RE:Verse

RE:Verse
10.V Kaisar Dwarf



Pada saat semua peradaban memutuskan untuk menjadikan bentuk pemerintahannya sebagai kerajaan, ada satu wilayah yang menggunakan bentuk kekaisaran. Tempat ini memiliki nama resmi dan dikenal sebagai Kekaisaran Dwarf. Bukan tanpa sebab wilayah itu mengambil bentuk kekaisaran, sejarah kelam di masa lalu mengharuskan mereka untuk melakukannya. Untungnya, pilihan untuk membentuk kekaisaran menuntun mereka ke dalam kemakmuran dan kedamaian hingga sekarang.


Tempat itu dipimpin oleh seorang wanita yang diakui sebagai salah satu dari enam pendeta. Namanya cukup terkenal, tetapi dia sangat jarang menginjakan kaki di luar wilayahnya. Sampai sekarang hanya sedikit orang yang pernah melihatnya secara langsung.


Berbeda dengan kerajaan manusia, Kekaisaran Dwarf dibangun jauh di bawah tanah. Walaupun begitu, sangat banyak orang yang tertarik untuk berkunjung kemari dan menghabiskan waktu mereka. Tempat yang hanya diterangi oleh batu-batu sihir itu menarik minat orang-orang dari seluruh dunia.


Para prajurit yang mengatur keamanan kota dan pasukan militer di wilayah ini terbilang cukup unik. Hampir semuanya didominasi oleh wanita yang memang dilatih sejak kecil untuk menjadi prajurit. Sementara itu, kaum laki-laki banyak menghabiskan waktunya di bengkel dan pertambangan untuk membuat perlengkapan sihir yang hebat.


Segala peralatan tempur dari kekaisaran merupakan perlengkapan dengan prioritas tertinggi. Produknya diakui sebagai mahakarya yang hampir setara dengan senjata-senjata milik enam pendeta. Hal ini juga menjadi salah satu alasan kenapa ada banyak sekali pengunjung yang datang jauh-jauh kemari.


Carmen sudah beberapa kali datang ke sini untuk mengantarkan kabar. Dia juga pernah mengunjungi pasar dan mencari berbagai item sihir yang berguna untuknya. Sayangnya, harga tiap item benar-benar dapat menguras kantong. Jadi, dia tidak pernah membeli lebih dari dua item setiap berkunjung ke sini.


Seperti biasanya, hari ini dia tidak berkunjung semata-mata untuk membeli sebuah item, melainkan diperintah untuk mengantarkan pesan kepada Sang Kaisar.


Dia melangkah melewati sebuah lorong raksasa yang cukup remang. Sementara itu, beberapa prajurit wanita yang menggenggam sebuah tombak dengan ujung menyerupai kapak logam berjalan mendampinginya.


"Jarang sekali kau terlambat seperti ini. Empress Glastila sudah agak marah."


Salah satu gadis pendek berambut cokelat membuka pembicaraan dengannya. Dia tidak memandang, hanya fokus menatap ke depan dengan wajah yang agak khawatir.


Walaupun terlihat pendek dan kecil layaknya manusia berusia dua belas tahunan, Carmen dapat melihat sedikit otot-otot tangannya saat gadis itu menggenggam tombak logam miliknya. Hanya dengan memandangnya sekilas, dia yakin bahwa tombak itu pastilah sangat berat. Anak manusia dengan penampilan yang sama sepertinya pasti tidak akan sanggup untuk menenteng benda seperti itu.


"Aku sudah membuat jadwal dengan baik. Namun, sedikit masalah muncul. Kuharap beliau akan mendengarkan permintaan maafku." Carmen menjawab ucapannya dengan sedikit murung.


Beberapa prajurit yang berjalan di sampingnya bukanlah sekumpulan anak gadis yang sedang bermain. Usia mereka bahkan berkali-kali lipat lebih tua dari Carmen saat ini. Hanya saja, layaknya ras elf, pertumbuhan mereka semakin melambat seiring bertambahnya usia. Namun, ras mereka memiliki perlambatan yang jauh lebih parah daripada para elf. Inilah sebabnya kenapa semua penghuni Kekaisaran Dwarf terlihat seperti anak-anak.


Sebagai ganti dari penampilan mereka yang menggemaskan, tersimpan kekuatan yang setara dengan para warrior dari kelas guardian. Tubuh mereka sangatlah kokoh dan mampu melakukan hal-hal yang seharusnya hanya dapat ditangani oleh sepuluh orang dewasa secara bersamaan. Oleh sebab itu, para dwarf sangat bangga dengan senjata-senjata kelas berat yang mereka kembangkan sendiri. Sayangnya, layaknya para guardian yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk melatih kekuatan dan pertahanan, gerakan para dwarf tidak begitu cepat. Jadi, ketika melakukan pertarungan satu lawan satu, menghindari serangan mereka seharusnya menjadi pilihan yang bijak daripada harus menahannya.


"Beliau sangat tempramen dan ucapannya itu benar-benar menusuk hati. Kau harus membayar kami dengan satu peti anggur setelah ini."


Sudah menjadi rahasia umum bahwa para dwarf adalah pemabuk yang hebat. Jadi, Carmen dapat memaklumi permintaan itu. Namun, tetap saja satu peti anggur terasa terlalu banyak. Untungnya pendapatan yang dia terima sebagai seorang pendeta lebih dari cukup untuk membeli beberapa peti anggur sekaligus.


Mereka berdiri tepat di depan sebuah pintu emas dengan corak dan kaligrafi dari tulisan kuno para dwarf. Orang-orang menyebutnya sebagai rune atau relief. Tulisan kuno itu dipercaya dapat memperkuat perlengkapan yang menjadi mediumnya. Namun, tidak ada bukti nyata apakah rune benar-benar memengaruhi perlengkapan mereka atau tidak.


Sesaat setelah mereka mendekati pintu ganda raksasa itu, perlahan kedua daun pintu mulai terbuka, mengeluarkan suara derit khas yang mengesankan betapa beratnya kedua lempengan logam tersebut.


"Memberi tahukan kedatangan Pendeta Ordo!"


Salah satu prajurit berteriak lantang. Setelah itu, mereka mulai berjalan melewati pintu ganda tersebut. Carmen melangkah mengikuti para prajurit setelah kedua daun pintu terbuka dengan sempurna.


Pilar-pilar logam dibangun untuk menahan ruangan luas tersebut dari longsor. Batu-batu sihir ditanam dengan pola tertentu, mengeluarkan cahaya putih murni yang menerangi ruangan luas itu. Lantai dan dindingnya adalah keramik dengan kualitas terbaik di dunia. Tidak lupa, selembar karpet merah ditempatkan di depan pintu masuk hingga tepat berada di bawah tangga. Kemudian, ujung dari tangga itu ditempati oleh sebuah kursi emas bermandikan berlian.


Terbalik dengan kesan megah dan mewah yang ditimbulkan dari ruangan luar biasa itu, Carmen tidak melihat siapa pun kecuali dirinya, enam orang prajurit yang mengantarkannya kemari, dan seseorang yang sedang duduk di hadapannya. Untuk ukuran ruangan takhta dari sebuah kekaisaran, tempat ini teramat sunyi.


Tepat di atas kursi kekaisaran, seorang gadis kecil dengan rambut cokelat yang diikat twintail sedang duduk sementara kaki kanannya terangkat dan bertumpu di paha kirinya. Dia menyangga dagunya dengan tangan kanan dan menyender pada pegangan kursi tersebut. Sementara itu, tangan kirinya memeluk sebuah tombak logam yang sama seperti tombak-tombak yang dibawa oleh para prajuritnya.


"Ho~ kau masih berani datang menemuiku setelah membuatku menunggu beberapa menit. Bahkan melepas kepalamu sendiri masih kurang untuk membayar penghinaan ini."


Sesaat setelah mendengar kata-kata penuh nada ancaman darinya, seluruh prajurit --termasuk Carmen-- berlutut dan menundukan kepala sebagai tindakan hormat. Mereka semua terdiam tanpa berani untuk mengeluarkan sepatah kata pun di hadapan penguasa tertinggi Kekaisaran Dwarf.


"Angkat kepalamu dan aku mengizinkanmu untuk berbicara."


Carmen mulai mengangkat kepalanya, menatap gadis kecil yang terbalut gaun perang berwarna merah. Dia mengambil beberapa napas sebelum berbicara kepada gadis itu.


"Hormat saya, Empress Glastila. Saya tahu ini tidak layak, tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasan keterlambatan saya."


Setelah mendengar kata-kata Carmen yang penuh dengan sopan santun, gadis itu terpejam dan menghela napas malas.


"Lakukan." Dia menjawab dengan nada yang enggan.


"Demigod menyuruh saya untuk menyelesaikan urusan dengan Kerajaan Ignis terlebih dahulu dan --"


Sebelum Carmen menyelesaikan penjelasannya, sebuah tombak kapak meluncur dan menancap tepat di hadapannya, menghancurkan lantai keramik dan karpet merah yang dia pijak. Gadis itu cukup terkejut dengan lemparan dari Empress Glastila yang bahkan tidak dia sadari.


"Orang itu menempatkan manusia sebelum aku?! Bagaimana bisa dia menyuruhmu untuk datang ke tempat sampah terlebih dahulu sebelum menghadapku?!"


Dia membentak dengan suara yang khas seperti anak-anak. Empress Glastila bahkan berdiri di atas kursi takhta miliknya dan menunjuk Carmen saat berbicara.


Sebenarnya apa yang dia lakukan malah terkesan seperti seorang anak nakal yang sangat keras kepala. Namun, tidak ada seorang pun di sana yang berani untuk menegur ketidak sopanannya.


"Saya akan mengajukan protes Anda pada-Nya nanti." Masih dengan nada yang sopan, Carmen menjawab bentakannya.


Setelah mendengar ucapan Carmen, raut wajahnya berubah menjadi sedikit bermasalah. Dia mulai kembali duduk di kursinya dengan tenang seraya menghela napas untuk meredakan amarahnya.


"Lupakan saja. Jangan bilang apa pun padanya, mengerti?"


"Baiklah, saya mengerti." Carmen agak puas dengan hasil pembicaraan ini.


"Lalu, apa yang membuatmu terlambat?" Bersamaan dengan meredanya emosi gadis itu, dia kembali ke topik utama.


"Permasalahan di Kota Agarten --"


"Ah, tempat itu. Aku merasakan sihir yang pekat di sana beberapa waktu lalu. Apakah ada iblis di sana? Seperti yang terjadi di Trowell seminggu yang lalu?"


"Saya masih kurang tahu. Saya pergi ke sana beberapa waktu lalu kemudian hanya menemui orang yang bertindak agresif dan memburu saya."


"Agresif, ya?" Empress Glastila terlihat sedang memikirkannya dengan dalam. Dia menatap langit-langit untuk beberapa saat seraya bergumam, "apa mungkin sebuah kudeta? Tetapi memburu seorang pendeta harusnya tidak mungkin. Lagipula tekanan sihir tadi benar-benar pekat. Setidaknya harus ada archdemon di sana."


Memburu seorang pendeta memang seharusnya menjadi hal yang mustahil. Di samping pengaruh agama yang begitu kuat, mereka tahu bahwa dosa menganiaya seorang pendeta akan langsung membuat Demigod murka. Jadi, hampir tidak ada seorang pun yang berani menyerang pendeta secara terang-terangan.


Saat Empress Glastila tersadar dari lamunannya, dia menatap pada para prajurit yang masih tunduk di hadapannya. Kemudian, gadis kecil itu memberikan perintah pada mereka.


"Kalian semua, bawa Naga kemari dan bawakan juga senjata suci milikku. Aku akan melihat tempat itu sendiri."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Mereka beranjak pergi dari tempat itu, membiarkan Carmen sendirian bersama Sang Kaisar Dwarf.


"Aku yakin ada iblis di sana. Bagaimana menurutmu?"


"Saya tidak tahu. Namun, Demigod meminta agar tempat itu dibiarkan untuk sementara waktu."


Setelah mendengar ucapan dari Carmen, tangan kanan Empress Glastila menepuk keningnya sendiri. Dia mengerutkan dahi seraya memejamkan mata untuk sesaat sebelum kembali membentak dengan nada kekanak-kanakannya.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Untuk apa aku repot-repot memanggil Naga dan membawa senjataku jika aku tidak boleh ke sana?!"


"Apa kau gila?! Dia tetap akan menghalangiku untuk datang ke sana. Si Demigod itu, wujudnya benar-benar tidak masuk akal. Pencipta membuatnya dengan tubuh yang curang! Aku tidak terima dengan semua penghinaan ini!"


Seperti sebelumnya, setelah emosinya meledak, dia akan duduk tenang di kursinya. Selanjutnya, Empress Glastila memulai kembali pembicaraan di antara mereka dengan nada angkuh.


"Lalu, apa yang dia ingin sampaikan padaku?"


"Informasi mengenai seseorang yang mengalahkan Hellhound di kota Trowell."


"Oh? Bukankah Robbert yang melakukannya?"


"Memang benar. Namun, sebelumnya seorang gadis muda dari ras manusia menahannya dengan kemampuan dari senjata dan sihir iblis."


"Senjata dan sihir kegelapan, ya? Di dunia ini, setahuku hanya sedikit yang memiliki katalis untuk mantra kegelapan. Bagaimana bisa dia melakukannya?"


Untuk menjawab pertanyaannya, Carmen tidak punya informasi apa pun.


"Saya sendiri pun tidak mengetahuinya. Namun, dia masih belum memiliki izin dari Demigod."


Mendengar jawaban Carmen, Empress Glastila terdiam sejenak. Dia menyangga kepalanya kembali menggunakan tangan kanannya. Kemudian, gadis kecil itu mulai bergumam pelan.


"Ada kemungkinan bahwa dia adalah seorang kontraktor. Tapi bagaimana bisa? Tubuh manusia muda tidak cukup memiliki dosa untuk menahan seekor iblis setingkat Hellhound."


Untuk bertarung setara dengan Hellhound, setidaknya dibutuhkan kekuatan yang sebanding dengan monster tersebut. Selama ini dia tidak pernah mengetahui akan adanya orang yang memiliki mantra legelapan sekuat itu. Inilah sebabnya Empress Glastila memikirkannya begitu dalam.


Carmen memahami sepenuhnya apa yang dipikirkan oleh Empress Glastila. Gadis kecil itu sedang membicarakan tentang kemungkinan bejana darah. Sebuah sihir kontrak kuat yang mengunci jiwa dari makhluk di luar dunia fana.


Kekuatan yang didapat dari sihir tingkat tinggi ini memang cukup luar biasa. Namun, terdapat efek samping mengerikan yang kemungkinan besar akan menimpa Sang Perapal Mantra.


Pertama, pikiran Kontraktor akan terpengaruh oleh pikiran dari makhluk yang dia ikat ke dalam tubuhnya. Kemungkinan terburuk, makhluk itu akan mengambil alih tubuh Kontraktor seutuhnya. Kedua, jika Kontraktor memanggil makhluk dari Heaven, dia harus memiliki tubuh yang suci. Kalau tidak, dosa-dosanya akan membakar tubuhnya hingga mati. Sebaliknya, jika mereka memanggil makhluk dari Tartarus dan tidak memiliki cukup dosa, maka tubuh kontraktor tersebut akan melepuh dan mati dengan tragis.


Saat Carmen memikirkan semua itu, sekelompok prajurit yang terdiri dari para gadis kecil mulai kembali memasuki ruangan tersebut. Tiga dari mereka memanggul sebuah pedang dua tangan tebal yang mengeluarkan aura putih murni. Sementara itu, tiga orang lain menggotong perisai besar yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran rumit. Kemudian, satu orang gadis lain yang mengenakan gaun berwarna putih berjalan dengan ragu di belakang mereka berenam.


Dilihat dari cara bagaimana mereka membawa sepasang perlengkapan logam itu, Carmen tahu bahwa beratnya pastilah tidak masuk akal. Dia mungkin akan langsung mati jika tertimpa salah satu perlengkapan suci milik Empress Glastila. Jadi, secara naluri dirinya menjaga jarak dengan keenam orang yang terlihat kesusahan tersebut.


"Ka-kami menghadap Anda ... Yang Mulia!" Salah satu dari para prajurit berbicara dengan suara yang gemetar seolah sedang menahan beban yang luar biasa.


"Taruh dengan hati-hati di lantai."


Setelah Empress Glastila mengeluarkan perintahnya kepada keenam prajurit tersebut, mereka perlahan meletakannya di lantai. Kemudian, keenam prajurit itu tergeletak di lantai dengan napas yang tersenggal-senggal. Carmen dapat melihat bagaimana kulit putih mereka yang kini memerah serta keringat yang membasahi tubuh-tubuh kecil tersebut.


Saat pandangan Carmen masih teralihkan kepada para gadis kecil menyedihkan itu, seorang gadis bergaun putih yang sejak tadi terlihat gugup mulai berlutut dan menundukan kepala. Dia mengatakan sesuatu dengan nada yang ketakutan.


"Sa-saya menghadap Anda, Yang Mulia."


Ketika mendengar suaranya, Carmen jadi tertarik dan mengalihkan pandangan kepadanya. Dia melihat bagaimana kesungguhan gadis tersebut dalam memberikan penghormatan.


"Naga, apa kau di sana? Aku membutuhkan bantuanmu."


Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata dari Empress Glastila, gadis itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berdiri tegak dengan mata yang terpejam. Rasa hormatnya beberapa waktu lalu kini sudah terhapus sepenuhnya.


"Aku memiliki nama. Berhenti memanggilku dengan sebutan itu."


Kali ini dia membuka kedua matanya dan langsung menatap tajam kepada Empress Glastila menggunakan kedua bola mata yang memancarkan cahaya. Dia memandangnya dengan penuh ancaman.


Carmen memang tidak sering bertemu gadis itu. Namun, dia tahu betul akan siapa sosok sebenarnya dari gadis tersebut. Seorang gadis yang berdiri beberapa langkah di depannya adalah satu-satunya kontraktor di dunia ini yang melakukan sihir bejana darah. Gadis kecil itu dikurung sejak lahir di tempat tertutup untuk meninggalkan hal-hal duniawi dan mencegah perbuatan dosa. Lalu, saat usianya mencapai 200 tahun, dia melakukan kontrak dengan salah satu dari heaven dragon lord dan diangkat menjadi rekan kelompok kursi keempat pendeta, Empress Glastila.


Carmen cukup prihatin dengan kehidupan yang dijalani oleh gadis itu. Namun, dirinya tidak punya hak apa pun untuk membelanya dan berselisih dengan Empress Glastila. Jadi, dia memilih untuk menutup mata dan membiarkan gadis itu tetap terkurung dalam ruangan kecilnya hingga sekarang.


"Terserah apa katamu. Apa kau tahu apa yang terjadi dengan Agarten?"


Menanggapi pertanyaan Empress Glastila, dia menghela napasnya untuk beberapa saat.


"Kota itu sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan. Aku merasakan kemungkinan adanya seorang kontraktor di sana. Namun, ini terasa aneh."


Alasan kenapa sifat gadis itu tiba-tiba berubah drastis adalah karena dia bertukar jiwa dengan heaven dragon lord. Bukan hanya kepribadiannya, jumlah sihir, kekuatan, kecepatan, pertahanan, dan pengetahuannya juga berada pada tingkat para penghuni langit.


"Oh, ada kontraktor baru, ya? Apa yang membuatmu merasa aneh?"


Lupa akan enam orang prajurit yang tergeletak di lantai, Carmen tidak memperhatikan ketika mereka mulai bangkit dan berlutut kembali. Dia sudah tidak peduli lagi dengan mereka dan memutuskan untuk menyimak pembicaraan antara Empress Glastila dengan Naga.


"Pancaran sihir yang kurasakan darinya beberapa waktu lalu menyalahi hukum dunia. Ini seperti Atropos melakukan kesalahan dalam pencatatannya."


"Atropos?"


Carmen yang merasa asing dengan kata-kata itu mulai bertanya keheranan. Namun, sebelum Naga memberikan jawaban atas pertanyaannya, Empress Glastila tiba-tiba melesat ke arah mereka hanya dengan satu kali lompatan. Dia mengambil pedang dua tangan dan perisai tebal miliknya tanpa kesulitan sama sekali, seakan benda-benda itu seringan kertas.


"Aku mencium bau busuk mereka. Ini benar-benar pekat." Kata-kata Empress Glastila terdengar begitu angkuh.


"Tekanan ini, dia archdemon." Naga menimpali ucapannya.


"Hey, Gadis Pendeta. Bawa aku ke sana sekarang juga."


Hanya dengan menyimak pembicaraan dari Empress Glastila dan Naga, Carmen langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun samar, dia juga dapat merasakan perasaan tidak menyenangkan yang menyelimutinya. Sumbernya adalah di Hutan Besar Eryas. Jadi, dia membuat lubang dimensi yang mengarah ke tempat itu secepat yang dia bisa. Tidak lupa, Carmen juga membuat lubang yang sama di ruang pertemuan Kerajaan Ignis dan berharap Robbert akan menyadarinya.


"Anak-anak, perketat penjagaan saat aku pergi!" Gadis kecil itu memberi perintah kepada para prajuritnya yang masih berlutut.


"Kejayaan bagi Kekaisaran Dwarf!" Mereka langsung pergi dari hadapan Carmen.


Bersamaan dengan jawaban serempak para prajurit, Carmen dan Kursi Keempat Pendeta memasuki lubang dimensi yang dia buat. Mereka menembus ruang dan waktu menuju kuil yang dibangun oleh Archdemon Erebrus di Desa Orc.


-------


Note :


Tinggal satu part lagi sebelum bab 10 selesai. Habis itu akan dilanjut dengan intermission bagian dua.


Riwayat penyuntingan :


• 21 Juli 2019