RE:Verse

RE:Verse
21.II Jebakan



"Memberi tahukan kedatangan Yang Mulia Putri Selenia!"


Bersamaan dengan teriakan dari seorang prajurit wanita yang sebelumnya menjaga pintu, kami memasuki ruangan takhta. Pandanganku terus beralih, menatap pemandangan sekitar yang terasa familier.


Pilar-pilar besar dihias menggunakan batu sihir yang terus memancarkan cahaya, memberi penerangan yang cukup untuk ruangan luas ini. Dinding-dindingnya juga ditanami batu sihir yang sama dan dihias oleh kaligrafi rumit tetapi menampilkan kesan elegan yang unik. Kurasa butuh banyak usaha dan ketetekunan untuk menghias ruangan megah ini.


Kaki kami melangkah di atas karpet merah yang digelar hingga ke bagian dasar tangga. Sementara itu, tepat diujung tangga, sebuah kursi logam indah berhiaskan permata ditempatkan.


Aku sempat melirik seseorang yang sedang duduk di kursi luar biasa itu, tetapi langsung menundukan kepala tidak lama kemudian. Selama sepersekian detik aku menatapnya, pandanganku juga berhasil menangkap beberapa sosok prajurit wanita yang berdiri tepat di bawah tangga, berbaris rapi di samping kiri dan kanan karpet merah seraya menggenggam kapak perang besar.


Semakin dekat aku melangkah, perasaan tidak nyaman dan menyesakkan mulai muncul dan kian parah. Tubuhku sampai sedikit gemetar, basah oleh keringat dingin yang mengalir. Walaupun begitu, aku berusaha tetap tenang dan terus melangkah.


Ketika kami mulai berlutut dan menundukan kepala, aku sempat melirik Alma yang berlutut di samping kananku. Dia juga tampak tersiksa di ruangan megah ini.


Sialan, tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa berada di dekat Glastila saja akan setidak nyaman ini. Jika saja aku dan Alma tidak sedang menyegel kekuatan kami, aura ketidaknyamanan Glastila tidak akan memberikan efek seperti ini sama sekali. Tekanan dari mana suci miliknya benar-benar mengganggu.


"Yang Mulia Putri Selenia! Syukurlah kami bisa bertemu dengan Anda di sini!"


Tiba-tiba suara menyedihkan seorang pria memecah ketidaknyamanan yang kurasakan. Secara reflek aku memandang ke arah sumber suara dan mendapati tiga orang pria kurus tengah berlutut tidak jauh di depanku. Semua pandangan mereka mengarah kepada kami, menunjukan wajah penuh kelegaan yang bercampur dengan bau ketakutan pekat. Selain itu, mereka juga memancarkan aura ketidaknyamanan yang cukup mengganggu.


Mari kesampingkan dulu identitas mereka.


Barusan mereka mengatakan sesuatu tentang Selenia, 'kan? Siapa yang sedang mereka bicarakan?


"Berhenti memanggilku dengan gelar itu! Aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga kerajaan!"


Cellica tiba-tiba membentak dengan nada yang keras. Hanya dari kata-kata yang terucap darinya, aku dapat mengenali kemarahannya yang tersulut.


Jadi, Selenia itu nama Cellica yang sebenarnya? Apakah ada alasan khusus yang membuat dirinya sampai repot-repot mengganti nama? Tunggu dulu! Dia bilang keluarga kerajaan, 'kan? Dia ini seorang putri raja atau bagaimana?


"Yang Mulia Putri, kami mohon pulanglah bersama kami! Kondisi beliau sudah semakin parah dan salah satu permintaannya adalah melihat Anda untuk terakhir kaliny--argh?!"


Sebelum pria menyedihkan itu selesai berbicara, telapak tangan kirinya yang sejak tadi menyentuh karpet merah tiba-tiba hancur. Aku sekilas melihat sebuah tombak logam baru saja melesat dan menancap tepat di tangan kirinya. Bola mataku yang tajam sanggup menangkap pergerakan sangat cepat itu dengan cukup mudah. Alma juga mungkin menyadarinya dan langsung tahu siapa pelaku di balik pelemparan itu.


"Heh~ Aku sudah berbaik hati mengizinkan sampah seperti kalian memasuki istanaku. Namun, kalian bahkan tak menghargaiku dan berbicara sebelum aku memberikan izin. Yah~ seperti yang diharapkan dari anak buah si tua bangka."


Suaranya yang sangat familier dan pemilihan kata yang cukup pedas. Sudah lama aku tidak mendengarnya. Kupikir setelah aku membunuhnya, satu-satunya reuni kami adalah di neraka. Tidak kusangka aku akan melihatnya lagi di dunia fana. Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Dwarf, Glastila la Goldmace Arbellion. Aku bahkan langsung mengingat kembali nama lengkapnya.


Dia menggunakan gaun perang merahnya seperti biasa seraya memeluk empat buah tombak logam berwarna perak. Sementara itu, peralatan tempur utamanya yang berupa pedang dua tangan dan sebuah perisai perak dengan prioritas pembunuh dewa disenderkan di samping kiri dan kanan kursi takhta yang sedang didudukinya. Ekspresi arogan yang terlukis di wajah khas anak-anaknya sama persis seperti yang sering kulihat sebelumnya.


Yah, melihatnya benar-benar membuatku bernostalgia. Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama mencuri pandang kepadanya. Kalau tidak, bisa-bisa salah satu tombak akan meluncur ke arahku juga.


"Beraninya Anda menyerang seorang delegasi!"


Merasa tidak terima, salah satu dari tiga pria yang baru kusadari bertelinga panjang dan bertubuh setinggi manusia dewasa normal mulai bangkit dari posisi berlututnya. Dia kelihatan sangat marah.


"Beraninya kau berbicara tidak sopan kepada Yng Mulia!"


"Kalian sampah kurang ajar! Mati saja tidak akan cukup untuk menebus dosa kalian!"


Enam prajurit yang sejak tadi berdiri di dasar tangga tempat ujung karpet berada mulai mengacungkan kapak mereka kepada ketiga pria menyedihkan itu. Mereka yang mendapatkan tindakan ofensif mulai memancarkan rasa takut yang kian mengental.


Saat suasana semakin menegang dan prajurit-prajurit miliknya melangkah ke arah ketiga pria itu seraya mengacungkan kapak, Glastila mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat untuk menghentikan para prajurit tersebut. Sayangnya, posisi mereka sedang membelakangi Glastila sehingga tidak ada yang memperhatikan. Ketika dia menyadarinya, Glastila segera mengucapkan perintah dengan suara yang lantang.


Betapa cerobohnya orang ini.


"Cukup!" Semua orang berhenti bergerak seraya beralih memandangnya. "Usir keluar mereka semua. Bawa juga Selenia keluar untuk menyelesaikan urusannya dengan mereka."


"Tu-tunggu dulu, Bibi!" Cellica tiba-tiba panik. Mungkin dia tidak menyangka bahwa dirinya akan ikut diusir juga. "Aku tidak mau bicara dengan mereka!"


"Berisik! Jangan panggil aku bibi!" Suara Glastila semakin meninggi. Amarahnya mungkin baru saja tersulut. "Kalian berenam, seret mereka berempat keluar sekarang juga!"


Menanggapi perintah tersebut, para prajurit mulai mencengkram tangan mereka dengan kasar dan menyeret semua orang kecuali diriku dan Alma. Keempatnya berontak sekuat yang mereka bisa, tetapi kekuatan yang dimiliki oleh setiap prajurit berada pada dimensi yang berbeda. Bahkan aku sekalipun mungkin akan kesulitan untuk melepaskan diri jika diseret seperti itu.


"Yang Mulia! Pembicaraan kita belum selesai!"


"Kami akan menuntut Anda atas penghinaan ini!"


"Bibi! Tolong biarkan aku tetap di sini!"


Semua orang sudah keluar sekarang. Orang yang tersisa di sini hanyalah diriku, Alma, dan Glastila. Kami berdua masih berlutut seraya menundukan kepala, tidak menatap ke arah Glastila secara langsung.


Suasana ruangan takhta yang sebelumnya ramai kini jatuh ke dalam keheningan. Aku dan Alma masih dalam posisi yang sama sementara Glastila tidak mengatakan apa pun. Lalu, ketika aku mulai merasa semakin tidak nyaman, Glastila tiba-tiba berbicara.


"Nah, sekarang ... "


Nada Glastila tidak seperti sebelumnya. Kali ini dirinya berbicara dengan nada yang datar. Dia juga tidak menyelesaikan kalimatnya. Hal ini tentu saja membuatku sedikit tidak nyaman. Apalagi saat kurasakan bahwa pancaran ketidaknyamanan yang dia keluarkan mulai meningkat dengan signifikan, menandakan bahwa mana suci miliknya memancar ke segala arah. Satu-satunya alasan yang dapat kusimpulkan tentang mengapa mana miliknya terpancar keluar hanyalah bahwa dia sedang menggunakannya. Namun, kenapa dia menggunakannya di tempat seperti ini tanpa adanya musuh di sekitarnya?


Tidak, tunggu dulu. Mengingat pertarungan Alma sebelumnya ketika dia melawan archdemon, beberapa orang menganggap bahwa Alma adalah seorang kontraktor. Walaupun hal ini tidak disebarkan secara luas, Carmen tahu mengenai ini dan tidak aneh jika dirinya melapor kepada petinggi kuil. Kemudian, karena Glastila juga salah satu petinggi di kuil, dia pastinya tahu mengenai informasi tersebut.


Kalau dipikir-pikir, agak tidak masuk akal kenapa seorang petualang dibawa ke ruang takhta. Terlebih lagi, tempat yang didatangi adalah ruang takhta dari Kekaisaran Dwarf. Mungkin Cellica juga menyewa kami bukan karena kebetulan. Sejak awal kedatangan kami sudah direncanakan olehnya. Dengan kata lain, apakah sejak awal kedatangan kami ke sini adalah untuk menjebak Alma?


Kalau begitu ...


Aku melirik ke arah Alma yang sedang berlutut di samping kananku. Tangan kirinya sedang memakaikan topeng ke wajahnya sementara tangan kanannya meraih salah satu belati hitam miliknya.


Yah, walaupun dirinya agak ceroboh, Alma tetaplah acient demon yang berhasil selamat dari Hutan Neraka semasa kecilnya, bahkan sampai menjadikan Hutan Neraka sebagai tempat tinggalnya selama puluhan ribu tahun. Instingnya dalam bertahan hidup merupakan yang paling peka di antara iblis lainnya.


Masalahnya adalah, dengan kekuatan kami yang sekarang, menghadapi Glastila itu terlalu merepotkan. Setidaknya aku harus mencari cara untuk kabur saat Alma menanganinya.


Pada saat diriku masih jatuh ke dalam pikiranku sendiri, suara dentuman logam tiba-tiba terdengar begitu keras ketika sebuah tombak menghantam topeng Alma dengan kuat. Tombak itu terpental dan berputar di udara sementara tubuh kecil Alma hanya bergeser beberapa senti dari tempatnya semula. Dia mungkin memusatkan kekuatan pada tangan dan kakinya untuk menahan momentum yang dihasilkan dari hantaman tersebut.


Ah, ini sangat buruk. Glastila benar-benar menyerang kami tanpa menahan diri.


Dentuman kedua adalah pada saat tombak lainnya beradu dengan belati hitam. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tombak tersebut terbelah menjadi dua dan melewati kedua sisi kepala Alma.


Kedua serangan beruntun itu hanya berlangsung kurang dari satu detik. Kalau saja diriku adalah manusia, aku tidak yakin dapat melihat lintasan kedua tombak dan pergerakan Alma yang sangat cepat.


Ketika kedua bola mataku fokus pada bagaimana Alma menangani lemparan tombak yang datang dari depan, instingku tersulut oleh sesuatu yang mengarah padaku. Hal ini membuatku segera mengalihkan pandangan ke depan hanya untuk mendapati dua buah tombak melesat ke arahku secara beruntun.


Orang ini menyerangku?! Apakah dia adalah tipikal ******** yang suka menyerang orang lemah terlebih dahulu untuk menanamkan rasa depresi kepada musuhnya? Sialan, bagaimana caraku untuk menghindarinya?!


Melompat untuk menghindar itu tidak tepat. Aku tidak yakin tubuh lambat ini sanggup menghindar tepat waktu. Kalau aku hanya melakukan gerakan penghindaran yang kecil tanpa berpindah dari tempatku sekarang, aku khawatir akan terhempas oleh angin yang tercipta dari pergerakan tombak-tombak itu. Belum lagi adanya kemungkinan bahwa tombak tersebut dilengkapi dengan rune jenis angin. Bisa-bisa tubuhku terkoyak jika aku menghindarinya dengan ceroboh.


Harapan terakhirku hanyalah Alma. Namun, ketika aku meliriknya untuk sesaat, dia kelihatannya tidak akan bisa menangkis tepat waktu. Gadis itu masih belum menyelesaikan ayunan belatinya yang beberapa saat lalu telah membelah tombak menjadi dua.


Kalau begitu, sepertinya hanya ada satu cara untuk menanganinya.


Circilum, itu adalah nama dari sarung tangan yang kupakai sekarang. Prioritasnya sama dengan senjataku yang lain, yaitu berada pada prioritas pembunuh dewa. Fungsinya tentu bukan hanya menyegel kekuatanku saja, tetapi juga mengkonversinya menjadi bentuk yang lain.


Jika belati milik Alma mengubah mana menjadi ketajaman dan ketahanan senjata, maka sarung tanganku sendiri meningkatkan jumlah kerusakan pada setiap pukulan. Mengingat diriku menyegel hampir semua mana-ku di dalamnya, bahkan seekor acient dragon sekalipun akan langsung mati jika aku memukulnya sekuat tenaga.


Sebenarnya aku enggan menggunakan ini karena peningkatan kekuatan pukulan yang dihasilkan tidak bisa diatur. Sebagai gantinya, aku harus mengatur seberapa kuat pukulanku. Kalau aku sampai berlebihan, mungkin akan terjadi bencana di dunia fana dan berakhir dengan menarik perhatian para penghuni langit. Namun, karena situasinya sekarang mendesak, tidak ada pilihan lain selain menggunakannya.


Mari kita sentuh sedikit saja, pukulan lemah dan lembut.


Tangan kiriku mengepal kuat, pada saat itu pula sensasi panas menjalar di sekitar kepalan tangan kiriku, seakan siap meledak kapan saja. Kemudian, dengan gerakan cepat tapi jumlah tenaga yang minim, aku memukul bagian bawah tombak yang melesat ke arahku, mementalkannya ke langit-langit yang kemudian hancur berkeping-keping.


Selanjutnya, tangan kananku menghantam ujung tombak kedua dan menghancurkannya tanpa kesulitan yang berarti.


Yah, berbeda dari bayanganku, mengendalikan sarung tangan ini ternyata cukup mudah.


Seakan tidak memberikan waktu bagiku untuk mempersiapkan diri dan menyusun rencana, bilah pedang dua tangan tebal berayun tepat ke arah leherku. Jaraknya sudah sangat dekat dan ayunannya benar-benar cepat. Kalau aku tidak segera mengambil langkah yang tepat, leherku bisa-bisa hancur oleh bilah pedang itu.


Jujur saja, aku merasa terancam untuk pertama kalinya sejak diriku memasuki tubuh ini. Kelihatannya kami tidak akan bisa kabur dengan mudah. Bahkan mungkin hanya kematianlah yang menungguku dan Alma.


---------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 25 April 2020 pukul 12:00 PM


Note:


Selamat menjalankan ibadah puasa! Sbenernya scene ini mau kubikin satu bab aja,  tapi karena kupikir jadi terlalu pendek kalo cuma jadi satu bab, maka kubuat dua bab.


Percaya atau nggak, biasanya ku nulis sambil ngemil di siang bolong. Sekarang krna puasa, otakku ngeblank dan gabisa nulis sama sekali. Bawaanya pen makan terus. Satu2nya waktu yang tepat buatku nulis sekarang cuma malem kisaran jam 9 heu.