
Ketika Demigod menceritakan sebuah kisah, aku langsung tahu kalau dia sedang mengejekku. Maksudku, cerita yang dia bicarakan adalah salah satu dari sejarah kelam hidupku yang sangat kubenci. Apalagi dia menceritakannya dengan mendramatisir beberapa bagian.
Sejak kapan aku menangisi para sampah bodoh yang kubantai di masa lalu?
Maka dari itu, tidak aneh jika aku tenggelam dalam kemarahan dan berakhir dengan menyerangnya tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh tindakanku.
Tebasan keduaku mengandung kutukan kematian. Selama targetnya terluka parah, sihir penyembuhan dan pelepas kutukan tingkat tinggi sekalipun tidak akan mampu mencegahnya dari kematian sayatanku. Namun, bukan hanya kutukanku tidak bekerja terhadapnya, dia bahkan tidak mati saat aku memenggalnya.
Jelas aku semakin marah ketika menyadari bahwa seranganku tidak sanggup menggoresnya. Akan tetapi, ketika dirinya mengingatkan bahwa aku telah tenggelam dalam kemarahanku sendiri dan berakhir menjadi seperti iblis rendah menyedihkan, aku berusaha menekan emosiku.
Nah, sekarang, setelah kami akhirnya sedikit mengerti dengan tujuan satu sama lain, Demigod mulai membuka topik utama dengan wajah seriusnya.
"Saya berasumsi bahwa Anda sudah tahu mengenai domain iblis di Kerajaan Ignis."
Tidak peduli apakah dia melihatku dengan mata tertutupnya atau tidak, aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban dari pertanyaannya. Di luar dugaan, dia menyadari responku. Apakah sebenarnya dia dapat melihat dalam keadaan memejamkan mata?
"Pemimpin dari domain itu adalah salah satu dari Seven Deadly Sins, Raja Keserakahan, Greed."
Mendengar pernyataannya, aku sungguh terkejut. Alma juga mungkin tenggelam dalam keterkejutan yang sama. Jika memang apa yang dikatakan olehnya benar, maka kemungkinan akan datangnya para penghuni langit sangat tinggi. Hal ini tentu saja membahayakan diriku juga.
Tunggu dulu, kenapa aku langsung memercayai ucapannya hanya karena dia adalah seorang pemimpin suatu aliran tertentu? Bukankah tidak ada bukti apa pun yang dapat mendukung argumennya?
"Apa kau pikir aku akan langsung percaya pada kata-katamu?"
Ketika aku membalasnya dengan kalimat seperti itu, Demigod kembali menyunggingkan senyum menyebalkannya.
"Kalau begitu, kenapa Anda tidak datang ke sana dan memeriksanya sendiri? Jika apa yang saya katakan itu benar, bukankah Anda akan diuntungkan dengan adanya seorang raja iblis di bawah pimpinan Anda?"
Aku benar-benar tidak mengerti dengan isi kepala wanita ini.
Jika apa yang dikatakannya benar, bukankah menuntunku untuk bertemu dengan Greed malah akan merugikannya? Kalau itu aku, daripada menuntun musuh menuju salah satu bawahan terkuatnya, akan lebih baik untuk menjauhkannya seraya berusaha untuk menyingkirkan masing-masing dari mereka.
Tunggu dulu, bukankah seluruh negeri sedang mengumpulkan pasukan untuk melawan Greed? Kalau begitu, apakah dia ingin membuatku bergabung dengan Greed dan memicu perang skala penuh antara dunia bawah melawan dunia fana?
Tawaran ini cukup menggiurkan. Namun, perang besar dengan kekuatan mentah bukanlah ide yang bagus. Para penghuni langit pasti akan ikut campur dengan peperangan. Jujur saja, aku tidak mau menghadapi Hestia tanpa pasukan yang memadai.
Ah, lagi-lagi aku langsung memercayai pernyataannya. Tidak ada jaminan bahwa domain iblis memang dipimpin oleh Greed. Bisa jadi dia hanya mengumpankanku ke sana dan ikut melenyapkanku ketika seluruh dunia menyerang tempat tersebut.
"Asal Anda tahu, saya bisa menghabisi Anda di sini sekarang juga jika saya mau. Saya tahu betapa lemahnya kalian berdua dalam tubuh manusia dan seberapa tidak menguntungkannya untuk membiarkan kalian mati di sini."
Orang ini ... apakah dia membaca pikiranku? Benar-benar seseorang yang menjengkelkan.
Kalau begitu ...
"Aku akan mencoba melakukan telepati dengan Greed. Jika dia memang benar ada di dunia fana, seharusnya dia bisa menjawabku."
"Kau bahkan sanggup menggunakan sihir yang sudah dihapus sejak lama oleh Sang Pencipta?"
Ha? Kenapa wanita ini malah terkejut hanya karena sesuatu seperti itu? Jujur saja, kesan misterius yang sejak tadi dia tunjukan jadi hancur begitu saja.
Tunggu sebentar. Sihir yang dihapus oleh Sang Pencipta? Tidak mungkin ... jangan-jangan sesuatu sudah berubah lagi.
Aku mengabaikan wanita yang masih kehilangan ketenangannya dan langsung menoleh pada Alma. Kemudian, aku bertanya padanya.
"Apakah sihir telepati itu tidak ada?"
Alma terdiam untuk beberapa saat, lalu menggelengkan kepalanya.
"Sejauh yang aku tahu, tidak ada sihir seperti itu."
Kelihatannya anak ini tidak berbohong. Padahal sejak aku berada dalam tubuh ini, Alma sering melakukan telepati denganku. Aneh rasanya melihat dia sama sekali tak mengingat hal itu. Kalau begitu, sudah kukonfirmasi bahwa terjadi perubahan lain di dunia ini.
Oh, kelihatannya aku mulai terbiasa dengan hal-hal yang berhubungan dengan perubahan dunia.
"Yah, mari lupakan tentang apa yang kuucapkan barusan. Kembali ke topik utama. Jika memang Greed ada di sana, kenapa kau tak meminta bantuan Hestia? Jujur saja aku tidak percaya padamu."
Mendengar pertanyaanku, dia menghapus keterkejutannya dan berbicara seperti sebelumnya.
"Sang Dewi adalah sosok yang seharusnya disembah, bukan untuk dimanfaatkan dan dimintai bantuan. Kami sudah menyiapkan rencana, seharusnya masalah ini dapat terselesaikan dengan baik."
Aku mengerutkan dahi saat mendengar perkataannya. Kupikir dia ini orang yang cukup berbahaya mengingat seranganku tidak dapat melukainya. Memang benar bahwa diriku cukup terancam olehnya, tetapi dia terlalu percaya diri dengan kekuatannya dan loyalitas tidak normalnya pada Hestia benar-benar mengejutkan.
"Apa kau meremehkan Greed? Walaupun pasukannya masih sedikit, dia tetaplah salah satu dari Seven Deadly Sins. Kau akan menyesal jika meremehkannya."
"Bukankah Anda yang terlalu meremehkan kami? Setiap negara mengirim 40% dari jumlah kekuatan militer mereka. Setidaknya ada sekitar dua juta prajurit yang akan menyerbu domain. Saya yakin Anda sekalipun akan kesulitan menghadapi pasukan sebanyak itu."
Apa yang dia katakan memang benar. Walaupun kekuatan penuhku mampu untuk menghabisi sebuah negara hanya dalam satu malam, menghadapi prajurit sebanyak itu bukanlah perkara yang mudah. Sihirku terbatas dan membunuh dengan pedang masih akan menguras seluruh mana-ku hingga kering. Setidaknya butuh waktu sekitar satu bulan untuk menghabisi seluruh pasukan.
Yah, itu hanya akan terjadi jika aku dalam keadaan penuhku.
Kasusnya berbeda jika hanya raja iblis dan sedikit pasukannya. Dia mungkin bisa bertahan hingga berbulan-bulan, tetapi apa yang akan dia lakukan jika wanita ini dan Enam Pendeta menyerangnya bersama-sama setelah perang berakhir? Aku tidak tahu siapa yang akan memenangkannya. Namun, kalaupun dia menang, aku tidak yakin para penghuni langit akan membiarkannya begitu saja.
Mereka pasti akan tahu ketika sebuah perang dunia terjadi di dunia fana. Kemudian, ketika mereka melihat bahwa agama yang menopang dunia fana runtuh, sudah pasti akan ada yang turun untuk memeriksanya. Sisanya sudah tidak perlu kuceritakan.
Intinya, menang atau kalah, Greed akan tetap mati. Jika dia mati, pasukanku secara tidak langsung mengalami pelemahan. Parahnya lagi, aku pasti akan ditemukan oleh Hestia begitu mereka turun ke dunia fana.
Apa yang harus kulakukan?
Saat aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri, Demigod kembali berbicara.
"Sebenarnya alasan saya memanggil Anda kemari adalah karena saya memiliki proposal yang akan menguntungkan kita berdua. Apakah Anda mau mendengarnya?"
Kurasa tidak ada salahnya jika aku mendengarkannya. Jadi, aku menganggukan kepala dan mempersialakannya untuk berbicara.
"Saya ingin Anda mengunjungi domain iblis dan meyakinkan Greed untuk mencegah meletusnya peperangan. Sebagai imbalannya, saya akan membiarkan Anda dan pasukan yang berada di bawah naungan Anda untuk sementara."
Ha? Apa-apaan dengan perjanjian itu? Jika aku melakukannya, peperangan hanya akan diundur untuk sementara. Pada akhirnya, perang yang jauh lebih besar akan menanti mereka.
"Apa alasan yang mendasarimu untuk mengambil langkah ini? Bukankah kau akan rugi di masa depan?"
Demigod menghela napasnya untuk beberapa saat. Dia terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu. Kurasa beban nasib seluruh ras yang berada di pundaknya membuat wanita ini cukup tertekan.
"Jika peperangan terjadi, tidak akan terhitung berapa jumlah korban yang berjatuhan. Keluarga yang ditinggalkan juga akan menderita sampai sisa hidup mereka. Namun, jika kami tidak melawan, Greed akan menghancurkan dunia ini sampai tidak tersisa. Saya tidak ingin kedua hal ini terjadi."
Apakah ini adalah pandangan pribadinya? Dia sepertinya sosok yang cukup penyayang sampai-sampai memikirkan para prajurit yang akan menjadi korban.
Oh, kalau aku tidak salah ingat, seluruh negeri bahkan dilarang keras untuk berperang satu sama lain olehnya. Kurasa aturan itu muncul karena orang ini memang terlalu baik.
Betapa menggelikannya. Apa dia pikir dunia ini akan mencapai kedamaian tanpa ada yang harus dikorbankan? Dia pasti akan hancur oleh kenaifannya sendiri suatu saat nanti.
"Lalu, kenapa kau akhirnya memilihku untuk membujuk Greed? Aku tahu bahwa aku bisa melakukannya dan mencegah perang kali ini. Namun, kurasa kau juga tahu bahwa aku mungkin akan membawakan perang yang jauh lebih besar di masa depan."
Menanggapi pertanyaanku, Demigod membalasnya seraya tersenyum.
"Karena saya tahu Anda tidak akan membawa kehancuran seperti Greed. Bahkan Anda sekalipun tidak ingin mahakarya yang Anda buat hancur begitu saja, 'kan?"
Wanita ini, dia tahu tujuan akhirku. Jelas dia bukanlah makhluk dunia fana seperti yang lainnya. Kurasa wanita ini sudah hidup sejak dunia fana masih sebuah konsep dan menyaksikan bagaimana aku diusir.
Ucapannya membuatku memikirkan sesuatu. Kira-kira berapa banyak penghuni langit yang menyaksikan hari itu dan menyadari tujuanku?
Yah, mari kesampingkan dahulu tentang masalah ini.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke sana dan mencegah perang ini."
Demigod menunjukan senyumnya sekali lagi sebelum mempersilakan kami untuk keluar. Dia mengatakan bahwa Carmen sudah menunggu di luar dan akan langsung mengirim kami menuju tempat Greed berada.
Betapa beruntungnya. Jika tidak ada gadis pendeta ini, kami harus mengarungi lautan dan menaiki kereta kuda selama berbulan-bulan hanya untuk sampai di sana. Jujur saja aku tak sanggup membayangkan betapa merepotkannya itu.
Setelah menemui seseorang yang disebut sebagai Demigod, aku mendapatkan beberapa kesan mengenainya. Dia jelas seorang malaikat, bukan makhluk fana. Namun, aku tidak tahu seberapa tinggi kedudukannya di Kerajaan Langit dan ke mana sayapnya. Kedua, orang ini terlalu naif dan mementingkan nyawa orang lain. Mungkin memang begitulah para malaikat. Aku tidak pernah bisa mengerti dengan pola pikir mereka yang terlalu pengasih.
Yah, setidaknya berkat kenaifannyalah aku bisa mendapatkan pasukan yang kuat dan aman dari Hestia untuk beberapa waktu ke depan.
Mari buat hubungan yang baik dengan pihak kuil dan tusuk mereka dari belakang begitu ada kesempatan.
***
Ruang Takhta, sekitar setengah jam setelah kepergian El dan Alma.
Seorang wanita berambut perak --Demigod-- tengah memandang patung dewi yang kini sudah tak berbentuk. Dia mengambil beberapa puing batu yang berasal dari patung itu, lalu menunjukan raut wajah penuh penyesalan.
Suasana hening tiba-tiba pecah oleh suara misterius yang datang dari balik salah satu pilar batu.
"Apa kau tidak akan menyesali ini? Aku yakin orang itu sedang mengejekmu dan menilaimu sebagai sosok pemimpin yang naif. Kau adalah seorang pemimpin, setidaknya jangan mempermalukan dirimu sendiri."
Menanggapi suara tersebut, Demigod membalasnya tanpa menoleh ke arah sumber suara.
"Memang itulah yang kuincar. Setidaknya dia tak akan mewaspadaiku. Demon God, berbeda dengan Ratu Sihir Hecate maupun iblis tingkat tinggi lainnya, dia adalah anak yang sangat waspada. Jika aku ingin memanfaatkannya, maka inilah langkah yang harus kuambil."
"Sungguh menggelikan. Aku bahkan tak percaya simbol kejahatan maupun kebaikan memiliki kelicikan yang sama. Tidak heran jika Pencipta meninggalkan dunia yang aneh ini."
Demigod tertawa saat mendengar perkataan seperti itu.
"Sudah kubilang bahwa dunia ini menarik, 'kan? Tidak ada yang namanya baik atau jahat. Semua tergantung pada siapa yang memegang kendali dan bagaimana caramu melihatnya."
"Kau benar. Kurasa memang seperti itulah dunia seharusnya berjalan." Suaranya berhenti, tetapi kembali terdengar beberapa saat kemudian. "Aku penasaran, sebenarnya kau berada di pihak siapa? Para iblis ataukah Hestia?"
Demigod melemparkan batu di tangannya ke arah patung Sang Dewi. Dia tidak menunjukan penghormatan apa pun di hadapan patung dari figur yang seharusnya dia layani.
"Aku memihak pada dunia ini. Dewi Hestia tidak terlalu kompeten sebagai seorang dewi dan sangat tidak berpengalaman, Undead God tidak memiliki motivasi yang cukup, sementara Demon God terlalu angkuh dan tidak peduli dengan nyawa seseorang. Sejujurnya jika kau mau terlibat, aku akan mendukungmu. Bukankah bagus jika kau mengambil peran sebagai pencipta itu sendiri?"
Suara tawa bisa terdengar dari balik pilar batu.
"Jangan bercanda, posisiku hanyalah Kursi Kedua dari Enam Pendeta. Kau yang memegang Kursi Pertama sekaligus Gelar Demigod lebih cocok untuk posisi itu."
"Kursi Kedua Pendeta hanyalah sebuah jabatan kosong belaka yang kau minta dariku. Sejujurnya jika diurutkan berdasarkan kekuatan dan kebijaksanaan, kau akan berada di Kursi Pertama."
Suasananya menjadi hening ketika Demigod menyinggung masalah jabatan. Kelihatannya sosok yang diajaknya bicara tidak terlalu menyukai topik ini.
Beberapa saat kemudian, Demigod kembali berbicara.
"Berkatmu, pertemuannya dengan Greed tidak berjalan mulus. Aku tidak percaya kau dapat memengaruhi iblis tinggi seperti Greed dan Garfagos hanya dengan dua kali pertemuan."
"Mereka hanya makhluk bodoh. Menggiring opini mereka tidak terlalu sulit."
"Walaupun begitu, aku masih tidak habis pikir kau dapat menghindari suluruh serangan raja iblis tanpa terluka. Kalau saja kau mau meminjamkan kekuatanmu padaku, aku tidak akan kerepotan seperti ini."
"Jangan harap aku akan menjadi budakmu. Aku terlalu berharga untuk berada di bawah perintah orang lain. Majikanku hanya satu dan akan terus seperti itu."
Demigod tidak membalas kata-kata itu. Dia hanya diam sampai suara tersebut mengucapkan kalimat perpisahan.
"Aku akan pergi sekarang. Berjuanglah untuk memelihara dunia rusak ini. Aku akan terus mengamati sampai masa kontrak kita selesai."
Setelah ucapannya selesai, keberadaannya lenyap begitu saja. Hanya menyisakan Demigod yang masih berdiri menghadap patung Sang Dewi.
----------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 27 Juni 2020 pukul 12:00 PM
Note :
-