
"Mimpi yang sama lagi?"
Menguap dan sempat meregangkan tubuhnya, seorang gadis dengan rambut cokelat yang terurai tengah duduk di atas tempat tidurnya sendiri. Kamar pribadi yang disediakan untuknya dihiasi dengan ornamen-ornamen kaligrafi yang bersumber dari tulisan-tulisan suci para malaikat.
Dia terbangun dengan wajah yang lusuh seakan masih mengantuk, berjalan menuju jendela kaca dan membuka kain yang menutupinya. Sinar matahari pagi mulai membanjiri kamarnya, seakan memaksanya untuk bersemangat di pagi yang cerah ini.
"Pendeta Ordo Campbell, jadwal Anda untuk hari ini telah dipersiapkan."
Menanggapi suara dari balik pintu kayu, gadis itu berbalik menghadapnya sebelum mengeluarkan suara sebagai jawaban.
"Terima kasih banyak. Saya akan memeriksanya setelah bersiap-siap."
Tidak ada jawaban setelah kata-katanya selesai.
Walaupun sangat dihormati oleh pihak kuil, statusnya sebagai pendeta dari ordo di Kuil Ortodox sendiri tidak memiliki posisi yang bagus. Malahan, karena Carmen adalah makhluk dari ras yang dianggap rendahan, pendeta lain sering memandangnya sebelah mata. Untungnya, tidak ada yang berani secara terang-terangan memusuhinya karena pengaruh dari Demigod begitu kental di tempat suci ini.
Carmen memakai jubah kuilnya sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan. Setelah berjalan di lorong batu yang dipenuhi dengan kaligrafi suci, beberapa orang pendeta dengan tudung yang menutupi kepala membungkuk padanya seraya mengikutinya dari belakang. Carmen berusaha balas membungkuk dan melanjutkan langkahnya untuk memimpin jalan.
Walaupun dia bertingkah dengan begitu sopan terhadap para pendeta ordo lain yang masih magang di bawah asuhannya, mereka semua melemparkan pandangan jijik terhadapnya. Tidak ada seorang pun yang benar-benar menghormatinya. Semua orang hanya tunduk padanya sebagai formalitas karena Demigod menghendaki mereka untuk berada di bawah asuhan Carmen. Walaupun begitu, dia tampaknya tidak keberatan dengan semua pandangan merendahkan yang ditujukan padanya.
"Ah, kau membuatku menunggu. Lain kali cepatlah sedikit." Seorang pendeta wanita dengan rambut pirang indah memandang rendah dan langsung mengeluarkan kata-kata sinis.
Menanggapi kebencian yang ditujukan padanya, Carmen menunduk dengan hormat.
"Maafkan saya. Manusia membutuhkan waktu tidur yang sedikit lebih panjang." Dia menjawab dengan penuh kesopanan.
Menanggapi pernyataan maaf Carmen, wanita berambut pirang itu menghela napas dan memejamkan mata untuk beberapa saat.
"Mau bagaimana lagi." Dia berbalik seraya membuka pintu kayu ganda di hadapannya. "Semuanya, siapkan jadwal untuk Pendeta Campbell."
Para pendeta --yang tengah duduk menghadap sebuah meja dengan kertas-kertas, beberapa bulu, dan tinta hitam-- berbalik menghadap ke arah pintu. Seketika setelah melihat sosok Carmen yang memasuki ruangan kerja, wajah mereka menekuk seakan tidak senang. Kemudian, para pendeta magang di bawah asuhan gadis berambut cokelat itu mulai berjalan mendahului seraya meminta beberapa helai kertas dengan tulisan-tulisan tangan yang baru ditulis pagi ini.
"Hari ini kau akan menemui pemimpin dari Kerajaan Ignis untuk memenuhi permintaannya terhadap pengintaian. Lalu, informasi tentang Hellhound harus sampai ke telinga Empress Glastila dari Kekaisaran Dwarf hari ini juga. Mengerti?"
"Saya akan melakukan yang terbaik." Carmen menunduk hormat seraya mengambil kertas-kertas yang dibawakan oleh bawahannya.
"Baiklah, kau boleh pergi. Untuk pendeta magang, sementara kalian akan berada di bawah asuhan Robbert."
Mendengar kata-kata dari pendeta wanita tersebut, semua pendeta magang menunduk hormat seraya tersenyum penuh bahagia. Mereka yang sejak awal merasa tidak nyaman dengan Carmen mengeluarkan ucapan syukur tepat di dekatnya. Para pendeta magang itu seakan menganggap bahwa gadis berambut cokelat tersebut sedang tidak berada di sana. Namun, Carmen tidak peduli dan melilih menggunakan gate-nya untuk segera pergi dari suasana tidak menyenangkan itu.
Di depan gerbang Kota Trowell, Carmen beberapa kali bergumam jengkel seraya melewati pos-pos pemeriksaan yang masih tampak sepi. Beberapa prajurit melakukan pemeriksaan terhadapnya seperti biasa lalu mempersilakannya masuk setelah memastikan identitasnya.
Sebenarnya Carmen bisa saja langsung menggunakan gate ke dalam kota. Namun, dia tidak mau melakukannya karena alasan kesopanan yang sebenarnya sepele.
"Orang-orang itu ... sialan! Awas saja kalian nanti!" Dia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat sepanjang perjalanannya.
Di pagi hari yang cerah ini, walau memiliki dua buah misi penting yang diminta oleh pihak ordo, Carmen masih menyempatkan diri untuk datang ke Kota Trowell. Alasannya sederhana, dia merasa penasaran dengan sosok misterius yang berhasil menahan serangan Hellhound beberapa hari lalu hingga salah satu dari enam pendeta datang.
Tadi malam dia sempat mengobrol dengannya untuk beberapa saat. Namun, percakapan mereka tidak berjalan dengan begitu baik karena Sang Putri Iblis mengeluarkan aura yang tidak menyenangkan tepat ketika Carmen menyinggung tentang masalah pribadi. Walau bagaimanapun juga, dia hanyalah orang asing di mata gadis berambut hitam itu. Jadi, wajar jika dirinya menganggap Carmen sebagai orang yang mencurigakan dan mengganggu. Meskipun begitu, Carmen merasa khawatir dengan kondisi tubuh gadis bernama Almaria itu.
Menilai bahwa senjata-senjata yang digunakannya akan memiliki efek samping berbahaya, Carmen memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan kakak kandungnya. Jika keluarganya melarang, dia yakin bahwa Putri Iblis pasti akan menerimanya tanpa banyak mengeluh. Karena alasan inilah dia secara pribadi meluangkan waktu untuk ke kota ini.
Setelah urusannya selesai dan membantu mereka sedikit dengan gate miliknya, Carmen berpamitan dan langsung pergi ke Kerajaan Ignis untuk menjawab permintaan yang diterima oleh pihak Ordo.
Para ksatria tampaknya sudah menunggu kedatangannya dan langsung mengantarkan dia ke ruang strategi tanpa banyak bertanya. Mereka memperlakukannya dengan begitu sopan dan penuh hormat. Hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan rekan-rekan pendetanya di Kuil Ortodox.
"Mohon tunggu sebentar. Saya akan melaporkan kedatangan Anda kepada Raja."
Setelah membungkuk sesaat, Sang Knight yang terbalut armor full plate perak memasuki pintu ganda emas di hadapan mereka. Carmen menunggu cukup lama sebelum ksatria tersebut kembali menemuinya dari balik pintu dan mempersilakannya memasuki ruangan.
Bola mata cokelatnya memandang ruangan luas dengan sebuah meja lonjong emas yang disusun rapi bersama kursi-kursi yang mengelilinginya. Beberapa ksatria dengan lambang berbeda-beda yang diukir pada armor logam mereka memegang tombak perak indah menggunakan tangan kiri. Masing-masing mengikat sebuah bendera berlambang keluarga bangsawan tertentu di gagang tombak itu. Tidak lupa, mereka menggantungkan sebuah pedang satu tangan di pinggang kanan masing-masing.
Semua ksatria berdiri mematung membelakangi dinding, memperlihatkan sikap sempurna tepat di belakang kursi-kursi yang diisi oleh orang-orang berpakaian mewah. Semuanya menghadap ke arah kursi lonjong di tengah ruangan besar itu seraya mengalihkan pandangan ke arah Carmen yang baru saja masuk melalui satu-satunya pintu yang menghubungkan ruang strategi dengan bangunan istana.
"Selamat datang, Utusan Ordo. Silakan duduk di tempat yang telah kami sediakan."
Orang yang berbicara padanya adalah seorang pria tua dengan rambut dan janggut yang sudah memutih. Beliau adalah Raja Ignis XVIII yang sampai hari ini masih menjabat sebagai kepala kerajaan dan memegang otoritas tertinggi di Kerajaan Ignis. Beliau memang sudah melewati masa-masa jayanya, tetapi aura seorang raja masih dapat dirasakan dari balik tubuh senjanya.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia. Kalau begitu, saya akan mengambil tempat duduk." Carmen duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong.
Raja Ignis memiliki beberapa putri cantik dari ratu dan selir-selirnya. Sayangnya, beliau hanya memiliki dua orang pangeran yang masing-masing dianugerahi bakat luar biasa. Karena Sang Raja cukup haus akan kekuasaan, di usianya yang sudah tidak muda lagi dia masih belum menentukan siapa penerusnya. Hal ini tentu mengakibatkan perselisihan secara tidak langsung di antara kedua pangeran sehingga terjadi perpecahan kecil dalam keluarga kerajaan.
"Baiklah, karena waktu yang kita miliki hanya sedikit, kita akan langsung mulai dengan masalah utama." Sang Raja langsung membawakan topik utama setelah Carmen duduk di kursinya. "Ada keanehan di daerah kekuasaan Earl Garcia. Menurut Viscount Eurellia yang daerahnya mencakup wilayah dari Baron Cromwell, perdagangan di wilayah itu mengalami hambatan. Bisa Anda jelaskan pada kami hambatan seperti apa tepatnya yang terjadi di wilayah Anda, Earl Garcia?"
Sang Raja memandang ke arah seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah bangsawan mewah berwarna merah. Dia memiliki pandangan tajam dan memanjangkan janggut hitamnya yang terlihat rapi.
"Baik, Yang Mulia." Kedua tangannya bersandar di atas meja sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kota Agarten tiba-tiba menghentikan pengiriman hasil panen dan kerajinan mereka. Viscount Eurellia sudah mengirimkan beberapa utusan ke kediaman Baron Cromwell berulang kali. Hanya saja, mereka tidak pernah kembali."
"Apakah ini ada hubungannya dengan penyerangan terhadap keluarga Marquis Canaria di wilayah itu?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Sang Raja, seorang pria dengan rambut hitam dan bola mata cokelat yang memandang tajam mulai mengerutkan dahinya. Dia berdeham pelan seraya menunjukan raut wajah yang bercampur antara kemarahan dengan kesedihan.
"Yang Mulia, izinkan saya untuk memeriksanya secara pribadi." Pria itu berbicara dengan nada sopan yang dingin, seakan menyembunyikan nafsu membunuhnya yang begitu kental. "Saya harus memastikan siapa yang menyerang keluarga saya dengan mata kepala sendiri."
"Saya tidak berpikir bahwa kejadian bandit di Kota Mobra berhubungan langsung dengan hilangnya kontak kita terhadap Kediaman Keluarga Cromwell."
"Putri ketiga mereka telah menjadi pelayan pribadi putri saya dalam dua tahun terakhir. Tepat setelah kami meninggalkan kediaman, pelayan pribadi itu menghilang dari kediaman kami tanpa pemberitahuan bersama salah satu prajurit. Tidak adanya satu pun barang kami yang hilang di mansion membuat ini sangat mencurigakan." Kedua tangan pria tersebut mengepal kuat.
"Hentikan sampai di sini. Tuduhan dari Marquis Canaria dan pandangan pribadi milik Earl Garcia tidak memiliki cukup bukti." Sang Raja menghela napas setelah berhasil menurunkan suasana tegang di antara mereka. "Apakah ada yang ingin mengemukakan pendapat lain?"
Sampai sekarang, bangsawan tinggi lain tidak berani mengucapkan pendapat pribadi mereka. Namun, saat raja mengatakannya, tampaknya beberapa orang memiliki pandangannya sendiri.
"Saya yakin Kerajaan Cygnus berada di balik semua ini. Baron Cromwell tampaknya telah berkhianat terhadap kerajaan dan bergabung dengan pasukan dari Kerajaan Cygnus."
"Benar, itu cukup masuk akal."
Menilai dari ketegangan yang semakin memanas antara Kerajaan Cygnus dengan Kerajaan Ignis serta kepentingan-kepentingan politik di balik kejadian ini yang jelas-jelas akan menguntungkan kerajaan tetangga, beberapa orang di ruang strategi mengangguk setuju.
"Penyerangan terhadap keluarga Marquis Canaria pastilah sebuah ujian untuk membuktikan kesungguhan Baron Cromwell terhadap rencana pengkhianatannya."
Pendapat dari salah satu bangsawan tinggi cukup masuk akal. Hampir semua orang --kecuali Raja, Earl Garcia, dan Carmen-- mengangguk sebagai tanda persetujuan. Mereka mulai melirik ke arah satu-satunya pendeta yang menghadiri diskusi tersebut. Carmen yang mengetahui ke mana arah pembicaraan ini mulai masuk ke dalam diskusi.
"Jangan coba-coba menuliskan permohonan berperang pada pihak ordo hanya karena pandangan negatif tanpa bukti yang kongkret."
Sebagai persyaratan dalam mendeklarasikan perang, mereka membutuhkan persetujuan dari Demigod. Hal ini bertujuan untuk menekan peperangan sehingga ras iblis tidak memiliki cukup keuntungan dari perang yang terjadi di dunia fana. Oleh karena itu, sebelum memiliki alasan yang kuat dan tidak memiliki jalan penyelesaian lain, deklarasi perang tidak akan pernah disetujui oleh Demigod.
"Tapi, jika terus seperti ini, Kerajaan Cygnus akan menyebarkan pengaruhnya melalui wilayah Baron Cromwell dan mengakibatkan perang saudara di masa depan."
Perkataan salah satu earl memang masuk akal. Walaupun perang antara kerajaan dapat dicegah melalui pihak ketiga, perang saudara dan kudeta bukan termasuk di dalam perjanjian damai. Mereka tidak dapat dihentikan sekalipun pihak ordo mengambil bagian di dalamnya. Oleh karena itu, melakukan penghasutan pada rakyat jelata dan bangsawan kecil yang memiliki rasa nasionalisme rendah merupakan salah satu cara yang dapat diambil sebagai jalan alternatif di samping tidak memungkinkannya untuk melakukan penyerangan secara langsung.
"Karena alasan itulah kami memanggil Anda kemari, Tuan Pendeta dari Ordo."
Mendengar Sang Raja berbicara mengenai dirinya, Carmen mengangkat satu alisnya karena merasa sedang dimanfaatkan.
"Permintaan kami adalah untuk melakukan pengintaian terhadap wilayah kedudukan Baron Cromwell. Tergantung situasinya, kami akan mengambil langkah yang sesuai dan sebisa mungkin menghindari peperangan."
Gadis itu akhirnya ingat bahwa permintaan yang diajukan padanya dari Kerajaan Ignis adalah sebuah permintaan pengintaian.
Pendeta dari ordo adalah orang yang netral. Ada sebuah peraturan yang mengikat untuk tidak melakukan penyerangan terhadap mereka. Menyadari bahwa para saudagar keliling dan utusan bangsawan tidak pernah kembali setelah menginjakan kaki di wilayah tersebut, Sang Raja meminta bantuan dari ordo untuk mengonfirmasi keanehan di tanah yang dikuasai oleh Baron Cromwell. Dengan kata lain, hanya pihak ordo yang dapat melakukan misi berbahaya ini tanpa khawatir terhadap penyerangan dan penyergapan.
Intinya mereka sama sekali tidak berniat untuk mengeluarkan permohonan berperang. Sebaliknya, pihak kerajaan berusaha untuk mencegah perang saudara di masa depan.
Mempertimbangkan hal itu, Carmen mulai memahami tanggung jawab yang dibebankan oleh Demigod kepadanya. Karena tidak memiliki otoritas untuk menolak, dia menyanggupi permintaan tersebut. Walau bagaimanapun, mencegah dunia ini kacau adalah bagian dari kontrak yang dia buat bersama Demigod di masa lalu.
Hanya saja, jika pada kenyataannya wilayah itu melakukan pemberontakan, Carmen tidak berniat untuk menutupinya dan akan membiarkan mereka dibantai habis. Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan nasib para pemberontak yang mencoba untuk mengkudeta. Membantai sebuah kota kecil untuk mencegah perang saudara masih terdengar jauh lebih baik daripada membiarkan Kerajaan Ignis runtuh dari dalam.
Memegang pemikiran sederhana seperti itu, Carmen memohon untuk pamit dan segera bergerak ke Kota Agarten detik itu juga.
-------
Senin, 09 Juni 2019
Pukul 08:23 AM
Note :
Sekadar penjelasan singkat ...
Dalam sistem bangsawan dunia ini, baron itu menempati wilayah viscount. Sedangkan viscount menempati wilayah earl atau marquis. Mereka (baron dan viscount) dianggap bangsawan rendah karena tidak memiliki koneksi langsung dengan raja. Melainkan hanya memiliki koneksi dengan earl atau marquis yang mereka layani. Jadi, singkatnya Baron Cromwell menempati sedikit wilayah milik Viscount Eurellia sedangkan Viscount Eurellia menempati sedikit wilayah milik Earl Garcia.
Riwayat Penyuntingan :
• Minggu, 16 Juni 2019