RE:Verse

RE:Verse
9.VII Bejana Darah



Gemuruh yang meledak di tengah alun-alun Desa Werewolf benar-benar menggetarkan tempat itu. Melalui mata kepalanya sendiri, Hellen dapat melihat beberapa tubuh werewolf yang hancur lebur akibat ledakan yang baru saja terjadi.



Bola mata yang pecah dan daging-daging yang terkoyak mengotori tanah di alun-alun kecil tersebut. Tulang dan beberapa potong kepala yang sudah tidak utuh bergelimpangan di sana, menatap dengan rongga mata yang sudah kosong. Organ-organ dalamnya bahkan berceceran, menyebarkan warna merah kelam dan bau amis yang menggantung di udara. Mereka yang masih sadar berusaha merangkak menjauh dengan tubuh-tubuh yang terkoyak disertai jeritan tangis kesakitan seakan meminta pertolongan.



Beberapa saat setelahnya, teriakan memilukan terdengar dari berbagai arah, memberikan kesan bahwa kematian singkat yang terjadi di hadapan mereka adalah sebuah tragedi dan mimpi buruk yang benar-benar mengerikan.



"Jangan memandang monsternya! Jangan mendengarkan suaranya!"



Di tengah kekacauan dan isak tangis dari para werewolf, suara Yehezkiel terdengar begitu lantang. Hellen yang masih belum menyadari teriakan itu dimaksudkan kepada semua orang, gagal untuk memalingkan matanya.



Di antara mayat-mayat werewolf yang hancur dan beberapa dari mereka yang kehilangan anggota tubuhnya seraya merayap berusaha untuk menjauhi pusat ledakan, terbaring seekor domba hitam raksasa yang menyebarkan bau busuk. Kedua tanduk yang mencuat dari kepala monster itu mulai retak, memancarkan aura hitam pekat yang terasa menusuk jauh ke dalam dirinya. Kemudian, seketika itu juga dunia cerah yang sejak tadi dilihat olehnya mulai meredup. Perlahan tapi pasti, Hellen jatuh ke dalam kegelapan.



Tubuhnya jatuh berlutut di atas tanah dengan penglihatan yang semakin memburuk. Dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja dialaminya. Semua pandangannya semakin meredup sementara telinganya dipenuhi dengan suara-suara histeris yang kian memekakan telinga. Tubuhnya bahkan mulai gemetar, jatuh ke dalam ketakutan luar biasa jauh sebelum dia dapat menyadarinya.



Saat Hellen terjebak dalam rasa takut yang semakin kelam, sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuh kedua pipinya. Kepalanya dipaksa untuk berputar ke arah yang berlawanan dengan kedua lubang telinga yang tertutupi oleh jari-jari hangat entah milik siapa.



" ... kuslah ... ngan melihatn ... ja ... me ... ikir ... nya ... "



Walaupun jari-jari misterius menutupi lubang telinganya, dia masih dapat mendengar suara samar yang terkesan sangat jauh. Ketika gadis itu berusaha untuk fokus hanya pada suaranya, pandangannya perlahan mulai kembali terang. Dia sanggup melihat lagi dan suara-suara yang seakan memenuhi kepalanya berangsur mereda.



"Fokuslah pada suaraku! Monster itu sudah sekarat. Lawanlah ketakutanmu dan yakinlah bahwa tidak akan ada siapa pun yang dapat mengancammu!"



Di tengah kekacauan yang dirasakan olehnya, wajah seorang lelaki menatapnya begitu dekat. Desahan napasnya yang hangat bahkan sangat jelas menghembus kulit leher Hellen. Walaupun dia merasa gugup dan jantungnya mulai berdegup semakin cepat, perasaan aneh yang menyebar melalui hatinya seakan menarik kesadarannya untuk keluar dari mimpi buruk yang sejak tadi mencengkeramnya.



"E-eh?!" Saat tersadar dari mimpi buruk itu sepenuhnya, Hellen memejamkan matanya rapat-rapat sementara wajahnya terasa semakin panas.



"Fokuslah! Fokuslah! Dengarkan suaraku baik-baik! Jang-"



"A-aku tahu! Aku tahu!" Tangan kanan Hellen mendorong wajah seorang anak lelaki di hadapannya dengan kasar. Gadis itu melakukannya tanpa pikir panjang.



"Whoa?!" Tidak menyangka dengan dorongan kuat yang diterimanya, sosok itu terkejut dan jatuh terjerembab ke belakang.



Ketika Hellen sadar akan perbuatannya yang berlebihan, dia segera mengucek matanya beberapa saat sebelum mencoba untuk menolong lelaki di hadapannya.



"Ma-maafkan aku, El. Aku benar-benar gugup."



"Tak apa. Aku tak menyalahkanmu. Wajar kalau kau merasa panik setelah menerima aura keputusasaan dari sosok iblis sejati."



Mendengar perkataan yang terucap dari mulut Yehezkiel, wajah Hellen yang telah memerah kini berubah pucat. Kedua bola matanya bahkan melebar seakan tidak percaya dengan kata-katanya.



" ... eh?" Dia memiringkan kepalanya dengan pandangan yang kosong.



Iblis sejati adalah makhluk yang bahkan jauh lebih mengerikan daripada Hellhound. Jika Hellhound sanggup untuk menghancurkan Trowell seorang diri, maka iblis sejati terendah saja mungkin sudah cukup untuk memporak-porandakan ibukota kerajaan seorang diri. Mereka adalah mimpi buruk yang sebanding dengan para naga kuno.



Tampak tidak menyadari perubahan ekspresi dari Hellen, Yehezkiel mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum melanjutkan kata-katanya. "Untung saja monster itu dalam keadaan sekarat dan tampaknya mana miliknya sudah hampir kering. Aura keputusasaannya juga pasti semakin melemah dengan cepat."



Masih tenggelam dalam rasa takut yang kian mereda karena kata-kata El, pandamgan mata Hellen langsung berubah ke arah seseorang yang seharusnya tidak ada di sana. Dia segera menundukan kepala untuk memberi hormat saat menyadari siapa sosok yang tengah berdiri di belakang Yehezkiel sebenarnya.



"Tu-tuan Pendeta! Senang bertemu dengan Anda kembali!"



Walaupun pada awalnya gadis itu terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba, kedatangan seorang pendeta dari Kuil Ortodox ke tempat di mana iblis muncul adalah hal yang memang seharusnya terjadi. Oleh karena itu, Hellen tidak terlalu memikirkannya secara mendalam. Namun, menyadari bahwa dia hanya datang sendirian membuat perasaan Hellen tidak enak. Walau bagaimanapun juga, iblis sejati bukanlah monster yang bisa dihadapi oleh hanya satu orang pendeta kuil.



Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Hellen, sosok pendeta yang berdiri tak jauh dari mereka hanya mengangkat tangan kanannya sebagai jawaban. Tampaknya dia tidak mau membuang waktu sedikit pun untuk percakapan yang tidak penting.



"Aku sudah memindahkan rekanmu yang terluka ke tempat yang aman di kota. Bagaimana keadaannya?"



"Hampir semuanya terjebak dalam keputusasaan. Ini benar-benar berbahaya." Yehezkiel menjawab dengan nada penuh kekhawatiran.



"Tidak usah khawatir dengan para serigala, aku sedang memindahkan mereka secara bertahap. Selain itu ... "



Sang pendeta tampak mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia mengerutkan keningnya seraya memasang wajah khawatir yang menandakan bahwa keadaan sekarang masih cukup berbahaya.



"Bagaimana bisa adikmu melakukan kontrak bejana dengan iblis sekuat itu?"



"Kontrak bejana?"



Yehezkiel kelihatannya tidak tahu dengan pertanyaan yang keluar dari mulut pendeta wanita itu. Sepertinya wajar bagi seseorang yang tidak terlalu taat dalam bidang keagamaan untuk tidak mengetahuinya. Jadi, Sang Pendeta memulai penjelasan singkatnya.



Berbeda dengan Yehezkiel, Hellen yang memang terbiasa untuk mengunjungi kuil di akhir pekan memiliki sedikit pengetahuan tentang kontrak bejana. Istilah itu biasa digunakan pada mereka yang melakukan kontrak darah dengan makhluk dari alam roh, baik itu iblis maupun para penghuni langit. Contoh yang paling terkenal adalah Pendeta Titania yang berhasil melakukan kontrak bejana dengan seekor heaven dragon dan mengabdikan diri pada Empress Glastila hingga sekarang.



Mereka yang melakukan kontrak akan terikat dan saling mengendalikan satu sama lain. Pada dasarnya, itu seperti dua entitas dalam satu tubuh fisik. Kira-kira sejauh itulah yang Hellen ketahui mengenai kontrak bejana.




Setelah mendengar percakapan singkat di antara mereka berdua, Hellen menjadi sedikit penasaran dengan bagaimana sebenarnya kontrak tersebut bekerja. Secara reflek dia mulai memalingkan wajahnya untuk melihat seseorang yang sanggup membuat iblis mengerikan di hadapan mereka babak belur.



Tepat sebelum Hellen dapat melihat sosoknya, Yehezkiel kembali meraih kepalanya dan memaksanya untuk tidak menatap ke arah sana.



"Jangan menatapnya! Pancaran aura keputusasaan Alma bahkan jauh lebih kuat dari iblis itu!"



"Ka-kalau begitu, kenapa kau bisa melihatnya tanpa masalah?!" Hellen yang merasa diperlakukan seperti anak kecil mengeluarkan pertanyaan itu begitu saja.



"Untuk membatalkan aura keputusasaan milik para iblis, kau hanya perlu meyakini bahwa dirimu tidak akan dikalahkan olehnya. Ujung-ujungnya, ini hanya masalah sederhana seperti keberanian yang mengalahkan ketakutan."



Setelah mendengarkan penjelasan singkat dari Sang Pendeta, Yehezkiel menambahkan, "aku adalah kakaknya. Aku yakin dia tak akan melukaiku. Itulah sebabnya aura yang terpancar keluar tidak benar-benar bekerja padaku."



Penjelasan yang diterima oleh Hellen kelihatanya cukup masuk akal. Hanya dengan keyakinan yang setengah-setengah tampaknya terlalu berbahaya untuk menatapnya secara langsung. Lebih tepatnya, Hellen tidak mau terjebak dalam halusinasi mengerikan itu lagi.



Ketika dia memikirkan ini dalam-dalam, Hellen dapat melihat bola mata Yehezkiel dan Sang Pendeta melebar. Gadis itu sangat yakin bahwa sesuatu yang buruk pasti akan terjadi lagi dalam waktu dekat. Mereka berdua menatap tepat ke arah belakang Hellen. Dilihat dari arah tersebut, tampaknya kedua orang itu memandang sosok monster domba hitam yang terbaring di tengah alun-alun.



Merasa tidak tahan melihat raut wajah khawatir mereka berdua, Hellen memberanikan diri untuk menatapnya.



"Apa-apaan dengan pola sihir itu?!" Bersamaan dengan menolehnya Hellen, Sang Pendeta menggumamkan kata-kata tersebut.



Melalui kedua bola matanya, Hellen dapat melihat bahwa lima buah pola sihir membentuk dinding imajiner yang membatasi pergerakan dari monster domba hitam yang masih terbaring di sana. Menyadari bahwa tubuhnya terkunci dalam bangun kubus tiga dimensi yang kokoh, makhluk itu berusaha mendorong dan memukul-mukul dinding sihir tersebut. Namun, semuanya tampak sia-sia.



Pemandangan yang selanjutnya dia lihat adalah beberapa lingkaran sihir berwarna merah darah yang mulai bermunculan di langit. Hellen dapat melihat bahwa lingkaran-lingkaran yang mulai memancarkan kilauan merah pekat itu berjumlah tepat tujuh buah.



"Wahai engkau yang memerintahkan angin atas nama Sang Pencipta, dengarkan perintahku dan kumpulkan semuanya di telapak tangan ini."



Walaupun suaranya kecil dan terkesan jauh, Hellen dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Suara khas seorang gadis yang begitu familier itu mengingatkan dirinya pada sosok Alma. Namun, nada dingin dan penuh keangkuhan yang memenuhi kata-kata tersebut seakan membawa mimpi buruk ke dalam dirinya.



"Mantra ini ... tidak mungkin!" Di samping kata-kata Alma yang masih terus menggema, suara Yehezkiel yang penuh amarah juga mengetuk gendang telinga Hellen.



"Atas nama kehancuran dan penyiksaan abadi, aku izinkan kau untuk meleburkan dunia di hadapanku."



Masih dari arah yang sama, Hellen mulai menoleh ke arah sumber dari suara mencekam tersebut. Tepat di mana suara itu keluar, sosok tubuh kecil dengan kulit dan daging yang meleleh mengangkat kedua telapak tangannya. Hellen bahkan dapat melihat sedikit tulang dari salah satu lengan miliknya. Sementara itu, di sela-sela topeng yang menutup wajahnya mengalirkan cairan merah pekat yang begitu kental, membasahi leher dan singlet merah muda yang dia pakai.



"Hellen! Jangan dengarkan suaranya, jangan menatapnya, tutup telinga dan matamu!"



Tepat setelah peringatan itu keluar dari mulut Yehezkiel yang panik, aura hitam pekat seakan memancar keluar dari tubuh menyedihkan itu, mengantarkan pandangan Hellen ke dalam dunia tanpa adanya cahaya. Perasaan ngeri dan suara-suara jeritan yang memekakan telinga kembali menyerang pikirannya. Sensasi kengerian yang dia terima kali ini bahkan jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.



Secara reflek, Hellen menjerit sekuat yang dia bisa. Namun, suaranya tidak pernah keluar sedikit pun. Dia hanya menunjukan mulut yang menganga dan aliran darah dari lubang hidungnya, menggambarkan betapa buruk mimpi yang dilihat olehnya.



Gadis itu mulai menangis, tetapi bukannya aliran air mata yang keluar, melainkan cairan kental berwarna merah yang mengalir dari kedua matanya. Kemudian, seakan melengkapi penderitaan yang diterimanya, kedua lubang telinganya juga mulai bermandikan cairan merah pekat tersebut.



"Carmen! Gunakan semua yang kau bisa untuk membawa kita pergi!" Teriakan Yehezkiel menusuk gendang telinganya di tengah jeritan-jeritan mengerikan yang menyerangnya dari segala arah.



Beberapa saat setelahnya, suara Alma seakan memukul gendang telinganya begitu keras hingga Hellen jatuh ke dalam rasa sakit yang luar biasa.



"Niveli Dytë Magic : Razrusheny!"



Apa yang dapat dia dengar selanjutnya merupakan kata-kata berat dari suara yang begitu asing. Suara itu menyebutkan nama monster legenda yang tertulis dalam salah satu dari empat kitab suci. Sosok yang bahkan jauh lebih buruk daripada raja naga kuno dalam legenda, salah satu dari sedikit panglima besar iblis yang bahkan diklaim sanggup untuk menandingi seven deadly sins.



"Aku akan menunggumu di neraka dan membalas semua penghinaan ini, Gatekeeper Fiora!"



Pada detik berikutnya, tubuh Hellen benar-benar tidak sanggup untuk menahannya lagi. Dia tenggelam dalam kegelapan dan kesunyian, kehilangan kesadaran sepenuhnya karena berbagai kengerian yang bergejolak di dalam kepalanya.



------


Selasa, 04 Juni 2019


Pukul 02:45 PM



Note :


Telat lagi huaa >,<"


Part ini menyelesaikan bab 9 sekaligus Archdemon arc. Apakah terasa menggantung? Atau cukup sebagai penutup?


Bab 10 merupakan pengenalan konflik antara dua kerajaan yang saling berselisih dan masalah yang timbul akibat kejadian di bab pertama. Juga, betapa besarnya pengaruh kuil terhadap kerajaan.



Riwayat Penyuntingan :


• Kamis, 06 Juni 2019


• Rabu, 19 Juni 2019