RE:Verse

RE:Verse
22. Alfheim



Malam setelah Almaria melawan Iblis Peringkat Tiga.


Ibukota Catania, wilayah yang baru saja diberikan kepada Viscount Lucia, merupakan kota dengan tingkat kejahatan yang tinggi. Jadi, kasus hilangnya puluhan orang di daerah kumuh setiap malamnya bukan lagi hal yang aneh bagi masyarakat kota. Mereka yakin bahwa tuan feodal pasti sedang menyingkirkan orang-orang itu dengan tujuan untuk menata kota menjadi lebih baik dan mengurangi tingkat kejahatan yang kebanyakan disebabkan oleh para penghuni daerah kumuh. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun di antara penduduk yang berani membahas masalah ini secara terang-terangan.


Viscount Lucia merupakan generasi pertama dalam keluarganya. Dia sebelumnya adalah seorang pedagang budak dari ibukota yang berhasil meraih kesuksesan dan membeli gelar viscount kepada salah satu earl. Sebagai hasilnya, dirinya mendapatkan kota ini dan tiga kota kecil lain tak jauh dari wilayahnya.


"Tuan, mereka meminta persembahan lagi."


Salah satu prajurit berlutut di hadapan seorang pria paruh baya gemuk yang tengah sibuk mengurus berbagai macam dokumen di atas meja kerjanya.


"Sudah saatnya, ya?" Pria itu menghela napas seraya menyimpan pena bulu ke dalam botol tinta.


Kepalanya sudah mulai botak, sepertinya akibat terlalu banyak pekerjaan yang harus dia urus. Selain itu, kantung matanya juga tampak sangat tebal. Dia terlihat lebih tua daripada usianya.


"Bolehkah saya mengatakan sesuatu, Tuan?" Prajurit itu berbicara ketika pria tua tersebut bangkit dari kursinya.


"Ada apa?"


"Jika terus seperti ini, penduduk akan mulai mencurigai Anda dan berpotensi melakukan pemberontakan."


Setiap malam, pria tua itu --Viscount Lucia-- diharuskan untuk membawa 25 orang ke dalam ruang bawah tanah mansion-nya. Orang-orang ini akan dipersembahkan kepada para monster yang menghuni ruangan tersebut. Terhitung hingga saat ini, jumlah persembahan telah mencapai lebih dari seribu orang. Jadi, tidak mengherankan jika para penduduk mulai mengarahkan kecurigaan mereka kepadanya mengingat tidak ada tindakan yang diambil olehnya sampai sekarang.


Mendengar pertanyaan seperti itu, dia mengubah raut wajahnya.


"Lalu aku harus bagaimana?!" Viscount Lucia tiba-tiba berteriak, suaranya memecahkan keheningan malam itu. "Katakan padaku, apa yang harus kulakukan?!"


Prajurit di hadapannya tersentak karena terkejut. Kemudian, dia menundukan kepala seraya mengucapkan kalimat meminta maaf.


"Maafkan saya, Tuan. Prajurit rendahan seperti saya tidak sepantasnya mempertanyakan kebijaksanaan Anda. Saya memohon belas kasih Anda kepada orang rendahan ini."


Mendengar jawaban seperti itu, Viscount Lucia hanya menghela napasnya sekali lagi. Dia berjalan melewati prajurit tersebut seraya memberikan perintah dengan nada yang menunjukan kefrustrasiannya.


"Bawa semua tumbalnya ke bawah. Aku akan mendatanginya terlebih dahulu."


"Sesuai perintah Anda, Tuan."


Prajurit tersebut membungkuk beberapa saat sebelum akhirnya pergi mendahului Viscount Lucia.


Lelaki tua itu berjalan melewati lorong gelap menuju ruang bawah tanah seraya menatap langit-langit ruangan. Dia menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya sekaligus.


"Oh Dewi yang Agung. Apakah Anda begitu membenci saya? Apakah karma sebagai penjual budak mulai dijatuhkan kepada saya?"


Gumamannya tidak ditujukan kepada siapa pun. Lagipula tidak ada seorang pun di lorong gelap itu kecuali dirinya. Walaupun begitu, Viscount Lucia tetap bergumam sekadar untuk sedikit meringankan pikirannya.


Ruangan yang didatanginya merupakan sebuah gua yang cukup luas. Di sana hanya ada sebuah kursi emas yang diduduki oleh seekor monster dengan kepala seperti kadal yang memiliki dua tanduk. Tubuhnya bersisik dan memiliki postur layaknya manusia, tetapi tingginya mencapai lebih dari tiga meter.


Di samping monster mengerikan itu, terdapat beberapa monster yang berlutut menghadapnya. Mereka adalah bawahan dari monster mengerikan yang tengah menduduki kursi emas tersebut.


Tepat saat kedua mata Viscount Lucia menangkap sosok mereka, gelombang kengerian menyerangnya dari berbagai arah. Tubuhnya langsung gemetar ketakutan. Padahal setiap malam dirinya selalu bertatap muka dengan para monster ini, tetapi bahkan sampai sekarang dia masih belum terbiasa dengan aura intimidasi mereka.


"Kau terlambat tiga menit, Manusia! Beraninya kau membuatku menunggu setelah bantuan yang kuberikan pada kalian!"


Monster besar itu berbicara dengan suara yang mengerikan, membuat sisa-sisa keberanian Viscount Lucia menciut dalam sekejap. Dia segera bersujud di hadapannya dengan tubuh yang gemetar.


"Mohon maafkan saya Lord Aragorn! Tubuh tua ini butuh waktu sedikit lebih banyak untuk berjalan!" Viscount Lucia tidak berani bahkan untuk mengangkat kepalanya. Dia terus bersujud di hadapan Aragorn.


"Lupakan. Aku tidak tertarik pada badut tua gemuk menyedihkan sepertimu." Nada bicara Aragorn menjadi lunak. "Sekarang, di mana persembahan yang kuminta?"


Menanggapi ucapan Aragorn, monster lain mulai menimpali dengan tawa mengerikan mereka.


"Ya! Persembahan!"


"Bawakan kami boneka-boneka lucu itu!"


"Mereka makanan, bukan boneka."


Aragorn yang kesal mulai membentak untuk menghentikan ocehan mereka.


"Kalian semua berisik! Bicara lagi dan aku tak akan memberikan satu pun dari mereka pada kalian semua!"


"Maafkan kami, Tuan!" Semuanya serempak menjawab tak lama setelah peringatannya.


Tepat setelah percakapan tersebut, para prajurit mulai memasuki ruangan dengan membawa 25 orang --termasuk wanita dan anak-anak-- ke dalam. Semua orang terisak, hanya bisa menangis pasrah saat menyadari apa yang akan terjadi kepada mereka.


Para anak-anak menjadi histeris begitu melihat penampakan monster-monster di hadapan mereka, memberontak berusaha lepas dari ikatan rantai yang mengikat kedua tangan.


"Tidak! Tolong lepaskan kami!"


"Mama!"


"Tuan! Setidaknya putri dan istriku, biarkan mereka pergi!"


Orang-orang itu menjadi berisik, tetapi Viscount Lucia dan enam prajurit yang membawakan persembahan berusaha mengabaikan semuanya. Mereka menutup mata dan kedua telinganya dengan jari, tidak mau menanggapi suara-suara itu.


Oh, kenapa harus aku yang mengalami kepahitan ini? Viscount Lucia meratap di dalam hatinya.


Setelah menjadi pemimpin kota ini, dia mendapati kenyataan bahwa ada sekelompok monster di ruang bawah tanahnya. Mereka adalah pelaku utama yang membantai seluruh keluarga tuan tanah sebelumnya. Sebagai jaminan atas keamanan keluarganya, mereka meminta persembahan setiap malam yang terpaksa selalu dipenuhi olehnya sampai sekarang.


Di hadapan para monster seperti itu, Viscount Lucia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika dirinya meminta bantuan pada bangsawan tinggi, mereka tidak merespon dan hanya membiarkannya begitu saja. Pihak kuil juga seakan menutup mata dengan masalah yang menimpanya dan beralasan bahwa mereka hanya akan ikut campur ketika iblis mulai menghancurkan kota. Sangat ironis mengetahui fakta bahwa kuil terkesan membiarkannya.


Pada saat dirinya memutuskan untuk kabur, Aragorn mengetahuinya dan menangkap kembali semuanya. Kemudian, salah satu putrinya menjadi bahan persembahan sebagai hukuman. Melalui kedua mata kepalanya sendiri, Viscount Lucia melihat bagaimana putrinya yang baru berusia 8 tahun dikuliti hidup-hidup. Isak tangis dan jeritan memilukannya berlangsung selama lebih dari dua jam sebelum putrinya dikoyak dan menjadi makan malam mereka.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti perkataan Aragorn. Kalau tidak, keluarganya akan menjadi pengganti para persembahan yang ada di sini. Berpegang pada keyakinan tersebut, Viscount Lucia hanya termenung menatap orang-orang yang mulai dikoyak tepat di hadapannya.


Cakar-cakar dan gigi mereka merobek orang-orang yang menjerit histeris, mengharapkan pertolongan darinya. Namun, dirinya sama sekali tidak bisa berbuat banyak. Tak ada pilihan lain baginya, semua anggota keluarganya menjadi taruhan.


"Oh, anak rubah? Apakah dia demihuman?"


Viscount Lucia menanggapi suara salah satu monster dan memandang ke arah sumber suara tersebut. Di sana, dia melihat seorang gadis kecil yang terduduk dengan wajah kosong. Tidak ada yang salah dengannya, hanya saja kedua telinganya menyerupai telinga seekor anjing. Dari balik pakaian lusuhnya, mencuat ekor rubah berwarna cokelat yang terkulai ke tanah.


Berbeda dengan anak-anak lainnya, gadis itu sama sekali tak menunjukan emosi. Dia hanya menatap kosong kepada sosok monster raksasa di hadapannya. Mungkin dirinya sudah kehilangan keinginan untuk hidup.


"Tidak merespon? Begitukah? Mainan yang rusak. Aku malas dengan mainan rusak."


Monster itu mengangkat tangannya begitu tinggi, siap untuk merobek tubunnya. Akan tetapi, tepat sebelum cakarnya mengiris tubuh kecil itu, suara gemuruh terdengar dari lorong ruangan. Di sana, seekor monster merayap ke dalam dengan tergesa-gesa. Tubuhnya penuh dengan luka terbuka, mengeluarkan cairan hitam yang berbau sangat busuk.


"Altair! Apa yang terjadi padamu? Di mana anak buahmu?"


Monster itu --Altair-- segera mendekati Aragorn dengan kecepatan yang mengerikan. Kakinya bahkan menginjak beberapa orang sekarat yang menghalangi jalannya, seakan tidak menganggap mereka ada.


"Tuanku Lord Aragorn, saya mohon maaf. Perintah yang Anda berikan telah gagal."


Mendengar ucapannya, Aragorn bangkit dari kursinya.


"Apa maksudmu gagal? Kau tidak mampu membunuh seorang anak manusia dan masih memiliki muka untuk menghadapku?!" Aragorn terlihat kesal.


Baru empat bulan dia termanifestasi ke dunia fana dan melakukan kontrak dengan kelompok yang memanggilnya. Sebagai ganti dari persembahan yang, akan diterimanya setiap hari, mereka meminta Aragorn untuk menghabisi seorang anak manusia bernama Estelle.


Dia mengirim Altair --iblis peringkat tiga-- untuk memimpin pasukan yang akan membunuh anak manusia itu. Namun, bukannya pulang bersama mayat anak manusia tersebut, Altair malah babak belur dan tampak menyedihkan.


"Mohon maafkan saya! Seseorang yang menjaganya sangat kuat, saya bahkan tidak sanggup untuk menyentuh puncak dari kekuatannya! Pada akhirnya dia hanya bermain-main dengan saya!"


"Sialan!" Pancaran mana milik Aragorn bocor ke udara, menyebabkan seluruh manusia yang berada di sana jatuh dalam kengerian. Beberapa prajurit dan persembahan yang masih hidup bahkan sampai tergeletak dan hilang kesadaran. "Siapa manusia yang berani menyentuh bawahanku sampai rusak seperti ini?!"


Dia melangkah, menginjak-injak salah satu persembahan yang tengah sekarat di hadapannya beberapa kali. Kemudian, dengan amarah yang memuncak, Aragorn kembali berbicara.


"Katakan padaku, siapa yang berani melakukan ini padamu?!"


Altair yang tersentak kaget segera menjawab dengan gugup. Dia jelas ketakutan.


"Sa-saya tidak sempat menanyakan namanya! Namun, ada sebuah pesan yang dutujukan untuk Anda."


"Pesan? Apa itu?"


Altair hanya terdiam untuk sementara waktu. Dia ketakutan untuk menyampaikan pesan berisi provokasi tersebut. Namun, setelah mempertimbangkan kemungkinan buruk yang akan menimpanya jika dia tidak mengatakannya, Altair memilih untuk menyampaikan pesan tersebut.


"Jika Anda berani mengirim siapa pun untuk berurusan dengannya lagi, dia akan meluangkan waktu lagi dengan Anda di dalam laci-nya."


"Apa maksudnya?" Aragorn terdiam untuk beberapa saat. Namun, sekelabat ingatan buruk tiba-tiba menghampirinya.


"Laci? Tidak ... mustahil!"


Tubuhnya yang besar kini mulai gemetar, seakan takut dengan sesuatu. Amarahnya telah berganti dengan bau ketakutan yang pekat.


"Jika beliau melindungi targetku, maka secara tidak langsung aku adalah musuhnya. Ini benar-benar mimpi buruk!"


"Tuanku?"


Melihat Aragorn yang mulai bertingkah aneh, semuanya berhenti dengan kegiatan mereka seraya memandang ke arahnya. Jarang sekali bagi mereka menemukan kesempatan dimana Aragorn ketakutan. Jadi, tidak satu pun di antara para monster yang berani mengabaikan kekhawatirannya.


"Dengarkan aku!"


Aragorn melangkah menuju Viscount Lucia dan meraih kepala pria tua itu. Kemudian, dengan satu gigitan, dia membelah tubuh lelaki malang tersebut dan mengunyahnya.


Potongan organ dan darah mengalir dari mulutnya, menetes membasahi tanah. Setelah menelannya, dia memasukan sisa tubuh Viscount Lucia ke dalam mulutnya sebelum kemudian menelannya lagi.


"Kita akan membatalkan kontrak dengan manusia dan membangun domain di suatu tempat!" Aragorn kembali melangkah, kali ini menuju lorong keluar. "Mulai saat ini aku tidak memperbolehkan kalian untuk membunuh manusia sampai aku tahu keadaannya."


"A-apa?!"


"Tapi kenapa?"


"Kenapa Anda tiba-tiba berubah?"


Aragorn yang tidak senang dengan kalimat protes dari para anak buahnya meraih kepala salah satu monster dan membantingnya ke tanah. Lalu, dia menendang kepalanya hingga berdarah.


Hal ini membuat monster lain berhenti mengeluh, memandang Aragorn dengan penuh ketakutan.


"Ikuti perintahku, jangan banyak bicara! Kita akan pergi sekarang juga!"


Bersamaan dengan kata-katanya, Aragorn melesat melewati lorong menuju pintu keluar. Ketika dia mencapai halaman depan mansion milik tuan tanah, Aragorn mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit. Dia pergi menuju barisan pegunungan di wilayah Utara untuk membangun domain sementara.


"Laci, pastinya merujuk pada orbis terkuat, World of Demoniac Weapons."


Aragorn memiliki kenangan buruk ketika dirinya membuat suatu kesalahan pada saat masih berada di Tartarus. Tuannya, Gatekeeper Fiora, membawanya ke dalam orbis yang disebut oleh tuannya sendiri sebagai Laci Fiora.


Menurut Aragorn, nama itu terdengar sangat aneh. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran tuannya. Padahal nama resmi yang dikenal oleh seluruh iblis --World of Demoniac Weapons-- sudah sangat bagus. Namun, pemiliknya secara pribadi menyebutnya sebagai laci. Sungguh ironis.


Saat dia menginjakan kakinya di dalam orbis milik tuannya, dia akhirnya menyadari bahwa dibawa masuk ke dalamnya tidak jauh berbeda dengan dimasukan ke dalam neraka. Gelar sebagai orbis terkuat bukanlah gelar kosong biasa.


Aragorn bahkan tidak mau mengingat kenangan kelam itu lagi.


"Tidak masalah jika aku salah orang." Aragorn melewati perbatasan kota dengan kecepatan terbangnya yang luar biasa. "Namun, kalau peringatan itu benar datang darinya dan aku mengabaikannya, habislah aku."


Beberapa puluh meter di belakangnya, para bawahannya melesat mengikutinya. Mereka yang sudah dan belum memiliki sayap berpegangan pada para monster yang memiliki sayap, menggantung di udara dengan tangan saling berpegangan.


"Aku tidak boleh ceroboh. Setidaknya aku harus menahan para anak buahku melakukan pembantaian sampai aku tahu siapa saja orang yang dilindungi olehnya. Aku tidak mau kelompokku secara tak sengaja membunuh orang yang dilindungi olehnya."


Bersamaan dengan kata-katanya, dia terus melesat, menghilang di balik awan mendung yang gelap.


-------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 30 Mei 2020 pukul 12:00 PM


Note : -