
Sejak dirinya tahu bahwa gadis muda yang sebelumnya diremehkan adalah seorang petualang peringkat A, Evans memutuskan untuk menunggu lebih lama lagi di dalam guild. Dia sangat penasaran pada sosok tidak biasa itu dan ingin mencoba untuk melakukan kontak dengannya. Tentu saja tanpa bertindak terlalu agresif mengingat peringkat gadis tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata bahkan bagi seorang bangsawan seperti dirinya.
Bukan hanya Viscount Evans, semua petualang yang ada di dalam ruangan mulai membicarakannya. Mereka cukup terkejut dengan suasana tidak biasa yang terjadi beberapa waktu lalu dan segera mengerubungi meja resepsionis untuk meminta penjelasan. Melihat hal ini membuat Evans yakin bahwa gadis misterius itu adalah seorang petualang yang baru pertama kali datang ke cabang guild ini.
Untuk sementara waktu, ruangan guild menjadi jauh lebih gaduh dari sebelumnya. Masing-masing petualang terus saja menghujani salah seorang resepsionis dengan pertanyaan-pertanyaan hingga membuat wanita itu kewalahan. Namun, ketika mereka menyadari bahwa gadis yang menjadi topik pembicaraan mulai kembali ke ruangan ini, suasana berangsur menjadi hening.
"Karena Grand Master Guild sedang tidak dapat dihubungi, tanda pengenal Anda kemungkinan akan selesai dalam beberapa hari ke depan. Mohon maaf karena tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat."
Salah satu resepsionis membungkuk dan mengucapkan permintaan maaf saat gadis berambut hitam itu menghampirinya. Dalam pandangan mata Evans, dia bisa melihat bahwa tubuh resepsionis tersebut sedikit gemetar. Mungkin Sang Resepsionis merasa sedikit takut kepada gadis itu atau bisa saja dia hanya khawatir menyinggungnya secara tidak sengaja.
"Tidak apa-apa, aku punya banyak waktu luang." Gadis berambut hitam itu menjawab dengan nadanya yang datar.
"Berdasarkan perkamen yang saya terima, guild master cabang Trowell juga merekomendasikan Anda untuk ikut dalam turnamen, apakah Anda datang kemari untuk hal ini?"
Seketika itu juga banyak orang yang berbisik satu sama lain. Evans yang posisinya memang berada di tengah ruangan dapat mendengar bisikan-bisikan tersebut dengan mudah. Sebagian besar hanya membahas mengenai turnamen yang dimaksud oleh Sang Resepsionis, tetapi tidak sedikit orang juga yang mengungkapkan ketidak percayaannya dengan rekomendasi yang seharusnya sulit untuk didapatkan. Apalagi mengetahui kenyataan bahwa sosok yang mendapatkan rekomendasi tersebut hanyalah seorang gadis muda yang terlihat kurus dan lemah.
"Aku hanya punya urusan saja di ibukota. Lagipula turnamen masih lama, 'kan?"
Sejauh yang Evans tahu sebagai orang luar, turnamen yang biasa diadakan oleh Guild Petualang tidak terjadi setiap tahun. Dia pernah menyaksikan turnamen terakhir yang diadakan di ibukota Kerajaan Ignis sekitar beberapa bulan yang lalu. Jadi, jika gadis itu memang kemari untuk mengikuti turnamen dan mengasumsikan bahwa semua turnamen diadakan dengan serempak, maka kedatangannya tentu saja terlalu cepat.
"Apakah guild menjual pisau lempar atau aku harus mendatangi toko senjata untuk mendapatkannya?" Gadis itu kembali berbicara tanpa memberi kesempatan bagi Resepsionis Guild untuk menjawab pertanyaan sebelumnya.
Pisau lempar adalah senjata yang murah dan mudah sekali hilang. Maka dari itu, berbeda dengan senjata lainnya yang cukup awet, seseorang biasanya akan sangat sering membeli pisau lempar baru. Jadi, untuk memudahkan para petualang yang terbiasa menggunakannya, biasanya pihak guild akan menyediakannya bersamaan dengan botol-botol potion dan poison.
"Ah, kami memilikinya. Berapa unit yang Anda butuhkan?"
"Tolong bawakan aku sepuluh unit dan olesi dengan bisa pelumpuh."
Mereka melakukan transaksi layaknya seorang petualang biasa. Hanya saja, pandangan petualang lain --termasuk Evans-- tidak sedikit pun pergi darinya. Anehnya gadis itu tampak tidak terganggu dengan semua perhatian yang diarahkan kepada dirinya.
"Kalau begitu, aku akan kembali lagi besok." Setelah selesai dengan urusannya, gadis itu mulai berbalik menjauhi meja resepsionis. Namun, sebelum pergi terlalu jauh, dia tiba-tiba berhenti dan kembali memandang ke arah meja. "Tolong panggilkan pelayan. Aku ingin makan di sini terlebih dahulu sebelum pergi."
"Tentu. Akan saya panggilkan salah satu pelayan ke meja Anda." Sang Resepsionis sedikit membungkuk saat gadis itu berjalan menjauhinya.
Masih diikuti oleh tatapan dari hampir semua orang, gadis berambut hitam tersebut duduk pada salah satu kursi yang tak jauh dari tempat Evans. Dia menyenderkan pedang hitam miliknya dan menaruh kedua belatinya pada salah satu kursi yang kosong. Kemudian, saat seorang pelayan datang menghampirinya, gadis itu mulai memesan sesuatu seraya menaruh dua koin tembaga sebagai uang tip.
Tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan mengganggunya saat dia menunggu pesanannya datang. Sebagian besar petualang mungkin ingin mendekatinya, tetapi kelihatannya gadis itu tidak terlalu ramah. Jadi, mereka ragu untuk melakukannya. Apalagi sekarang sosok tersebut sudah mulai menyantap hidangan yang dibawakan oleh pelayan.
Evans juga berpikiran layaknya petualang lain dan hanya bisa memandanginya dari jauh. Dia mempertimbangkan apakah akan menjadi masalah jika dirinya mengganggu waktu makan gadis tersebut. Jauh di dalam pikirannya dia merasa agak khawatir, tetapi kebutuhan untuk berbicara dengannya cukup mendesak. Dirinya tidak mau melepaskan kandidat di hadapannya tanpa mengkonfirmasi kecocokannya terlebih dahulu.
Terlepas dari usianya yang masih muda, jika dia adalah peringkat A, maka pengetahuannya mengenai pertarungan pastilah cukup luas.
Memegang keyakinan yang dia percayai sebagai seorang prajurit, Evans memaksakan dirinya sendiri dan mulai berjalan mendekati meja tempat gadis misterius itu berada. Dia mengumpulkan keberaniannya seraya berusaha untuk berbicara dengan sangat sopan.
"Permisi," bola mata cokelat gadis itu memandang ke arah Evans, "bolehkah saya duduk di kursi ini?"
Evans menunjuk ke arah salah satu kursi kosong yang tak jauh darinya, sedikit berkeringat akibat ketidak nyamanan yang dia rasakan.
"Tentu. Lagipula aku tidak punya hak untuk melarangmu duduk." Gadis itu menjawab pertanyaan Evans dengan datar seraya tetap menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
Hanya ada keheningan di antara mereka saat gadis itu sibuk menyantap makanannya. Evans yang sejak awal dibesarkan di kalangan aristokrat tahu bahwa mengganggu seseorang yang sedang makan tidaklah sopan. Jadi, secara naluri dia menunggu gadis tersebut untuk menyelesaikannya.
Tepat setelah semua hidangannya habis dan ditutup dengan segelas teh di dalam gelas kayu yang diteguknya sampai habis, gadis itu mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan. Kemudian, dia mengeluarkan kantong kulit kecil dari tas selempang miliknya.
"Jadi, berapa?"
Walau terkesan tidak jelas, tetapi semua orang tahu bahwa pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menanyai berapa banyak tagihan yang harus dia bayar untuk semua makanannya. Jadi, pelayan itu menjawabnya tanpa kesulitan sama sekali untuk menafsirkan arti di balik pertanyaannya.
"Ah, biarkan saya yang membayar semuanya beserta tagihan dari pesanan saya."
Evans memotong pembicaraan mereka saat gadis tersebut mulai mengambil beberapa koin tembaga dari kantong kulit kecilnya. Hal ini membuat pandangan mata gadis itu kembali menatapnya dengan curiga, tetapi tidak lama sampai dia membalas ucapan Evans.
"Tentu saja bukan itu maksud saya." Evans sedikit menghela napas saat gadis di hadapannya salah menafsirkan bantuannya. "Saya tidak meminta balasan apa pun. Murni hanya ingin membayar tagihan Anda."
Mendengar penjelasan yang diucapkan oleh Evans, gadis itu memiringkan kepalanya untuk beberapa saat. Kelihatannya dia sedang memikirkan sesuatu dan tenggelam dalam lamunan. Namun, tidak lama kemudian, dirinya berkata dengan nada penuh curiga.
"Kau tak akan memaksaku untuk melakukan hal-hal aneh, 'kan?"
"Tidak mungkin saya berani melakukannya. Namun, sebagai gantinya, perbolehkan saya untuk mendiskusikan sesuatu dengan Anda."
Mendengar perkataan Evans, gadis itu hanya mengangguk setuju dengan permintaan yang diajukan olehnya. Mungkin alasan di balik persetujuannya adalah karena waktu luang yang dia miliki atau memang penasaran dengan topik yang ingin dibicarakan Evans kepadanya. Entahlah, lelaki itu tidak tahu secara pasti.
Evans segera mengeluarkan satu koin emas kecil berlambang Kerajaan Ignis kepada pelayan yang masih berdiri di sampingnya dan menanyakan apakah dirinya bisa membayar dengan koin itu atau tidak. Pelayan tersebut mengkonfirmasi bahwa koin emas kecilnya bisa dipakai untuk pembayaran di sini. Jadi, Evans memberikannya dan menyerahkan sisanya sebagai uang tip.
Satu koin emas kecil bernilai 25 koin perak dan 4 koin emas kecil setara dengan satu koin emas. Sebenarnya itu adalah angka yang cukup fantastis. Namun, bagi orang seperti Viscount Evans yang bekerja langsung di bawah keluarga kerajaan, uang sebanyak itu masih terbilang kecil. Jadi, dia tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
Tepat setelah pelayan pergi dari meja mereka, gadis berambut hitam itu langsung bertanya kepadanya. Dia kelihatannya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Namun, Evans berpikir bahwa tidak baik untuk membicarakannya di tengah banyak orang yang memperhatikan mereka. Jadi, pertama-tama dia ingin berpindah ke tempat yang cukup pribadi.
"Sebenarnya saya agak keberatan untuk bertanya di tempat seperti ini. Apakah kita bisa menyewa salah satu kamar penginapan dan membahasnya di sana?"
"Paman, membawa gadis muda ke penginapan itu bisa membuatmu jadi kriminal. Lebih baik sekalian saja kau bawa aku pergi ke rumah bordil dan menghabiskan malam di sana."
"Sudah kubilang bukan itu." Evans membalas perkataannya dengan nada yang malas.
"Aku tahu. Hanya bercanda."
Setelah mengucapkan kalimat itu dengan datar, gadis tersebut mulai berdiri dan berjalan ke arah meja resepsionis. Dia bertanya pada salah satu resepsionis yang sebelumnya melayaninya.
"Dengan peringkatku, apakah aku memiliki otoritas untuk menggunakan ruang khusus tamu?"
"Tentu saja. Apakah Anda ingin menggunakannya sekarang?"
"Ya, tolong urus semuanya dan jangan biarkan orang lain masuk untuk sementara waktu."
"Sesuai dengan permintaan Anda, Nona."
Resepsionis itu membungkuk hormat kepadanya sebelum pergi meninggalkan meja tersebut. Dia terlihat menuliskan sesuatu di atas sebuah perkamen dan meminta gadis berambut hitam itu untuk menuliskan namanya. Kemudian, gadis tersebut berjalan kembali mendekati Evans yang masih belum mengerti dengan situasinya.
"Aku memesan ruangan khusus di dalam guild dengan otoritas yang kumiliki sebagai petualang peringkat A. Kita bisa bicara secara pribadi di sana. Ikuti aku."
Bersamaan dengan kalimat ajakannya, mereka berdua pergi menuju lantai dua bangunan guild dan masuk ke dalam salah satu ruangan yang telah dipesan oleh gadis berambut hitam tersebut.
-------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 14 Desember 2019
Pukul 09:20 PM
Note : Botol Poison di cerita ini memiliki dua kategori.
• Kategori pertama disebut sebagai botol "racun". Seperti namanya, racun tidak akan membuatmu mati jika tidak terminum sekalipun terpapar pada bagian tubuhmu yang sedang terluka.
• Kategori kedua adalah "bisa". Seperti namanya, bisa kebalikan dengan racun. Efeknya akan timbul hanya jika terpapar pada luka dan tidak akan berbahaya jika diminum.
Jadi, alasan kenapa Alma mengatakan "lumuri dengan bisa pelumpuh" alih-alih "racun pelumpuh" adalah karena dia tidak bermaksud untuk memaksakan targetnya untuk meminum racun tersebut. Dia mungkin berniat untuk berburu binatang dengan pisau tersebut dan menjual dagingnya ke pedagang (ku selaku author gak bisa paham dengan pemikiran Alma yang absurd soalnya). Karena bisa tidak akan berbahaya jika dikonsumsi, maka bahan daging yang terpapar oleh bisa tetap aman untuk dikonsumsi.
Ke depannya, haruskah kata "bisa" yang berarti poison kutulis dengan huruf miring untuk membedakan dengan kata "bisa" yang berarti "dapat"?