
Wilayah khusus raja di ibukota sebenarnya memiliki beberapa kastil tersendiri selain kastil utama. Tempatnya memang lebih kecil, tetapi masih dapat membuat rakyat biasa menganga takjub ketika mereka memasukinya.
Kastil terkecil dihadiahkan oleh raja pada putri bungsunya yang sebentar lagi menginjak usia tiga belas tahun atas prestasinya di akademi. Beliau bahkan memberikan dua peleton ksatria kerajaan padanya dan 25 pelayan --termasuk tukang kebun, beberapa koki, butler, dan agen ganda-- untuk menjaganya.
Walaupun terbilang banyak, ksatria yang berjumlah 63 orang dan dibagi ke dalam dua peleton merupakan pecahan pasukan dari divisi tiga belas. Mereka berada di posisi menengah ke bawah di antara pasukan elit kerajaan, hanya sedikit lebih baik dari prajurit kerajaan biasa.
Kapten di tempat ini adalah seorang viscount yang tidak diberi tanggung jawab untuk memegang wilayah tertentu. Namun, memiliki kedudukan dalam pemerintahan ibukota dan punya mansion sendiri. Dia juga menjadi pusat komando tertinggi dari Kastil Mutiara milik Tuan Putri dan bertanggung jawab penuh untuk melindunginya. Oleh karena itu, ketika Sang Putri meninggalkan kerajaan untuk melakukan turnamen persahabatan dengan Kerajaan Cygnus, dia berkewajiban untuk berada di sisinya.
Ketidak hadiran Sang Kapten membuat wakil kapten saat ini mengambil alih posisi tertinggi di kastil tersebut. Namanya adalah Cassius, salah satu dari sedikit orang tanpa status kebangsawanan yang sanggup meraih gelar knight. Usianya sekarang baru menginjak 24 tahun, tetapi berkat pelatihan dan bakat yang dia miliki, Raja merasa tertarik dan menawarkannya untuk masuk ke dalam kemiliteran.
Hari ini jadwal yang dimilikinya cukup padat. Setelah menyelesaikan berbagai administrasi tentang kepengurusan kastil dan mengecek jadwal para ksatria, pemanggilan mendadak untuk menghadiri kastil utama tidak membiarkannya istirahat sedikit pun. Karena ini adalah perintah langsung dari Kepala Divisi, dia sama sekali tidak dapat mengabaikannya begitu saja. Oleh karenanya, lelaki berambut hitam itu segera mengganti perlengkapan pelatihan miliknya dan bergegas pergi menuju kastil utama.
Halaman kerajaan bukanlah tempat yang sempit, tetapi tidak cukup jauh sampai harus berkuda. Jika ditempuh dengan jalan kaki, mungkin hanya akan menghabiskan waktu kurang dari 10 menit untuk sampai ke gerbang utama. Hanya saja, orang-orang di sana cukup kasar sehingga Cassius tidak terlalu betah untuk datang ke sana.
Lorong-lorong terbuka yang dilewatinya berlantaikan marmer yang mahal. Tiang yang menyangga lorong itu juga didesain dengan sangat indah dan memiliki corak-corak tertentu yang terbuat dari emas. Tidak cukup sampai di sana, taman kerajaan dan air mancur yang ditenagai oleh item sihir semakin mempercantik pemandangannya.
Dia ingat ketika pertama kali datang ke sini, tidak terhitung berapa kali dia mengagumi semuanya. Takdirnya sebagai putra petani membuat Cassius tidak pernah berpikir untuk bisa diizinkan masuk ke dalam istana. Kehidupannya sekarang benar-benar sedang berada di puncak kejayaan.
"Hey, anak petani! Cepat sedikit!"
Seseorang tiba-tiba memanggilnya dari jauh sehingga memecahkan lamunannya. Cassius yang sadar bahwa suara perintah itu ditujukan padanya segera berlari kecil seraya menjawab dengan agak gugup. Rupanya dia sudah sampai di tempat pertemuan.
"Baik, saya segera ke sana!"
Di hadapannya berdiri sekumpulan ksatria dengan peralatan lengkap. Masing-masing dari mereka menyarungkan pedang sihir dan perisai kerajaan di tangan kirinya. Dilihat dari bagaimana cara mereka berdiri, terlihat jelas bahwa para ksatria itu bukanlah orang biasa.
"Ini sebabnya aku tidak mau ada ksatria dari kalangan sampah. Bisa-bisanya datang lebih lambat dari kapten divisinya sendiri."
Seseorang yang berbicara padanya adalah Kapten Divisi Tiga Belas, Putra Pertama Earl Mason. Dia terkenal kasar dan sangat disiplin terhadap para bawahannya. Walaupun begitu, kekuatan yang dimiliki olehnya menjadi simbol kebanggaan dari para ksatria di bawah kepemimpinannya.
Berbeda dengan orang itu, walau memiliki bakat dan kemampuan yang hebat, Cassius tidak dilatih secara khusus oleh seorang guru, maka dari itu pertumbuhannya agak lambat. Dia masih belum cukup kuat untuk mencapai dunia para kapten divisi.
"Hey, jangan terlalu kasar." Salah satu ksatria berbicara dengan nada yang santai. "Lagipula, kenapa harus ada rakyat jelata di tempat ini? Bukankah kehadirannya memalukan wajah kerajaan di hadapan Pendeta Agung?"
Mereka sedang berkumpul di dekat gerbang utama kastil, diperintahkan untuk menyambut dan melindungi seorang tamu penting yang tiba-tiba datang tanpa mengabari dari jauh-jauh hari. Oleh karena itu, bahkan seseorang yang berpangkat paling tinggi di antara mereka sekalipun tidak begitu tahu dengan detail perintah ini. Mereka hanya mendapatkan sebagian kecil informasi mengenai siapa sosok tamu yang akan datang berkunjung.
Beberapa waktu lalu sebenarnya salah satu utusan dari ordo mengunjungi kerajaan dan melakukan pertemuan. Namun, mengingat statusnya yang hanya sebagai seorang utusan, Raja tidak repot-repot menyiapkan pasukan sebanyak ini. Jadi, Cassius tidak diperintahkan untuk datang sebelumnya.
Berbeda dengan utusan yang datang beberapa waktu lalu, tamu kali ini adalah seseorang yang dikenal luas dan dijuluki sebagai pahlawan. Dia berada di posisi paling puncak seorang warrior. Maka dari itu, sikap Raja terhadapnya menjadi sangat hormat dan segan.
"Aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan Kepala Divisi. Apa otaknya sudah tidak waras karena keluarganya dibantai habis?" Jawaban dari mulut Kapten Divisi Tiga Belas cukup kasar.
Orang-orang yang berkumpul di tempat ini adalah para kapten divisi yang sengaja datang ke ibukota untuk menyelidiki permasalahan di wilayah barat kerajaan. Beberapa datang jauh-jauh dari wilayahnya karena panggilan langsung dari Sang Raja. Mengetahui hal ini, dia yang hanya wakil kapten dari pecahan divisi tiga belas tidak bisa berkomentar banyak. Cassius terdiam menyimak pembicaraan di antara mereka.
"Kasar sekali. Untuk sementara percayakan saja padanya. Toh usianya juga sudah tua, si marquis itu pasti akan pensiun tidak lama lagi."
Mereka tertawa seakan puas dengan pembicaraan ini. Cassius yang hanya bisa menyimak, tidak berani untuk berkomentar.
Setelah percakapan singkat itu, para ksatria mulai menempati posisinya masing-masing. Mereka berdiri berhadapan di samping kanan dan kiri jalan utama.
Alasan kenapa Cassius juga diundang kemari adalah karena dia mewakili Kastil Mutiara. Mereka yang bertanggung jawab atas setiap kastil diundang kemari bersamaan dengan seluruh kapten divisi. Karena pusat komando tertinggi Kastil Mutiara sedang tidak ada, Cassius mau tidak mau harus hadir menggantikannya.
Tidak lama setelah mereka mengatur barisan menjadi dua dan berhadapan satu sama lain, dari arah pintu gerbang utama, seorang bangsawan melangkah bersama dengan sosok ksatria yang sudah tidak asing lagi. Senjata, perisai, dan armor yang digunakan oleh ksatria berambut putih tersebut bercorak emas. Beberapa pola salib juga terukir di pakaian tempurnya sebagai tanda bahwa dirinya adalah bagian dari kuil.
Saat kedua orang itu berjalan melewati mereka, semua ksatria serentak mengepalkan tangan kanan dan menaruhnya di dada sebagai tanda penghormatan. Mereka juga mulai mengikuti kedua orang itu dari belakang dalam suasana diam dan barisan yang rapi.
"Aku tahu kalian menyambutku dengan baik, tetapi jujur ini terasa agak memalukan."
Jauh di belakang, Cassius dapat mendengar ksatria dengan armor putih bercorak emas itu berbicara. Suaranya terdengar santai, tetapi juga penuh dengan kesan yang kuat. Tekanan dari orang yang dianggap sebagai pahlawan sungguh terasa berbeda.
Kepala Divisi memang memerintahkan untuk menjaga Pendeta Agung dan menuntunnya hingga ruang pertemuan. Namun, Cassius merasa bahwa misi penjagaan hanyalah formalitas saja. Bukan karena seseorang yang dijaga olehnya jauh lebih kuat, hanya saja wilayah ini terjamin sangat aman. Kecuali sihir kuat yang dirapalkan dari jarak jauh, tidak mungkin penyusup dapat masuk ke wilayah istana dengan mudah.
"Maaf jika ini membuat Anda tidak nyaman. Perlindungan Anda adalah nomor satu. Walaupun saya tahu Anda tidak membutuhkan perlindungan dari orang-orang lemah seperti kami." Bangsawan berambut hitam yang berjalan di sampingnya berbicara dengan sopan.
Cassius mengenali orang itu dengan sangat baik. Dia adalah kepala divisi saat ini, salah satu bangsawan tingkat atas yang dipercaya untuk memegang komando penuh atas semua divisi ksatria. Walaupun Cassius tidak pernah melihatnya mengayunkan pedang, tetapi orang-orang mengategorikannya sebagai salah satu ksatria terkuat di kerajaan yang memiliki kekuatan layaknya monster.
Posisi yang dipegangnya sekarang hampir setara dengan posisi seorang duke. Tentu saja, pencapaiannya tidak didapatkan begitu saja. Cassius sering mendengar kisah-kisah heroiknya saat memimpin kelompok untuk mengalahkan seekor naga dewasa, membunuh monster tingkat atas, dan menghancurkan sebagian besar tentara Kerajaan Cygnus ketika mereka berperang di masa lalu. Orang-orang mengatakan bahwa dia setingkat dengan organisasi enam pendeta.
"Yah, mendengar ucapan itu keluar dari mulutmu, aku jadi sedikit merasa bermasalah. Omong-omong, apakah Car--"
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tekanan kuat dari sebuah mantra sihir membuat dia berhenti. Mereka yang berpikir bahwa serangan tidak mungkin untuk dilancarkan ke area ini menjadi kehilangan ketenangan untuk beberapa saat. Namun, Cassius dan para kapten divisi yang menyadari keanehan ini segera tersadar dari kepanikannya seraya menarik pedang sihir mereka dan langsung mengambil sikap waspada.
"Biarkan kami yang mengurusnya, Tuan Pendeta. Semuanya, posisi bertahan!"
Kapten Divisi Pertama memberikan perintah diikuti oleh jawaban serempak dari semua ksatria. Mereka mengangkat pedang dan perisainya, mengelilingi kedua orang itu dari berbagai arah. Cassius juga turut mengambil bagian dan bertanggung jawab untuk melindungi bagian belakang bersama dua ksatria di sampingnya.
"Hey tenanglah. Aku familier dengan sihir ini. Lagipula tidak ada lagi seseorang yang dapat menggunakan sihir perpindahan selain orang itu."
Sesaat setelah ucapan Sang Pendeta, sosok yang terbalut jubah hitam tiba-tiba muncul entah dari mana dan jatuh menghantam lantai batu di hadapan mereka. Dia ambruk dengan posisi telungkup dan bahu kiri yang tertancap anak panah.
Melihatnya tiba-tiba muncul tentu saja membuat Cassius dan semua orang terkejut. Namun, mereka berhasil menguasai diri dan langsung berkumpul di hadapan sosok itu seraya mengangkat pedang dan perisai masing-masing.
"Wah, ini pertama kalinya aku melihat orang-orang dengan reflek yang sigap. Marquis Canaria, kau memiliki bawahan yang sangat terampil, ya?"
"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Pendeta. Sebagai kepala divisi, saya sangat bangga mendengarnya. Sayangnya mereka masih belum cukup terampil untuk mengenali musuh." Dia mengalihkan pandangan pada para ksatria sebelum mengambil alih komando. "Semuanya, sarungkan senjata kalian dan mundur."
Menanggapi ucapannya, Cassius menyarungkan pedangnya dan melangkah mundur untuk memberikan jalan pada Pendeta Agung yang mulai melangkah mendekati sosok itu. Dia melihat bagaimana Sang Pendeta mengangkat pedang suci miliknya lalu menancapkannya tepat di depan wajah sosok yang beberapa saat lalu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Hanya sehari kita tak bertemu dan sekarang kau muncul dengan babak belur. Mengejutkan sekali."
Sang Pendeta berbicara dengan nada yang santai. Dia berjongkok di hadapan sosok itu dan menggunakan pedang besarnya sebagai tumpuan.
"Diam dan lihat ingatanku. Situasinya benar-benar kacau dan waktuku sangat sedikit."
Menilai dari suaranya, dia pastilah seorang wanita. Jubah hitamnya juga menunjukan bahwa dia adalah orang dari kuil. Namun, untuk seseorang yang muncul tiba-tiba entah dari mana, orang itu benar-benar berani.
"Bukankah kau memiliki beberapa kata untuk disampaikan sebelumnya?"
Mendengar ucapan datar dari Sang Pendeta, wanita itu menghela napas sesaat sebelum menjawab.
"Tolong sembuhkan aku."
Pendeta Agung menampakan senyuman sebelum berbicara kembali.
"Bagus. Itulah hal yang harusnya kau ucapkan pertama kali."
Pendeta Agung melepaskan sarung tangan logam di tangan kirinya lalu membuka tudung yang menutupi kepala gadis pendeta di hadapannya. Dia memegang bagian kepala gadis pendeta itu dengan tangan kirinya yang kini tidak dilapisi apa pun. Kemudian, Cassius mendengar beberapa kalimat yang kemungkinan besar adalah sebuah mantra.
"Wahai engkau yang melahap masa lalu atas perintah dari Sang Pencipta, aku, Sang Penyembah yang setia kepada Hestia Sang Dewi Cahaya, memohon padamu untuk mengabulkan permintaan kecilku. Reverse!"
Kedua mata Cassius dapat melihat bagaimana sebuah anak panah yang tadinya menancap di bahu kiri gadis pendeta itu mulai lenyap begitu saja. Bukan hanya itu, jubah pendeta dan darah yang membasahinya juga berangsur menghilang tanpa bekas.
Selama hidupnya, Cassius tidak pernah melihat mantra seperti itu. Walaupun ada beberapa mantra penyembuh yang dia tahu, melenyapkan anak panah sekaligus menghilangkan bekasnya sampai tidak meninggalkan jejak di pakaian adalah hal yang mustahil. Mantra yang digunakan Sang Pendeta Agung layaknya memutar balikan waktu itu sendiri.
Seakan masih belum selesai dengan ritualnya, Sang Pendeta mengucapkan mantra sekali lagi.
"Cahaya, udara, dan suara yang berkumpul, bentuklah kejadian masa lalu dari makhluk di hadapanku. Aku, pendeta yang mewakili dunia atas nama Dewi Hestia, memerintahkan kalian untuk memperlihatkan ingatannya padaku."
Setelah ucapannya berakhir, cahaya putih tiba-tiba menyilaukan mata Cassius untuk beberapa saat. Kemudian, perlahan meredup seiring berjalannya waktu.
"Bagaimana keadaanmu?" Begitu ritualnya selesai, Pendeta Agung bertanya seraya kembali memakai sarung tangan logam miliknya.
Gadis itu mulai berdiri sebelum menjawab pertanyaannya.
"Sangat baik."
Kini Cassius dapat melihat wujud dari gadis pendeta yang sejak tadi hanya berbaring telungkup. Usianya mungkin masih cukup muda dengan rambut berwarna cokelat yang terurai lurus. Wajahnya bisa dibilang sangat cantik untuk ukuran seorang pendeta sementara kedua bola matanya memiliki warna cokelat yang sama pula. Namun, dilihat dari emosinya, tampaknya dia sedang tidak senang akan sesuatu.
"Aku akan menyerahkan pelaporannya padamu."
"Hey, kau tahu, 'kan? Aku juga punya pekerjaan di sini. Demigod sampai mengirimku kemari menggunakan Griffin karena ada pembaruan berita yang mendadak."
Griffin adalah kendaraan terbang terbaik dan tercepat. Mereka adalah sub-spesies dari kuda yang memiliki sayap, kaki, dan kepala layaknya burung. Cassius pernah melihatnya beberapa kali saat bangsawan tinggi menungganginya untuk ke istana. Harganya teramat mahal dan hanya orang yang terlatih saja yang dapat mengendarainya dengan baik. Maka dari itu, sangat sedikit orang yang memilikinya.
"Mendadak?"
"Aku masih tidak begitu yakin. Tapi tempat yang kau selidiki memancarkan sihir yang sangat pekat untuk sesaat. Demigod membawa peringatan untuk jangan melakukan tindakan apa pun dalam beberapa waktu ke depan."
"Bukankah laporannya sama saja? Sekalian laporkan hasil penyelidikanku juga."
Di tengah pembicaraan antara kedua pendeta, semua ksatria hanya terdiam tanpa berani untuk ikut ke dalamnya. Namun, saat pembicaraan mengarah ke sesuatu yang penting, seseorang memotong percakapan di antara mereka.
"Maaf mengganggu Anda berdua. Namun, informasi ini tampaknya memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi."
Cassius juga setuju dengan kata-kata yang keluar dari mulut Kepala Divisi. Mereka masih berada di ruang publik dan sangat banyak sekali orang yang seharusnya tidak memiliki hak akses ke informasi tersebut termasuk Cassius itu sendiri. Akan menjadi bijak jika mereka tidak membahasnya di tempat seperti ini.
Pendeta Agung hanya menghela napasnya sebagai jawaban dari ucapan Kepala Divisi. Dia tidak mau repot-repot menjawab usulannya.
"Pokoknya penyelidikanmu bukanlah bagian dari pekerjaanku. Merepotkan jika aku harus melakukannya juga."
"Berhenti mengeluh. Aku sudah kehabisan cukup banyak waktu dan terlambat untuk pergi ke Kekaisaran Dwarf. Empress Glastila orangnya agak kasar, kau tahu?"
Bersamaan dengan selesainya ucapan gadis tersebut, pemandangan di dekat gadis pendeta itu tiba-tiba retak dan memengaruhi tekanan angin di sekitarnya. Kemudian, sebuah celah dari retakan tersebut mulai tercipta dengan suara layaknya kaca yang pecah. Cassius yang sedikit heran mencoba untuk mengintip ke dalam retakannya, tetapi hanya kegelapan pekat yang dapat dia lihat.
"Kau harus membayarku dua koin emas untuk ini."
Ucapan dari Pendeta Agung mengakhiri pembicaraan mereka. Gadis pendeta itu tidak menjawabnya dan lekas berbalik untuk masuk ke dalam celah dari retakan yang baru saja muncul.
Diamnya gadis itu tampaknya bisa diartikan sebagai tanda persetujuan. Namun, biaya sebanyak dua koin emas hanya untuk penyampaian informasi tetap saja sedikit mengganggu Cassius. Uang sebanyak itu lebih dari cukup untuk biaya makan keluarganya selama sebulan lebih. Terlampau mahal jika digunakan hanya untuk membayar pekerjaan yang sama sekali tidak sulit. Namun, jika dilihat dari nilai informasi yang dia tanggung, dengan harga dua koin emas tampaknya cukup masuk akal.
Pada saat Cassius memikirkan hal ini lebih dalam, Pendeta Agung tiba-tiba berbicara kepada mereka.
"Apakah ada yang keberatan jika aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kita?"
Semuanya tentu tidak keberatan. Jadi, pada akhirnya mereka kembali melakukan tugas pengawalan dan pergi menuju kastil utama Kerajaan Ignis.