
[Dalam narasi ini ku sempat menyebutkan Alma sebagai Fiora. Keduanya adalah orang yang sama. Fiora merujuk pada Alma sebelum menempati tubuh manusia, sementara Alma adalah Fiora yang telah berada dalam tubuh manusianya]
------------------
Fiora lahir dan dibesarkan di dunia bawah. Sejak pertama kelahirannya, dia langsung dibuang ke Hutan Neraka sebagai korban dari tradisi para iblis. Sedari awal dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Namun, tidak adanya konsep kasih sayang membuat Fiora sama sekali tak terganggu dengan hal remeh seperti ini.
Sejak awal, kenapa ikatan antara orangtua dan anak begitu kuat?
Jawabannya sederhana, karena seorang anak bergantung kepada orangtuanya untuk bertahan hidup. Mereka membutuhkan sosok orang yang dapat dijadikan panutan untuk tumbuh menjadi kuat dan mandiri. Bukankah wajar bagi seseorang untuk menghormati figur yang mengajari mereka tentang nilai-nilai kehidupan? Inilah sebabnya anak-anak mencintai orangtua mereka lebih dari apa pun.
Bagi para iblis yang dibuang sejak lahir akibat dari tradisi kuno dimana mereka menganggap bahwa anak yang gagal bertahan merupakan sebuah kegagalan, konsep orangtua dan anak tidak begitu melekat. Anak iblis tidak memerlukan sosok orangtua untuk tumbuh menjadi mandiri. Akibatnya, ikatan yang terjalin hanya sebatas pada hubungan saling menguntungkan untuk mencapai tujuan yang sama.
Semua iblis menganggap keluarga sama halnya dengan rekan atau sekutu, tidak lebih. Jadi, ketika mereka melihat keluarganya mati di depan mata mereka, tidak ada emosi kuat yang muncul. Hanya rasa amarah karena tujuan mereka tertunda akibat adanya seorang rekan yang mati.
Jika memang seperti itu, lalu apa yang Fiora alami sekarang ini?
Ketika seorang manusia memeluk tubuh manusianya, dia merasakan sesuatu yang menyakitkan di dalam dadanya. Seperti sebuah luka, tetapi tidak merusak organnya. Walaupun begitu, rasa sakit dan tidak nyaman yang ditimbulkannya hampir sebanding dengan luka yang sebenarnya.
Berbagai macam emosi asing tiba-tiba bergejolak, membuat raut wajah datarnya berubah. Kemudian, tanpa dia sadari, kedua bola matanya basah oleh air mata ketika dirinya mulai menangis layaknya anak kecil.
Fiora tidak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Dalam beberapa ratus ribu tahun hidupnya, ini adalah pertama kali baginya merasakan emosi yang begitu kuat. Sesuatu yang sanggup membuat air matanya jatuh.
Pada awalnya Fiora tidak begitu senang saat tuannya memutuskan untuk mengirimnya ke ibukota Kerajaan Ignis bersama dengan Empress Glastila. Namun, karena dirinya takut dengan murka Sang Tuan, Fiora menyanggupinya tanpa banyak mengeluh. Memang benar dia ingin menolaknya, tetapi sekarang dirinya malah merasa bersyukur karena dikirim kemari.
Rasa nyaman dan aman yang timbul dari pelukan seorang pria di hadapannya membuat Fiora melupakan kenyataan bahwa dirinya adalah iblis peringkat tinggi untuk beberapa saat. Dia ingin berada dalam pelukannya untuk selamanya, tidak mau menerima kenyataan bahwa semua emosi yang didapatkan olehnya berasal dari seseorang yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.
Dia menceritakan semuanya kepada pria itu. Kisah tentang bagaimana dirinya selamat dan berhasil bertahan hidup selama ini. Tentu saja, sebagian besar kisahnya adalah sebuah kebohongan.
Ketika dia menceritakan kebohongan demi kebohongan kepada pria itu, entah bagaimana dadanya kembali mengalami rasa tidak nyaman seperti sebelumnya. Dorongan untuk berhenti membual terus menghantui pikirannya, tetapi Fiora berusaha menahan hasrat untuk jujur.
Alasan kenapa dia menolak mengatakan yang sebenarnya bukanlah karena sesuatu yang luar biasa seperti kepercayaan mutlak terhadap Sang Tuan, melainkan murni karena dirinya takut. Jauh di dalam hatinya, Fiora sangat ketakutan.
Kalau aku jujur, apakah kau akan membenciku?
Kalau aku jujur, apakah sikapmu akan sama seperti ini?
Aku merebut posisi putrimu dan menggantikannya. Tidakkah kau akan sangat terpukul jika aku mengatakan yang sebenarnya?
Semakin dirinya memikirkan tentang hal ini, semakin berat baginya untuk mengatakan hal yang sejujurnya. Pada akhirnya Fiora memutuskan untuk menjaga rahasia ini rapat-rapat. Berusaha untuk tidak menghancurkan kebahagiaan semu yang menyelimuti hati pria itu.
Dua hari sudah terlewat sejak kejadian itu. Fiora yang pada awalnya akan tinggal di istana bersama yang lainnya memutuskan untuk tinggal di mansion keluarganya yang ada di ibukota. Jaraknya tidak terlalu jauh dari istana, jadi tidak ada masalah ketika dia memutuskan hal ini.
Di pagi yang cerah ini, dimana mentari telah meninggi dan hampir tepat di atas kepalanya, Fiora --yang sekarang dikenali sebagai Alma-- berjalan sendirian menuju akademi paling bergengsi di kerajaan, tempat dimana seluruh keturunan bangsawan tinggi dan beberapa orang yang sangat berbakat bertujuan untuk menjadi kesatria maupun penyihir kerajaan menempuh pendidikan.
Dia pergi ke sana dengan tujuan untuk menemui Sang Putri, menggenapi janji yang telah dibuat olehnya pada saat perjamuan. Memang dirinya menolak untuk menjadi instruktur sementara karena ketidak berbakatannya dalam mengajari seseorang. Jadi, sebagai ganti dari penolakannya, Sang Putri meminta untuk bertanding melawannya dalam latihan pertarungan. Alma menyetujuinya tanpa pikir panjang. Menurutnya, akan lebih baik untuk melakukan latih tanding daripada harus menjadi instrukturnya.
Ketika Alma akan melewati gerbang akademi, seorang kesatria menghentikannya. Dia menanyakan perihal keperluan Alma mendatangi akademi. Untungnya, berkat plat lambang keluarga yang diberikan oleh ayahnya, Alma diperbolehkan masuk dan melihat-lihat akademi tanpa ada masalah yang merepotkan.
Di kerajaan ini, hanya ada empat keluarga marquis yang berkuasa. Masing-masing menduduki wilayah perbatasan yang berpotensi menjadi garis depan peperangan. Bahkan di antara empat keluarga marquis, rumah bangsawan Canaria adalah yang paling berpengaruh. Jadi, tidak heran jika keturunannya diperlakukan dengan spesial dan diperbolehkan masuk di hampir semua fasilitas kerajaan yang sebenarnya dilarang jika tak memiliki izin.
Setelah berhasil melewati gerbang akademi, Alma kebingungan untuk mencari lokasi dari arena pelatihan, tempat dimana mereka berjanji untuk bertemu. Langkah kakinya berjalan tak tentu arah, membawanya berputar ke tempat yang sama beberapa kali.
Dia yang kehilangan arah pada akhirnya memutuskan untuk menanyai para siswa yang ditemuinya. Namun, sebelum dirinya mengajukan pertanyaan, mereka menatapnya dengan pandangan tidak senang dan pergi mengabaikannya begitu saja. Beberapa kali Alma mencoba dan sikap semua orang paxa dasarnya sama.
Sekitar tiga puluh menit setelah menyusuri lorong yang lebih seperti labirin, dia akhirnya tiba pada sebuah ruangan yang dipenuhi oleh set meja dan kursi. Di setiap sisi ruangan terdapat berbagai macam kedai yang menawarkan segala jenis makanan, menyebarkan bau sedap yang menggugah seleranya.
"Kantin, ya?"
Alma bergumam sesaat sebelum memutuskan untuk masuk ke sana.
Udara dingin menyegarkan menerpa wajahnya ketika dirinya masuk ke dalam ruangan. Sensasinya mengingatkan Alma pada ruangan di dalam istana Kekaisaran Dwarf. Hal ini membuatnya yakin bahwa ruangan ini juga dilengkapi dengan semacam alat sihir milik para dwarf yang berfungsi sebagai pengatur suhu.
Jauh di dalam kepalanya, Alma memikirkan tentang peralatan tersebut. Kalau saja di kastilnya yang berada di dunia bawah memiliki alat semacam ini, pasti dirinya dapat lebih menikmati hari bermalas-malasannya. Sangat disayangkan peralatan hebat seperti ini hanya terbatas di dunia fana.
Dia duduk pada salah satu meja yang kosong, menatap berbagai kedai sekadar untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa dia konsumsi ataukah tidak. Dalam diamnya, Alma berpikir untuk menghabiskan waktu di sini sebentar sebelum pergi keluar dari akademi.
Gadis itu sebenarnya datang kemari dengan terpaksa. Dia tahu bahwa mengingkari janji Sang Putri akan merusak reputasi keluarganya. Jadi, mau tidak mau dirinya pergi menuju akademi. Sekarang, setelah berhasil berkunjung ke akademi dan berakhir dengan tersesat, Alma sudah tidak memiliki kewajiban untuk menemui Sang Putri lagi.
Memang benar bahwa tidak datang sejak awal dengan datang dan pulang tanpa bertemu sama-sama membuat Alma mengingkari janjinya. Namun, dua hal tersebut memiliki dampak yang berbeda terhadapnya. Sang Putri tidak bisa mempermasalahkan ketidak hadirannya hanya karena Alma tidak tahu letak arena dan berakhir tersesat. Lagipula itu kesalahan Putri Estelle sendiri karena tidak menunjukan di mana letak spesifik dari arena akademi.
Estelle mungkin berpikir bahwa Alma pasti akan meminta seseorang untuk mengantarnya ke arena. Sayangnya, baik Estelle maupun Alma, keduanya tidak berpikir bahwa para siswa memilih untuk menghindari Alma tanpa memberinya kesempatan untuk bicara. Bagi Estelle sendiri, hal ini adalah sebuah kesialan. Namun, Alma secara pribadi merasa bersyukur dengan sikap dingin para siswa. Karena berkat mereka, dia jadi memiliki alasan untuk tidak menemui Estelle.
Alma mulai sedikit menyeringai ketika sampai pada pemikiran seperti itu. Sayangnya kebahagiaan sederhananya tidak berlangsung lama karena seseorang tiba-tiba berbicara kepadanya dengan nada yang tidak menyenangkan.
"Aku tidak tahu keperluanmu apa, tetapi di sini adalah tempat para bangsawan. Rakyat jelata biasanya makan di halaman."
Seorang gadis muda berdiri di hadapannya, memandangi gaya berpakaian Alma dari bawah hingga ke atas. Di samping kiri dan kanannya berdiri dua gadis lain yang tampak seumuran dengannya. Selain mereka bertiga, dua orang wanita yang berusia sekitar dua puluh tahunan berdiri dalam diam, mengenakan seragam pelayan yang rapi.
Mendengar ucapan seperti itu, Alma mengalihkan pandangan ke arah para siswa di sekitarnya. Sebelumnya Alma tak memperhatikan mereka karena dia pikir suasana di sini tak akan jauh berbeda dengan Akademi Carcas di ibukota Kerajaan Cygnus. Namun, tampaknya tingkat diskriminasi rakyat jelata di akademi ini cukup tinggi. Soalnya, semua siswa yang berada di dalam kantin menatap ke arahnya dengan pandangan seakan terganggu.
"Begitu, ya. Jadi alasan di balik tindakan aneh para murid adalah hal sepele seperti ini."
Alih-alih membalas perkataan kasar yang dilontarkan ke arahnya, Alma malah bergumam sendiri.
Sepanjang perjalanan kemari, memang ada banyak mata yang memperhatikannya. Namun, Alma mengira bahwa mereka hanya penasaran dengan wajah baru yang tiba-tiba muncul di akademi. Alasan kenapa para siswa menghindarinya juga dia pikir karena mereka memang pemalu dan tidak terbiasa berbicara dengan orang asing. Sejak awal dia tidak pernah memikirkan kemungkinan adanya diskriminasi.
"Ah, maafkan aku. Soalnya ini pertama kali bagiku datang ke sini."
Alma segera berbicara pada gadis di hadapannya setelah tersadar dari lamunannya. Dia berdiri dari kursinya dan bermaksud untuk segera meninggalkan ruangan. Akan tetapi, kedua gadis lain tiba-tiba membentaknya dengan penuh kekesalan.
"Bagaimana bisa orang hina sepertimu berbicara dengan tidak sopan kepada seorang bangsawan tinggi?!"
"Tidak sopan pun ada batasnya! Putri Lunaria adalah putri tunggal dari Keluarga EarlĀ Marcus. Kau bisa saja dipengga--"
Gadis sebelumnya mengangkat tangan, seakan menyuruh mereka berdua untuk berhenti mengoceh. Menyadari hal ini membuat Alma berpikir bahwa gadis itu mungkin sebenarnya adalah orang baik. Hanya saja cara yang dilakukan olehnya untuk menunjukan kebaikan agak unik. Namun, penilaiannya runtuh dalam sekejap ketika gadis itu kembali berbicara.
"Seperti yang diharapkan dari anak-anak tidak beradab. Kau bahkan tak tahu cara bersikap sopan kepada para bangsawan. Mau bagaimana lagi, pendidikan sopan santun hanya diberikan kepada masyarakat beradab seperti kami. Jadi, aku akan memakluminya kali ini."
Memang benar ucapannya cukup kasar, tetapi Alma sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli. Dia secara resmi merupakan keturunan seorang bangsawan tinggi. Dengan kata lain, dirinya termasuk ke dalam golongan masyarakat beradab menurut standar gadis di hadapannya. Jadi, ucapannya sendiri tidak terlalu membuat Alma kesal. Lagipula masalah sepele seperti ini menurutnya bukanlah hal yang harus dia ladeni dan jika dia menghabiskan waktu lebih lama lagi, Sang Putri mungkin akan menemukannya. Oleh karena itu Alma memutuskan untuk mengalah dan segera pergi dari wilayah akademi.
Ketika dirinya bermaksud untuk mengucapkan kalimat maaf dengan bahasa paling sopan yang bisa dia lakukan, suara yang tidak asing terdengar dari sampingnya.
"Putri Lunaria, apakah Anda memiliki urusan dengan tamu saya?"
Mereka berpaling ke arah sumber suara hampir dalam waktu yang bersamaan. Almaria sendiri juga melakukannya secara tidak sadar, memandang ke arah seorang gadis muda yang ditemani oleh dua orang pelayan istana.
"Yang Mulia Putri!" Gadis di hadapannya tiba-tiba kehilangan kesombongan yang dia tunjukan beberapa waktu lalu. "Maafkan saya karena mengganggu tamu terhormat Anda. Saya hanya mewakili semua orang yang tidak nyaman dengan kehadiran seseorang yang bukan merupakan keturunan bangsawan. Saya sama sekali tidak tahu bahwa beliau adalah tamu terhormat Anda."
Bisikan ketus dan cibiran samar terdengar dari berbagai arah, seakan mengejek gadis yang berusaha membela dirinya sendiri dengan cara menjual nama orang lain. Mereka jelas kesal dengan alasan gadis itu, tetapi tidak ada seorang pun yang berani untuk berbicara. Apakah karena dia adalah anak dari seorang bangsawan tinggi atau kehadiran Sang Putri sendirilah yang mencegah orang-orang untuk menyangkal ucapannya, Alma tidak tahu alasan mana yang mendasari keheningan di ruangan itu.
"Yah, saya pribadi tidak akan mempermasalahkannya. Namun, bersikap kasar terhadap putri seorang marquis bisa membawa Anda ke dalam masalah yang pelik. Jadi, berhati-hatilah untuk ke depannya."
"Ap--" Suara gadis itu seperti tertahan oleh sesuatu.
Estelle memang tidak mengatakannya secara jelas, tetapi anak seorang bangsawan kelas rendah sekalipun akan dapat memahami kata-katanya dengan mudah. Jadi, tepat setelah Estelle mengatakannya, gadis itu langsung menyadari di mana letak kesalahannya.
Lima orang perempuan di hadapan Alma benar-benar kehabisan kata-kata dengan ucapan Estelle. Bau ketakutan yang sebelumnya cukup samar kini mulai menguat dan semakin pekat.
Di tengah keheningan yang baru berjalan sesaat, suara Estelle kembali memecahkan suasana. Dia berbicara kepada Alma dengan kalimat yang sopan, tetapi sedikit menunjukan ketidak senangan dalam nadanya.
"Putri, bukankah Anda sudah berjanji untuk menemui saya di arena?"
Alma menjawab pertanyaannya tanpa menunjukan emosi seperti biasanya.
"Saya tidak tahu tempatnya. Para siswa yang saya mintai tolong juga malah memandang jijik dan meninggalkan saya tanpa sepatah kata pun."
Estelle memandangi Alma dari ujung kaki hingga kepala, kemudian mengerutkan dahi dengan penampilannya. Sepatu kulit hitam berlumpur menutupi kaki kecilnya, rok hitam pendek sampai batas atas lututnya dan kemeja hitam yang selalu dia pakai jelas bukan pakaian untuk seorang putri bangsawan. Selain itu, topeng hitam aneh dan ketiga senjata yang dibawa olehnya lebih memperburuk citranya sebagai salah satu keturunan seorang marquis. Tidak heran jika para siswa menjauhinya ketika Alma mengajaknya untuk bicara.
"Bukankah Anda sekarang tinggal di Masion Keluarga Canaria? Kenapa Anda tidak mengganti gaya berpakaian Anda? Sebagai seorang putri tunggal dari Marquis Canaria, Anda harus memperhatikan penampilan Anda mulai sekarang."
Kelima orang yang masih berdiri di hadapan Alma cukup terkejut ketika mendengar nama keluarganya disebut. Jelas saja, Keluarga Canaria adalah salah satu bangsawan yang bahkan Sang Raja sendiri tidak dapat bersikap sembarangan terhadapnya, jadi tidak heran jika mereka ketakutan ketika menyadari bahwa Alma adalah keturunan dari bangsawan hebat seperti itu.
Mereka seperti ingin berbicara kepada Alma, tetapi memilih untuk menahan diri karena menyela percakapan Sang Putri sama saja dengan menghina keluarga kerajaan itu sendiri. Pada akhirnya kelimanya hanya bisa diam mematung sembari menundukan kepala.
"Akan saya pikirkan nanti. Terima kasih atas nasihat Anda, Putri."
Estelle hanya bisa menghela napasnya ketika Alma menjawab seperti itu. Dia kemudian mengubah topik pembicaraan menuju masalah utama.
"Kalau begitu, mari menuju arena. Saya tidak sabar untuk melawan Anda di sana."
Ucapan Estelle seakan memicu keributan di dalam ruangan tersebut. Semuanya tampak tertarik dengan apa yang dikatakan Estelle. Pada akhirnya, ketika Estelle dan Alma pergi menuju arena, seluruh siswa di ruangan itu diam-diam mengikuti mereka berdua dari belakang.
---------------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 08 Agustus 2020 pukul 12:00 PM.
Note :
Dalam cerita ini, Earl sebenarnya punya kedudukan yang sama dengan Marquis. Bedanya, Earl itu wilayahnya di dalam dan biasanya punya posisi yang berhubungan dengan urusan dokumen negara. Sementara itu, Marquis wilayahnya berbatasan langsung dengan negara musuh dan biasanya punya posisi di kemiliteran. Inilah sebabnya Keluarga Marquis jauh lebih disegani bahkan oleh Keluarga Earl sekalipun.
Entah kenapa akhir-akhir ini panjang babnya menjadi sekitar 2,3k kata. Padahal ku menargetkan tiap bab itu hanya 1,5k kata _-"