RE:Verse

RE:Verse
7.II Dua Orang Gadis



Setelah memasuki simpangan ruang dan waktu, kini mereka berlima berada di sebuah hutan besar yang banyak ditumbuhi rerumputan liar. Tampaknya sihir pemindahan yang dilakukan oleh Carmen berhasil dengan sukses.



Suara burung dan serangga terdengar saling bersahutan, membentuk suara khas yang hanya bisa kau dengar jika sedang berada di tengah hutan. Hembusan angin juga mengakibatkan daun-daun saling bergesekan dan menciptakan suara lembut yang menenangkan. Pencahayaan dari sinar matahari pagi yang terpancar dari sela-sela dedaunan membuat udara di sekitar terasa lebih sejuk.



Beberapa menit telah terlewat. Alma dan Hellen kini berjalan beriringan seraya fokus menatap rumput-rumput liar di sekitar kaki mereka. Kedua orang itu seakan mencari-cari sesuatu yang tidak sengaja mereka jatuhkan. Tentu saja, apa yang mereka cari adalah sebuah tanaman yang menjadi bahan baku dalam pembuatan potion.



Sesaat setelah Carmen berpamitan untuk pergi ke ibu kota karena sebuah urusan, El menyarankan agar mereka berpencar. Tentu saja akan berbahaya jika mereka berjalan sendirian, maka dari itu diputuskanlah dua buah kelompok yang masing-masing berjumlah dua anggota. Mereka membuatnya berdasarkan gender sehingga di sinilah Alma bersama Hellen sekarang.



"Em, bentuknya seperti apa memang?" Karena bosan, Alma mencoba untuk membuka percakapan di antara mereka berdua. Tidak lupa, dia sesekali menandai pohon-pohon di sekitarnya guna mencegahnya tersesat.



"Eh, itu ... tangkainya berduri dan akan layu saat kau menyentuhnya." Hellen menjelaskan dengan gugup.



"Tanaman berduri, ya. Apakah sama seperti yang pernah kulihat dalam mimpi?" Alma mengangguk beberapa kali sementara bidang pandangnya tetap terarah pada rerumputan di bawah kakinya.



Menyusuri hutan yang dipenuhi oleh rumput-rumput liar tentulah bukan hal yang aman. Berbagai jenis serangga berbahaya atau reptil seperti ular bisa saja menyerangmu dari bagian yang terhalangi rumput. Oleh karena itu, Alma dan Hellen melangkah dengan sangat hati-hati.



Setelah berjalan cukup jauh dari posisi di mana mereka pertama kali datang, Alma tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menyuruh Hellen untuk melakukannya juga. Dia memandang tajam menuju salah satu semak belukar untuk beberapa saat.



"Boleh aku pinjam panahmu?" Alma berbisik pelan. Dia menjulurkan tangan kanannya pada Hellen seraya fokus menatap sesuatu di hadapannya.



"Te-tentu."



Menyadari bahwa rekan di depannya tengah memandang sesuatu yang sama sekali tidak terlihat olehnya membuat Hellen tidak banyak bicara. Dia segera menyerahkan panah kayu sederhana miliknya bersamaan dengan anak panahnya.



Gadis itu segera mengambilnya, menarik busurnya dan langsung mengarahkannya pada semak belukar yang berada tidak terlalu jauh dari mereka. Alma menempatkan wajahnya tepat di belakang anak panah yang tengah dia tarik, memejamkan sebelah matanya, dan mulai membidik.



Tidak lama kemudian dia melepaskan anak panah itu, membuatnya meluncur membelah udara lembab di tengah hutan. Semak belukar yang menjadi sasarannya tiba-tiba bergerak dengan tidak normal dan mengeluarkan suara jeritan yang melengking saat anak panah itu berhasil menembus sesuatu.



"Ap-apa itu?!" Hellen yang ketakutan berusaha menyembunyikan dirinya di balik tubuh kecil Alma. Gadis itu merasa bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi hingga membuatnya sangat khawatir.



"Tenang saja, itu hanya binatang magis. Mereka dapat berkamuflase dengan baik menggunakan sihir alam." Alma menjelaskan dengan singkat, bermaksud untuk menenangkan kekhawatiran Hellen.



"Binatang magis?"



Hellen tentu pernah mendengar keberadaan binatang-binatang seperti itu. Walau sebagian besar tidak memiliki kecerdasan, binatang-binatang tersebut dapat menggunakan sihir alam. Oleh karena itu orang-orang menyebutnya sebagai binatang magis.



Setiap binatang magis memiliki tingkat bahaya yang berbeda-beda. Mereka yang biasa ditemui di hutan seperti ini tentunya bukan binatang yang sangat kuat. Namun, beberapa spesies memiliki tingkat bahaya yang benar-benar mengerikan. Salah satu contohnya adalah Chimera, binatang magis kelas bencana yang total kekuatannya hampir setara dengan Hellhound.



Jeritan yang dikeluarkan oleh binatang itu melemah seiring berjalanya waktu. Kemudian, saat dia sudah tak mengeluarkan suara lagi, sosok hewan berbulu putih dengan telinga yang panjang mulai menampakan diri.



Tubuhnya tergeletak di antara rumput-rumput liar. Bulu di dadanya basah oleh cairan kental berwarna merah yang mengalir dari wilayah dimana anak panah Alma menembusnya.



"Yah, mereka adalah vegetarian. Jadi, tidak akan berbahaya walau bidikanku gagal menembus jantungnya. Dagingnya lumayan enak ketika dimakan. Kurasa kita akan berpesta dengan ini siang nanti." Alma terlihat sangat bersemangat.



"E-ehm." Melihat rekannya tersenyum penuh kepuasan setelah membunuh seekor binatang magis membuat Hellen sedikit khawatir padanya.




Setelah perburuan yang tidak direncanakan berlalu beberapa saat, Hellen yang masih merasa gugup mulai angkat bicara.



"Em, berapa kelas yang kau ambil? Kau bahkan dapat menggunakan panah." Hellen mencoba untuk mencairkan suasana. Dia mulai membiasakan diri untuk menggunakan bahasa yang santai dengan harapan agar lebih cepat akrab dengan Putri Iblis.



"Hm?" Alma sedikit memiringkan kepala tapi pandangannya tetap fokus pada rumput-rumput liar di bawah kakinya. "Di negara tempatku berasal, kemampuan tidak dibagi ke dalam kelas. Jadi, aku tidak tahu berapa kelas yang aku ambil."



Di samping kedua matanya yang fokus menatap ke bawah, tangan kirinya masih tetap mencengkeram telinga dari binatang magis buruannya.



"Ah, benar juga. Negaramu, di mana itu? Dan juga, apa alasan yang membuatmu datang kemari?" Jujur saja, Hellen merasa penasaran. Sudah hampir satu hari mereka bersama tapi gadis itu sama sekali belum menceritakan apa pun memgenai dirinya.



Bentuk wajah Alma memang sedikit berbeda dengan orang-orang di Kota Trowell. Penduduk kota tentu saja akan langsung tahu bahwa dia adalah pendatang hanya dalam sekali melihat. Walaupun begitu, banyaknya pendatang yang mampir ke kota membuat hal seperti ini menjadi biasa dan tidak menimbulkan keanehan sama sekali. Oleh karena itu, sampai sekarang tak ada seorang pun yang menanyai dari mana Alma berasal.



"Itu ... " karena ini pertama kalinya dia ditanyai seperti itu, Alma menjadi gugup. "Ah, pokoknya sangat jauh. Kau tak akan tahu walau sudah kuberi tahu."



Gadis berambut hitam itu sedikit mengintip ke arah lawan bicaranya dengan raut wajah khawatir yang lucu.



Jawaban Alma membuat Hellen memiringkan kepala dan mengerutkan dahinya untuk beberapa saat. Raut wajahnya tentu saja membuat Alma --yang masih mengintipnya-- merasa semakin cemas. Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya menuju binatang mati yang sejak tadi dia bawa seraya bersiul tidak menentu seakan tidak terjadi apa-apa.



"Jauh sekali, begitu?" Atas pertanyaan Hellen, Alma mengangguk panik seraya tetap memandang ke arah binatang berbulu putih itu.



Hellen merasa tingkah laku Alma benar-benar terlihat lucu. Walaupun usianya lebih tua satu tahun jika dibandingkan dengannya dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbagai kelas, sifat Alma yang mudah cemas membuat Hellen nyaman berada di sampingnya.



Tidak sampai satu menit gadis itu menunjukkan kegugupan yang lucu, raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius. Pandangan matanya sangat tajam saat dia menarik salah satu belati miliknya seraya berbalik menghadap ke arah mereka datang sebelumnya. Hal ini tentu saja membuat Hellen kembali merasa sedikit khawatir.



"Mereka diserang." Alma berbicara dengan nada yang dingin.



"Mereka?"



"Gabe dan Kakak. Ada tujuh, tidak, delapan ... ah, mereka bertambah banyak."



Walaupun Hellen tidak mengetahui bagaimana cara Alma mendeteksi bahaya yang menimpa kedua rekan mereka, dia memilih untuk tidak mempertanyakannya dan langsung memercayai hal itu. Akibatnya, dia menjadi panik setelah mendengar kata-kata Alma.



"Ki-kita harus segera menolongnya!" Suara Hellen menjadi sedikit serak sementara kedua kakinya mulai gemetar.



"Ayo cepat! Kita tidak boleh membuang waktu!" Setelah mengeluarkan kalimat ajakan pada Hellen, Alma segera berlari diikuti oleh Hellen yang semakin tertinggal di belakang.



--------------


Senin, 19 November 2018


Pukul 08:20 PM