
Alma agak terkejut saat menyadari bahwa dirinya terbaring tidak sadarkan diri selama satu minggu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau konsentrasi mana kegelapan miliknya yang hanya sedikit lebih baik daripada acient demon terendah bisa mengakibatkan kerusakan parah pada tubuhnya.
Sebelumnya dia memang sudah familier dengan aturan yang menyatakan bahwa tubuh manusia harus memiliki cukup dosa untuk menahan beban dari kekentalan mana jenis kegelapan yang dimiliki para demon. Namun, ketika dirinya pertama kali dibangkitkan dengan menggunakan Mantra Necromancy Tingkat Ketiga, tidak ada sedikit pun tanda-tanda kerusakan pada tubuh manusianya. Jadi, dia pikir Sang Tuan memiliki suatu cara untuk mengakali pengaturan tersebut. Pemikiran itulah yang mendasari pilihanya untuk menggunakan hampir setengah dari jumlah total mana miliknya yang dia segel.
Gadis itu sempat bertanya mengenai kasus tersebut kepada tuannya ketika ada waktu luang. Rasa penasarannya terhadap keanehan yang terjadi membuatnya memberanikan diri meminta Sang Tuan untuk mendiskusikan hal ini bersama. Walaupun begitu, tuannya malah menjawab pertanyaan tersebut dengan pembahasan yang tidak begitu dia mengerti.
Beliau mengatakan bahwa hukum dunia telah melenceng. Perubahan hukum dunia terjadi antara waktu dimana mereka melakukan perjalanan ke Kerajaan Cygnus hingga pelepasan segel yang dilakukan oleh Alma ketika dirinya melawan Erebrus. Terus terang saja, Alma sangat tidak puas dan merasa aneh dengan penjelasan tersebut.
Sejak awal gadis itu yakin aturan dunia mengenai hal ini tidak pernah berubah. Buktinya dia ingat betul bahwa sejak pertama kali dibangkitkan, dirinya sudah merasa aneh dengan tubuh manusianya yang baik-baik saja. Jadi, jika saat itu hukum dunia masih belum memberlakukan aturan ini, seharusnya tidak terlintas sedikit pun tentang keanehan fenomena yang menimpanya.
"Kalau memang kau merasa bahwa fenomena tersebut adalah hal yang wajar, lalu kenapa kau tidak bertanya mengenai tubuhmu yang baik-baik saja sesaat setelah menyadari bahwa jiwamu masuk ke dalam tubuh anak manusia?"
Kenapa ...? Tentu saja karena Yang Mulia memiliki cara ... tunggu dulu, mengakali hukum dunia itu mustahil, 'kan?
Pertanyaan sederhana yang diucapkan oleh tuannya membuat Alma semakin kebingungan. Menghindari hukum dunia seharusnya mustahil untuk dilakukan bahkan bagi para dewa sekalipun. Kalau begitu, kenapa dia berpikir bahwa Sang Tuan dapat mengakalinya dan menerima begitu saja masalah serius ini sebagai hal sepele yang tidak perlu dipertanyakan?
Alma berpikir bahwa sebodoh dan seceroboh apa pun dirinya, dia tidak mungkin menyepelekan kasus fatal yang menyangkut hidup dan matinya. Jika memang seperti itu, maka perubahan aturan dunia menjadi satu-satunya alasan yang logis. Namun, aneh rasanya mengingat sejak awal dirinya dipanggil, dia sudah tahu mengenai masalah ini seakan hukum dunia tidak pernah berubah sedikit pun.
"Jangan terlalu dipikirkan. Tampaknya ingatan dan pengetahuan seluruh makhluk ikut berubah sesuai dengan hukum dunia baru yang berlaku. Mungkin fenomena ini terjadi dengan maksud supaya orang-orang tidak menyadari sama sekali tentang ketidak konsistenan hukum dunia."
Memang benar bahwa hal seperti itu bisa saja terjadi. Apalagi makhluk yang memiliki akses untuk mengubah hukum dunia adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Jadi, wajar jika mereka juga dapat melakukan hal-hal tidak masuk akal lainnya. Namun, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Maaf jika Hamba tidak sopan karena menanyakan hal ini, tetapi bagaimana bisa Anda menyadari bahwa aturan dunia telah berubah?"
Sang Tuan mengalihkan pandangan ke arah langit-langit penginapan untuk beberapa saat. Kedua bola mata Beliau terpejam sebentar diikuti suara helaan napas pendek.
"Mungkin makhluk pada tingkat God Level Organism tidak mengalami perubahan ingatan. Tampaknya para ancient tidak bisa memengaruhi kami seenak mereka. Aku tahu persis bahwa hukum dunia yang berlaku saat ini memiliki perbedaan dengan hukum dunia sebelumnya."
Jika dicocokan secara paksa, semuanya menjadi agak masuk akal. Alma tidak sedikit pun meragukan alasan yang diterimanya karena Sang Tuan sendirilah yang menjelaskan kepadanya. Jika itu adalah Demon God, maka memang seperti itulah kenyataannya. Bahkan jika Beliau mengatakan bahwa dirinya dapat menjelajahi waktu, Alma akan langsung memercayainya tanpa keraguan.
Sepuluh hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan Kota Trowell. Tanpa membuang banyak waktu, tepat setelah Carla mengganti pakaiannya dengan jubah militer kerajaan, dia langsung mengantarkan mereka menggunakan kereta kuda mewah berlambang keluarga kerajaan menuju istana utama.
Gerbang-gerbang kota mereka lewati tanpa adanya masalah. Bahkan para penjaga gerbang langsung menaruh penghormatan ketika melihat lambang yang terukir di bagian pintu kereta kuda yang mereka naiki. Hal ini berlanjut hingga melewati gerbang utama wilayah keluarga kerajaan.
Alma --bersama kedua orang lainnya-- menuruni kereta tepat setelah memasuki wilayah istana. Jalanan batu yang sangat rapi dan padang rumput indah yang terhampar hingga menuju kastil utama seakan menyambut kedatangan mereka. Alma bahkan sedikit tertegun saat memandangi taman bunga serta kastil-kastil mewah yang dibangun memenuhi wilayah ini.
"Senang bisa melihat Anda kembali, Marchioness Ferrero."
Ketika dirinya masih teralihkan oleh pemandangan megah di hadapannya, suara seorang pria yang terkesan penuh dengan kesombongan dan arogansi menyadarkan Alma dari pemikirannya. Dia menatap lelaki paruh baya yang berdiri tak jauh darinya seraya sedikit membungkuk sebagai tanda penghormatan.
Orang bertubuh besar itu mengenakan jubah militer mewah berwarna biru laut. Di bagian lengan atas kiri jubahnya, Alma dapat melihat lambang dua bilah pedang yang saling bersilangan menutupi pola perisai. Sementara itu, lambang yang tergambar di lengan kanan jubahnya adalah sosok dari singa dengan ekor ular, mengingatkan Alma pada monster chimera yang pernah dia lihat di dalam koleksi buku milik Keluarga Canaria.
Berdasarkan pengetahuan yang dia dapatkan dari ingatan Almaria semasa hidupnya, pola pada jubah bagian lengan kiri orang itu merupakan lambang keluarga bangsawan sementara apa yang tergambar di lengan kanan jubahnya adalah lambang kerajaan. Oleh karena itu, jubah tersebut hanya memiliki perbedaan pada bagian lengan kirinya saja jika dibandingkan dengan jubah biru yang sekarang dipakai oleh Carla. Hal ini menandakan bahwa mereka dari kerajaan yang sama, tetapi berasal dari keluarga bangsawan yang berbeda.
Di belakang lelaki bangsawan tersebut, Alma juga melihat beberapa prajurit dilapisi armor logam berwarna perak yang memiliki ukiran sama persis dengan lambang keluarga bangsawan pria itu. Masing-masing dari mereka membawa sebilah pedang satu tangan yang menggantung di pinggang bagian kiri. Walaupun wajah dan postur tubuhnya cukup mengintimidasi, menilai dari bagaimana cara mereka berdiri membuat Alma yakin bahwa tidak ada satu pun prajurit yang patut diwaspadai. Jadi, dia menurunkan sedikit penjagaannya.
"Begitu juga dengan saya." Carla membalas ucapan pria itu dengan sopan. "Sebelum itu, saya akan memperkenalkan Anda kepada tam--"
"Tidak perlu." Pria besar tersebut segera memotong perkataan Carla setelah menyadari apa yang ingin gadis itu sampaikan. "Saya tidak tertarik untuk mendengar nama dari rakyat jelata rendahan."
Dia menatap pakaian yang digunakan Sang Tuan dengan pandangan seakan merasa jijik. Alma bahkan dapat melihat dengan jelas raut wajah meremehkan yang lelaki itu tunjukan kepada tuannya.
Hal seperti ini tentu saja tidak dapat ditolerir. Walaupun mereka sedang dalam keadaan menyamar, bukan berarti manusia boleh melakukan hal kurang ajar seperti itu terhadap tuan yang dia layani. Hukuman bagi mereka yang berani meremehkan Sang Tuan adalah kematian secara perlahan dan menyakitkan. Sebagai salah satu bawahannya, ini adalah tugasnya untuk memberikan hukuman.
Tanpa sadar tangan kecilnya mulai memegang salah satu belati hitam yang dipercayakan oleh Sang Tuan kepadanya. Amarah yang meluap membuat dirinya ingin langsung memotong-motong manusia sombong di hadapannya sampai seratus potongan, menggunakan mantra regenerasi tingkat tiga pada tubuh itu ketika sekarat, dan mengulangi penyiksaanya kembali sampai dirinya puas. Namun, ketika Alma berniat mengeksekusi rencananya, Sang Tuan menatapnya dengan pandangan yang sangat mengintimidasi.
Gadis itu hampir saja melompat untuk membuka jarak karena merasa nyawanya terancam. Hanya dengan tatapan tajam dari Sang Tuan sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan kengerian di dalam pikirannya. Di tengah ketenangan yang berusaha dia perlihatkan, keringat dingin bahkan mulai mengalir dari dahinya.
Alma tahu persis apa yang membuat tuannya memberikan intimidasi kuat kepadanya. Beliau pasti tidak ingin gadis itu melakukan tindakan yang akan membuat kekacauan. Jadi, untuk menghindari dirinya dari amukan Sang Tuan, Alma mengurungkan niatnya menghukum pria tidak sopan di hadapannya.
"Baiklah kalau begitu. Saya pamit undur diri."
Berbeda dengan nada cemoohan yang dia tujukan kepada tuannya, pria tersebut berbicara dengan sopan kepada Carla. Tentu saja Alma sangat kesal dengan diskriminasi yang mereka terima darinya. Namun, gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki suasana hatinya.
"Aku tahu petualang dengan peringkat setinggi kalian sering diperlakukan istimewa oleh petualang lainnya. Aku juga tahu sebelum menjadi petualang, kalian pasti sangat dihormati. Namun, status kalian sekarang hanyalah orang biasa dan aku yakin kalian pasti sudah tahu tata krama seorang bangsawan. Jadi, aku mewakilkannya untuk meminta maaf dan memohon kepada kalian berdua agar memakluminya."
Di tengah perjalanan menuju istana, Carla berbicara dengan nada datar seperti biasanya. Alma bahkan bisa menebak dengan mudah bahwa gadis itu tidak terlalu peduli. Dia mengatakannya hanya karena terpaksa untuk memperlakukan tamu yang diundang langsung oleh Raja dengan baik. Mengetahui kenyataan ini membuat Alma semakin merasa kesal.
Lorong megah yang mereka lewati disangga oleh pilar-pilar besar berlapis keramik yang mengkilap. Lantai yang sejak tadi mereka injak juga merupakan batu berlapis keramik dengan warna putih bersih tanpa ada noda sedikit pun. Taman bunga dan hamparan rumput yang sangat terawat menghampar di samping kiri dan kanan lorong, benar-benar wilayah yang dipenuhi dengan keindahan. Alma merasa sedikit baik setelah menikmati pemandangan untuk beberapa saat.
Ketika dirinya masih terhanyut dengan pemandangan indah di sekitarnya, Carla tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kemudian, dia meminta mereka berdua untuk mengikutinya berdiri menyamping sejajar dengan salah satu pilar penyangga. Mereka mengambil sikap hormat seraya sedikit menundukan kepala.
Awalnya Alma tidak begitu mengerti dengan tindakan yang diminta oleh Carla. Namun, saat gadis bangsawan itu mengucapkan sesuatu, Alma langsung memahami apa yang sedang terjadi saat ini.
"Marchioness Ferrero memberi hormat kepada permata kerajaan, Yang Mulia Putri Emas Adelaide." Carla mengangkat suara saat seseorang melangkah tepat di hadapan mereka.
Menyadari salam yang diberikan oleh Carla, sosok itu berhenti di hadapan mereka untuk membalas salam penghormatan tersebut.
"Senang bisa melihat Anda lagi, Nona Ferrero. Tidak usah terlalu formal dengan saya, angkatlah kepala kalian."
Setelah mendengar balasan ramah seorang gadis di hadapan mereka, Alma dan yang lainnya perlahan mengangkat kepala. Dia langsung menatap dua orang asing yang sedang berdiri tepat menghadap mereka bertiga.
Sosok yang berdiri paling depan adalah seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tahunan. Dia mengenakan gaun mewah berwarna hitam dan menghiasi lehernya dengan kalung permata yang tampak elegan. Bola mata birunya memandang dengan hangat, seolah mendukung senyuman yang dia tunjukan kepada mereka. Melihat rambut emas ikalnya yang diatur dengan gaya khas dan elegan membuat Alma langsung mengerti kenapa gadis itu disebut sebagai putri emas.
"Suatu kehormatan bagi saya untuk mengetahu bahwa Anda masih mengingat saya, Yang Mulia Putri."
Kalimat yang diucapkan oleh Carla menyadarkan Alma dari tatapan penuh memperhatikan yang dia tunjukan beberapa saat lalu. Ketika menyadari bahwa sosok ksatria berlapis armor logam di belakang Sang Putri menatap ke arahnya dengan curiga, Alma segera mengalihkan pandangannya.
Untuk menghindari kontak mata dengan ksatria tersebut, Alma mengalihkan pandangan ke arah wajah Sang Tuan secara tidak sengaja. Pada saat itulah dia menyadari tuannya sedikit menunjukan kejanggalan.
Bola mata cokelatnya menangkap raut wajah Sang Tuan yang kehilangan ketenangannya. Dia dapat melihat bulir-bulir keringat dingin mengalir membasahi pipi majikannya yang memucat. Tidak lama setelahnya, Alma bahkan mulai mencium bau dari ketakutan yang sedikit terpancar dari tubuh manusia itu.
"Apakah ada yang salah?"
Mengabaikan pembicaraan yang dilakukan antara Putri Emas dengan Carla, Alma berbisik ke arah Sang Tuan. Dia yakin bahwa majikannya merasakan kejanggalan begitu melihat sosok asing yang masih bertukar sapa di hadapan mereka.
"Tidak ... tidak ada apa-apa. Aku akan memberi tahumu begitu aku yakin."
Baru pertama kali Alma melihat sosok yang dihormatinya merasa bimbang akan sesuatu. Selama dia berada di samping tuannya, Alma tidak pernah sekali pun melihatnya sangat khawatir seperti ini. Hal tersebut membuat gadis itu yakin bahwa permasalahan kali ini berada pada tingkat yang berbeda dengan sebelumnya. Tentu saja, Alma juga jadi ikut khawatir saat mencoba untuk menebak-nebaknya.
---------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu, 23 November 2019
Pukul 02:40 PM
Note :
Maaf atas pengalihan sudut pandang dan flashbacknya (lagi) heu ...
Ku merasa lebih cocok aja kalo diambil dari sudut pandang Alma.
Ah, sbnernya ada sedikit masalah yang membuatku bimbang akhir2 ini ...
Cara atau langkah2ku dalam membuat cerita sbnernya seperti ini :
Memikirkan ending
Menciptakan latar belakang dunia
Menambahkan konflik2 kecil
Menentukan MC
Membentuk awal cerita dan menambah tokoh lain
Memang selama ini gada masalah krna ku nulis cuma buat konsumsiku sendiri. Tapi begitu cerita ini tiba2 punya pembaca, ku mulai memikirkan kalian. Satu hal yang terlintas di pikiranku sejak lama, "apakah ending ini gak akan bikin kecewa yang baca?"
Seperti yang kusebutkan di atas, bagian "ending" adalah yang paling awal terlintas di pikiranku. Dan karena menurutku ending cerita ini apalah-apalah (klo kubilang nanti sop iler), makanya ku mulai bimbang apakah harus kuubah endingnya ataukah tidak heu ...
Efek sering dikecewakan ending cerita yang kubaca, makanya bikin ku kepikiran juga.