RE:Verse

RE:Verse
16.II Pembicaraan Pribadi



Viscount Evans kini duduk berhadapan dengan seorang gadis yang baru saja ditemuinya. Dia memperhatikan gadis itu dalam diam saat dirinya menyesap segelas teh yang telah disiapkan oleh pelayan guild. Mereka terdiam beberapa menit sebelum gadis di hadapannya mulai membuka pembicaraan.


"Jadi, kenapa Paman meminta untuk bertemu secara pribadi?"


Gadis berambut hitam itu memang menanyakan keperluannya tanpa basa-basi. Namun, Evans merasa tidak enak jika langsung membicarakan persoalan yang dimilikinya tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Jadi, dia membalas ucapannya dengan perkenalan diri.


"Nama saya adalah Viscount Eldrie van Evans, seorang imperial knight yang dipercaya sebagai Kapten Orde Mutiara dari negara tetangga, Kerajaan Ignis."


Mendengar Evans memperkenalkan dirinya, raut wajah gadis itu sedikit berubah. Dia kelihatan agak terkejut dengan apa yang baru saja didengar olehnya. Namun, perubahan minim tersebut tidak cukup bagi Evans untuk mengetahui apa sebenarnya yang mampu membuat gadis itu mengubah raut wajahnya untuk sesaat.


"Namaku Almaria, seorang petualang peringkat A. Kau bisa memanggilku Alma. Tolong bicaralah dengan normal. Walau bagaimanapun, aku tidak suka berbicara formal meski lawan bicaraku adalah seorang bangsawan."


Baginya, ini adalah kali pertama seseorang memintanya untuk melakukan hal itu. Dia merasa agak canggung jika harus berbicara tanpa menghormati lawan bicaranya. Lingkungan yang mengharuskannya untuk selalu menggunakan bahasa formal membuat Evans memandang bahwa berbicara dengan bahasa yang tidak formal adalah suatu penghinaan yang tidak bisa ditolerir. Namun, menolak permintaannya juga merupakan bentuk ketidak sopanan. Jadi, dia merasa bahwa dirinya harus melakukannya bagaimanapun caranya.


"Baiklah, akan kuusahakan. Jadi, bolehkah aku tahu berapa usiamu?"


Merespon pertanyaan Evans, gadis bernama Almaria di hadapannya mengerutkan dahi sebelum berbicara. Jelas sekali bahwa gadis itu merasa keheranan dengan pertanyaan yang mungkin dianggap aneh olehnya.


"Sekarang usiaku 14 tahun. Kenapa kau bertanya?"


Sebenarnya bertanya tentang usia seseorang cukup tidak sopan. Namun, tidak ada yang akan benar-benar marah hanya karena pertanyaan mengenai umur. Walaupun begitu, kecuali untuk mengkonfirmasi tentang batasan usia seperti izin untuk meminum alkohol dan pernikahan, menanyakan usia seseorang sebenarnya dinilai tidak biasa oleh kebanyakan orang. Mungkin karena itulah gadis di hadapannya mengerutkan dahi saat Evans bertanya tentang masalah tersebut.


"Aku hanya penasaran bagaimana bisa gadis semuda dirimu mencapai peringkat A. Setahuku setidaknya butuh lebih dari 15 tahun bagi seorang petualang berbakat untuk mencapainya."


Peringkat A merupakan tingkat tertinggi yang dapat dicapai melalui pengerjaan quest. Untuk menembus peringkat yang lebih tinggi lagi, setidaknya dibutuhkan rekomendasi langsung dari seorang guild master dan harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Jadi, tidak heran jika dirinya merasa penasaran dengan gadis muda yang bahkan sudah dapat mengajukan diri untuk mengikuti turnamen kenaikan peringkat.


"Ah ... begitu. Sebenarnya aku baru mendaftar sekitar dua bulan lalu dan langsung dipromosikan bahkan sejak awal pendaftaran." Gadis itu kembali menyesap tehnya.


Evans agak tertegun saat dia menjelaskan bagaimana dirinya bisa mencapai peringkat luar biasa itu. Tentunya agak tidak masuk akal bagi sebuah cabang guild untuk berani mempromosikan seseorang ke tingkat tertinggi begitu saja. Setidaknya pihak cabang guild yang bersangkutan harus bertanggung jawab jika sebuah masalah terjadi akibat rekomendasi yang mereka buat. Jadi, peluang guild mengambil langkah berbahaya seperti ini bisa dibilang setingkat dengan keajaiban.


Evans menanyakan rincian masalah tersebut kepada Alma. Dia ingin mengetahui alasan yang mendasari pihak guild mengambil langkah seperti itu. Tergantung jawaban yang diterima olehnya, Evans akan memutuskan apakah menjadi hal yang baik untuk meminta bantuannya atau sebaliknya.


"Kau mengalahkan iblis legendaris sekelas Hellhound?!"


Pertanyaan seperti itulah yang kemudian keluar dari mulut Evans tepat setelah mendengar alasan di balik peringkatnya. Lelaki itu tidak bisa langsung memercayai apa yang didengarnya begitu saja. Namun, mengetahui fakta bahwa peringkatnya bukanlah omong kosong belaka membuat dirinya secara tidak sadar menerima kisah tidak masuk akal tersebut.


"Tidak, aku hanya menahannya. Orang yang membunuhnya adalah Pahlawan dari Enam Pendeta, Robbert."


"Be-begitu, ya?" Evans menghela napasnya sekadar untuk menenangkan diri.


Walaupun gadis itu bukan seseorang yang membunuhnya, tetapi berhasil menahan amukan Hellhound adalah sesuatu yang tidak dapat dianggap remeh. Bahkan di antara imperial knight, seseorang yang terbukti mampu melakukannya bisa dihitung dengan jari. Terlebih lagi, jika gadis itu pernah bertarung dengan iblis, maka pengetahuannya tentang iblis pastilah lebih baik daripada petualang lainnya. Evans merasa bahwa pertemuan mereka memanglah sebuah takdir.


"Kalau begitu, apakah kau bisa menerima permintaan khususku selama beberapa hari ke depan?" Evans mencoba bertanya untuk memastikan ketertarikan gadis itu terhadap permintaannya.


Berdasarkan penilaian yang dia lakukan terhadap gadis di hadapannya, dirinya merasa bahwa tidak akan ada orang lain yang jauh lebih cocok untuk permintaan ini selain Almaria. Jadi, Evans menanyakannya secara langsung dan bermaksud untuk membuat permintaan khusus kepada pihak guild hanya untuk menyewanya. Namun, jawaban yang dia dapat menghancurkan harapan tersebut.


"Aku memang memiliki waktu luang, tetapi aku tidak tahu kapan kepergianku. Jika kau ingin nenyewaku untuk jangka waktu tertentu, aku tidak bisa menerimanya."


Jawaban yang diberikan olehnya terbilang cepat. Gadis itu menjawab tanpa repot-repot memikirkannya terlebih dahulu, membuat Evans sadar akan betapa tidak tertariknya Alma dengan permintaan khusus yang bahkan belum dia sebutkan.


"Setidaknya bisakah kau mendengarkan isi permintaannya terlebih dahulu dan memutuskannya setelah itu?" Evans buru-buru mengajukan saran saat menyadari penolakan Alma.


Lelaki itu berharap bahwa setelah Alma mendengarkan isi permintaannya, dia akan berubah pikiran. Lagipula gadis itu tidak perlu pergi dari ibukota selama pengerjaan quest berlangsung. Jadi, jika dilihat dari segi keuntungan, akan ada banyak sekali hal yang menguntungkannya.


"Jawabanku tidak akan berubah. Masalahnya bukanlah tentang isi dari permintaan maupun pembayarannya, melainkan durasi waktu permintaan tersebut. Entah besok atau lusa, aku bisa saja harus segera kembali ke Trowell."


Setelah mendengar jawaban yang tidak pernah dia harapkan, Evans menurunkan pundaknya karena kecewa. Dia juga sempat menghela napas sebelum kembali meminum teh di hadapannya.


"Begitu, ya?" Lelaki itu sedikit menundukan kepala saat bergumam tentang sesuatu. "Walau bagaimanapun, petualang adalah organisasi netral. Sudah kuduga meminta seorang petualang untuk mencegah perang itu agak ..."


Evans mengangkat kepalanya, menatap langsung pada wajah Alma yang kini sedikit memiringkan kepala. Dia berusaha tersenyum ramah sebelum kembali berbicara dengan nada agak kecewa.


"Maaf karena sudah mengganggu waktu luangmu. Sekarang aku harus kembali sebelum nona yang kulayani marah besar." Dia sempat mengeluarkan tawa aneh sebelum berdiri dari kursinya.


Evans kini berbalik seraya berjalan mendekati pintu keluar. Pikirannya agak kosong seakan harapan satu-satunya yang sanggup dia pikirkan untuk keluar dari masalah ini sudah sirna. Dia ingin segera kembali dan memikirkan rencana lain yang lebih realistis. Namun, saat tangan kanannya meraih gagang pintu kayu di hadapannya, suara datar Almaria menghentikan langkahnya.


"Apa kau membicarakan tentang perang antara Ignis dengan Cygnus?"


Evans terdiam untuk beberapa saat. Kemudian, dia berbalik untuk kembali menatap Alma yang masih duduk di kursinya. Lelaki itu tidak menyangka bahwa apa yang dia gumamkan sebelumnya akan terdengar oleh gadis itu. Padahal, suaranya hampir tidak terdengar.


"Tidak usah dipikirkan. Kemungkinannya sangat kecil dan aku yakin para petualang tidak akan dirugikan sekalipun terjadi perang."


Seperti yang sudah diketahui oleh orang-orang, guild adalah organisasi yang sama sekali tidak terikat dengan pihak kerajaan mana pun. Jadi, sekalipun sebuah kerajaan runtuh oleh invasi maupun pemberontakan, guild tak akan pernah ikut campur dan pihak lain juga tidak akan mau repot-repot menentang organisasi ini. Berdasarkan hal di atas, bisa disimpulkan bahwa GuildPetualang tidak akan terlalu mendapatkan dampak negatif dari runtuhnya suatu kerajaan. Para petualang bisa saja pergi ke kota atau bahkan kerajaan lain dengan mudah jika mereka mau.


"Kalau perang terjadi, apakah Marquis Canaria akan ikut turun ke garis depan?" Alma tiba-tiba bertanya dengan suara yang cukup dingin.


Evans sedikit terkejut dengan perubahan suasana dan pertanyaan yang tidak dia sangka sebelumnya. Menurutnya, cukup aneh bagi seorang petualang dari kerajaan tetangga mengetahui nama salah seorang bangsawan tinggi yang ada di kerajaannya. Namun, mengingat kembali tentang betapa diseganinya Marquis Canaria oleh kerajaan-kerajaan lain, seharusnya bukanlah hal yang mustahil jika namanya terdengar sampai ke telinga para petualang. Oleh karena itu, Evans menjawab pertanyaan tersebut tanpa menanyakan alasan di balik pengetahuan Alma mengenai Marquis Canaria dengan sedikit ragu.


"Te-tentu saja."


Setelah mendengar jawaban Evans yang ragu-ragu, gadis itu menghela napasnya seraya memejamkan mata untuk beberapa saat. Kemudian, dia berdiri dari tempat duduknya dan berbicara dengan nada dingin seperti biasanya.


"Baiklah, aku akan menerima permintaanmu."


Raut wajah datarnya sedikit mengalami perubahan. Dia menunjukan perasaan khawatir yang samar, tetapi sudah cukup bagi Evans untuk dapat menyadari emosi tersebut. Hal ini tentu saja membuatnya sedikit penasaran dengan alasan di balik kekhawatiran gadis itu. Namun, ucapan yang dia kemukakan sebagai bentuk penerimaan quest membuat Evans tidak terlalu peduli dengan perubahan emosi kecil tersebut.


"Duduklah kembali dan kita bicarakan persoalan ini secara rinci." Gadis itu kembali duduk di kursinya, menyesap tehnya, kemudian memandang langit-langit ruangan dalam diam untuk waktu yang singkat.


--------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 21 Desember 2019


Pukul 12:00 PM


Note : -