pertama, otomatis menulis bukanlah pekerjaan utamaku melainkan sekadar hobi. Jadi, ku punya pekerjaan lain yang gak bisa kusebutin di sini. Tempatku bekerja adalah daerah susah signal dan waktu istirahatku itu terbatas. Bisa dibilang ku tinggal di mess dan waktu kerja utamaku itu 8 jam sehari tanpa pernah ada hari libur (minggu tetep kerja fiuhh). Di luar 8 jam itu, ku masih harus kerja lembur juga dan waktu tidurku itu antara 4-5 jam sehari.




Berdasarkan poin kedua, waktu bagiku untuk menulis hanya ada pada saat jam tidur aja. Dan karena ku gak ngajuin kontrak serta mengerjakan projek ini sendirian (dimulai dari nulis, perbaiki typo, memperdetail tulisan, melakukan pengecekan akhir), makanya ku gak sanggup kalo apdet sechapter per hari. Ku yakin orang-orang yang gemar baca pasti dah tahu ini, tapi mungkin masih ada yang belum tahu, jadi kutulis tanpa bermaksud menggurui kalian ya ... nulis itu gak sekadar nulis terus publish lho. Kita harus revisi berkali-kali sebelum dipublish hmm ... Untukku pribadi, ku akan membaca dan merevisi sekitar 6 sampai 8 kali sebelum kupublish.




Kadang ku bisa menghasilkan 2 chapter dalam seminggu. Tapi kadang juga bahkan ku gak bisa menghasilkan satu chapter pun dalam seminggu. Jadi, ku ambil jalan tengahnya dengan apdet hanya 1 chapter per minggu heu ...




"Ah alesan, bilang aja gak sanggup apdet cepet."


... iya memang alesan doang heu ...


Ke depannya akan kucoba yang terbaik deh, seenggaknya sampe 2 chapter per minggu. Tapi ku pribadi gak terlalu suka apdet cepet karena kemungkinan kualitas tulisannya akan menurun hiks.


Begitulah, sekali lagi maaf karena gak mampu apdet secepat author yang dah pada senior hiks