RE:Verse

RE:Verse
12.I Mengunjungi Desa Mati



Apa yang kupikirkan sebelumnya ternyata memang benar-benar terjadi. Alpha melupakan janji kami dan malah memilih untuk mengurusi mayat. Mereka bahkan mengadakan pesta besar atas kemenangannya terhadap para orc semalaman.


Aku agak tertarik dengan sifat serigala-serigala di sini. Berbeda dengan ras humanoid, mereka tidak begitu terpuruk saat saudara-saudaranya mati. Malahan, semua mayatnya dibakar dalam pesta semalam sementara mayat-mayat orc dijadikan persembahan untuk dimakan bersama-sama.


Alpha mengatakan bahwa kematian dalam pertempuran adalah cara mati yang paling didambakan oleh para werewolf. Jadi, ketika beberapa kawanan mati akibat kejadian tidak terduga yang menimpa desa ini, mereka yang selamat mengadakan upacara dan ritual penghargaan. Kemudian, nama dari serigala yang gugur akan diingat sebagai pahlawan desa.


Apakah sebaiknya aku mengatakan pada mereka bahwa ini adalah budaya yang bodoh dan sia-sia? Lagipula serigala-serigala malang itu tidak mati dalam peperangan, melainkan mereka hanyalah korban dari pertarungan Alma dengan archdemon yang namanya bahkan tidak aku ketahui.


Ketika aku menjelaskan maksud dan tujuanku pada pemimpin desa ini, dia akhirnya ingat dan wajahnya berubah membiru seakan napasnya berhenti seketika itu juga. Yah, jika dia berasal dari ras humanoid, harusnya dia berekspresi seperti itu. Sayangnya Alpha bukanlah ras humanoid. Jadi, aku hanya dapat mengimajinasikan raut wajah macam apa yang dia tunjukan pada saat terkejut.


Dia sangat panik ... itu sudah pasti.


Kami keluar dari tempat itu dengan sangat tergesa-gesa. Tanpa pikir panjang, Alpha mengumpulkan para anak buahnya sebanyak yang bisa dia kumpulkan. Kemudian, monster itu memerintahkan semuanya untuk bergegas pergi menuju wilayah kekuasaan para orc dan mencarikan tanamam yang kubutuhkan.


Lalu, apa yang harus kulakukan selagi menunggu mereka mencarinya?


Duduk diam di sini kurasa akan sangat membosankan. Berbicara dengan Alpha untuk mengumpulkan informasi juga merupakan tindakan yang bodoh. Jelas sekali bahwa serigala dengan otak sekecil batu kerikil seperti Alpha tidak mungkin tahu apa pun. Apalagi seluruh kehidupan yang dia miliki dihabiskan hanya di dalam hutan ini.


Pada akhirnya aku memilih untuk bergegas pergi menuju Desa Orc yang sudah hancur. Hal ini bukanlah tanpa sebab. Alasan kenapa aku mau repot-repot pergi ke sana adalah untuk mengambil sesuatu yang sempat Alma jatuhkan kemarin.


Yah ... sepasang belati terkutuk itu masih ada di sana.


Sebenarnya kemarin aku dan Carmen sempat pergi ke reruntuhan kuil untuk menyelamatkan seorang pendeta yang menjadi korban penculikan. Orang itu membawaku karena akulah yang mengalami luka paling ringan di antara kami berempat. Mau bagaimana lagi, toh dia juga sudah menyelamatkan kami.


Ketika Carmen mengajakku untuk masuk ke dalam kuil dan membantunya membawa pendeta malang itu ke dalam gate yang dibuat olehnya, secara tidak sengaja aku melihatnya. Kedua senjata yang memancarkan aura kegelapan itu tergeletak begitu saja dan bermandikan darah mengering.


Bisa-bisanya si bodoh itu meninggalkan senjata-senjata yang bahkan menjadi incaran raja iblis begitu saja.


Mengambilnya saat Carmen berada di dekatku bukanlah ide yang bagus. Kudengar manusia biasa tidak akan bertahan dari kengerian belati-belati itu. Jadi, akan timbul masalah jika aku mengambilnya dengan tangan kosong dan tidak menimbulkan apa pun terhadapku.


Meninggalkannya begitu saja tanpa pengawasan memang cukup berisiko. Namun, mengambilnya di hadapan seorang pendeta kuil ortodox juga dapat menimbulkan masalah.


Pada akhirnya aku memilih menerima risiko dan memercayakan semuanya pada pilihan pertama.


Perjalananku menuju Desa Orc yang sekarang sudah musnah tergolong sangat cepat. Selain karena aku menggunakan hampir seluruh mana pada kecepatan manuver, jarak antara kedua desa juga tidak terlalu jauh.


Berbeda dengan suasana kemarin yang terkesan seperti kota mati, kali ini banyak serigala yang mondar-mandir di dalam desa. Mereka memeriksa setiap sudut rumah untuk melihat apakah ada hal-hal berguna yang ditinggalkan para orc. Selain itu, mereka juga membunuh dan menyeret mayat-mayat orc yang berhasil selamat untuk dijadikan persediaan makanan.


Yah, walau kubilang untuk persediaan, tanpa pengetahuan sihir yang memadai, daging-daging orc itu akan membusuk dengan cepat. Mungkin lebih baik jika mereka melakukan pesta sekali lagi dan memakan semuanya sampai perut mereka meledak.


Masih tenggelam dalam pemikiranku sendiri seraya berjalan memasuki desa, salah satu serigala menoleh ke arahku dan melebarkan pandangan.


"Manusia! Ada manusia di sini!" Kalimat itulah yang pertama kali kudengar saat aku memasuki desa hancur ini.


Nada bicara dan tatapan membunuh yang dikeluarkan oleh serigala di depanku terkesan seperti predator yang tengah menemukan mangsanya. Dia menunjukan taring-taringnya padaku seraya menyeringai seakan puas.


Apa aku dianggap sebagai mangsa olehnya? Aneh sekali. Apakah dia tidak mengenaliku?


"Manusia? Di mana?! Kudengar daging mereka lebih lembut daripada babi-babi ini."


Sudah jelas mereka tidak mengenaliku sebagai salah satu orang yang sanggup bertarung setara dengan Alpha. Benar-benar merepotkan.


Aku menarik kembali pedang satu tangan hitam yang sejak awal kusarungkan di punggung. Begitu aku menariknya, pancaran dari aura iblis menciptakan uap hitam pekat yang menyelimuti bagian mata pedang.


Mengingat kembali bahwa kemarin kami telah bertemu dengan archdemon di tempat ini secara tidak sengaja membuatku semakin waspada. Tanpa Alma, monster sekuat hellhound juga merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagiku. Jadi, ketika aku memutuskan untuk kembali ke tempat ini sendirian, aku menukar pedang yang biasanya kubawa dengan senjata utamaku, Hecate.


Perlahan tapi pasti, segerombolan serigala mulai menunjukan wajah mereka dari rumah-rumah di sekitarku. Jumlah mereka mungkin lebih dari 20 ekor dan terus bertambah. Beberapa melolong untuk memanggil kawanan yang lain sementara sisanya menyeringai seakan telah menemukan sesuatu yang langka.


"Hey, dengan jumlah sebanyak ini, bukankah masing-masing dari kalian hanya akan dapat secuil dagingku?" Aku berbicara dengan nada sedikit mengejek.


Hal pertama yang harus dilakukan sebelum memulai pertarungan adalah provokasi. Kami --bangsawan iblis-- biasa melakukan ini untuk meningkatkan persentase kemenangan. Tergantung apakah musuh menyadarinya atau tidak, teknik provokasi bisa menjadi serangan pembuka yang memiliki pengaruh sangat besar. Yah, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak membutuhkanya.


"Benar juga. Bagaimana kita akan membaginya?"


Sudah kuduga, makhluk-makhluk ini hanya sekumpulan sampah yang bodoh. Mereka bahkan belum memikirkan langkah selanjutnya setelah membunuhku. Aku yakin saat aku terbunuh nanti, serigala-serigala menyedihkan ini akan saling membunuh untuk mendapatkan dagingku. Namun, bukan berarti aku akan mati di tempat ini oleh sekelompok makhluk rendahan seperti mereka.


Aku mengayunkan Hecate dengan ringan, memotong udara di hadapanku secara horizontal.


Apa yang aku lakukan bukanlah seni pedang, melainkan ayunan layaknya anak-anak yang sedang bermain dengan tongkat kayu. Sama sekali tidak ada teknik khusus apa pun. Walaupun begitu, efeknya sanggup membelah sekitar tiga ekor serigala yang berada paling dekat denganku menjadi dua bagian. Kemudian, tubuh mereka terbakar api hitam pekat untuk beberapa saat sebelum berubah menjadi abu.


Fenomena yang terjadi secara tiba-tiba di hadapan mereka tentunya menyebarkan teror pada setiap serigala yang ada. Mereka mengambil satu langkah mundur seraya memasang wajah terkejut. Kurasa masalah ini tidak akan menjadi jauh lebih merepotkan lagi jika dibandingkan dengan masalah kemarin.


Hecate bukanlah senjata yang hanya bisa membelah jangkauan dari bilah pedangnya saja, tetapi juga objek yang berada beberapa meter dari jangkauan efektifnya. Sederhananya pedang ini melepaskan serangan fisik dan sihir secara bersamaan ketika diayunkan. Jadi, walaupun aku tidak mengenai targetku dengan bilahnya, makhluk dengan pertahanan yang rendah tetap memiliki kemungkinan untuk terbelah.


Fenomena pembakaran yang terjadi setelahnya disebabkan oleh kutukan ke-37 dari 72 kutukan dalam Hecate yang disebut pembakaran jiwa. Biasanya, makhluk yang setara dengan demon lord hanya akan menerima luka berupa sayatan kecil setelah terkena Hecate. Kemudian, kutukan pembakaran jiwa akan meningkatkan kerusakan yang ditimbulkan dari sayatan kecil tersebut. Namun, dalam kasus kali ini lawanku terlampau lemah. Mereka bahkan langsung terbelah layaknya tumpukan mentega.


"Ka-kau ... " Sudah kuduga mereka akan langsung menyerah. "Kau menyerang kami tepat saat kami berdiskusi. Betapa pecundangnya!"


Ha?! Apa-apaan dengan ejekan itu? Kalian menyerangku yang sendirian dengan jumlah terlampau banyak! Siapa yang sebenarnya pecundang di sini?!


"Kau bahkan menggunakan senjata sementara kami hanya menggunakan cakar dan gigi! Dasar manusia pecundang!" Salah satu serigala lainnya ikut membentak seraya menunjuk ke arahku.


Sudah kubilang siapa yang lebih pecundang di sini, hah?!


Kalau saja lawanku adalah manusia, aku yakin mereka akan langsung kehilangan semangat bertarung setelah melihat kekuatan dari Hecate. Sayangnya, serigala terlampau bodoh untuk menyadari hal sesederhana ini. Akibatnya, walau mereka sudah jatuh ke dalam ketakutan, tampaknya tidak akan mudah untuk membuat semuanya menyerah dan memohon ampunan.


Mau bagaimana lagi. Sepertinya aku harus menggunakan satu ayunan yang agak lebih kuat dari sebelumnya. Kuharap desa mati ini tidak akan menjadi rata dengan tanah setelah ayunan kedua yang sudah kusiapkan.


Meyakini bahwa semuanya akan baik-baik saja selama aku dapat mengontrol ayunan pedangku, Hecate kembali membelah udara kosong di hadapanku dan meratakan apa saja yang berada dalam jangkauan serangnya.


------


Selasa, 20 Agustus 2019


Pukul 11:06 AM


Catatan : -