RE:Verse

RE:Verse
14. Menuju Ibukota



Kereta kuda yang kami tumpangi adalah kendaraan yang beroperasi mengantarkan penumpang dalam wilayah kedudukan milik seorang marquis. Kota Trowell merupakan bagian paling ujung dari wilayah ini yang berbatasan langsung dengan Hutan Besar Eryas. Sementara itu, untuk menuju ke perbatasan terdalam, setidaknya dibutuhkan sekitar dua hari perjalanan.


Setelah sampai di perbatasan yang memisahkan wilayah marquis dengan wilayah seorang earl, kami akan berpindah kereta. Namun, sebelum kami melanjutkan perjalanan, dikarenakan hari sudah mulai gelap, Carla memutuskan untuk beristirahat di kota ini.


"Penginapan mana yang akan kita datangi?" Aku bertanya pada gadis itu tepat setelah kami menuruni kereta.


Menilai dari kondisi kami saat ini, seharusnya mendatangi mansion milik bangsawan feodal kota ini akan menjadi pilihan paling nyaman. Namun, aku ragu dia akan melakukannya. Oleh karena itu, aku bertanya mengenai lokasi penginapan yang akan kita pilih alih-alih menanyakan perihal mansion kepadanya.


Selama dua hari belakangan, Carla tidak sedikit pun menyinggung tentang statusnya sebagai ksatria. Dia bahkan menggunakan pakaian seorang petualang pada umumnya, memilih untuk menaiki kereta pengangkut yang biasa dinaiki oleh rakyat biasa, dan membayar pajak bepergian setiap kami memasuki atau keluar dari suatu wilayah. Jelas sekali bahwa dia bermaksud untuk menyembunyikan statusnya sebagai salah satu dari Dua Belas Zodiak.


Carla tidak langsung menjawab pertanyaanku. Sebagai gantinya, dia malah mengajak kami untuk makan malam di sebuah restoran mewah yang ada di kota ini. Setelah selesai, barulah kami menuju ke sebuah penginapan mahal dan memesan kamar paling mewah yang biasanya diperuntukan untuk tamu-tamu dari kalangan bangsawan dan pedagang kaya.


Harga sewa dari setiap kamarnya benar-benar tidak masuk akal. Carla mengeluarkan 24 koin emas untuk membayar ketiga ruangan yang kami tempati selama satu malam. Tempat ini lebih mirip komplotan perampok daripada sebuah penginapan.


Aku sendiri tidak menyamgka bahwa masing-masing kamar tidur kami terhubung dengan sebuah ruang tamu mewah yang bisa diakses secara bebas oleh kami bertiga. Tepat di tengahnya, sebuah sofa nyaman diatur menghadap meja kayu berkualitas tinggi yang diperindah dengan ukiran-ukiran rumit. Selain itu, lantai kayu yang kami injak juga dilapisi oleh karpet yang terbuat dari bahan kulit binatang asli.


Sekarang aku tahu kenapa harga sewanya sangat mahal.


"Baiklah, aku akan menjelaskan lebih rinci tentang undangan itu."


Kalimat seperti itulah yang pertama kali diucapkan oleh Carla ketika kami berada di ruangan tamu tersebut. Raut wajahnya sungguh terlihat serius, seakan informasi yang akan dia berikan adalah sesuatu yang sangat penting.


"Sebelumnya aku tak bisa mengatakannya karena ada Guild Master. Status Guild Petualang yang selalu memilih untuk netral membuat Raja sangat mewaspadainya."


Ah ... kurasa undangan yang dikirim oleh Raja bukanlah sesuatu yang sederhana. Memang sudah kuduga sebelumnya. Dilihat dari mana pun, kedatangan salah seorang dari 12 ksatria terhebat kerajaan untuk menemui seorang petualang di kota perbatasan bukanlah hal yang wajar. Jadi, pasti ada sesuatu yang mengikuti di balik undangan tersebut.


"Kalau begitu, Raja tidak akan hanya memberi kami hadiah, 'kan?" Aku bertanya padanya untuk memastikan.


Carla menganggukan kepalanya, mengambil salah satu kue kering yang sudah disediakan pelayan di atas meja beberapa waktu sebelumnya, lalu menggigit sebagian kecil kue tetsebut.


"Ada beberapa hal yang harus kusampaikan. Aku memilih penginapan ini karena memiliki ruangan khusus yang dilindungi oleh berbagai macam sihir anti penyadapan. Jadi, semua pembicaraan di ruangan ini tidak akan mudah untuk bocor keluar."


Jadi sejak awal dia sudah merencanakan semuanya dengan baik, ya? Kupikir Carla asal memilih penginapan mewah hanya untuk memanjakan kami. Namun, ternyata dia memilih ruangan ini karena tahu dengan tingkat keamanannya yang terjamin.


Aku jadi penasaran seberapa penting informasi yang akan dia bicarakan sampai-sampai melakukan hal merepotkan seperti ini dan mengeluarkan banyak biaya.


"Pertama, kami sudah tahu siapa kalian sebenarnya."


"Eh?!"


Mendengar ucapan Carla, Alma tampaknya kehilangan ketenangannya. Dasar bodoh, kalau kau membiarkan emosimu keluar dengan sangat jelas seperti itu, kita tidak akan bisa mengelak dan membantah tentang kenyataan bahwa aku memang menyembunyikan identitas asli kami.


Bahaya ... benar-benar bahaya. Bagaimana bisa mereka tahu tentang kami? Tidak, tidak. Alasan di baliknya tidaklah terlalu penting. Hal yang paling penting sekarang adalah tindakan seperti apa yang harus kuambil di situasi seperti ini.


Apakah aku harus membunuhnya? Jujur saja hal itu adalah ide yang buruk. Dia menggunakan kata 'kami' yang mengindikasikan bahwa bukan hanya Carla seorang yang mengetahuinya, melainkan para petinggi dari Kerajaan Cygnus juga termasuk. Benar-benar gawat.


"Hanya dengan melihat raut wajah kalian, sudah cukup bagiku untuk mengetahui kebenaran di balik informasi ini." Carla menyesap teh yang ada di atas meja dengan sikap yang santai.


Sial, aku tidak sanggup mempertahankan ekspresiku! Aku yakin kami berdua pasti terlihat pucat sekarang. Rasa khawatir sudah sepenuhnya menelan tubuh manusiaku hidup-hidup. Aku bahkan tidak sadar sudah berapa lama tubuhku kehilangan kemampuannya untuk berbicara.


"Tenang saja, hanya Raja dan orang-orang terpercayanya yang tahu mengenai informasi ini. Kalian bisa bernapas lega untuk sementara waktu."


Oh ... apakah mereka tidak berniat untuk memberi tahu Demigod tentang semua ini?


Benar juga. Jika aku memikirkannya dengan tenang, akan terasa aneh seseorang seperti Carla yang justru mendatangi kami. Normalnya, begitu mereka mengetahui tentang identitas kami, orang-orang ini akan melaporkannya ke Kuil Ortodoks. Kemudian sebagai imbas dari tindak pelaporan tersebut, Demigod akan datang untuk memusnahkan kami dengan tangannya sendiri atau setidaknya dia akan mengirimkan Enam Pendeta untuk melakukannya.


Mengetahui bahwa pihak kerajaan malah mengirimkan utusan alih-alih kedatangan para pendeta sudah lebih dari cukup bagiku untuk memahami bahwa Sang Raja tidak melaporkanku. Alasannya sederhana, mereka pasti ingin memanfaatkan diriku dan Alma. Keserakahan umat manusia memang gampang ditebak. Untunglah, berkat keserakahan mereka aku berhasil selamat dari sekenario terburuk yang bisa saja terjadi.


Tergantung situasinya, aku bisa berbalik memanfaatkan mereka juga. Jadi, untuk sekarang, aku akan memprioritaskan keamanan kami dan menerima segala proposal yang diajukan pihak kerajaan.


"Baiklah, aku mengerti. Tampaknya kalian mendapatkan kami."


Mendengar kata-kataku, Carla menyunggingkan senyumannya. Sudah kuduga pihaknya memang berniat untuk memanfaatkan kami berdua sejak awal. Mungkin hal ini jugalah yang membuat Carla enggan untuk berbicara di hadapan Guild Master.


"Kalau begitu, kalian tidak keberatan menerima syarat yang akan kami ajukan sebagai imbalan dari nyawa kalian, 'kan?"


Karena tidak ada jalan keluar lain, untuk sementara aku akan mengikuti permainan mereka. Suatu saat nanti pasti akan ada hari dimana pihak kerajaan menyesali pilihan yang telah mereka ambil.


"Kami akan menerimanya. Jadi, apa saja syarat-syarat tersebut?"


"Hm ...?" Kulihat Alma yang pada awalnya gemetar karena khawatir kini memiringkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia kebingungan.


Mantra perintah adalah sebuah mantra kutukan yang hanya terdapat pada dua jenis cabang sihir yaitu cabang dari sihir alam dan kegelapan. Dilihat dari dangkalnya pengetahuan makhluk dunia fana mengenai sihir kegelapan, kemungkinan besar mereka akan menggunakan sihir alam untuk mengaktifkan mantra tersebut.


Berdasarkan pengetahuanku, mantra perintah memiliki tiga tingkatan. Jadi, apa yang akan mereka gunakan tampaknya adalah tingkatan terakhir yang termasuk ke dalam sihir level tujuh.


Kalau begitu, apakah ada seseorang yang mampu menggunakan sihir dengan level menengah di dunia ini? Kupikir hanya orang-orang seperti Demigod dan Enam Pendeta saja yang sanggup melakukannya. Ternyata tidak selangka yang kubayangkan sebelumnya.


Dahulu sebelum aku terjebak oleh mantra ilusi Sang Pahlawan, sihir level tujuh bukanlah tingkatan yang spesial. Hampir semua penyihir dapat menggunakan mantra dengan level setinggi itu. Bahkan beberapa orang sanggup menembus gerbang ketuhanan dan gerbang kegelapan dimana mantra yang ada pada tingkatan tersebut melebihi mantra level sepuluh dan sulit untuk dihindari. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa pengetahuan mereka tentang sihir menjadi sangat dangkal.


Ah ... tinggalkan masalah ini untuk nanti.


Mantra perintah termasuk ke dalam kelompok sihir kutukan dimana mantra ini akan memengaruhi pikiran dan mental seseorang untuk melakukan perintah yang ditanamkan oleh Sang Perapal. Dengan kata lain, walau membatalkannya hanya membutuhkan mantra level delapan dan terbilang sangat mudah, mantra ini bahkan tidak akan berpengaruh sama sekali pada ras iblis yang memang sejak awal memiliki resistensi mutlak terhadap segala bentuk serangan mental. Kalau begitu, kenapa pihak kerajaan --yang tahu identitasku sebagai iblis-- ingin menanamkan mantra sia-sia kepada kami? Seharusnya pihak kerajaan bukan sekumpulan orang yang terdiri dari para idiot, 'kan?


Mereka tahu persis bahwa kami adalah iblis. Namun, mereka memutuskan untuk menanamkan mantra yang sama sekali tidak berguna. Mungkin hal ini juga yang sukses membuat Alma keheranan.


Atau jangan-jangan ...!


"Apakah kami diizinkan untuk tahu alasan di balik mantra tersebut?"


Mungkin keadaanku dan Alma sebenarnya tidak seburuk apa yang kami berdua pikirkan. Aku harus memastikannya terlebih dahulu. Semoga saja perkiraanku memang tepat.


Carla menghela napasnya untuk sesaat sebelum membalas perkataanku.


"Kurasa tidak masalah jika memberi tahu kalian sedikit informasi. Aku tahu bahwa kalian pasti khawatir dengan mantra asing yang akan memengaruhi pikiran kalian."


Sudah jangan banyak basa-basi, cepat katakan!


"Kami hanya akan menanamkan perintah untuk menghalangi pergerakan seseorang dalam perang di masa depan."


"Menghalangi pergerakan?"


"Kalian pasti tahu bahwa ayahmu, Marquis Canaria, adalah senjata terkuat yang dimiliki Kerajaan Ignis. Jujur saja, bahkan Dua Belas Zodiak tidak cukup kuat apabila harus melawan pasukan khusus yang dipimpin langsung olehnya. Jadi, kami memilih menggunakan kalian sebagai tameng untuk mencegahnya ikut ambil bagian dalam perang di masa depan."


Sudah kuduga. Mereka tidak tahu bahwa aku dan Alma adalah iblis. Kurasa identitas sebenarnya yang Carla maksud adalah kenyataan bahwa Yehezkiel dan Almaria merupakan keturunan langsung Marquis Canaria. Kalau begitu, tidak ada alasan bagi kami untuk mengkhawatirkannya.


Aku dan Alma menghela napas hampir bersamaan setelah tahu bahwa kami tidak sedang terancam bahaya apa pun.


"Hanya itu?" Sekarang giliran Alma yang bertanya.


"Hanya itu. Cygnus bukanlah kerajaan jahat tanpa moral. Tindakan seperti menjadikan kalian tawanan atau memaksa kalian untuk membunuh ayah kalian sendiri akan menodai kehormatan kerajaan yang sudah susah payah dibangun dengan darah dan keringat para leluhur. Jadi, kalian tidak perlu khawatir."


Sebenarnya, mau sekeji apa pun perintah yang akan mereka tanamkan kepada kami, aku sama sekali tidak peduli. Toh semua perintahnya tidak akan berpengaruh padaku. Jadi, tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi.


"Kami memprediksi akan adanya sabotase yang mungkin mengakibatkan peperangan antara Kerajaan Cygnus dengan Kerajaan Ignis. Jadi, kami melakukan ini sekadar untuk mengurangi kerugian di pihak Kerajaan Cygnus jika memang terjadi perang."


Peperangan, ya? Memang benar aku tidak terlalu peduli dengan segala urusan politik di antara makhluk dunia fana. Namun, perang adalah salah satu hal yang cukup membuatku tertarik. Aku ingin tahu sabotase macam apa yang dia maksud sampai-sampai bisa mengakibatkan perang. Walaupun begitu, bertanya langsung kepadanya bukanlah ide yang bagus.


Aku adalah petualang muda dan mantan keturunan aristokrat kerajaan musuh yang sedang dalam pelarian. Jika aku bertanya mengenai urusan internal kerajaan ini, mungkin aku akan dicurigai sebagai mata-mata.


"Baiklah, kami menerima proposal ini dengan sukarela."


Aku mengabaikan rasa penasaranku dan mengungkapkan persetujuanku pada Carla. Syukurlah mereka masih belum tahu sosok asli di balik tubuh manusia ini. Di masa depan aku harus lebih hati-hati dalam mengolah informasi yang kudapatkan agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti ini lagi.


-------


Dipublikasikan di Mangatoon Pada Hari Sabtu, 09 November 2019


Pukul 11:50 AM


Note: Hanya memperingatkan, aku gak suka ada yang promosi di kolom komentar karyaku. Jika hal ini terus terjadi, mungkin aku akan hiatuskan karya ini dari Mangatoon.


"Hiatus ya tinggal hiatus aja, emang ada yang baca gitu?"


Urusai!