
Hanya sekitar sebulan setelah aku terjebak di masa lalu, beberapa kejadian tidak terduga sudah menghampiriku secara bertubi-tubi. Dimulai dari permasalahan konyol dengan Fiora sampai hal-hal aneh seperti yang terjadi kemarin.
Entah dengan cara apa pun aku melihatnya, tubuh Alma yang melepuh tanpa sebab adalah kejadian yang sama sekali tidak terduga. Namun, anehnya beberapa orang tertentu mengetahui sebab terjadinya hal itu dan merasa bahwa kejadian tersebut sangat umum.
"Selamat pagi. Bagaimana dengan keadaan saudari Anda?"
Ketika aku menuruni tangga menuju lantai satu sebuah penginapan mewah, salah satu pelayan wanita berbicara padaku. Dia mungkin sekadar menyapa seorang tamu dikarenakan keramahan adalah salah satu hal paling penting di sini. Lagipula apa untungnya mengetahui keadaan Alma yang bahkan tidak dia kenali.
Ah, aku jadi kembali ingat dengan kejadian di Desa Werewolf itu. Mantra yang dipakai oleh Alma untuk membunuh archdemon adalah mantra kegelapan razrusheny.
Mantra Razrhusheny pada dasarnya memiliki tiga tingkatan yang berbeda. Tingkat pertama menduduki level dari mantra kegelapan tingkat lima. Kemudian, tingkat ketiga adalah mantra kegelapan tingkat sembilan. Sementara itu, apa yang Alma gunakan sebelumnya adalah tingkat kedua yang menempati posisi mantra kegelapan tingkat tujuh. Tanpa perlu melihat hasilnya pun sudah jelas bahwa tubuh archdemon malang itu pasti tidak akan tersisa.
Hellen dan Gabriel mungkin mengira bahwa mantra hebat tersebut yang mengakibatkan tubuh Alma meleleh. Namun, aku pribadi yang menguasai sihir kegelapan bahkan sampai tingkat terakhir tahu betul bahwa dua kejadian itu sama sekali tidak berhubungan.
Di antara banyaknya macam sihir dari tiga jenis dasar sihir yang ada --sihir alam, cahaya, dan kegelapan--, hanya satu jenis sihir yang memiliki kemungkinan risiko sefatal itu. Terlepas dari jenisnya, kami para makhluk kuno yang sempat hidup bersama Sang Pencipta menyebut sihir berbahaya ini sebagai RE.
Oh, satu hal lagi. Meski aku dapat menggunakannya sebagai senjata utama dan terkuat yang kumiliki, pengetahuanku yang minim tentang risiko penggunaan mantra ini membuatku enggan menggunakannya. Untungnya bukan hanya aku yang berpikiran seperti ini, semua makhluk bergelar dewa juga tidak ada yang berani mencobanya sampai sekarang. Jadi, tidak ada yang tahu pengaruh dari sihir ini dan risiko macam apa yang akan diterima oleh perapalnya.
Tunggu dulu! Kenapa aku malah membahas hal yang rumit seperti ini?
"Eh? Ah ... keadaannya masih stabil seperti biasanya." Aku menjawab pertanyaan pelayan itu dengan agak gugup karena sempat larut dalam pemikiran-pemikiran tidak penting.
"Begitu. Pasti berat ya?"
Apa dia bersimpati padaku? Hey, kau sama sekali tidak dirugikan, kau tahu? Lebih baik gunakan energimu untuk hal-hal yang jauh lebih berguna daripada menggunakannya untuk mengkhawatirkan Alma.
Sampai sekarang keadaan Alma sangat buruk. Dia tidak sadarkan diri dan tubuhnya rusak parah. Kerjaannya hanya berbaring di tempat tidur layaknya orang mati. Benar-benar bawahan yang merepotkan majikanya. Tunggu saja, saat kau sadar nanti, aku akan memukulmu sampai kau tidak sadar lagi!
Sebenarnya aku bisa saja menggunakan mantra regenerasi tingkat akhir untuk menyembuhkannya. Namun, aku perlu membuka segelku sendiri dan melanggar pengaturan yang sudah susah payah kubuat untuk melakukannya. Setelah itu, aku yakin kejadian-kejadian merepotkan akan langsung berdatangan lagi. Secara pribadi aku menolak hal seperti itu.
Pilihan keduaku adalah membawa Alma menuju kuil seperti apa yang Gabriel dan Hellen alami. Sialnya pihak kuil tidak sanggup untuk menolong dan memilih menyerah tanpa mencobanya sekali pun. Dasar kuil sialan! Bagaimana bisa kalian tetap membuka tempat pengobatan dengan bangganya?! Oh, walaupun aku kesal dengan para pendeta di kuil, kuakui kemampuan mereka setelah menyembuhkan lukaku dengan baik sehingga aku bisa beraktivitas lagi hari ini tanpa ada masalah.
Apakah aku harus pergi ke Kuil Ortodox dan meminta bantuan Demigod secara langsung? Jujur saja aku tidak mau bertemu dengan orang itu sebelum mengetahui informasi tentangnya terlebih dahulu.
Jika aku pergi ke ibukota, apakah cabang kuil di sana dapat melakukan sesuatu untuknya? Tidak harus sampai sembuh sebenarnya, cukup sampai Alma membuka mata dan memiliki kesadarannya kembali. Setelah itu, dia hanya perlu menggunakan mantra regenerasi pada dirinya sendiri dan masalah merepotkan ini akan selesai dengan lancar.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkannya." Aku berusaha memasang wajah ramah padanya sebelum mengalihkan topik. "Tolong bawakan aku daging panggang dan segelas air."
"Baiklah, silakan tunggu sebentar." Wanita pelayan itu tersenyum sebelum pergi menuju dapur.
Bangunan ini memiliki total empat lantai dan cukup mewah untuk ukuran sebuah penginapan di kota dekat perbatasan. Tiga lantai di atas digunakan sebagai penginapan dengan fasilitas yang sangat bagus. Sementara itu, lantai paling dasar adalah restoran, kantor penginapan, dan hal-hal lainnya.
Menurutku tinggal di sini cukup menghemat waktu. Karena tubuh manusia butuh makan secara teratur, aku tidak perlu pergi keluar sekadar untuk mengisi perut. Jadi, dibiayai oleh Carmen untuk tinggal di sini selama satu minggu adalah sesuatu yang luar biasa.
Terima kasih, Gadis Pendeta Muda. Kau benar-benar pendeta sejati!
Aku mengambil tempat duduk di bangku yang paling dekat dengan tangga. Tidak ada alasan khusus kenapa aku memilih duduk di sini. Aku memilihnya hanya karena tempat ini paling dekat dengan posisiku berdiri beberapa waktu lalu.
Rencanaku hari ini adalah untuk kembali menemui para werewolf dan meminta bayaran kami. Kau tahu? Musibah tak terduga yang menimpa kami kemarin membuatku pulang tergesa-gesa dengan tangan kosong. Permintaan yang kami ambil di guild bahkan terancam gagal. Untung saja Carmen bersedia untuk menjelaskan permasalahan yang menimpa kami ke guild sehingga durasi waktu untuk memenuhi permintaan diperpanjang selama dua hari.
Pada tingkat ini aku jadi curiga dan agak jijik dengan gadis pendeta itu. Kenapa dia mau repot-repot menolong kami?
Ah, walaupun aku akan pergi ke sana tanpa Hellen, Gabriel, dan Alma yang sampai sekarang masih dalam perawatan, aku tidak berniat untuk pergi ke guild terlebih dahulu dan mencari rekan sementara. Aku bukan tidak mau berinteraksi dengan para petualang lain di sana. Hanya saja, menghadapi Isabelle yang menangis itu sangat merepotkan. Kemarin saja waktuku terbuang selama satu jam lebih hanya untuk menemani bocah itu melihat keadaan Alma. Pokoknya hari ini aku harus menghindarinya sebisa mungkin.
Masih tenggelam dalam pemikiranku sendiri, pesananku datang tanpa perlu menunggu terlalu lama. Seperti yang kuduga dari penginapan mewah, mereka tidak membiarkan pelanggan untuk terlalu banyak menunggu.
Setelah aku terjebak dalam tubuh kecil ini dan menetap di kota, aku mencoba memakan masakan manusia supaya tidak dicurigai. Pada awalnya aku merasa ragu untuk melakukannya. Namun, setelah mencobanya sekali, rasa dari makanan manusia ternyata jauh lebih lezat. Sekarang aku mengerti kenapa manusia lebih memilih untuk repot-repot memasak terlebih dahulu daripada memakannya secara langsung.
Hidupku selama 3.000 tahun di dunia fana terasa sia-sia sekarang. Kenapa tidak dari dulu aku mencicipi makanan manusia?
Selesai dengan segala urusan yang berhubungan dengan perut, aku bermaksud untuk segera meninggalkan tempat ini menuju tempat Alpha. Kali ini aku yakin akan mendapatkan apa yang harusnya menjadi milik kami dan menyelesaikan permintaan tanpa ada hambatan.
Baiklah, saatnya pergi berpetualang! Masih dengan semangat dan suasana hati yang baik, aku mulai berjalan keluar penginapan.
Beberapa langkah setelah aku meninggalkan penginapan, pemandangan kota membuatku mengerutkan dahi. Sebagian kecil bangunan sudah setengah jadi dan mungkin akan dapat digunakan kembali dalam waktu dekat.
Kalau aku tidak salah ingat, tempat ini baru hancur oleh amukan Hellhound sekitar seminggu yang lalu. Namun, hanya dalam waktu sebentar mereka sudah bisa membangun kembali apa yang hancur pada saat kejadian itu.
Apakah mereka benar-benar membangunnya dari awal? Atau hanya memperbaiki bagian-bagian yang rusak?
Aku yakin mereka hanya memperbaikinya. Membangun dari awal itu merepotkan dan butuh waktu yang tidak sebentar. Mustahil mereka bisa membangunnya secepat ini.
Omong-omong, akhir-akhir ini aku mulai sadar bahwa diriku jadi banyak memikirkan hal-hal yang tidak berguna.
Baiklah ... saatnya pergi!
Seharusnya memang begitu. Nanun, seorang gadis pendeta tiba-tiba keluar dari salah satu gang dan berjalan ke arahku. Tentu saja, siapa lagi pendeta yang akhir-akhir ini selalu lengket pada kami kalau bukan Carmen?
Perasaanku langsung memburuk begitu menyadari bahwa dia benar-benar datang menghampiriku dan mengutarakan maksudnya. Jujur saja, berinteraksi dengan seorang pendeta itu membuatku agak khawatir. Suatu saat nanti mungkin saja aku membuat mereka curiga dengan kelakuanku yang aneh.
Aku berharap hari seperti itu tidak akan pernah terjadi. Ya ... semoga saja. Masih dengan mengantongi keyakinan seperti ini, kami kembali ke penginapan untuk melihat keadaan Alma.
-------
Note :
Percaya atau tidak, ku nulis dari awal sampe sini tanpa menulis rangkaian cerita terlebih dahulu. Inilah sebabnya banyak cerita dan bab tambahan yang ada di luar ekspetasi awalku (termasuk bab ini). Ku cuma memikirkan awal, akhir, dan beberapa arc utama aja. Sisanya nambah2in buat memperpanjang durasi :3 Spoiler dikit, harusnya bab 11 hanya berisi penyembuhan Alma dan berlanjut ke arc selanjutnya. Cuma ku merasa bahwa kesembuhannya yang singkat malah bakalan bikin ceritanya mengalir dengan paksa (gak alami). Jadinya kubuat 2 bab tambahan sebelum masuk arc utama.
Riwayat Penyuntingan :
• Rabu, 14 Agustus 2019