
Alpha memanggil beberapa serigala untuk ikut menyaksikan pembicaraan antara aku dengan anak manusia di hadapanku. Dia mungkin berpikir bahwa ini bisa menjadi pembelajaran mengenai percakapan di antara manusia. Jadi, dia memilih beberapa werewolf yang menurutnya cukup cerdas untuk mempelajari kami.
Aku memang tidak keberatan dengan apa yang dia lakukan. Namun, bukan berarti bahwa aku merasa senang menjadi bahan tontonan seperti ini. Yah, pada akhirnya aku tidak terlalu peduli juga dengan hal-hal sepele seperti itu.
"Bagaimana? Apakah sudah merasa baikan?"
Aku bertanya pada anak manusia di hadapanku yang baru saja menghabiskan segelas air. Sekarang dia sudah tidak diikat lagi dan dapat duduk dengan nyaman di atas terpal kulit seekor beruang. Pancaran ketakutannya pun sekarang telah sangat pudar. Kelihatannya dia sudah mememercayaiku sepenuhnya.
"Y-ya. Terima kasih untuk semua bantuanmu."
Ah ... rencanaku untuk menenangkan dan membangun kepercayaan terhadapnya sudah membuahkan hasil. Sekarang tinggal penggalian informasi.
"Sebelumnya perkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Yehezkiel, seorang petualang dari Kota Trowell. Kau bisa memanggilku El. Boleh aku tahu siapa namamu dan bagaimana kau bisa sampai kemari?"
Setelah mendengar ucapanku, bocah lelaki itu mengangguk sebelum membalasnya.
"Aku Adrian dan berasal dari Desa Ontaria. Beberapa hari yang lalu desaku diserang monster dan hancur." Dia menundukan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Menilai dari kata-kata dan raut wajahnya, sepertinya akan sedikit menyusahkan untuk memaksanya bicara. Akan kucoba untuk menggalinya secara perlahan. Lagipula seperti yang kubilang sebelumnya, waktuku cukup senggang.
"Ontaria? Apakah letaknya dekat dengan Kota Trowell?"
Jujur saja aku tidak begitu tahu nama-nama tempat di wilayah manusia. Apalagi pada saat aku dipanggil oleh mantra necromancy 3.000 tahun yang lalu, wilayah manusia sudah mengalami kerusakan yang besar akibat amukan Seven Deadly Sins. Jadi, apa yang kutahu hanyalah nama-nama kerajaan besar yang cukup berpengaruh pada masa itu.
"Aku bahkan tidak tahu Trowell itu di mana. Desa kami terpencil dan letaknya sangat dekat dengan Hutan Besar Eryas. Jadi, aku tidak tahu."
Aneh rasanya menyadari bahwa dia berbicara dengan cukup lancar. Kupikir anak ini akan mulai menangis dan menyebabkan masalah padaku. Tidak kusangka dia dapat menahan emosinya agar tidak meluap dan bertingkah dengan tenang.
Trowell adalah pusat dari wilayah perbatasan terdekat. Walaupun terpencil, seharusnya para penghuni desa yang tinggal di sekitar sini tidak mungkin merasa asing dengan nama Kota Trowell. Aneh jika mereka bahkan tidak mengetahuinya.
Kalau begitu, apakah dia datang dari desa di luar wilayah Kota Trowell?
"Bagaimana dengan Tanah Feodal desamu? Kota mana yang jaraknya lebih dekat?"
Tanah Feodal mengacu kepada kota yang menjadi pusat dari desa-desa itu sendiri. Sebagai contoh, Trowell yang menjadi pusat dari beberapa desa di sekitarnya. Biasanya Tanah Feodal ditempati oleh bangsawan feodal yang mengatur wilayah tersebut dalam pengumpulan pajak, pelayanan publik, dan lain sebagainya.
"Desaku adalah bagian dari Kota Mobra."
Kota mana lagi itu? Aku benar-benar baru mendengarnya sekarang. Andai saja ada Alma atau manusia lain di sini yang tahu tentang letak geografis suatu wilayah kerajaan.
"Apa kalian tahu di mana Kota Mobra?" Aku bertanya pada Alpha dan anak buahnya yang sejak tadi hanya menonton kami. Tentu saja aku tidak terlalu mengharapkan jawaban dari para sampah ini. Yah ... setidaknya aku harus mencoba semua kemungkinan walau tingkat kesuksesannya kecil.
"Kami tidak tahu apa pun selain wilayah di dalam hutan." Alpha berbicara mewakili para werewolf di sampingnya.
Sesuai dengan apa yang telah kuperkirakan, mereka semua tidak tahu apa-apa tentang kota di luar hutan. Sekali makhluk bodoh, akan tetap menjadi makhluk bodoh sampai mereka mati.
Yah ... terserahlah. Lagipula sepertinya tidak begitu penting. Sekarang aku sudah tahu bahwa alasan dia masuk ke hutan adalah karena kabur dari monster yang telah menghancurkan desanya. Cukup masuk akal memang, tetapi bukan pilihan yang bagus. Harusnya dia pergi ke kota alih-alih masuk ke dalam hutan.
Kurasa sebentar lagi akan ada quest besar tentang penaklukan monster.
"Jadi, kau satu-satunya yang selamat?" Aku bertanya untuk memastikan.
Mendengar pertanyaanku, dia hanya menunduk seraya menganggukan kepala. Walaupun memang terlihat sedih, dia bahkan sanggup menahan luapan emosinya. Memang benar aku memujinya karena dia bisa bertingkah seperti ini. Namun, di sisi lain aku merasa ada kejanggalan dengan reaksi yang dia tunjukan padaku.
"Kalau begitu," aku mulai berdiri di hadapannya, "aku akan membantumu untuk keluar dari penderitaanmu."
Pada saat dia menengadah dan memberikan raut wajah penuh kelegaan, aku mengalirkan mana ke seluruh tubuhku untuk memperkuat semua otot. Kemudian, tanpa ragu aku mencengkram batang lehernya dan mengkatnya hanya dengan tangan kiri. Dia langsung meronta, tentu saja ini merupakan reaksi yang alami ketika seseorang tercekik. Namun, sebagai hadiah dari pertemuan kita, aku tidak akan membuatmu lebih menderita lagi.
"Pergi dan temuilah orang-orangmu."
Saat tubuhnya menggantung pasrah tanpa adanya tanda-tanda kehidupan, aku melepaskannya begitu saja. Dia langsung tergeletak di atas alas yang terbuat dari kulit beruang seperti mayat pada umumnya. Kematian yang kubawakan untuknya selesai dengan tanpa ada masalah.
Ah ... membunuh secara cepat seperti ini benar-benar tidak meninggalkan kesan puas sama sekali.
Aku berbalik memandang ke arah Alpha dan bawahannya yang masih terduduk dengan wajah kosong. Mereka mungkin terkejut dengan apa yang aku lakukan, tetapi aku tidak peduli sama sekali. Jadi, alih-alih terganggu oleh tatapan itu, aku malah merasa agak risih.
"Ada apa?"
Tampaknya pertanyaanku yang secara tiba-tiba membuat mereka tersentak dan tersadar kembali.
"Ti-tidak ada! Tidak ada apa-apa!" Alpha menjawabnya dengan nada yang panik.
"Aku hanya mengakhiri penderitaannya. Kalian boleh mengubahnya menjadi bahan makanan jika kalian ingin."
Setelah selesai mengucapkan kata-kata itu, aku melangkah menuju pintu keluar.
Sekarang tinggal mengurus masalah tanaman obat untuk menyelesaikan quest yang aku terima. Aku juga ingin mencoba untuk sedikit menjelajahi kota dan berbicara dengan orang lain untuk menguji kemampuanku dalam bersosialisasi.
"Ha--?! Di--dia ...! Monster!"
Apa-apaan dengan teriakan Alpha yang menyedihkan itu? Aku juga bisa mendengar suara keributan keluar dari mulut serigala lainnya. Tidak usah bertingkah berlebihan seperti itu hanya karena melihatku membunuh anak manusia, 'kan?! Dasar para sampah!
Aku berbalik dan bermaksud untuk memaki mereka, tetapi kemudian terdiam karena terkejut dengan apa yang kulihat. Tepat di mana seharusnya mayat anak manusia itu tergeletak, sesuatu dengan kepala yang menggantung berdiri di sana. Dia berdiri dengan tubuh yang lunglai, hampir seperti akan kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Sosok itu tidak lain adalah manusia yang kupatahkan lehernya beberapa saat lalu. Bagaimana mungkin dia masih hidup setelah luka seperti itu? Apakah aku keliru saat mematahkan lehernya?
Tidak ... tidak ada keraguan bahwa lehernya benar-benar patah. Kepalanya yang menggantung adalah bukti bahwa itu hanya ditopang oleh otot dan kulit lehernya saja. Sudah jelas bahwa bagian ruas tulang lehernya sudah remuk dan hancur. Lalu kenapa dia masih hidup?
Hal ini berhasil membuatku merenung untuk beberapa saat sebelum menyadari sesuatu.
Benar-benar konyol, ya? Aku hampir saja melupakan mereka. Lama tidak menjumpainya membuatku lupa akan kemungkinan terlahirnya undead. Namun, tetap saja, bagaimana bisa satu mayat ini menjadi undead begitu aku membunuhnya?
Terdapat beberapa syarat untuk melahirkan undead ke dunia ini. Pada dasarnya mereka adalah kumpulan mana alam yang memiliki konsentrasi tinggi hingga memengaruhi mayat di sekitarnya. Jadi, mereka hanya akan muncul ketika suatu pembantaian besar-besaran terjadi dalam waktu singkat. Setidaknya butuh sekitar dua ratus pengorbanan untuk melahirkan satu undead tingkat rendah dengan tingkat keberhasilan tidak lebih dari seperempat.
Melahirkan undead dengan pembantaian secara sengaja saja sudah cukup sulit, apalagi undead yang tercipta hanya dengan kematian satu orang manusia. Apakah aturan tentang kelahiran undead juga terpemgaruh oleh menggesernya aturan dunia?
Yah ... terserahlah.
Aku menarik Hecate dari punggungku dan melesat ke arahnya dengan cepat. Tanpa meninggalkan keraguan sedikit pun, aku menusuk tubuh undead rendahan ini dengan kekuatan yang paling minim untuk menghindari kerusakan yang tidak perlu.
Berbeda dengan makhluk hidup, undead tidak akan mati walaupun jantung mereka hancur. Bahkan saat kau memenggal kepala dan semua anggota tubuhnya, mereka masih akan tetap menggeliat. Satu-satunya cara untuk membuat mereka berhenti bergerak adalah dengan menguras semua mana yang mereka miliki atau menghancurkan kepala dan tulang belakang mereka.
Jika pengaturannya tidak terlalu menyimpang dengan apa yang aku ketahui, seharusnya tidak akan ada masalah dengan metode pembunuhan yang kulakukan ini. Salah satu dari 72 kutukan Hecate memungkinkan untuk meniadakan mana dari target yang terkena bilahnya. Biasanya akan dibutuhkan sekitar lima ratus tebasan untuk menguras habis mana dari true vampire, tetapi jika targetnya hanya undead lemah seperti ini, satu tebasan saja sudah cukup untuk membunuhnya.
Tepat setelah aku menarik pedangku dan menyarungkannya kembali, tubuh itu ambruk menjadi mayat. Tidak ada pergerakan sama sekali meskipun aku menunggunya untuk beberapa saat. Baiklah, kelihatannya dia benar-benar sudah mati.
Tanpa memperhatikan para werewolf yang terlihat ketakutan dengan apa yang mereka lihat, aku berjalan keluar ruangan dalam diam. Segala macam hal tidak masuk akal selalu mendatangiku, tentu saja aku jadi malas untuk berinteraksi dengan makhluk lain.
Mengabaikan keributan yang mulai menyebar di Desa Werewolf, aku terduduk merenung di sebuah balok kayu dan menghadapkan wajahku ke arah alun-alun desa yang sudah hancur. Entah kenapa kepalaku menjadi agak pusing setelah kejadian barusan. Tampaknya undead itu juga berhasil membuatku sedikit stress sekarang.
-----
Selasa, 17 September 2019
Pukul 10:02 AM
Note: kemunculan undead yang pernah disinggung di bab2 awal uwu