RE:Verse

RE:Verse
16.IV Hubungan Darah



Menjelang sore hari, keramaian di distrik perbelanjaan ibukota sedikit berkurang. Beberapa kedai bahkan mulai tutup dan membereskan produk mereka yang tidak berhasil terjual hari ini. Kereta-kereta kuda yang datang dari desa di luar gerbang juga mengisi jalan utama distrik itu, mengangkut hasil perkebunan yang tidak habis terjual untuk disimpan kembali di lumbung-lumbung pribadi milik organisasi pertanian tiap desa. Mereka akan mencoba menjajakannya lagi besok pagi dengan sedikit potongan harga sesuai dengan turunnya kualitas bahan makanan tersebut.


Alma melangkah di antara penduduk dan pedagang yang memenuhi trotoar di samping jalan utama. Dia sedikit menunduk, memandang kedua kaki kecilnya yang berjalan menginjak susunan batu pualam.


Di balik raut wajahnya yang datar, ada banyak sekali hal yang Alma pikirkan sampai sekarang. Mulai dari rasa khawatir yang asing sampai pada permasalahan yang sebenarnya tak memiliki hubungan dengan dirinya. Dia bahkan sempat memikirkan masa lalunya sebelum menjadi iblis sejati seperti sekarang.


Acient Demon Fiora lahir dari pasangan demon lord yang menyembah Greed sebagai raja mereka. Orangtuanya tidak menjalin hubungan layaknya makhluk dunia fana, mereka hanya terikat karena memiliki tujuan yang sama yaitu untuk melahirkan keturunan yang unggul.


Dia sebenarnya merupakan keturunan ketiga belas. Hanya saja, semua kakaknya tidak berhasil keluar dari Hutan Neraka ketika mereka dibuang untuk menjalani ujian hidup pertama sebagai bangsa iblis. Jadi, sampai saat ini Fiora hanya memiliki satu adik yang sudah sangat lama tak pernah dia temui.


Kebiasaan membuang anaknya ke dalam hutan-hutan berbahaya memang hal yang wajar di kalangan para iblis. Mereka tidak memiliki rasa belas kasih, bahkan kepada orang-orang yang memiliki hubungan darah. Oleh karena itu, Fiora tidak pernah merasa terbebani dengan betapa kejam perlakuan orangtuanya. Dia menerima semua itu layaknya sesuatu yang sepantasnya terjadi.


Pikiran iblis tersebut seharusnya masih berlaku padanya sampai sekarang. Setidaknya begitulah yang dia pikirkan sejak jiwanya terkunci dalam tubuh gadis kecil ini. Namun, beberapa hal asing membuatnya sadar bahwa sesuatu mulai memengaruhi pola pikirnya sebagai iblis.


Alma mengangkat kedua tangannya, menatap kedua telapak tangan kecil itu dengan dahi yang mengerut. Dia mulai meremas udara berulang kali, merasakan setiap sensasi dari jari-jari kecilnya.


"Tidak ada yang salah dengan tubuhku, tapi kenapa ...?" Gadis itu bergumam di tengah keramaian yang mulai menyusut.


Pertama kali Alma menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya adalah saat Carla memberi tahu sesuatu tentang kemungkinan adanya perang. Tepat setelah dirinya mendengarkan informasi penting tersebut, perasaan khawatir perlahan memenuhi pikirannya. Memang tidak aneh jika dirinya khawatir terhadap sesuatu mengingat jiwa Fiora pada dasarnya adalah seorang penakut. Namun, hal yang tidak biasa dari kekhawatirannya saat ini adalah tidak adanya alasan khusus yang membuatnya takut.


Secara keseluruhan, perang antara kerajaan tidak akan berdampak sedikit pun padanya. Bahkan jika Cygnus berhasil dimusnahkan, Alma dan tuannya --yang merupakan seorang petualang-- tak akan dirugikan. Jadi, kenapa dia merasa takut?


Gadis itu memikirkan hal ini selama beberapa hari tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Namun, sejak mereka memasuki ibukota, dia mulai lupa dengan hal ini dan kembali tenang. Semuanya berjalan normal seperti dirinya sebelumnya.


Di tengah pembicaraan antara tuannya dengan Sang Raja, Alma mendengar kembali desas-desus tentang perang. Hal ini tentu saja membangkitkan rasa khawatir aneh yang sudah susah payah dia lupakan sebelumnya. Walaupun begitu, Alma tetap memilih untuk bungkam tentang masalah ini. Menurutnya, pikirannya yang kacau tidak terlalu penting sampai-sampai harus didiskusikan dengan Sang Tuan.


Masalah selanjutnya datang ketika Sang Tuan membagikan informasi tentang daywalker bersaudara. Tuannya bahkan mengatakan bahwa Seven Deadly Sins saja kewalahan menghadapi mereka. Jadi, Beliau meminta Alma untuk berhati-hati selama berada di ibukota.


Kekhawatirannya memang bertambah cukup pesat sampai-sampai tubuhnya sedikit gemetar. Namun, Alma berpikir bahwa rasa takut yang mengganggunya bukanlah karena dia merasa terintimidasi oleh daywalker, melainkan ada sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting daripada keselamatannya sendiri. Hanya saja, seperti sebelumnya, dia sendiri tidak tahu alasan di balik ketakutannya ini.


Alma terus tenggelam dalam pikirannya semalaman di kamar penginapan yang disewanya. Dia berusaha untuk mengenali ketakutannya sendiri dan mencari solusi agar tidak mengganggu rencana Sang Tuan. Sayangnya semua yang dia lakukan tidak membuahkan hasil.


Siang harinya Alma memutuskan untuk mendatangi guild dan menyerahkan perkamen yang diberikan oleh Guild Master Cabang Kota Trowell. Setelah itu, dirinya bertemu dengan seorang ksatria bangsawan bernama Viscount Evans dan bercakap-cakap tentang sesuatu.


Awalnya Alma menolak mentah-mentah permintaan orang itu. Namun, saat lelaki tersebut membahas sesuatu tentang perang, pikirannya tiba-tiba dipenuhi dengan segala hal tidak masuk akal. Ketakutan yang selama ini mengganggunya kini meningkat berkali-kali lipat sampai dia berpikir bahwa penyebab ketakutannya bahkan sedikit lebih mengerikan daripada murka tuannya sendiri. Oleh karena itulah Alma nekat menerima quest tersebut tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Sang Tuan.


Kejadian yang dia alami di bangunan guild siang tadi tiba-tiba melintas kembali di dalam kepalanya. Berkat perbincangan singkatnya dengan Viscount Evans, Alma akhirnya sedikit menyadari alasan di balik ketakutan yang selama ini mengganggunya.


Pengalaman hidup dan ingatan Almaria membuat Fiora khawatir kepada orang yang memiliki hubungan darah dengan tubuh ini, terutama orangtua satu-satunya yang masih hidup. Dia khawatir bahwa daywalker akan membunuh Marquis Canaria jika perang sampai terjadi. Hal ini jugalah yang menjadi alasan kenapa Alma ingin sekali mencegah perang antara dua kerajaan tersebut. Dia bahkan sampai mengabaikan izin dari tuannya sendiri tanpa berpikir konsekuensi dari tindakannya tersebut.


"Aku ... bingung ..."


Gadis itu segera melepas perlengkapan iblisnya, menjatuhkan semuanya di atas karpet yang terbuat dari kulit binatang, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur begitu memasuki kamar penginapannya sendiri. Dia menghela napas panjang seraya memejamkan mata untuk beberapa menit. Kedua tangannya menyilang di atas matanya yang terpejam.


"Kalau orang itu mati, memang kenapa?" Alma sama sekali tidak mengerti.


Memang tubuh manusianya adalah milik seorang gadis bernama Almaria. Namun, kenyataannya jiwa yang terkunci di dalamnya adalah Acient Demon Fiora. Semua keputusan yang dia ambil seharusnya ditentukan oleh Fiora sepenuhnya. Jadi, hal-hal pribadi yang berhubungan dengan Keluarga Canaria bukanlah sesuatu yang menjadi faktor penentu keputusannya. Namun, kenyataannya sungguh tidak berjalan sesuai dengan logikanya sebagai iblis.


"Aku bahkan tidak merasakan apa pun saat Yang Mulia memotong-motong tubuh ibuku karena pemberontakan. Lalu, kenapa aku harus peduli dengan manusia?"


Dia berguling-guling di atas kasur empuknya, bergerak ke kiri dan ke kanan. Rambut hitamnya yang kusut mulai tambah berantakan karena dirinya terus bergerak di atas kasur.


Terserahlah, lebih baik menghabiskan waktuku dengan batu dan papan congklak atau daun untuk ...


Ketika Alma menyerah dengan pikirannya yang berkecamuk, dia asal berbicara dalam hati sekadar untuk melupakan semuanya. Namun, ungkapan yang dia lakukan di dalam hatinya justru membuat dirinya semakin kebingungan. Pada akhirnya dia berhenti berpikir setelah mendapati sesuatu yang asing telah terlintas begitu saja menggantikan permasalahan hubungan darah yang sebelumnya memenuhi isi kepalanya sendiri.


Alma secara pribadi tidak pernah memainkan permainan apa pun selama di Tartarus. Bahkan melalui ingatannya sebagai Almaria, seorang putri marquis juga tidak mungkin memiliki waktu untuk permainan yang lebih cocok dikerjakan oleh rakyat jelata. Kalau memang kenyataannya seperti itu, lalu kenapa dia tiba-tiba berpikir untuk bermain dengan sesuatu yang konyol milik rakyat jelata?


Alma semakin jatuh ke dalam kebingungan.


Saat pikirannya semakin berkecamuk dengan hal-hal tak masuk akal yang membuat dirinya bingung, tiba-tiba suara samar seorang wanita menusuk telinganya.


Ri ...


Suaranya begitu lembut dan menenangkan, terasa nostalgia seakan Alma sudah merindukan suara ini sejak lama. Namun, nada samar tersebut memiliki emosi penuh kesedihan di dalamnya, seakan sedang menangisi sesuatu yang sangat berharga.


Perlahan jantungnya berdetak semakin cepat.


Ri ... An ... ri ... bangu--


"... ngunlah sebentar, aku butuh bantuanmu."


Kedua bola matanya langsung terbelalak saat dia sadar suara yang memanggilnya. Alma melompat dari tempat tidurnya dengan wajah ketakutan dan tubuh yang gemetar. Perasaan teror yang familier seakan menusuk tubuhnya dari berbagai arah.


Tepat di hadapannya, Sang Tuan berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Dia melihat ke arah Alma seraya sedikit menunjukan pandangan mata yang tajam. Jelas saja wajah seperti itu sudah lebih dari cukup untuk membuat gadis berambut hitam ini jatuh ke dalam teror.


"Ma-maafkan saya! Saya tidak bermaksud menerimanya tanpa seizin Anda!"


"Ha ...?" Sang Tuan memiringkan kepala layaknya orang kebingungan. "Apa kau bermimpi buruk? Sudah berapa lama kau tidur?"


Mendengar ucapan Sang Tuan, Alma mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dia ingat bahwa dirinya berbaring di tempat tidur beberapa jam sebelum mentari terbenam. Akan tetapi, suasana di balik jendela ternyata sudah gelap.


"Mu-mungkin beberapa jam ...?" Dia bahkan tidak sadar kapan dirinya terlelap.


Mendengar jawabannya yang ragu, Sang Tuan hanya menghela napas malas. Tuannya tidak memperpanjang permasalahan sepele ini dan memilih untuk berhenti hanya sampai di sini. Sebagai gantinya, beliau mengganti topik dan langsung mengungkapkan alasan dibalik keberadaannya di sini.


"Aku ingin kau menggunakan mantra regenerasi padanya." Lengan kanan Sang Tuan menunjuk ke arah seorang gadis menyedihkan yang berdiri di belakangnya.


Rambut pirang lurus yang kusut menutupi hampir seluruh wajah gadis itu. Sebelah matanya yang memancarkan warna hijau pudar kebiruan sedikit turun, seakan menunjukan penderitaan dan kesedihan. Sementara itu, mata kanannya tertutup rapat dan sedikit lebam dengan warna biru tua yang terus mengeluarkan cairan. Tubuhnya hanya ditutupi oleh kain kumal berwarna cokelat seraya mengeluarkan bau busuk yang samar.


Alma tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Namun, saat dia memandang ke arah lempengan logam yang dikunci pada bagian lehernya dengan sihir, Alma langsung tahu status gadis di hadapannya.


"Apakah Anda membeli seorang budak?" Kepala Alma sedikit miring tanpa mengalihkan perhatiannya terhadap gadis tersebut.


Sepasang daun telinganya sudah hilang, digantikan dengan luka robek yang masih belum mengering. Alma juga sempat memperhatikan bagian dalan mulutnya melalui celah bibir yang robek, menampakan gusi bengkak tanpa adanya beberapa gigi.


"Lakukan saja perintahku. Aku akan menjelaskannya setelah ini. Bersihkan semua lukanya sampai hilang tak berbekas."


Tanpa bertanya lagi, Alma segera memakai persona yang tergeletak di karpet dan lekas merapalkan mantra regenerasi. Berdasarkan lukanya yang cukup parah, Alma menggunakan mantra regenerasi tingkat dua untuk memulihkan semuanya.


Apa yang terjadi selanjutnya adalah teriakan histeris gadis tersebut. Dia menjerit dan menangis, tak kuasa menahan seluruh rasa sakit yang ditimbulkan dari mantra kegelapan tersebut. Namun, perlahan tapi pasti keadaanya semakin pulih.


Para pelayan mengetuk pintu dengan panik ketika jeritan gadis itu terdengar sampai keluar. Sang Tuan bahkan sampai harus membuka pintu dan menjelaskan situasinya kepada semua orang yang berkumpul di luar kamar. Awalnya semua keributan yang ditimbulkan cukup sulit untuk ditangani oleh tuannya, tetapi untungnya salah sekelompok petualang yang sempat melihat Alma di guild siang tadi mulai membantu dan permasalahan ini dapat diatasi dengan cepat.


Alma sendiri tidak begitu peduli dengan segala macam keributan yang terjadi. Semua perhatiannya teralihkan ke arah sepasang daun telinga yang tumbuh mengelilungi lubang telinga gadis budak tersebut.


Sebelumnya kedua daun telinga itu sudah habis terkoyak. Jadi, Alma tidak menyadari keunikan dari bentuk daun telinganya. Namun, saat mantra regenerasi miliknya mulai menumbuhkan kembali bagian telinganya yang hancur, Alma langsung tertarik dengannya.


"Dia seorang elf?" Gadis bertopeng itu bergumam pelan.


"Tidak, dia half-elf. Namanya Lilly." Sang Tuan membalas perkataannya tepat setelah pintu kamarnya kembali ditutup.


"Seorang demi? Kudengar mereka diperlakukan tidak baik."


Kedua orang itu menatap ke arah tubuh seorang gadis yang masih terbaring di lantai dengan napas yang terengah-engah. Kelihatannya semua efek samping dari mantra tersebut sudah hilang sepenuhnya.


"Begitulah." Tuannya mulai berlutut di hadapan gadis itu sebelum kembali membuka mulut. "Lilly, apa kau bisa berdiri?"


"Sa-saya bisa ... Tuan."


Gadis elf itu menjawab pertanyaan dengan suaranya yang serak dan samar. Dia bahkan terbatuk beberapa kali di tengah-tengah usahanya untuk berdiri.


"Kalau begitu, bersihkan tubuhmu dan ganti dengan pakaian yang sudah kubelikan untukmu. Kemudian, tunggu aku di kamarmu."


"Apa tidak apa-apa?" Lilly tampaknya sedikit ragu.


"Aku adalah majikanmu dan ini adalah perintah. Sekarang pergilah."


Mendengar ucapan tuannya, gadis itu membungkuk sesaat sebelum pergi meninggalkan kamar.


Alma masih berdiri dengan wajah yang kebingungan. Dia sudah menyingkap topengnya beberapa saat lalu seraya menatap ke arah tuannya dengan dahi yang mengerut seakan tidak senang.


"Apakah Anda berencana melahirkan keturunan dari seorang half-elf?"


Mendengar pertanyaan datar Alma, Sang Tuan mengalihkan pandangan kepadanya.


"Memang benar bahwa elf memiliki telinga yang sanggup menarik mana jenis cahaya dan jiwa iblis sanggup menarik mana jenis kegelapan. Namun, melahirkan anak dari keduanya bisa dibilang hampir mustahil karena kita berasal dari dunia yang berbeda."


Setelah mendengar pernyataan seperti itu, Alma bisa menyimpulkan bahwa tuannya tidak bertujuan untuk menghasilkan keturunan. Namun, kehadiran half-elf di tengah-tengah mereka tetap saja membuatnya tidak senang. Menurutnya, elf adalah musuh alami para iblis. Jadi, walaupun gadis itu hanya half-elf, tetap saja Alma membenci kehadirannya.


"Tenang saja." Sang Tuan yang tampaknya mengerti dengan kebencian Alma tiba-tiba berbicara. "Aku pastikan bahwa kau tak akan melihatnya lagi besok."


Ucapan sederhana itu membawa topik baru kepada mereka.


Alma menjelaskan mengenai segala macam hal yang terjadi hari ini dan berhasil mendapatkan izin untuk menjalankan misinya hingga selesai. Tuannya juga tampaknya masih harus melakukan pendekatan dengan keluarga kerajaan dan kedua daywalker menakutkan itu. Jadi, ketika mereka selesai berdiskusi dan Sang Tuan meninggalkannya sendirian, Alma kembali berbaring di tempat tidurnya dengan perasaan penuh kelegaan. Dia sempat tersenyum untuk beberapa saat sebelum tertidur.


------------------------


Selasa, 31 Desember 2019


Pukul 19:00 PM


Note : hepi nyuyer \(°^°)/