RE:Verse

RE:Verse
22.I Perubahan Lain



Kuil Ortodox, tempat yang dianggap paling suci di dunia ternyata bertempat di pusat Benua Alfheim. Benua ini juga sering disebut sebagai Benua Elf oleh manusia. Alasan di balik nama itu sederhana, karena benua ini memang menjadi rumah bagi berbagai jenis elf yang dibagi menjadi 13 wilayah.


Sebanyak 12 wilayah masing-masing dipimpin oleh sebuah kerajaan besar yang berdiri sejak ribuan tahun lalu. Sementara itu, satu wilayah tambahan yang terletak tepat di pusat Alfheim adalah Kota Suci Artheos, sebuah tempat yang menjadi pusat keagamaan.


Jauh di atas langit, sebuah kastil megah melayang seakan ada kekuatan tak kasat mata yang mengangkatnya. Selain itu, beberapa lingkaran sihir yang memancarkan cahaya putih juga mengelilingi kastil terbang, bergerak dengan perlahan mengitarinya.


Apakah itu sebuah sihir yang digunakan untuk menerbangkan kastil? Berapa banyak mana yang digunakan untuk melakukannya?


Yah, sekarang hal ini masih dapat kukesampingkan. Masalah yang paling mendesak saat ini adalah kenyataan bahwa aku dan Alma merasa seperti direbus hidup-hidup.


Aku terduduk di lantai sebuah kamar yang terbuat dari kayu, menyender pada dinding dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhku. Sementara itu, kulihat Alma terbaring di atas tempat tidur dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Tubuhnya memerah dan basah oleh keringat.


"Sampai ... kapan kita harus di ... sini?"


Di tengah-tengah erangan yang menunjukan betapa tersiksa dirinya, Alma berbicara padaku dengan suaranya yang hampir menghilang. Apakah jiwanya mulai menguap dan tak lama lagi akan menyatu dengan udara di sekitar?


"Aku ... aku tidak tahu. Pendeta sialan itu belum kembali juga."


Sekitar lima hari lalu, Carmen membawa kami ke Alfheim melalui gerbang miliknya. Dia bilang bahwa Demigod meminta untuk bertemu dengan kami. Karena aku agak penasaran juga dengan orang yang disebut Demigod ini, kami berdua memutuskan untuk pergi.


Begitu kami menginjakan kaki di Kota Suci Artheos, hal yang pertama kali menyambut kami adalah gelombang panas dan pengap yang menyerang dari segala arah. Kulitku terasa terbakar sementara tenggorokanku rasanya seperti tersumbat oleh bola duri panas.


Benar-benar sensasi yang mengerikan. Aku ingin segera pergi dari tempat ini.


Alih-alih langsung membawa kami untuk menemui Demigod, Carmen menempatkan kami di dalam sebuah kamar penginapan dan mengatakan pada kami untuk menunggunya di sana. Dia beralasan akan pergi ke medan perang untuk membantu garis depan dalam menghadapi para iblis.


Serius, seharusnya kau meninggalkan kami di Arbellion alih-alih membawa kami ke sini dan pergi begitu saja!


Kurasa sekarang adalah hari kelima setelah Carmen meninggalkan kami di kamar ini. Dia bilang bahwa dirinya akan kembali dengan segera, tetapi sampai sekarang batang hidungnya masih belum juga muncul. Apakah dia sengaja melakukannya? Atau jangan-jangan orang itu sudah mati di medan perang? Jujur saja aku merasa bodoh karena telah memercayainya.


Makanan akan diantar tiga kali dalam sehari. Sebanyak itu pula gelombang panas yang sedikit lebih kuat akan menerpa kami karena pelayan yang mengantarkan makanan adalah salah seorang pendeta dengan aura suci yang kuat.


Para pelayan tersebut ternyata pendeta tingkat menengah yang didatangkan langsung dari kastil terbang sebagai upaya penghormatan kepada para tamu yang akan menemui Demigod.


Tolong, tolong kirim saja pelayan biasa kemari! Aku sudah tidak sanggup lagi!


Kalau terus seperti ini, kurasa kami berdua pasti akan kering cepat atau lambat. Apa yang harus kulakukan? Adakah sesuatu yang dapat meringankan segala macam ketidak nyamananku?


Kurasa satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah membuka percakapan sekadar untuk mengalihkan perhatian dari serangan panas ini. Lagipula ada sesuatu yang ingin kudiskusikan sekarang.


"Alma, apa kau sudah mati?" Aku memulai percakapan pada seorang gadis menyedihkan yang terkapar di atas tempat tidur.


"Masih belum. Mungkin sebentar lagi?"


Suaranya semakin mengecil. Kurasa balasannya bukanlah lelucon. Dia mungkin benar-benar akan mati sebentar lagi.


"Tentang kutukan pedangmu. Bukankah Glastila terkena kutukannya? Aku khawatir dia mati di medan perang."


Bukan berarti aku mencemaskan keselamatan Glastila karena aku tertarik padanya atau sesuatu yang mirip seperti itu. Kekhawatiranku murni dilatar belakangi oleh pertarungan. Maksudku, akan membosankan jika aku berhasil termanifestasi secara penuh ke dunia fana dan seseorang yang bisa menghiburku berkurang satu. Secara pribadi aku ingin melawannya lagi dan kembali membunuhnya dengan tanganku sendiri.


Mari kesampingkan keselamatan Glastila karena memang tidak terlalu penting. Hal yang ingin kudiskusikan lebih kepada kutukan yang menimpanya.


Kutukan Horus --pedang hitam yang selama ini dibawa oleh Alma-- adalah untuk membelah ketangkasan. Tergantung berapa banyak mana yang dituangkan saat melakukan kontrak, efek kutukannya akan semakin kuat. Hanya butuh satu goresan kecil, maka target akan semakin melambat. Sayangnya, target pedang ini tak dapat dikendalikan. Siapa pun yang tergores --tak terkecuali penggunanya sendiri-- akan mendapatkan kutukan yang sama. Jadi, kemampuan berpedang dan kehati-hatian sangat diperlukan saat menggunakan senjata ini. Kalau tidak, pengguna sendirilah yang akan menuai kutukannya.


Sebelumnya Glastila telah tergores oleh pedang itu. Kurasa dengan jumlah mana milik Alma yang tersegel di dalamnya, tidak heran jika ketangkasannya terbelah menjadi setengah. Hal ini tentunya akan membahayakan Glastila mengingat musuhnya merupakan iblis berperingkat cukup tinggi.


"Memangnya apa hubungannya? Dia kuat, saya yakin tidak akan mati dengan mudah."


Balasan Alma membuatku sedikit mengerutkan dahi.


"Bukan kekuatannya yang jadi masalah, melainkan kutukan pedangmu."


Alma memandangku dengan menengadahkan kepalanya. Wajahnya semakin merah seperti kepiting rebus.


"Bukankah tidak berpengaruh pada pertempuran?"


"Eh?"


"Hm?"


Aku dan Alma saling menatap dengan wajah merah yang basah oleh keringat. Kami berdua kebingungan dengan arah pembicaraan kami sendiri.


Bukankah jelas pemangkasan ketangkasan akan memengaruhi pertempuran? Kalau dia melambat, musuh akan diuntungkan dan Glastila rawan terkena pukulan. Bagaimana bisa hal ini tak berpengaruh pada pertempuran?


Tunggu dulu, apakah pedang yang kuberikan padanya bukan Horus? Aku tidak terlalu ingat karena sudah agak lama sejak aku meminjamkan senjata-senjataku padanya. Mari konfirmasi hal ini terlebih dahulu.


"Pedangmu ... Horus, 'kan?"


"Lalu, kenapa bisa hal ini tak berpengaruh pada pertempuran?"


Menanggapi pertanyaanku, Alma mengerutkan dahinya. Apakah ada yang salah dengan apa yang kutanyakan padanya?


"Karena memang kutukannya tak ditujukan pada hal itu?"


Kenapa kau malah balik bertanya padaku? Apakah kau tidak yakin dengan balasanmu sendiri?


"Bagaimana bisa? Bukankah kutukan Horus dibuat untuk memangkas ketangkasan seseorang?"


"Eh?"


Kali ini Alma yang kebingungan. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa pembicaraan kami menjadi saling tidak terkait satu sama lain? Aku benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini.


"Sejauh yang saya tahu, pemangkasan ketangkasan adalah kutukan yang tertanam di dalam senjata milik Acient Demon Garfagos, bukan senjata ini."


Alma mengangkat pedang hitam miliknya yang sebelumnya tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.


Apa?! Bagaimana bisa kutukannya berada pada senjata orang lain? Selain itu, kalau tidak salah, senjata milik Garfagos itu ...


Berhenti memikirkannya. Lebih baik tanyakan langsung pada Alma. Semoga saja kutukannya tidak benar-benar tertukar dengan milik Garfagos. Kalau tidak, aku akan menangis darah di sini!


"Kalau begitu, kutukan jenis apa yang tertanam pada Horus?"


Alma hanya diam untuk beberapa saat. Mungkin dia sedang mengingat atau memeriksa kutukannya sekadar untuk mengkonfirmasi kebenarannya. Yah, setiap iblis yang melakukan kontrak dengan senjata magis biasanya dapat melihat efek macam apa saja yang dimiliki senjata tersebut.


Setelah beberapa saat diam, dia berkata, "kemandulan."


Ah! Kutukan bedebah yang dianggap sampah! Aku bahkan tidak mengerti kenapa ada seorang penempa yang membuat senjata prioritas pembunuh dewa dengan kutukan kemandulan di dalamnya!


Dulu, ketika aku masih memimpin tujuh kerajaan iblis, aku memberikan senjata dengan kutukan kemandulan kepada Garfagos sekadar untuk bermain-main. Maksudku, siapa yang peduli dengan sampah seperti itu? Tidak kusangka akan datang hari dimana kutukan sebuah senjata bahkan bisa tertukar seperti ini.


Apakah ini juga efek dari sihir ilusi milik pahlawan? Dunia terus berubah menuju ketidak beraturan.


"Kenapa harus kutukan sampah seperti kemandulan? Setidaknya tukarlah dengan kutukan yang bagus."


Aku bergumam dengan penuh frustrasi seraya menghela napas. Namun, Alma kelihatannya tidak setuju dengan pandanganku terhadap kutukan itu. Anehnya, dia menyuarakan ketidak setujuannya dengan suara yang tegas dan wajah penuh tekad.


"Apa yang Anda sesalkan? Kemandulan adalah kutukan yang sangat mengerikan. Jika setiap makhluk terkena kutukan ini, maka tidak akan ada lagi kemunculan generasi selanjutnya. Dunia perlahan berjalan menuju kepunahan."


Bukan begitu maksudku, yah ... memang benar. Kalau semua orang mandul, dunia akan kiamat. Satu-satunya entitas yang dapat menciptakan makhluk hidup di dunia dimana semua orang mandul hanyalah pencipta semata. Sayangnya sudah tidak ada pencipta di dunia ini. Jadi, pedang Alma sebenarnya senjata paling berbahaya di dunia. Syukurlah bukan Garfagos yang memilikinya.


Aku secara pribadi meminta maaf kepada penempa yang memasukan kutukan kemandulan ke dalam senjata Alma karena telah gagal melihat potensi mengerikanya.


"Alma," setelah mempertimbangkannya dengan baik, aku berbicara pada Alma dengan nada serius, "tolong jaga Horus dengan mempertaruhkan nyawamu. Aku tak mau senjata itu jatuh ke tangan yang salah dan memandulkan seluruh makhluk hidup di dunia ini."


"Sesuai perintah Anda."


Jawabannya penuh dengan nada penghormatan. Namun, melihatnya masih terkapar di atas tempat tidur dan hampir mati membuat kesan penghormatannya hilang. Aku malah merasa seperti diejek.


Yah, kurasa tidak ada masalah dengan kutukan yang menimpa Glastila. Dia tak mungkin mudah dikalahkan hanya karena mandul. Namun, tetap saja, aku prihatin padanya. Kekaisaran Dwarf mungkin akan runtuh dengan sendirinya karena tidak memiliki penerus.


Saat aku masih jatuh ke dalam pikiran liarku sendiri, pintu kayu tiba-tiba diketuk. Alma yang berbaring segera mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa dan lekas menuju pintu. Langkahnya mirip sekali dengan undead jenis zombie. Betapa menyedihkannya dia. Tidak, tidak, kami berdua sama-sama menyedihkan!


Seseorang yang masuk ke dalam kamar kami adalah sosok gadis muda dengan rambut cokelat. Dia tersenyum dengan ramah ke arahku, tetapi aku malah merasa kesal. Bagaimana tidak, orang ini meninggalkan kami di tempat yang penuh dengan mana suci selama lima hari! Mati pun tidak akan cukup sebagai hukuman, dasar manusia sialan!


Yah ... untuk sekarang, mari tahan kemarahan terlebih dahulu.


Akh berdiri seraya menyunggingkan senyum ke arahnya sekadar untuk membalas senyuman menjengkelkannya. Kemudian, aku berbicara kepadanya.


"Apakah sudah saatnya untuk bertemu dengan Demigod?"


Gadis itu langsung menjawab pertanyaanku tepat setelah aku menyelesaikan kata-kataku.


"Ya, beliau sudah menunggu. Mari ikuti aku."


Dia berbalik dan pergi menuju lorong penginapan. Ketika aku mengikutinya ke lorong, tak jauh di depan kami terdapat retakan dimensi yang tidak asing lagi. Aku yakin retakan itu menghubungkan tempat ini dengan tempat dimana Demigod berada.


Baiklah, mari lihat orang macam apa makhluk yang disebut Demigod ini.


-----------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 06 Juni 2020 pukul 12:00 PM


Note : -