RE:Verse

RE:Verse
Intermission II : Ruler of Death



Perhatian : mengandung gore yang lebih kental. Silakan untuk skip jika tidak suka karena tidak terlalu berpengaruh dengan cerita. Kelanjutan dari Intermission Satu.


----


Langit cerah yang biasa dilihat olehnya sudah tidak pernah ada lagi, berganti dengan langit merah pekat dengan dua buah benda langit sebagai sumber cahayanya. Tanah tandus yang dia pijak tampaknya tidak dapat ditumbuhi oleh tanaman apa pun. Hanya dataran luas dengan ribuan batu nisan sejauh mata memandang.


Cahaya mentari berwarna merah pekat yang menyentuh kulit telanjangnya benar-benar terasa menyengat, membuat dirinya hampir mencapai batas. Bukan hanya keringat yang bercucuran membasahi rambut hitam lurusnya yang kusut, cairan nanah yang bercampur dengan darah juga mengalir dari kulitnya yang melepuh.


Bola mata cokelatnya menatap tanah hitam tandus di hadapannya dengan pandangan yang kosong. Sementara itu, kedua tangannya berusaha menggali dengan gemetar hingga membuat ujung-ujung jari sekaligus kukunya hancur parah. Kau bahkan dapat melihat tulang-tulang kering yang tercampur dengan ceceran daging, tanah, dan darah di setiap ujung jarinya.


Tidak jauh darinya, tiga makhluk yang hanya memiliki kerangka tulang ikut menggali tanah tersebut. Mereka melakukannya dengan gerakan layaknya zombie tanpa kecerdasan. Terus menggaruk tanah tandus keras itu tanpa mengenal lelah sedikit pun.


Hanya beberapa menit terlewat sampai sebuah jam pasir yang tergeletak di sampingnya mulai kehabisan butiran pasirnya, menunjukan bahwa waktu yang diberikan padanya telah habis. Menyadari hal itu, gadis bermata cokelat tersebut menoleh ke arah lain. Dia memandang sosok monster raksasa setinggi lebih dari tiga meter yang mulai menampakan senyum jahatnya.


"Kelihatanya waktumu sudah habis lagi." Monster itu berbicara kepadanya.


"Tolong ... " sadar akan apa yang terjadi setelah ini, tubuh menyedihkannya mulai gemetar sementara wajah yang telah kehilangan harapan itu semakin memucat, "tolong biarkan aku mati. Aku sudah tidak tahan lagi ... "


Suaranya terdengar serak dan pilu, membawa kesan yang bahkan lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Dia memohon dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.


"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya? Kau hanya boleh mati saat kau selesai menggali kuburanmu sendiri."


Bersamaan dengan kata-kata dingin yang diucapkan monster itu, salah satu skeleton meremas bagian perutnya dengan begitu kuat. Jari-jarinya yang hanya terdiri dari tulang bahkan menembus ke dalam, mengoyak organ-organ di dalam perut gadis itu dengan kasar.


Walaupun terasa begitu menyakitkan, dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menjerit. Gadis itu hanya membuka mulut dengan kedua pupil yang melebar dan tubuh yang menegang akibat rangsangan rasa sakit yang luar biasa.


Seakan tidak memiliki belas kasih, kedua tangannya mulai digigit oleh dua skeleton lainnya. Tulang lengan yang rapuh itu mulai patah dan hancur bersamaan dengan sensasi rasa sakit yang jauh lebih buruk dari sebelumnya. Perutnya kini sudah berlubang cukup parah saat para skeleton mulai menarik organ-organ dalamnya untuk dimakan kemudian. Tentu saja, tanpa organ yang memadai, semua yang dikunyah oleh skeleton-skeleton itu hanya akan mengotori kerangka tulang mereka dan berceceran ke tanah.


Darah dan potongan-potongan organ melumuri tubuh gadis yang sekarat itu, seakan mengantarnya ke dalam kematian yang teramat mengerikan. Napasnya bahkan mulai memendek sementara seluruh otot-ototnya kian melemah. Gadis itu sudah tidak dapat merasakan sakit lagi ketika kesadarannya mulai memudar.


Hal terakhir yang diingatnya adalah jari-jari tangan kerangka dari skeleton menusuk kedua bola mata cokelatnya hingga dia kehilangan kemampuan untuk melihat.


****


Ruangan dengan kegelapan pekat yang dia peroleh setelah kematian menyakitkan itu adalah satu-satunya kedamaian yang dimiliki olehnya. Di sana dirinya bisa menangis, berteriak sepuasnya, dan melupakan sejenak penyiksaan tiada akhir yang dia alami hingga sekarang.


Sayangnya kedamaian di sini pun tidak berlangsung lama.


"Sudah dua ratus kali dirimu kemari. Dua ratus? Siapa? Almaria, 'kan? Ya ... dua ratus kali kita bertemu. Tunggulah sedikit lebih lama lagi."


Di tengah-tengah isak tangisnya, dia mendengar suara-suara mengerikan yang langsung menghancurkan gendang telinganya. Namun, dia tidak peduli bahkan setelah menyadari bawa darahnya mulai kembali mengalir dari kedua lubang telinganya.


"Kau sudah terbiasa dengan kami, ya? Dia tidak menjerit? Apakah kutukan-Nya tidak berlaku padanya? Sering ... karena kami sering bertemu, 'kan?"


Dia yakin bahwa sosok yang berbicara padanya hanyalah satu orang. Namun, sampai pertemuannya yang kedua ratus, gadis itu bahkan tidak tahu kenapa dia terkesan memiliki banyak kepribadian dalam satu tubuh. Terlebih lagi, sosok ini selalu mengganggunya sejak pertama kali dia mengalami kematian.


****


Semua mimpi buruk ini dimulai setelah dirinya mengalami kematian pertama oleh sekawanan prajurit yang tidak dikenalnya. Pada saat itu, tubuh sekaratnya ditarik paksa menuju dunia yang sama sekali berbeda oleh monster mengerikan yang menyebut dirinya sebagai Greed. Walaupun gadis itu sama sekali tidak menginginkannya, dia tidak dapat menolak takdir kejam yang menimpanya.


"Selamat datang di dalam Orbis milikku, wahai manusia."


Kata-kata itu adalah hal yang pertama kali dia dengar setelah wajahnya melepuh beberapa waktu lalu dan mengalami kematian yang kedua. Pada saat kesadarannya mulai kembali, dia membuka kedua bola matanya secara perlahan.


Hari ini merupakan mimpi buruk paling mengerikan yang pernah dia alami. Setelah menyaksikan bagaimana Sang Ibu dan kakak laki-lakinya dibunuh dengan keji, dia mati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selanjutnya, saat dirinya membuka mata, gadis itu mendapati dirinya terikat rantai dan kembali mati oleh monster mengerikan dengan lidah yang dapat melepuhkan tubuhnya. Seakan melengkapi penderitaannya, kematian kedua membuatnya sedikit mengalami halusinasi dimana lehernya tiba-tiba disabet pedang oleh seseorang yang tampak seperti bandit. Walaupun hanya halusinasi, rasa sakit dari leher yang hampir putus benar-benar terasa nyata hingga membuatnya tak sadarkan diri. Kemudian, di sinilah dia sekarang, terbaring tengkurap dengan tubuh yang telanjang.


"Di-di mana ini?"


"Kau bisa bertahan rupanya. Apakah ini hasil dari philosopher stone yang aku tanamkan padamu?"


Sebagai respon dari pertanyaan monster mengerikan di hadapannya, dia terdiam membisu tanpa kata-kata. Aliran rasa takutnya mulai menyebar dan semakin pekat seiring monster itu menjelaskan sesuatu yang mengerikan.


"Mari kita bermain. Aku menanamkan philosopher stone pada tubuhmu. Benda itu akan membuatmu bangkit dari kematian berkali-kali dan abadi."


Di tengah ketakutannya, dia masih dapat mendengar penjelasan monster itu dengan baik.


"Aku akan memberimu tiga skeleton. Gunakan mereka untuk menggali." Di tengah penjelasannya, sosok monster itu menunjukan sebuah jam pasir. "Akan kuberikan waktu dua jam untuk menggali. Ketika waktunya habis, temanmu akan mulai memakanmu hidup-hidup. Selanjutnya, saat kau mati, philosopher stone akan membangkitkanmu dari kematian dan kita mengulangi permainanya dari awal. Sederhana, 'kan?"


Makhluk itu mulai menunjukan senyum mengerikan setelah menyelesaikan aturan permainan yang dia buat. Tanpa memberikan pilihan untuk menolak, gadis malang itu dipaksa untuk menggali tanah tandus di hadapanya hanya dengan tangan kosong.


"Ah, aku melupakan sesuatu. Cuaca di dalam Orbis akan semakin memanas. Jadi, lakukan dengan cepat dan hibur aku. Setelah kau selesai menggali kuburanmu sendiri, aku berjanji akan mencabut philosopher stone dan menguburmu hidup-hidup untuk menjadi bagian dari pemakaman di tempat ini."


Bahkan saat permainannya selesai pun, tidak ada kesempatan bahwa dirinya akan berakhir dengan selamat. Sejak awal monster itu memang tidak berniat untuk membebaskannya setelah terpuaskan. Tentunya hal ini membuat mental seorang gadis berusia empat belas tahun sepertinya semakin hancur.


"Mari kita mulai permainanya!"


Setelah dua jam, kematian pertamanya dipenuhi dengan suara tangis dan jeritan histeris. Tubuhnya terkoyak perlahan, mengantarkannya pada kematian yang lama dan sangat menyakitkan. Dia terus meronta, menjerit meminta tolong kepada siapa pun yang ada di sana selama berjam-jam. Namun, semuanya sia-sia.


Siksaan yang lama itu akhirnya mereda setelah tubuhnya tidak bisa dikenali lagi.


***


Pertemuan pertamanya dengan suara misterius di dalam ruangan gelap setelah kematian bukanlah hal yang menyenangkan. Makhluk itu dipenuhi dengan kutukan. Dia adalah sumber dari segala kengerian di dunia ini.


Mendengarkan suaranya akan membuat telingamu hancur. Melihat wujudnya akan membuat bola matamu meledak. Menghirup baunya akan membakar paru-parumu sampai mati. Menyentuhnya akan membuat tubuhmu membusuk dengan cepat.


Kalimat seperti itulah yang pertama kali diucapkan oleh makhluk tersebut kepadanya. Lalu, tidak lama setelah dia mendengarkan ucapanya, kedua telinganya seakan ditusuk oleh ribuan jarum panas. Rasa sakitnya membuat gadis itu tidak bisa bertahan sampai kekuatan dari philosopher stone menariknya paksa menuju permainan kematian itu lagi.


Dia mengalami penyiksaan terus menerus hingga mentalnya benar-benar rusak. Rasa sakit yang diterimanya bahkan sudah seperti bagian dari dirinya sendiri. Pertemuannya dengan sosok misterius di alam kematian juga semakin jelas sampai pada tahap dimana dirinya dapat sedikit berinteraksi satu sama lain.


***


"Almaria, benar? Siapa dia? Makhluk yang mengalami masalah takdir. Kita harus memperbaikinya. Aku harus memperbaikinya. Maafkan kami."


"Diamlah!"


Sudah lebih dari dua ratus kali dia menjalani permainan kematian dan sebanyak itu pula dia terjebak di dunia hitam ini bersama makhluk aneh yang terus-terusan mengucapkan hal tidak jelas. Harapanya untuk mati dengan tenang sudah hilang. Apa yang dia mau hanyalah beristirahat sejenak di dunia kosong ini tanpa ada siapa pun yang mengganggu sampai permainannya kembali dimulai.


"Maafkan kami. Kenapa kita harus meminta maaf? Kenapa aku meminta maaf? Ah ... ini semua karena sihir dunia. Sihir? Siapa? Makhluk yang dihukum hingga hari penghakiman. Sihir Ilusi Reverse? Dua makhluk menggunakannya tanpa izin Sang Pencipta.


"Aku tidak peduli! Kau mengaku sebagai Maut, 'kan? Sosok yang memegang kehidupan segala makhluk. Kalau begitu, biarkan aku mati dengan tenang!"


Alma membentak dibarengi dengan isak tangis. Dia sudah tidak peduli lagi dengan perkataan makhluk aneh itu. Apa yang diinginkan olehnya hanyalah pergi dari dunia kejam ini.


"Biarkan aku bertemu dengan Kakak dan Ibunda ... "


"Maut ... itulah namaku. Ruler of Death. Ancient yang memutuskan kematian. Tanpaku, kematian tidak akan ada."


"Kalau ... kalau begitu ... "


"Maafkan kami ... maaf? Kenapa aku minta maaf? Kami tidak bisa memenuhi permintaanmu, 'kan? Takdir setiap makhluk telah tertulis dalam buku takdir. Ya, di dalam Atropos. Gerbang kematian kami tertutup rapat untukmu."


"Aku sudah mati ratusan kali! Lalu kenap--"


"Sebuah sihir. Sihir dunia, 'kan? Gerbang sihir tertinggi ... reverse? Benar. Sihir merusak Atropos dan mengacaukan takdir. Atropos mengubah aturan dasar dunia untuk keperluan pembetulan takdir hingga memulai perselisihan. Tentu saja ancient di balik gerbang juga akan gelisah. Aku ... siapa? Kami sedang memperbaiki takdir. Almaria, takdirmu adalah memimpin wilayah dan mati dalam damai. Damai? Tidak, itu kematian yang rumit. Kami minta maaf."


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Maut seakan menjadi kalimat perpisahan. Dia ditarik menuju permainan kematian yang sama. Tubuhnya kembali utuh, tetapi langsung melepuh karena suhu udara yang terlampau tinggi.


"Apa aku harus menggali lagi?" Dia bergumam, berbaring terlentang di atas tanah kering yang panas.


Menyadari bahwa dunia yang dia tempati adalah Orbis yang sama, Alma segera bangkit.


Angin kering yang menghembus kulitnya terasa begitu menyakitkan, mempercepat kulitnya untuk melepuh dan bernanah. Tanpa memedulikan sensasi terbakar yang menyiksa, pandangan Alma beralih untuk mencari sosok monster yang mengaku sebagai Greed. Biasanya, dia akan menyambutnya dan memulai kembali permainan kematiannya. Namun, kali ini monster itu tidak ada di sana.


Tiga skeleton yang diberikan padanya sebagai bantuan untuk menggali sekaligus membunuhnya setiap dua jam terlihat sama seperti biasanya. Mereka terus mengorek tanah keras di dekatnya tanpa memedulikan sekitar. Jam pasir yang tergeletak tak jauh darinya juga tetap melakukan fungsinya dengan baik. Tidak ada yang berubah kecuali sosok monster itu yang entah ke mana.


"Selamat ... Atropos telah dilumpuhkan untuk beberapa jam ke depan. Atropos? Siapa itu? Simbol yang memegang takdir dunia. Oh, sekarang aku mengingatnya. Dia adalah saudari pertama dan simbol tertua."


Suara misterius yang sebelumnya hanya terdengar ketika dirinya berada di alam kematian tiba-tiba menusuk telinganya, menghancurkan pendengarannya seketika itu juga. Darah segar kembali mengalir dari kedua lubang telinganya. Namun, Almaria menghiraukannya dan suara-suara itu masih dapat terdengar dengan jelas. Baginya, rasa sakit seperti ini bukanlah apa-apa.


"Kami melumpuhkannya dan menulis ulang takdirmu, Almaria von Catania. Penuhi takdirmu dan mati dalam damai!"


Walaupun pendengarannya dalam keadaan yang rusak, Alma masih dapat mendengarkan ucapannya dengan sangat jelas. Suara itu seakan-akan langsung dikirimkan ke dalam pikirannya. Oleh karena itu, dia dapat dengan baik menyadari bahwa ada hal yang aneh dari kata-katanya.


"Catania? Nama siapa itu? Kau salah orang!"


"Aku, Ruler of Death, akan membimbingmu ke dalam kematian yang tepat."


Bersamaan dengan berakhirnya kalimat dari Maut, sesuatu menghantam dataran di dekatnya. Suara dentuman itu begitu keras dan menggetarkan tanah yang dia pijak. Alma kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk di hadapan sebuah kawah yang tercipta dari hantaman kuat itu.


Tepat di hadapannya, monster yang sangat familier terbaring dengan tubuh yang babak belur. Dia mengerang seraya berusaha bangkit dengan semua tenaga yang dimilikinya.


"Sialan! Bagaimana bisa kau yang sudah melemah melakukan ini kepada Greed yang agung?!" Monster itu memaki dengan suara seraknya yang mengerikan.


Hanya terdapat jeda beberapa saat sebelum sosok makhluk yang terbalut full plate armor berwarna hitam pekat mendarat tak jauh dari mereka berdua. Tubuhnya hanya setinggi rata-rata manusia normal pada umumnya dengan pedang hitam yang dia genggam di tangan kanannya.


"Menyerahlah kau makhluk hina. Aku akan memberimu kematian yang cepat jika kau bersujud di hadapanku." Sosok itu mengangkat pedang hitamnya dan menghunuskannya ke arah Greed.


Baru kali ini Alma mendapati Greed jatuh ke dalam kekhawatiran. Biasanya monster itu akan bermain-main dengannya dan tertawa keras saat Alma sedang sekarat. Namun, kali ini tawa arogan itu telah sepenuhnya terhapus dari wajah mengerikannya. Dia bahkan melupakan kenapa kedua telinganya yang hancur masih dapat mendengar dengan jelas.


"Ra-rasakan itu dasar monster hina!" Tidak sadar, Alma meneriakan kalimat makian pada monster yang telah menyiksanya selama ini.


Kedua sosok itu --makhluk yang memakai armor hitam dan Greed-- beralih memandang ke arahnya. Mereka bereaksi terhadap ucapan Alma seakan baru menyadari bahwa dirinya berada di sana.


Pada awalnya, dia mengira bahwa mereka akan mengabaikannya begitu saja. Hal terburuk yang akan terjadi pastinya tidak lebih dari monster Greed yang akan menghabisinya secara langsung. Jika memang dia harus mati di sini, Alma sudah tidak memedulikannya lagi. Namun, reaksi yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan.


"Kenapa kau ada di sini?! Bagaimana dengan Garfagos?!"


Pertanyaan yang keluar bukanlah dari mulut Greed, melainkan dari sosok yang tidak dia kenali sebelumnya. Alma bahkan tidak yakin apakah kata-kata itu memang ditujukan kepadanya atau bukan. Namun, pandangan yang tertutup oleh pelindung kepala hitam dari sosok itu mengarah tepat ke arahnya. Jadi, peluang yang dia ajak bicara hanyalah pada dirinya dan para skeleton. Alma merasa tidak yakin jika makhluk itu mengarahkan pertanyaannya pada tiga skeleton yang bahkan masih sempat-sempatnya untuk terus menggali.


"E-eh? Siapa?!" Alma bertanya keheranan.


Sayangnya saat mereka memalingkan diri dari Greed, makhluk itu tiba-tiba tertawa dengan keras. Suaranya yang sangat familier membuat Alma ketakutan. Dia tahu bahwa tawa dari monster itu selalu menjadi penanda bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi.


Tubuh hitam besarnya mulai mengeluarkan cahaya merah pekat yang begitu kuat. Bersamaan dengan hal itu, luka-luka berat yang diterimanya menutup rapat seakan tidak pernah terjadi. Makhluk itu mulai menyembuhkan diri dengan cepat.


"Philosopher stone?! Sialan! Dia masih memilikinya!"


Tampaknya sosok yang sedang menghadapi Greed mengetahui sesuatu. Alma mengingatnya dengan baik tentang apa itu philosopher stone. Benda tersebutlah yang membuat tubuhnya abadi dan mengalami dua ratus kematian hingga sekarang. Jadi, tidak heran jika benda seperti itu juga dapat menyembuhkan luka.


"Alma, cepat kemari! Kita akan pergi dari sini!"


Sosok itu berteriak ke arahnya. Alma yang keheranan bahkan tidak yakin kenapa sosok itu mengenal dan tahu namanya. Dia merasa tidak ada satu pun makhluk dari dunia aneh ini yang tahu tentang namanya kecuali Maut. Bahkan Maut yang terkesan tahu segalanya juga tampaknya salah orang.


"Sialan, tidak ada waktu lagi!"


Sosok tersebut menyarungkan pedang hitamnya dan langsung melesat ke arah Alma. Tanpa ragu, dia merangkul tubuh gadis itu dan membawanya pergi dengan kecepatan luar biasa. Hempasan angin dan adrenalin yang terpacu bahkan membuat Alma menjerit karena panik. Dia menutup matanya rapat-rapat dan memberontak karena ketakutan.


"Diamlah! Jika Greed menyusul, habislah kita!"


Ucapan itu entah kenapa membuatnya sedikit tenang. Perlahan Alma membiarkan sosok itu membawanya pergi dengan kecepatan tinggi. Dia mulai membuka mata, mengintip bagian belakang dan mendapati bahwa Greed berusaha mengejar mereka. Namun, dengan kecepatan ini, tampaknya sulit bagi monster itu untuk menjangkau dirinya.


Pada saat Alma mulai tenang karena bahaya yang menghampiri mereka kian menjauh, sesuatu tiba-tiba muncul dari kekosongan. Dia melihatnya, sesuatu dengan ukuran dua kali lipat lebih besar daripada sosok megah Greed tengah melayang tepat di belakangnya. Tubuh itu menyerupai skeleton yang membantunya untuk menggali tanah, tetapi terselimuti oleh jubah cokelat compang-camping yang menutupi hingga kepala. Tangan-tangan keringnya menggenggam sebuah sabit raksasa dengan tiga mata pisau yang terlihat begitu tajam.


"Sekarang adalah perpisahan. Aku, Ruler of Death, menolak kematianmu dan menutup pintu gerbang kematian dengan rapat. Almaria von Catania, tuan tanah dari Catania Dominion, kita akan bertemu lagi."


Sampai saat-saat terakhirnya, Alma bahkan tidak bisa meluruskan kesalah pahamannya dengan Maut. Nama yang disebutkan olehnya jelas sangat berbeda. Terlebih lagi, Alma bahkan tidak tahu di mana letak Catania Dominion, apalagi menjadi tuan tanahnya. Namun, dia tidak mendapat cukup waktu untuk menyangkal perkataannya karena Maut segera menghilang tepat setelah ucapannya berakhir.


Setelah menyimak suaranya ratusan kali, baru sekarang Alma mendengar ucapannya dengan pola kalimat yang jelas. Selain itu, ini juga pertama kali baginya melihat sosok dari makhluk yang mengenalkan dirinya sebagai Maut. Perasaan ngeri dan senang bercampur begitu saja, membuat Alma tidak tahu harus bersikap seperti apa saat dirinya melihat wujud dari kematian itu sendiri. Sayangnya, kutukan dari Maut masih tetap berlaku padanya. Kedua bola matanya mulai hancur dan lubang telinganya kehilangan kemampuan untuk mendengar. Namun, dia sama sekali tidak keberatan akan hal itu.


"Terima kasih." Ucapan terakhir Alma menyudahi penderitaanya selama ini.


-----


Catatan :


Almaria's Story selesai ~