
Pertandingan pertama akhirnya dimulai. Jujur saja aku sebenarnya cukup tertarik untuk melihat ini. Namun, berbagai macam hal mengganggu pikiranku sehingga menyulitkanmu untuk fokus menonton.
Di sampingku, daywalker masih duduk dengan anggun dan menonton pertandingan tanpa terlihat mencurigakan. Raja juga sepertinya tidak terlalu khawatir walaupun dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di arena ini.
Pandanganku kembali menatap titik-titik dimana distorsi cahya terjadi. Hampir semuanya tidak berpindah dari posisinya semula, hanya bergerak sedikit dan akan kembali ke titik dimana mereka sebelumnya berada.
Saat aku masih memperhatikan tempat-tempat itu, suara familier dikirim langsung ke dalam kepalaku.
[Apakah Anda menyadarinya?]
Tatapanku beralih ke seberang arena, menatap area khusus yang disiapkan untuk para peserta. Di salah satu kursi kayu yang dilapisi oleh bantalan nyaman area itu, seorang gadis berambut hitam memandang ke arahku. Dia menatap wajahku dengan pandangan tanpa emosi apa pun.
Jarak kami sebenarnya terpisah sangat jauh. Jika manusia normal menatap kemari, mereka harusnya hanya bisa melihat dengan samar. Namun, gadis itu berbeda, dia tidak normal. Maksudku, jumlah mana yang terakumulasi di dalam tubuhnya menajamkan seluruh indra miliknya. Menatap sejauh ini seharusnya bukan masalah baginya.
[Iblis peringkat rendah dan beberapa budak. Ada berapa dari mereka dan apa tujuannya?]
Aku mengirimkan jawabanku ke kepala kosong gadis itu.
Tingkat augmentasi antara diriku dengannya berada pada level yang berbeda. Jika aku berada dalam kekuatan penuhku, memandang distorsi seperti itu tidak akan menjadi masalah. Aku akan langsung menyadari ada berapa serangga yang bersembunyi tanpa perlu repot-repot memperhatikan mereka. Sayangnya jumlah mana yang kumiliki sekarang hanya sedikit lebih baik daripada Alpha. Hal ini memengaruhi jumlah mana yang mengalir dalam tubuhku. Pada akhirnya augmentasi yang sekarang kumiliki tidak terlalu baik. Jadi, mengamati sesuatu yang tak kasat mata agak susah bagi penglihatanku. Inilah sebabnya aku bertanya pada Alma yang memiliki jumlah mana lebih banyak daripada diriku.
[Lima puluh. Salah satunya adalah peringkat tiga. Targetnya pastilah klien-ku. Mata mereka selalu memperhatikannya sejak pertama kali kami memasuki tempat ini.]
Mantra kamuflase seharusnya tidak dapat digunakan oleh iblis dengan peringkat rendah. Namun, iblis peringkat tiga kurasa cukup mampu untuk melakukannya. Hal yang mengejutkanku hanyalah betapa hebatnya dia sampai bisa mengaplikasikan mantra tersebut kepada lima puluh dari mereka.
Jika dibandingkan dengan Hellhound, iblis peringkat tiga biasanya sedikit lebih merepotkan. Mereka sudah mulai berdiri dengan kedua kaki dan sanggup melemparkan sihir dasar tanpa mantra. Walaupun begitu, mereka tidak akan bisa bertahan lama jika bertarung satu lawan satu dengan archdemon. Jadi, mengurus mereka sebenarnya tidak terlalu merepotkan. Hanya saja, aku masih ragu apakah lebih baik untuk ikut campur dengan urusan mereka atau tidak.
Kalau saja mereka tidak mengincar seseorang yang sedang Alma lindungi, aku pasti tidak akan terlalu peduli. Lagipula tidak ada untungnya aku menempatkan diriku sendiri ke dalam masalah yang bisa kuhindari sepenuhnya. Sayangnya, target mereka adalah orang yang mempekerjakan Alma. Segalanya menjadi lebih rumit daripada yang seharusnya.
Aku berniat untuk menaikan reputasi Alma tanpa meninggalkan sedikit pun kecacatan. Kalau klien yang dia jaga mati di sini, hal itu akan merusak sedikit reputasinya. Entah bagaimana aku juga merasakan firasat yang buruk jika hal ini sampai terjadi.
Di samping pilihan untuk mengabaikan quest dan tidak ikut campur yang entah bagaimana membuatku tidak nyaman, pilihan untuk melindungi klien tampaknya lebih dapat kuterima. Selain reputasi Alma yang semakin tinggi, jumlah uang yang ditawarkan padanya juga berada pada angka yang fantastis. Jujur aku tidak bisa menutup mata, apalagi saat aku tahu bahwa sisa koin yang kudapat dari memungut selama kekacauan Hellhound sudah mulai menipis.
Ah ... aku ingat sekarang. raja sialan itu bahkan tidak memberi kami koin satu pun. Lalu untuk apa kami jauh-jauh datang kemari?!
Kelebihan selanjutnya terletak pada kesempatan Alma untuk dianggap berjasa besar dalam melindungi ibukota. Aku juga bisa berpura-pura melindungi kedua daywalker dan mengakrabkan diri dengan mereka. Yah ... walaupun mereka sama sekali tidak akan membutuhkan pelindung seorang pun. Walaupun begitu, karena mereka sedang menyamar menjadi seorang putri, seharusnya kedua monster itu tidak dapat bebas menggunakan kekuatannya. Jadi, kupikir mereka pasti membutuhkan perlindungan.
[Tuanku, apa yang harus saya lakukan?]
Menyadari bahwa aku tidak membalas ucapannya dalam waktu yang cukup lama, Alma kembali mengucapkan kata-kata. Aku segera tersadar dari pemikiranku dan memantapkan pilihanku berdasarkan pertimbangan singkat yang baru saja kupikirkan.
[Selesaikan quest-mu. Bunuh siapa pun yang mencoba menyerang klien-mu.]
Ah, pertandingan pertama tampaknya sudah berakhir. Kelihatannya perwakilan dari Kerajaan Cygnus memenangkan pertandingan pertama. Sialan, aku tidak sempat menontonnya bahkan hanya untuk sedetik. Untuk pertandingan selanjutnya, aku harus benar-benar menikmatinya dan meninggalkan semua masalah di belakang. Lagipula sepertinya mereka tidak akan bergerak begitu target memasuki arena dimana semua penjaga yang melindunginya tidak ada di sampingnya. Jadi, mari nikmati pertandingan kedua ini.
Ketika masing-masing peserta putaran kedua memasuki arena, Alma tiba-tiba kembali menghubungiku. Kukira ada pergerakan di antara para penyergap, tetapi kelihatannya hanya masalah sepele yang sebenarnya tidak penting.
[Target mereka adalah orang yang menyebalkan dan sombong. Dia sering merepotkan orang-orang di sekitarnya. Tidakkah para iblis menargetkannya semata-mata hanya karena karma?]
Serius, aku penasaran dengan isi kepalanya. Sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan dengan mengatakan hal-hal seperti itu? Walaupun aku ingin bertanya, berlangsungnya pertandingan putaran kedua membuatku enggan meladeninya dan memilih untuk membalas kata-kaganya dengan kalimat perintah singkat.
[Lakukan seperti yang kuperintahkan]
Hening untuk beberapa saat, tetapi kemudian Alma menjawab kalimatku.
[Sesuai perintah Anda]
Sebelumnya Alma sudah memperingatiku untuk tidak terlalu dekat dengan rombongannya. Dia mengatakan bahwa salah satu dari peserta cukup dekat dengan Keluarga Canaria dan mungkin akan mengenaliku jika aku berada terlalu dekat. Mungkin orang yang dia maksud adalah lelaki itu? Aneh sekali mendapati diriku merasa akrab dengannya padahal tidak pernah bertemu.
Tempatku menonton saat ini untungnya cukup jauh. Lelaki itu mungkin tidak dapat melihat wajahku dengan jelas. Jadi, aku tidak begitu khawatir dia akan mengenaliku.
Begitu suara tanda pertandingan dimulai berbunyi, kedua peserta langsung memasuki jangkauan seorang masing-masing. Mereka saling mengayunkan senjata dan berusaha menyerang satu sama lain.
Lambat ... mereka berdua sangat lambat!
Kalau semua anak muda selambat ini, menghadapi iblis peringkat rendah saja aku yakin mereka akan kewalahan. Selain itu, banyak gerakan berlebihan yang tidak perlu. Ayunan mereka juga sangat mudah diprediksi.
Di samping augmentasi yang buruk, efisiensi penggunaan mana di dalam item sihir mereka juga terlalu rendah. Banyak mana yang terbuang percuma dan menguap di udara.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai-sampai tingkat kemampuan manusia menurun sejauh ini?
Pada masa sebelum aku terjebak dalam tubuh ini, bahkan anak-anak muda bisa menangani setidaknya iblis peringkat rendah dalam pertempuran satu lawan satu. Mereka juga cukup mahir untuk bertarung dan menembakkan sihir dalam waktu yang bersamaan. Walau daya tahan mereka buruk, setidaknya kecepatan dan reflek penghindarannya sanggup menutupi kekurangan tersebut. Jadi, melawan manusia sebenarnya agak merepotkan. Alasn ini jugalah yang membuat kerajaan manusia sanggup bertahan dalam menghadapi invasi iblis.
Kalau kekuatan mereka hanya sebatas ini, satu raja iblis saja aku yakin sudah lebih dari cukup untuk mengacaukan satu benua. Walaupun begitu, aku tidak boleh meremehkan mereka. Pertandingan ini bukanlah acuan untuk menilai kemampuan semua manusia. Setidaknya beberapa orang merepotkan masih berkeliaran di luar sana. Seperti Robbert dan Carmen.
Ah, ayunan perwakilan dari Ignis mengenai lawan tandingnya. Namun, sesuatu seperti perisai tak kasat mata menghalanginya untuk merobek kulit siswa tersebut. Sebagai gantinya, ada pecahan kaca aneh yang samar menyebar dan menghilang dari tubuh perwakilan dari Cygnus.
[Wow! Pangeran Brian berhasil menghancurkan lapisan pertama dengan aliran pedang kembarnya! Dua kali lagi dan beliau akan menang!]
Apanya yang aliran pedang kembar?! Mereka hanya mengayunkan senjata layaknya anak-anak yang bermain dengan tongkat. Dia bahkan hanya menggunakan pedang satu tangan tunggal!
Entah kenapa aku menjadi kesal sendiri saat mendengar komentar yang beresonansi memenuhi arena. Aku juga mulai bosan dengan pertarungan mereka. Jadi, aku tidak begitu memperhatikannya lagi setelah merasa cukup untuk mengamati mereka.
Tidak lama setelah itu, pertandingan putaran kedua akhirnya selesai. Perwakilan dari Ignis --Brian-- memenangkan pertarungan tanpa mendapatkan satu pun serangan balasan. Kelihatannya dia cukup berbakat bila dibandingkan dengan siswa lainnya. Namun, aku sama sekali tidak bisa membedakan perbedaan mereka karena keduanya sangat payah.
Skor sekarang adalah masing-masing satu poin untuk kedua belah pihak. Untuk memenangkan turnamen ini, setidaknya mereka harus mendapatkan tiga poin. Sementara itu, hanya ada dua perwakilan tersisa dari mereka yang belum bertanding. Serius, aku ingin tahu siapa idiot yang mengatur pertandingannya. Kenapa mereka tidak membuat tiga pertandingan saja dan pihak yang mendapatkan dua poin adalah pemenang?
Putaran ketiga akhirnya diumumkan. Perwakilan kali ini benar-benar unik.
Di seberangku, perwakilan dari Kerajaan Ignis memasuki arena. Dia adalah seorang gadis kecil yang menunjukan ekspresi jengkel di wajahnya.
Apakah anak ini sedang punya banyak masalah?
Berbeda dengannya, perwakilan dari Kerajaan Cygnus adalah seorang gadis kecil yang riang. Dia melambaikan tangannya ke arah para penonton seraya memperlihatkan senyumnya yang cerah. Anehnya, aku tidak melihat dia membawa satu pun senjata dengan jangkauan yang cukup. Gadis itu hanya mengenakan sepasang gauntlet cokelat yang kusam.
Mustahil dia akan menghadapi pedang hanya dengan gauntlet, 'kan? Apakah dia sangat percaya diri dengan kemampuannya?
Saat mereka berdua saling berhadapan dan pertandingan akan segera dimulai, aku melihat bahwa beberapa distorsi yang pada awalnya hanya diam di barisan kursi penonton mulai bergerak memasuki arena. Mereka mendekat dengan perlahan, memperpendek jarak dengan kedua peserta.
Ah ... apakah acara utamanya akan segera dimulai?
Aku menatap Alma kembali dan menganggukan krpala saat menyadari bahwa Alma juga memandang ke arahku.
------------
Dipublikasikan pada Hari Minggu 16 Februari 2020 Pukul 12:00 PM
Note :
Bagi yang lupa, gelar "pangeran" dalam cerita ini itu dipakai untuk menyebut putra seorang bangsawan. Sementara untuk menyebut putra raja, mereka biasa memanggilnya Yang Mulia Pangeran. Bisa juga menyebut pangeran disertai dengan urutannya. Contoh : Pangeran Pertama, Pangeran Kedua, dll.