
Kurang ... masih kurang!
Alma melepaskan tinjunya untuk membuat Erebrus berhenti melarikan diri. Pukulan itu memang sukses menjatuhkan Erebrus ke tanah. Namun, tampaknya tidak ada terlalu banyak kerusakan yang dialami oleh tubuh domba itu.
Ketika Alma menyadari bahwa Erebrus tidak mendapatkan luka fatal setelah menerima pukulan bertenaga penuh dari tangan kanan kecilnya, dia memperbesar jumlah mana yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Hal ini membuat tubuh Alma lebih kokoh daripada semua logam yang ada di dunia ini. Selain itu, tenaga yang dia miliki saat ini mungkin sanggup untuk membunuh seekor naga muda hanya dalam beberapa kali pukulan.
"Aku harus sedikit lebih kuat lagi!" Dia bergumam sebelum tubuhnya melesat ke arah Erebrus dengan sangat cepat.
Walaupun kecepatan dari pergerakan Alma tidak mampu untuk diikuti oleh mata manusia biasa, kedua bola mata Erebrus berada pada tingkat dimana dia masih bisa mengikutinya. Tubuh fisiknya memang terlampau besar, tetapi pergerakan Erebrus juga berada dalam tingkat di mana dia masih sanggup untuk menahan amukan Alma.
Tidak terhitung sudah berapa banyak serangan Alma yang mendarat di tubuhnya ketika dia fokus sepenuhnya untuk bertahan. Namun, kesempatan untuk menyerang balik tampaknya susah untuk dilakukan.
Alma memperkuat tubuhnya dengan jumlah mana yang luar biasa. Kemudian, dia mengepalkan tangan kanannya hingga otot-otot dan urat tangannya samar-samar terlihat. Tanpa terlalu banyak jeda, gadis itu melayangkan pukulan mematikan tersebut ke arah wajah Erebrus.
Monster itu mengetahui bahwa serangan Alma kali ini bukanlah serangan sederhana seperti beberapa waktu lalu, melainkan pukulan mematikan yang pastinya cukup berbahaya. Namun, sudah terlambat baginya untuk menghindar. Jadi, untuk menerima kerusakan seminim mungkin, Erebrus melindungi kepalanya dengan kedua tangan besarnya.
Tenaga luar biasa yang ditanamkan ke dalam serangan mematikan itu membuat Erebrus jatuh ke dalam kesakitan luar biasa ketika tangan mereka bertabrakan. Bukan hanya itu, tubuh berat Erebrus bahkan terpental cukup jauh akibat dari tumbukan kuat tersebut.
Dia kembali menghancurkan beberapa pohon sebelum akhirnya mendarat dan berguling di atas rerumputan serta akar-akar dari pohon di sekitarnya.
"Dia semakin kuat dari waktu ke waktu. Ini benar-benar tidak masuk akal!"
Seharusnya, ketika seseorang melakukan duel satu lawan satu, semakin lama mereka terlibat dalam pertarungan, tidak peduli sekuat apa pun, jumlah kekuatan mereka pasti akan semakin melemah. Namun, hal seperti ini tampaknya tidak berlaku bagi Alma. Alih-alih melemah, dia malah jauh semakin kuat daripada sebelumnya.
Erebrus segera bangun untuk mencegah serangan berikutnya yang mungkin akan dia lancarkan. Kecepatan dan ketangkasan Alma membuat Erebrus sama sekali tidak tahu chikama ma'ai milik gadis itu. Jadi, sejauh apa pun jarak di antara mereka, Erebrus tidak boleh sedikit pun kehilangan kewaspadaannya.
Di tengah kewaspadaannya, Erebrus memikirkan akan suatu hal.
Apakah aku harus menggunakan sihir kuat? Tidak, itu bukan ide yang bagus.
Dalam pertarungan satu lawan satu dengan musuh yang dapat bergerak sangat cepat, mustahil bagi Erebrus untuk dapat menggunakan sihir level tinggi yang memerlukan perapalan mantra. Jika dia cukup nekat untuk melakukannya, tubuhnya pasti akan langsung babak belur jauh sebelum dia menyelesaikan perapalan. Hal inilah yang membuat Erebrus enggan menggunakan sihir tingkat tinggi dan memilih untuk menggunakan sihir yang tidak membutuhkan perapalan. Tampaknya Alma juga memiliki pemikiran yang sama sehingga dia tidak menunjukan mantra-mantra tingkat tinggi kecuali mantra regenerasi yang dia rapalkan sebelumnya. Sialnya, pada waktu itu Erebrus terlalu terkejut untuk menggagalkan mantra regenerasi tingkat tinggi yang Alma rapalkan.
Sadar bahwa perapalan mantra tingkat tinggi mustahil untuk dapat kembali dilakukan, Erebrus yakin bahwa serangan jarak jauh dari Alma tidak lebih dari mantra lemah seperti beam.
Tepat seperti apa yang dia perkirakan, tiga buah cahaya dengan warna merah darah kembali melesat ke arahnya. Menyadari hal ini, Erebrus segera menciptakan tiga lapis barrier untuk menghadangnya. Dia tahu bahwa satu lapis saja tidak akan cukup untuk menahan tembakan itu. Karena tidak yakin apakah dua lapis akan cukup, dia akhirnya menyisihkan lebih banyak mana untuk menciptakan tiga barrier sekligus.
Ketika Erebrus berfokus pada tiga buah beam yang baru saja ditembakan ke arahnya, sesuatu tiba-tiba menarik salah satu tanduknya dari arah belakang. Tampaknya Alma menggunakan beam hanya untuk mengalihkan perhatian.
Gadis itu melompat dengan semua tenaga yang dimilikinya dan menarik tubuh Erebrus untuk ikut bersamanya. Pada saat mereka berdua mencapai ketinggian maksimal, tangan kanan Alma membanting tubuh Erebrus sekuat tenaga ke arah tanah.
Benturan dari tubuh domba itu lebih dari cukup untuk menggetarkan tanah selama beberapa waktu dan membuat sebuah kawah kecil di tengah hutan.
Alma tidak memberikan waktu bagi Erebrus untuk berdiri. Gadis itu mendaratkan tendangan terkuatnya tepat ke arah dada Erebrus. Kerusakan dari tendangan mematikan itu membuat Erebrus terbatuk mengeluarkan cairan kental berwarna hitam melalui mulut dan hidungnya.
Jeda yang tercipta setelah tendangan tersebut langsung dimanfaatkan oleh Erebrus. Di samping rasa sakit yang menjalar pada bagian dadanya, dia meraih kaki kanan Alma, membantingnya ke arah tanah dan pepohonan beberapa kali hingga merobohkan pohon-pohon besar di sekitarnya, lalu melemparnya dengan kekuatan penuh. Selanjutnya, Erebrus mengambil salah satu batang pohon besar yang baru saja roboh di sekitarnya, melesat dengan cepat untuk memperpendek jarak, lalu mengayunkan batang pohon itu ke arah Alma yang masih terbaring di tanah.
Gemuruh yang tercipta terdengar hingga Desa Orc, membuat semua binatang di sekitar mereka berlarian dengan panik. Bahkan, beberapa penghuni di Desa Werewolf dapat sedikit merasakan gemuruhnya dan menyebarkan kekacauan di antara mereka.
Serangan cepat dari Erebrus tidak sempat ditahan oleh Alma. Hal ini membuat batang pohon besar itu benar-benar menjepit tubuh Alma di antara kulit kayu dan tanah secara langsung. Walaupun mana yang dia gunakan untuk memperkuat tubuhnya begitu banyak, sedikit luka tampaknya dialami oleh Alma. Dia mengerang kesakitan untuk beberapa saat.
"Ugh ... " Alma memekik pelan karena serangan luar biasa yang tak disangka-sangka tersebut. Kemudian, dia kembali menggumamkan sesuatu, "lebih banyak, harus lebih banyak mana agar tubuhku tidak terluka!"
Sesaat setelahnya, aura berwarna hitam pekat mulai memancar keluar dari tubuh kecilnya yang kini mulai menampakan otot tangan dan kakinya. Alma mengangkat puing-puing dari batang kayu yang sekarang sudah hancur, lalu kembali berdiri dengan napas tersenggal-senggal.
"A-aura kental macam apa itu? Bahkan aku sekalipun tak akan sanggup mengeluarkan aura iblis sekental itu!" Tubuh Erebrus yang babak belur dan dipenuhi luka serta tulang lengannya yang mulai retak membuat dia tidak bisa lagi berdiri dengan posisi yang sempurna.
Aura sebesar itu hanya bisa dipancarkan oleh mereka yang diakui sebagai demon lord. Makhluk seperti Erebrus sekalipun tidak memiliki jumlah mana yang cukup untuk sampai pada tingkatan tersebut. Menyadari fenomena tak masuk akal di hadapannya, tubuh besar Erebrus mulai gemetar merasa ngeri.
"Mustahil ... manusia mustahil memiliki aura iblis yang jauh lebih kental daripada iblis sejati."
Ketika Erebrus sadar bahwa tubuh Alma juga mengalami luka yang sangat parah, dia menggunakan seluruh kekuatan yang tersisa untuk berbalik dan melompat kabur. Jumlah mana yang tipis membuat Erebrus tidak begitu yakin bahwa dirinya akan bisa membunuh sosok itu. Apalagi saat dia menyadari bahwa jumlah mana musuhnya malah semakin meluap.
Andaikan dirinya memiliki satu saja senjata sihir, dia mungkin masih memiliki kesempatan untuk menang. Sayangnya, seluruh perlengkapan yang dia miliki telah hancur ketika dirinya melawan pasukan milik Wrath di Tartarus. Kemudian, masih terjebak di dalam pertempuran berskala besar tanpa memiliki satu pun senjata, dia tiba-tiba dipanggil ke dunia ini. Hal itulah yang menjadi penyebab kenapa Erebrus yang menduduki peringkat archdemon tidak memiliki apa pun yang tersisa.
"Perintahku adalah untuk membunuhmu. Tidak akan kubiarkan kau lolos begitu saja!"
Kecepatan Alma masih jauh lebih unggul dari Erebrus sehingga memperpendek jarak bukanlah masalah untuknya. Gadis itu langsung meraih salah satu kaki Erebrus dan membantingnya hingga menghantam tanah. Erebrus yang terbaring telungkup di atas tanah mulai dipukuli habis-habisan sebelum akhirnya tendangan kaki kecil Alma menghantam bagian samping kepalanya hingga membuat Erebrus terpental beberapa meter dari posisi sebelumnya.
Makhluk itu berguling untuk sesaat, kembali terbatuk mengeluarkan cairan kental berwarna hitam dari mulut, hidung, dan bahkan telinganya.
Tubuhnya kini dipenuhi oleh luka yang tidak terhitung jumlahnya.
"Manusia tidak mungkin memiliki kekuatan mengerikan seperti ini." Di tengah kesakitan yang dideritanya, Erebrus bergumam pelan.
Bola matanya mulai sayu, membuat pandangan mata Erebrus menjadi buram. Namun, dengan kemampuan pandangannya yang tersisa, Erebrus masih dapat melihat tubuh anak manusia bertopeng yang tengah berjalan ke arahnya. Di samping aura hitam yang memancar darinya, kulit tipis gadis itu mulai meleleh layaknya sebongkah es yang tersiram air panas.
Asap hitam sedikit mengepul dari kulitnya yang terus meleleh, membuka luka mengerikan dan menampakan otot-ototnya yang kecil. Cairan kental berwarna merah mulai membanjiri tubuhnya secara perlahan. Gadis itu tampaknya akan mencair oleh kekuatannya sendiri.
Masih dalam keadaan sekarat dengan pandangan yang semakin gelap, Erebrus menyadari bahwa gadis itu kembali menarik tanduknya. Kemudian, dia melompat sangat tinggi bersama Erebrus di tangan kanannya. Tanpa membuang banyak waktu, Alma melemparkan Erebrus tepat ke alun-alun Desa Werewolf dan bermaksud untuk membunuhnya di sana.
Dia bukan manusia. Seharusnya aku percaya dengan kata-katanya sejak awal dan menggunakan semua kekuatanku untuk kabur.
Sebelum tubuhnya menghantam alun-alun, Erebrus menyesali pilihannya.
----------
Selasa, 21 Mei 2019
Pukul 03:40 PM
Catatan : -
Riwayat Penyuntingan
• Minggu, 02 Juni 2019
• Minggu, 27 Oktober 2019