
Kami kembali ke guild setelah selesai melakukan pesta perpisahan kecil-kecilan. Tujuan kami saat ini adalah untuk keluar dari kelompok Gabe dan membuat kelompok dua orang. Selain itu, aku juga memutuskan untuk berbicara mengenai rencana ini kepada Isabelle.
Awalnya aku kira gadis itu akan ikut. Jadi, aku tidak sedikit pun berpikir bahwa kami harus pamit padanya. Kupikir besok sebelum meninggalkan kota akan menjadi waktu yang tepat untuk membicarakannya sekaligus membawa serta Isabelle. Namun, karena perubahan rencana, kami memutuskan untuk mendiskusikannya hari ini. Lagipula berbicara secara mendadak bukan hal yang lumrah bagi manusia.
Ketika kami memasuki ruangan guild, pandangan mataku langsung fokus menatap Isabelle yang sedang menangani salah seorang petualang brengsek. Seperti sebelumnya, dia menangani mereka dengan ramah dan sopan, seakan kemampuannya dalam bidang ini adalah bakat yang dia miliki sejak awal. Tentu saja, jika mengingat kembali bahwa sebelumnya dia adalah pelayan pribadi seorang bangsawan tinggi yang jauh lebih mengutamakan tata krama di atas segalanya, maka tidak aneh kalau dirinya memiliki kemampuan luar biasa di bidang seperti ini. Apalagi status Isabelle yang sebenarnya adalah sebagai putri ketiga seorang baron.
Sayangnya tingkah laku seperti itu tidak akan cocok jika diterapkan di tempat seperti ini.
"Bagaimana kalau besok? Hanya makan malam saja, tidak lebih."
Seorang petualang dari kelas warrior memaksa walaupun Isabelle sudah beberapa kali menolak ajakannya dengan sopan. Orang itu benar-benar tidak punya malu. Lagipula Isabelle adalah manusia dengan usia yang terbilang masih sangat muda. Apa yang sebenarnya orang ini harapkan dari gadis itu?
"Maafkan saya. Besok adalah tugas saya untuk menyediakan makan malam bagi karyawan yang lain." Seperti sebelumnya, Isabelle berusaha menolak dengan bahasa yang halus.
Aku tidak tahu siapa lelaki berotot yang mengenakan armor kulit dan membawa pedang tebal itu. Tubuh tinggi dan rambut yang tidak teratur memang cukup mengintimidasi. Mungkin hal ini jugalah yang mendorongnya untuk bertingkah seenaknya tanpa ada orang lain yang berani mencegahnya.
Petualang lain hanya melirik dalam diam, memandang khawatir antara kami dengan lelaki tersebut.
Aku memang tidak peduli dengan masalah kecil semacam ini. Mau itu di Tartarus atau dunia ini, bahkan di Heaven sekalipun masalah seperti ini cukup sering terjadi. Di antara semua makhluk cerdas yang tersebar, pasti ada saja beberapa sampah bodoh yang suka berbuat keonaran.
Sebagai anak manusia muda yang baru saja naik ke peringkat C, bukan kapasitasku untuk masuk ke dalam permasalahan antara petualang. Aturan yang melarang kami untuk berselisih satu sama lain sebenarnya memiliki hukuman yang tidak main-main. Jadi, aku memutuskan untuk tutup mata dan membiarkan Isabelle menyelesaikan masalahnya sendiri.
Tentu saja hal yang sama tidak berlaku pada Alma. Walau bagaimanapun, dia adalah petualang dengan peringkat A yang bahkan sudah memenuhi kualifikasi untuk mengikuti turnamen kenaikan peringkat. Dia setidaknya berada pada tingkat yang sedikit lebih tinggi daripada para master guild cabang kota. Oleh karena itu, beberapa peraturan yang mengikat petualang tidak berlaku pada gadis ini.
Aku ragu dia akan diam saja melihat gadis berambut cokelat itu kesulitan. Yah ... mungkin akan menjadi bahan pengamatan yang bagus dan menilai sejauh apa Fiora mengalami penyimpangan perilaku. Jadi, aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi seraya menggumamkan sesuatu pada Alma.
"Terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak akan melarangmu dan tak akan menyalahkanmu atas masalah yang kau buat."
Gabe dan Hellen mengerutkan dahi setelah mendengar ucapanku, tetapi Alma tampaknya langsung mengerti arti di balik perkataanku dan untuk siapa kata-kata itu ditujukan. Dia mengangguk, menutupi seluruh wajahnya dengan topeng persona seraya berjalan mendekati meja resepsionis diikuti oleh puluhan pasang mata yang memandang ke arahnya.
Alma mencengkram bagian belakang armor kulit yang dipakai oleh lelaki itu hanya dengan tangan kirinya. Kemudian, dia mengangkatnya hingga lelaki berotot tersebut menggantung beberapa jengkal di udara.
"Whoa?! Apa-apaan ini?!"
Seperti yang kuduga, orang itu langsung panik dan memberontak. Namun, kekuatan Alma saat menggunakan persona setidaknya setara dengan Hellhound. Jadi, butuh sedikit lebih banyak tenaga untuk melepaskan diri darinya.
"Apa-apaan dengan kekuatan itu?!"
"Masih muda dan sudah mahir dalam seni augmentasi. Itu gila!"
Beberapa orang mulai berbisik, terheran-heran dengan kekuatan Alma yang tidak mencerminkan penampilan fisik menyedihkannya. Yah ... saat dia menghadapi Hellhound, hanya petualang peringkat tinggi yang berada di sana, kurasa ini kali pertama mereka melihat kekuatan Alma secara langsung.
Orang-orang di dunia ini sepertinya menyebut seni penguatan tubuh sebagai augmentasi. Bagi makhluk selain manusia, augmentasi berjalan alami layaknya pertumbuhan dan perkembangan sehingga tidak ada nama khusus untuk fenomena ini. Hal itu terjadi karena kami tidak memerlukan katalis untuk mengumpulkan mana dan mengubahnya menjadi kekuatan fisik. Namun, cara-cara tertentu dapat dilakukan untuk mempercepat proses penguatan ini.
Sebagai contoh sederhana, tubuh Alpha sekitar tiga kali lipat lebih kuat daripada tubuh werewolf lain yang seusianya. Hal ini disebabkan karena Alpha menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berlatih memperkuat tubuhnya menggunakan mana jenis alam. Hasilnya, dia berubah menjadi monster serigala raksasa dengan kulit yang bahkan hampir tidak bisa ditembus oleh pedang biasa. Walaupun begitu, karena terlalu fokus dengan hal ini, Alpha hampir tidak bisa menggunakan mana jenis alam miliknya untuk melakukan sihir. Benar-benar menyedihkan.
Kasus Alpha berlaku untuk semua makhluk selain manusia, termasuk para iblis sepertiku. Hanya saja, augmentasi iblis melibatkan mana kegelapan, begitupun augmentasi yang terjadi pada bangsa elf dan penghuni langit yang melibatkan mana cahaya. Inilah sebabnya semakin tua usia suatu monster, kulit mereka akan semakin sulit untuk ditembus dan semua parameter yang berhubungan dengan kekuatan fisik akan terus meningkat.
Dalam kasusku sendiri, tubuhku hanya dapat dilukai oleh senjata dengan prioritas pembunuh dewa. Bahkan, jika seseorang yang memakai senjata-senjata itu tidak cukup kuat, mustahil bagiku untuk mendapatkan luka.
Ah, aku jadi ingat tentang pahlawan yang sukses menggunakan mantra ilusi misterius padaku. Dia memang menggunakan senjata dengan prioritas pembunuh dewa walau kualitasnya sangat buruk, tetapi kekuatannya hanya setara demon lord. Jadi, secara kasar dia bahkan tidak dapat membuat kulitku lecet. Inilah sebabnya aku menantangnya untuk menyerangku terlebih dahulu. Tidak kusangka dia akan melepaskan pedangnya dan menggunakan mantra misterius sebagai gantinya. Aku benar-benar kesal jika mengingatnya kembali.
"Tapi bagaimana bisa dia memakai augmentasi tanpa item sihir?"
Bisikan selanjutnya membuatku tersadar.
Karena seni augmentasi tidak terjadi secara alami, manusia membutuhkan latihan yang sangat intens untuk melakukannya. Oleh karenanya, tidak sedikit dari mereka yang menguasainya pada usia di atas 20 tahun. Selain itu, sebagai akibat dari usianya yang pendek, mereka juga pastinya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari sihir. Inilah alasan kenapa manusia dari kelas warrior yang khusus mempelajari seni augmentasi tidak bisa menggunakan sihir sama sekali.
Alma adalah iblis, augmentasi sudah menjadi hal yang alami baginya. Secara teknis, dia tidak memerlukan item apa pun untuk melakukannya. Selain itu, dia bahkan termasuk ke dalam jajaran iblis kuno dimana usia rata-rata para acient demon setidaknya memasuki angka satu juta. Umur si bodoh ini bahkan lebih tua daripada usia Raja Iblis Envy. Jadi, jelas sekali bahwa dalam mode penuhnya, bahkan seekor naga kuno sekalipun akan sulit melukainya.
Yah ... setidaknya pengaturan itu berlaku sebelum hukum dunia mulai menyimpang. Aku yakin jika dia melepaskan semua segelnya sekarang, tubuhnya akan langsung meledak dan berubah menjadi ceceran daging. Untung saja aku memutuskan untuk menyegel sebagian besar kekuatan kami tepat sebelum pengaturan yang merugikan ini berlaku. Oleh karena itu, persona bisa diklasifikasikan sebagai item yang dibutuhkan Alma untuk mengaktifkan seni augmentasi-nya.
Alma melempar warrior itu ke belakang, membuatnya melayang beberapa saat sebelum akhirnya jatuh menghantam meja kayu dan menghancurkan segala yang ada di atas meja tersebut. Petualang malang yang berada di hadapan meja itu hanya bisa terdiam dengan wajah terkejut, tidak bisa protes atas kejadian tak terduga yang menimpa hidangan mereka.
"Siapa pun, tapi jangan dengan petualang, mengerti?!" Alma tiba-tiba meninggikan suara di balik topeng persona yang dipakainya, seakan memarahi Isabelle yang terdiam kebingungan.
"Hah ... ?" Tentu saja gadis berambut cokelat itu tidak akan paham.
"Kau boleh dengan siapa pun. Petani, pelayan, pemilik toko, alchemist, bahkan seorang blacksmith dari Kekaisaran Dwarf sekalipun. Tapi prajurit, petualang, pembunuh bayaran, dan semua pekerjaan yang masih berhubungan dengan itu tidak diperbolehkan. Paham?!"
"A-apa maksud Anda? Saya tidak paham kenapa Anda berpikiran seperti itu, Put ... "
Sadar dengan kata-kata yang salah, Isabelle berhenti tepat sebelum memanggil Alma dengan sebutan putri. Kemudian, alih-alih mengomentari hal ini, Alma malah melanjutkan kembali ucapan bodohnya.
"Mereka itu para idiot yang tidak sayang dengan nyawanya sendiri. Mereka bisa mati kapan saja. Kau tidak ingin suamimu mati cepat, 'kan?"
"Suami?!"
Umur Isabelle bahkan baru menginjak 13 tahun. Kenapa Alma sudah membahas sesuatu seperti ini? Memang manusia akan dianggap dewasa pada saat usia mereka 15 tahun, tetapi hal ini masih akan terjadi pada Isabelle sekitar 2 tahun lagi. Jadi, tentu saja masih terlalu cepat baginya untuk membicarakan pasangan.
Lagipula apa hakmu untuk melarangnya? Kau bahkan bukan ibunya!
"Dengarkan aku baik-baik dan sebarkan peringatan ini kepada semua orang di kota!" Alma berbalik menatap kepada semua petualang yang hadir di dalam ruangan ini. "Atas namaku sendiri sebagai orang yang sudah membunuh archdemon, siapa pun prajurit yang berani menggoda dan mengganggu Isabelle akan mati. Bahkan seekor naga sekalipun tidak akan kubiarkan hidup!"
Aku menepuk keningku sendiri setelah mendengar deklarasi aneh yang diucapkan Alma. Tidak kusangka dia akan bertingkah sejauh ini hanya untuk melindungi seorang manusia. Gadis itu benar-benar sudah semakin menyimpang.
"E-el?"
Gabe memandangku dengan tatapan khawatir. Dia seakan kehilangan sedikit semangat hidupnya dan melihatku dengan penuh harap.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku juga tidak paham apa yang sebenarnya dia pikirkan."
Mendengar perkataanku, lelaki itu menundukkan kepalanya. Ada apa dengan tingkahnya yang aneh ini?
"Lupakan saja, ayo segera selesaikan urusan kita."
Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekati meja resepsionis untuk menyelesaikan keperluan kami.
-------
Dipublish di Mangatoon pada Hari Sabtu, 25 Oktober 2019
Pukul 13:00 PM
Note :
Hanya manusia yang menyebut penguatan tubuh sebagai augmentasi karena semua makhluk selain manusia tidak mempelajari hal ini secara khusus. Dua makhluk yang diketahui memiliki seni augmentasi tingkat tinggi adalah Robbert dan Glastila --keduanya sama-sama memiliki kelas guardian--. Namun, mereka menguasai augmentasi tanpa item sihir apa pun. Sekadar tambahan, daftar job class sudah kubuat di wattpad dengan username Nautasoltari. Bagi yang mau lihat silakan cek di sana karena ku takkan memasukan daftarnya ke dalam cerita :3