
Sebagian kecil wilayah paling barat Kerajaan Ignis kini sudah dilarang untuk dimasuki para penduduk. Semua jalur perdagangan ditutup dan penjagaan di sana diperketat sampai batas maksimal.
Ibukota Catonia --kota terbesar paling barat yang dipimpin oleh Earl Catonia-- yang biasanya ramai oleh berbagai macam kegiatan para penduduk kini dipenuhi oleh orang-orang yang dilengkapi armor perak dengan lambang dari berbagai keluarga bangsawan.
Ladang gandum di luar tembok sudah dipangkas habis, hanya menyisakan dataran kering yang sangat luas. Di atas dataran tersebut dibangun tenda-tenda yang digunakan untuk melindungi logistik para pasukan sekaligus tempat mereka beristirahat.
Jauh di depan tenda-tenda logistik tersebut, dipisahkan oleh padang rumput kering sejauh 20 kilometer, para pasukan kerajaan yang terdiri dari imperial knight, orde, bahkan paladin membentuk barisan pertahanan bersenjata lengkap. Selain mereka, para petualang dan pendeta kuil juga berkumpul di garis belakang sebagai pasukan bantuan.
"Kelihatannya tidak akan mudah untuk memperluas domain dengan pasukan kita yang sekarang. Kurasa lebih baik kembali dan menyusun rencana untuk menghadapi mereka."
Suara serak dan dalam merambat jauh di atas langit sehingga tak ada siapa pun di bawah sana yang bisa mendengarnya. Jika saja orang-orang di bawah sana mendongakan kepalanya, mereka mungkin bisa menemukan asal dari pemilik suara tersebut. Namun, kelihatannya semua orang terlalu fokus pada barisan monster yang membentuk formasi jauh di depan mereka sehingga tidak ada yang akan repot-repot memeriksa langit.
Sayap reptil yang menyerupai sepasang sayap seekor naga mengepak di langit, menyeimbangkan posisi dari monster raksasa pemilik sayap tersebut. Kedua telinganya yang meruncing berusaha menangkap setiap suara di sekitarnya, mewaspadai kalau-kalau ada serangan mendadak yang mengincarnya. Tubuhnya dipenuhi dengan otot dan dilapisi sisik sekuat orichalcum yang bahkan cakar dari seekor naga sekalipun akan sulit untuk menggoresnya. Sepasang tanduk domba mencuat dari kepalanya, tetapi tanduk bagian kirinya tampak patah dan rusak.
Kedua bola mata merah darah monster itu memandang ke atas tanah, melihat para prajurit manusia yang tampak waspada. Kemudian, pandangan itu beralih ke arah seekor monster bersisik yang tengah mengepakan sayap di sebelahnya.
"Yang Mulia tidak akan mentolelir jika kita tak segera memperluas domain, Garfagos." Monster di sampingnya berbicara, balas memandangnya dengan mata merah darah yang sama. "Demi kebangkitan-Nya, beliau membutuhkan sepuluh ribu jiwa lagi."
Garfagos terlihat tidak peduli, dia hanya memandang dalam diam untuk beberapa menit sebelum akhirnya menjawab kata-kata tersebut.
"Sebagai salah satu acient demon yang berada langsung di bawah perintah Greed King, kau harusnya sedikit menggunakan otakmu. Pasukan kita hanya ada 200 personel sementara musuh ada sekitar 50.000 personel. Ditambah lagi hanya ada dua archdemon di antara mereka sementara sisanya cuma sampah yang tidak berarti. Perang ini merugikan kita sejak awal."
"Kau takut pada serangga-serangga bertubuh lunak itu? Acient demon yang bahkan dijuluki sebagai Nightmare dan diakui oleh raja iblis lain takut pada manusia? Apa kau sedang bercanda denganku?" Dia tertawa, merasa bahwa perkataan Garfagos tampak seperti lelucon yang sangat lucu.
Mengartikan kata-kata rekannya sebagai ejekan yang diarahkan padanya, Garfagos kembali menatap monster di sebelahnya. Kali ini kedua tatapannya penuh dengan ancaman dan kemarahan yang kental hingga membuat monster itu menghentikan tawanya. Perlahan bau dari ketakutan sedikit menyebar dari tubuhnya yang gemetar.
"Aku hanya tidak ingin meremehkan siapa pun yang menjadi lawanku." Garfagos menghentikan kata-katanya sementara jari jempol tangan kirinya menunjuk ke arah tanduknya yang patah. "Terakhir kali aku meremehkan musuhku, aku menerima ini sebagai suvenir."
"Tidak, tidak. Lawanmu waktu itu adalah monster yang setara dengan raja iblis. Makhluk fana tidak mungkin bisa melakukan hal yang sama padamu."
Mendengar sangkalan dari rekannya, Garfagos terdiam seraya kembali memandang ke atas tanah. Dia tampak sedang menimbang sesuatu. Kemudian, dirinya kembali berbicara.
"Kalau begitu, aku menyerahkan tugas untuk menghapus mereka. Kau bebas melakukan apa pun dengan pasukan yang kita miliki di sini."
Ucapan Garfagos disambut dengan gembira. Monster itu menyeringai, menunjukan gigi-gigi taringnya yang mengerikan.
"Sungguh? Bahkan jika aku menghancurkan kota di depan sana?"
Garfagos menganggukan kepalanya.
"Ya, semua yang kau inginkan. Aku akan kembali ke sisi-Nya dan menunggu kabar baik darimu."
"Terima kasih! Kau memang pemimpin yang ideal bagi kami. Tidak heran beliau memilihmu sebagai tangan kanannya."
Lengan Garfagos terangkat sebagai perintah untuk menyuruhnya berhenti berbicara. Setelah itu, dia kembali mengucapkan sebuah kata-kata.
"Sebagai hadiah perpisahan, aku akan melakukan serangan pembuka. Sisanya kau dan pasukanmu yang urus. Lindungi aku untuk beberapa detik."
Daripada sekadar mengandalkan kekuatan fisik, daya hancur serangan sihir dapat berdampak kepada area yang luas. Memusnahkan banyak musuh yang berkumpul akan lebih efisien menggunakan mantra alih-alih menyerang langsung. Akan tetapi, mantra tingkat tinggi membutuhkan waktu untuk dirapalkan. Pada saat si perapal mantra sedang melakukan perapalan, gangguan sekecil apa pun akan menyebabkan kegagalan mantra. Maka dari itu, seorang pelopor diperlukan untuk melindunginya. Informasi seperti ini merupakan pengetahuan dasar yang diketahui oleh siapa pun.
Ketika Garfagos mengatakan sesuatu tentang melindunginya untuk sesaat, monster itu langsung tahu bahwa Garfagos pastilah akan mengucapkan sebuah mantra. Jadi, dia menyetujuinya tanpa perlu bertanya alasan di balik kenapa sosok sekuatnya membutuhkan perlindungan.
"Sesuai perintahmu."
Garfagos mengangkat tangan kanan bersisiknya sampai setinggi dada. Kemudian, dia mulai merapalkan sebuah mantra tingkat tinggi.
"Wahai engkau yang menyiksa para pendosa dengan api murni dari neraka."
Begitu kalimat yang terucap merambat melalui udara, tekanan yang berasal dari aktivasi mana mulai menyebar di sekitar mereka. Hal ini menghasilkan ketidak seimbangan suhu dan tekanan, menimbulkan percikan petir merah pekat yang menyambar dan mengeluarkan suara gemuruh sehingga kelompok prajurit manusia di bawah sana mulai mendongakan kepala. Kemudian, suara melengking dari terompet sebagai tanda penyerangan musuh terdengar dari kelompok-kelompok manusia yang mulai melakukan pergerakan.
Panah-panah cahaya melesat ke arah mereka berdua. Namun, semuanya hancur saat menabrak perisai sihir berlapis yang diciptakan oleh monster yang melindungi Garfagos. Setelah itu, tombak cahaya dan pisau udara juga ikut menghantam perisainya. Akan tetapi, sama seperti sebelumnya, semua itu sia-sia ketika dihadapkan dengan perisai yang tercipta dari gumpalan mana pekat milik acient demon.
"Aku, Sang Pendosa yang menantang takdir hukuman ilahi, memerintahkanmu untuk menunjukan panasnya api neraka kepada musuhku."
Bola mata Garfagos melihat beberapa pasukan manusia mulai melesat ke arah mereka, menggunakan sebuah mantra yang memungkinkan mereka untuk terbang. Namun, sebelum mereka dapat sampai ke tempat dimana dirinya berada, dia sudah selesai merapalkan mantra.
"Membuka Gerbang Kegelapan Lima Belas, Niveli Tretë Magic : Hellfire Ball!"
Tangan kanan Garfagos terangkat tinggi, lalu dia mengayunkan tangannya ke bawah dengan sangat cepat, menghempaskan bola energi hitam di tangan kanannya menuju kelompok prajurit yang melesat ke arahnya sekaligus mereka yang berada di atas tanah.
Lintasan yang dilewati bola hitam meninggalkan jejak merah terang akibat udara yang terbakar dan percikan api yang merambat melalui udara. Ketika orang-orang yang melesat ke arahnya menyadari serangan cepat tersebut, mereka sudah terlambat untuk mengambil langkah pencegahan.
Bola energi melesat melewati mereka. Kemudian, semua orang tiba-tiba terbakar oleh api hitam pekat yang muncul entah dari mana. Mereka menjerit, berusaha melepaskan diri dari jilatan api yang terus membakar. Akibat dari konsentrasi yang hancur karena tubuh yang terbakar, mantra terbang mereka hilang hingga membuat semua orang jatuh.
Para penyihir di atas tanah yang menyadari adanya serangan sihir segera merapalkan mantra perisai raksasa berlapis untuk menglindungi semua orang. Namun, saat perisai-perisai itu menyentuh lapisan bola hitam tersebut, semuanya terbakar dan meleleh seakan terbuat dari lilin tipis.
Bola energi hitam terus melesat tanpa dapat di hentikan. Hal ini membuat para prajurit jatuh ke dalam kepanikan dan mulai merusak formasi mereka. Lalu, ketika bola energi itu menghantam tanah, gemuruh ledakan dan pancaran api berwarna hitam pekat membakar segala yang ada di sekitarnya.
Kobaran api hitam terus meluas, membakar apa pun yang ada di sekitarnya dengan radius sekitar 10 kilometer. Para penyihir berusaha menembakan air dan es untuk memadamkannya. Akan tetapi, api tampaknya tidak terpengaruh sama sekali dan terus membakar semuanya tanpa dapat dihentikan.
Api sendiri memiliki banyak tingkatan. Api terendah biasanya berwarna merah tua yang redup dan semakin terang seiring meningginya suhu api tersebut. Api terpanas merupakan api dengan warna putih yang menyilaukan penglihatan. Jenis api ini merupakan api yang selama ini membakar mentari dan menyebarkan radiasinya ke daratan, menjaga agar daratan tidak membeku. Namun, di antara api-api itu, api neraka merupakan tingkatan yang sama sekali berbeda.
Api neraka merupakan api dengan umur yang panjang. Setidaknya usia api neraka tidak pernah kurang dari tiga ribu tahun. Api ini telah dipanaskan selama seribu tahun hingga memerah, lalu ditambah lagi seribu tahun sampai memutih, kemudian seribu tahun kemudian warnanya menjadi hitam pekat.
Warna hitam sendiri didapat akibat dari suhunya yang luar biasa panas. Semua hal yang menyentuhnya akan terbakar, bahkan cahaya sekalipun bukanlah pengecualian. Alih-alih memancarkan cahaya, api ini malah membakar cahaya itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan warna api menjadi gelap dan terkesan berwarna hitam.
"Lihat mereka! Serangga-serangga itu mulai berlarian seperti semut!"
Monster di sebelah Garfagos tertawa renyah, merasa puas dengan pemandangan yang dia lihat. Namun, Garfagos sendiri tidak menunjukan kepuasan sama sekali. Dirinya hanya diam menatap dataran yang terbakar oleh api hitam miliknya.
Dia berbalik, siap terbang meninggalkan garis depan. Kemudian, tepat sebelum dirinya pergi, Garfagos mengucapkan kalimat pendek.
"Sisanya kuserahkan padamu."
Garfagos mengepakan sayapnya, melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Akibat dari kecepatannya, dirinya sampai menimbulkan gelombang kejut di sepanjang lintasan terbang, memancarkan suara layaknya gemuruh petir yang terus menyambar. Hal ini terjadi karena kecepatannya sendiri telah memasuki tingkat kecepatan suara.
Jika dirinya mempertahankan kecepatan seperti ini, maka jarak dimana tujuannya berada akan dapat dicapai hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Namun, setelah menempuh jarak yang cukup jauh dari garis depan, Garfagos tiba-tiba melambatkan kecepatan terbangnya.
"Naif sekali. Kau terlalu memandang rendah manusia. Kami tidak membutuhkan pasukan yang bodoh sepertimu. Lagipula acient demon lemah sepertimu memang tidak terlalu berguna. Memanggilmu adalah kesalahanku sejak awal."
Dia bergumam di tengah kepakan sayapnya, memandang barisan pepohonan jauh di bawah sana.
"Manusia. Aku tidak menyangka ada manusia yang bisa menghindari setiap seranganku dengan sempurna."
Garfagos tiba-tiba mengingat kembali saat dirinya pertama kali termanifestasi ke dunia fana. Pada saat itu, hanya ada dirinya dan Sang Tuan --Greed King-- yang terjebak dalam tubuh manusia. Kemudian, ketika mereka membangun kekuatan dengan cara memperluas domain dan bersiap untuk memanifestasikan tubuh sempurna Greed King, sosok manusia menghampiri mereka dan berbicara.
Pada awalnya mereka berdua menyerangnya, tetapi tidak ada satu serangan pun --termasuk sihir tingkat tinggi-- yang dapat menggoresnya. Pengalaman itu benar-benar membuat pikiran Garfagos tidak tenang.
"Dia mengatakan bahwa dirinya hanya baik dalam menghindar. Kurasa memang benar begitu mengingat dia tidak langsung membunuh kami dan malah memilih untuk mundur. Namun ... "
Dia menghela napasnya.
"Apakah informasi darinya bisa dipercaya? Kabar bahwa Demon God masih ada dan Fiora sedang bersamanya?"
Ketika dia jatuh ke dalam pemikirannya, secara tidak sadar dirinya telah sampai di tempat tujuannya. Pusat domain iblis di dunia fana, Kota Benteng Agarten, wilayah yang direbut Greed King dari tangan Keluarga Baron Cromwell.
----------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 11 April 2020 pukul 12:00 PM
Note : Sekadar informasi, Ibukota Catonia bukanlah Ibukota Kerajaan Ignis.
Setiap daerah yang dipimping oleh bangsawan tinggi (Duke, Marquis, Earl) biasanya memiliki ibukotanya sendiri, tempat dimana mansion pemilik tanah itu sendiri tinggal dan mengurus tanahnya secara langsung. Mungkin bisa disamakan dengan ibukota provinsi alih-alih ibukota negara.