RE:Verse

RE:Verse
10.III Kota Mati Menjadi Ramai



Kota Agarten adalah salah satu kota kecil di wilayah Kerajaan Ignis. Oleh karena itu, hal yang normal jika jumlah penduduk di tempat ini tidak begitu banyak. Namun, karena letaknya yang dekat dengan Hutan Besar Eryas, para petualang sering keluar dan masuk kota ini. Jadi, tidak heran jika Guild Petualang sanggup berdiri sejajar dengan Guild Perdagangan dan Kuil.


Bangunan ini berdiri di wilayah bangsawan dimana hanya orang-orang kaya saja yang sanggup membeli tanah di distrik tersebut. Biasanya, cabang guild tidak akan memiliki cukup dana untuk melakukan hal itu. Namun, pajak dari quest di Kota Agarten dan banyaknya petualang yang mampir untuk misi berburu di dalam hutan membuat penghasilan guild menjadi berlebih. Tentu saja, semuanya tidak akan menjadi seperti ini tanpa dipimpin oleh guild master yang tepat.


Saat pintu kayu ganda Guild Cabang Kota Agarten terbuka, suara ramai yang sebelumnya samar langsung membludak seakan memecah keheningan di kota ini. Orang-orang tertawa, saling berbicara satu sama lain, dan mabuk-mabukan di bangku-bangku yang memenuhi aula.


Bau alkohol dari ale dapat tercium begitu pekat, membuat Carmen yang baru saja masuk sampai menutup hidungnya. Dia mengalihkan pandangan ke beberapa tempat, menyaksikan pesta kecil yang cukup berantakan itu. Beberapa orang yang mengenakan armor dari kulit binatang bahkan tergeletak di mejanya dan tertidur pulas.


Apa-apaan dengan tempat ini?


Mengabaikan semua orang yang tampaknya tenggelam dalam dunia mereka masing-masing, Carmen menatap ke arah meja resepsionis. Tempat itu hanya diisi oleh seorang wanita muda berambut hitam yang terlihat sibuk dengan tinta dan kertas. Tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi, dia berjalan dengan mantap menuju wanita itu.


"Selamat datang di Cabang Guild Kota Agarten. Saya adalah Silca, resepsionis Anda. Apakah Anda ingin membuat quest atas nama pihak kuil?"


Wanita itu menatap jubah pendeta miliknya dengan kedua bola mata cokelat. Dia tersenyum, seakan berusaha terlihat ramah kepada Carmen selaku tamu yang datang padanya.


"Benar sekali. Saya pendeta dari cabang kota sebelah." Untuk saat ini, Carmen tidak mau mengatakan bahwa dirinya adalah Pendeta Kuil Ortodox. Dia merasakan hawa yang tidak menyenangkan dan memilih untuk melakukannya tanpa pikir panjang.


"Ah, jarang sekali ada pendeta dari luar kota yang datang kemari." Silca kembali tersenyum ramah.


"Bolehkah saya menanyakan beberapa hal?"


Mendengar pertanyaan Carmen, wanita itu memberikan izin tanpa ragu.


"Dalam perjalanan kemari, saya tidak melihat siapa pun. Sebenarnya apa yang telah terjadi di kota ini?"


Tepat setelah ucapannya berakhir, Carmen mulai merasakan tatapan dari beberapa petualang di belakangnya. Mereka seakan mengawasinya di tengah-tengah keramaian yang masih memenuhi ruangan itu. Hal ini tentunya membuat dia semakin waspada.


"Maksud Anda?" Nada dari wanita di hadapannya kali ini bahkan berubah tajam.


"Tidak ada siapa pun di luar. Saya hanya melihat prajurit orde dan kalian." Entah kenapa Carmen tidak mau mengakui pasangan aneh yang dia temui pertama kali.


" ... "


Dia terkesan seperti menggerutu pada diri sendiri. Walaupun nadanya sangat pelan, tetapi Carmen masih sanggu mendengar beberapa kata dengan samar.


"Apakah ada masalah?" Tatapan orang-orang semakin intens dan suara-suara berisik di tempat itu mulai berkurang. Beberapa orang yang awalnya tertidur bahkan mulai tersadar dan ikut mengawasi. Kali ini dia semakin mewaspadai daerah di sekitarnya. Gadis itu tahu bahwa ada hal yang tidak beres dengan suasana bangunan dan orang-orang yang berada di sini.


"Tidak ada sama sekali. Mungkin orang-orang sedang beristirahat. Semalam kami mengadakan festival untuk menyambut pernikahan putri pertama Baron Cromwell."


Wilayah bagian barat hancur parah dan mereka masih sempat-sempatnya mengadakan pesta. Terlebih lagi, sebelumnya Alexis mengatakan bahwa Baron Cromwell sedang tidak ada di mansion. Tentunya akan menjadi aneh jika mereka mengadakan festival pernikahan tanpa tuan tanah dan dalam keadaan kota yang tidak stabil.


"Begitukah."


Meskipun alasan yang dia dapatkan agak tidak wajar, gadis itu tetap menerimanya. Dia sudah merasakan bahaya dari berbagai petualang yang hadir di sana. Jika mereka melakukan tindakan bermusuhan, akan sulit baginya untuk menghadapi semua orang. Apa yang harus dia lakukan sekarang hanyalah keluar dari dalam ruangan tanpa menarik perhatian dan segera pergi dari kota aneh itu.


"Kalau begitu, saya akan mulai pengajuan quest-nya."


Silca kembali tersenyum ramah saat Carmen membuka topik tentang pengajuan sebuah permintaan.


"Kami kekurangan bahan pembuatan potion. Misinya adalah pengumpulan tanaman herbal. Kami akan memberikan dua koin emas setiap satu peti. Tentu saja pajak guild tidak termasuk."


"Baiklah, permintaan Anda sudah memenuhi kualifikasi dan kami terima. Biaya pendaftarannya adalah satu perak kecil dan lima tembaga."


Mendengar ucapan Sang Resepsionis, Carmen membawa sejumlah uang dari kantong kulit yang dia bawa. Biaya sebesar itu bukanlah apa-apa baginya dibandingkan dengan menanamkan kecurigaan kepada setiap orang yang ada di sana. Gadis itu berusaha untuk menutupi tujuan sebenarnya yang membuat dia datang kemari setelah curiga dengan gerak-gerik setiap orang yang dia temui.


Carmen menaruh koin-koin itu di meja resepsionis.


"Terima kasih banyak. Saya akan kembali ke kuil dan berharap untuk bahan-bahannya."


"Terima kasih telah memilih Cabang Guild Kota Agarten."


Setelah urusanya dengan resepsionis guild selesai, Carmen berbalik dan berjalan pergi. Dia melewati tatapan-tatapan tajam dari beberapa orang yang masih mengawasinya hingga keluar dari bangunan guild.


Ada apa sebenarnya dengan orang-orang ini?


Dia berbalik ke arah di mana anak panah itu melesat, merobek ruang dan waktu tepat di arah lintasannya, dan membiarkan anak panah itu lenyap ke dalam retakan ruang dan waktu.


"Sialan! Mereka benar-benar menyerang seorang pendeta!" Carmen berbalik dan berusaha lari menjauhi jalanan utama. Dia menggunakan seluruh tenaganya untuk pergi dari tempat itu.


"Bunuh orang itu! Jangan sampai dia keluar hidup-hidup!"


Seseorang tampak berlari mengejarnya seraya meneriakan sebuah perintah. Bersamaan dengan suara lantang yang diucapkanya, semua petualang, para prajurit orde, bahkan warga yang pada awalnya berada di dalam bangunan mulai berhamburan keluar dengan senjata-senjata yang mereka bawa di tangannya.


"Apa-apaan ini?!"


Tempat itu berubah menjadi sangat ramai. Carmen benar-benar jatuh ke dalam kepanikan yang luar biasa. Dia berlari sekuat tenaga, menghindari setiap orang yang berusaha menerjangnya dengan senjata tajam. Gadis itu menendang, mendorong, dan memukul orang-orang yang menghalangi jalanya.


Di tengah keributan yang terjadi, puluhan anak panah kini melesat ke arahnya. Beberapa bahkan menancap ke kerumunan warga yang menyerangnya dari berbagai arah dan membuat mereka kehilangan keseimbangan beberapa saat. Namun, tampak tidak ada noda darah sedikit pun pada luka mereka dan kelihatannya tidak ada yang memedulikan luka-luka itu.


Tentunya reaksi orang-orang ini terkesan begitu aneh. Semua orang seakan tidak merasakan sakit sama sekali ketika anak-anak panah menghujam tubuh-tubuh mereka. Bahkan anak panah yang bersarang di bagian vital terkesan bukanlah apa-apa.


Menghindari semua serangan itu benar-benar sangat sulit bagi orang sepertinya. Tidak heran jika bahu kirinya tertancap salah satu anak panah yang melesat ke arahnya tanpa dia sadari. Namun, sebisa mungkin Carmen menahan rasa perih dan sensasi terbakar yang diterimanya. Gadis itu tidak mau menurunkan kecepatan larinya hanya karena satu anak panah.


"Sakit ... sakit sekali!" Dia memegangi bahu kirinya seraya tetap berlari dan menghindar. "Staminaku tidak akan bertahan lama. Aku harus menggunakanya sekarang!"


Tanpa banyak berpikir, dia membuat lubang dimensi beberapa meter di depannya dan berusaha memperlebar paksa retakannya dengan cepat. Kemudian, saat dirinya tepat berada di hadapan lubang tersebut, gadis itu melompat masuk dengan semua tenaga yang dimilikinya.


Carmen terperosok jatuh menghantam rerumputan dan akar-akar pohon tepat setelah melewati gate miliknya. Dia berguling beberapa kali, mengakibatkan anak panah yang masih menancap di bahunya patah dan memperparah luka pada tubuhnya. Gadis itu mengerang kesakitan beberapa kali sebelum akhirnya terbarimg dengan posisi telungkup.


Apa aku berhasil lolos?


Dia masih terengah-engah karena staminanya terkuras habis, tetapi tidak membiarkan kewaspadaannya turun sedikit pun. Bola matanya melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang berhasil mengikutinya masuk ke dalam gate.


Teknik perpindahan dimensi yang dilakukan oleh Carmen biasanya akan menciptakan robekan ruang dan waktu yang menutup dengan sendirinya. Jeda penutupannya sekitar lima menit sebelum benar-benar hilang tanpa bekas. Walaupun begitu, dia bisa mempercepat proses penutupannya. Namun, butuh jauh lebih banyak mana untuk melakukannya.


Mempertimbangkan jumlah mana yang dimilikinya, Carmen tidak pernah mau repot-repot menutup gate miliknya setelah dia menggunakannya. Alasan ini jugalah yang menjadi salah satu poin penting kenapa dia enggan menggunakanya di depan banyak orang. Namun, kasus kali ini adalah sesuatu yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Maka dari itu, Carmen menggunakan sangat banyak mana untuk menutupi lubang dimensinya secara langsung tepat setelah dia berhasil melewatinya.


"Ada seorang pendeta yang berhasil menyusup dan keluar hidup-hidup!"


Masih dalam keadaan yang lemah, gadis itu samar-samar mendengar suara seseorang. Tampaknya posisi mereka tidak terlalu jauh darinya. Namun, rumput-rumput liar yang tumbuh hingga setinggi pinggang membuat mereka sulit untuk mengetahui di mana dia terbaring.


"Apa katamu?! Bagaimana bisa?!"


"Aku juga tidak begitu tahu informasinya. Bagaimana ini? Aku tidak mau dibantai oleh kerajaan."


Dia memang tidak menentukan lokasi gate-nya secara spesifik. Akan sangat sulit untuk menentukan tempat yang tepat dalam keadaan genting seperti itu. Jadi, Carmen hanya bergerak sekitar beberapa kilometer ke depan dan jatuh di bibir Hutan Besar Eryas.


Memikirkan tentang hal ini, tidak aneh jika ada orang-orang yang berjaga di dekat sini. Namun, cepatnya penyebaran informasi di antara mereka tetap saja membuat Carmen keheranan.


"Tenangkan dirimu. Dia pasti belum jauh. Semuanya! Naikan penjagaan dan langsung bunuh penyusup itu jika terlihat!"


"Baik!"


Suara yang menyahut dari teriakan perintah itu terdengar sangat banyak. Bisa dibilang bahwa jumlah mereka mungkin lebih dari sepuluh orang. Melihat kondisinya sekarang, akan sangat sulit untuk menghadapi orang sebanyak itu.


Hari ini benar-benar sial!


Carmen memaki dengan penuh amarah. Selama lima tahun dirinya mengabdi pada pihak ordo, sekarang adalah pertama kalinya dia gagal memenuhi misi yang dibebankan padanya. Hal ini tentunya membuat gadis itu merasa sedikit jengkel.


Egonya yang tinggi membuatnya sangat ingin kembali ke tempat itu dan menyelesaikan tugasnya. Namun, kembali ke sana sekarang sama saja dengan bunuh diri. Tidak mungkin baginya untuk melakukan pengintaian di tempat yang berbahaya seperti itu.


Pada akhirnya, dia memutuskan untuk membuka gate tepat di bawah tubuhnya. Carmen menargetkan kastil Kerajaan Ignis sebagai tempat tujuannya dan menggunakan cukup banyak mana untuk segera menutup gate-nya kembali. Tanpa butuh waktu yang lama, gadis itu lenyap dari bibir Hutan Besar Eryas.


------


Catatan : Maaf bab ini ternyata terlewat hiks