
"Kau juga seorang kontraktor, 'kan?"
Glastila mengatakan sesuatu yang membuatku dan Alma membeku dalam diam.
"Kekuatan pukulan sebesar itu tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa. Aku yakin sarung tanganmu juga salah satu dari demoniac weapons."
Perkataannya memang cukup masuk akal. Aku kehilangan konsentrasiku dalam menyembunyikan identitas saat menyadari bahwa nyawaku dalam bahaya. Tanpa pikir panjang aku menggunakan sarung tanganku dan melupakan fakta bahwa manusia biasa akan langsung gila begitu mereka menyentuh senjata seperti ini.
Tentu saja kenyataan bahwa aku baik-baik saja setelah memakainya sudah lebih dari cukup untuk menilai bahwa diriku bukanlah manusia. Satu-satunya kesimpulan yang tepat adalah menganggapku sebagai kontraktor.
Mari berpikir terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berbicara.
Mengingat dirinya melepaskan Alma begitu saja membuatku berpikir bahwa kelihatannya Glastila hanya akan bereaksi kepada para iblis yang lepas kendali. Mengakuinya mungkin tidak akan menjadi masalah yang besar. Namun, jika aku mengenalkan diri sebagai pemimpin para iblis, aku tidak yakin dia akan melepaskanku begitu saja.
Kalau begitu, mengaku sebagai acient demon akan menjadi pilihan yang bijak.
Tepat saat aku akan membalas pertanyaan yang dia ajukan padaku, pintu ganda di belakang kami tiba-tiba terbuka dengan kasar. Seorang prajurit langsung masuk ke dalam, berlari menuju Glastila yang berdiri tak jauh di depan kami. Wajahnya terlihat cemas, seakan sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Saya menghadap Yang Mulia! Mohon maaf telah berani mengganggu waktu Anda, tetapi sebuah panggilan darurat telah datang!"
Aku dan Alma hanya berdiri diam di hadapan mereka berdua, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah terjadi pemberontakan di Kekaisaran Dwarf? Yah, kurasa tidak mungkin hal seperti itu akan terjadi di sini.
"Apa masalahnya?" Glastila bertanya dengan nada yang ketus.
"Sebuah sihir kuat telah terdeteksi. Robbert telah dikirim ke sana begitu kami menyadarinya. Namun, dia tampaknya kesulitan. Kami membutuhkan bantuan Anda di garis depan."
Seseorang yang berbicara bukanlah ksatria wanita yang masih terengah-engah, melainkan seorang gadis berjubah hitam yang baru saja keluar dari retakan dimensi tak jauh dari tempatku berdiri.
Hanya ada satu orang di dunia ini yang menguasai kemampuan untuk melubangi dimensi, dia adalah Carmen.
Sudah agak lama aku tak melihatnya. Dia kelihatannya tidak banyak berubah semenjak terakhir kali kita bertemu. Wajah ketusnya yang khas masih sama seperti sebelumnya.
"Sihir kuat? Tapi aku tak merasakannya. Bagaimana bisa?"
Mendengar ucapan Glastila, Carmen memandang sekeliling, melihat ruangan yang hancur berantakan melalui bola mata cokelatnya. Kemudian, pandangannya berhenti padaku dan Alma.
"Mungkin karena kontraktor? Mana kegelapannya akan tumpang-tindih dengan mana samar yang datang dari kejauhan."
"Ah~" Glastila juga kini beralih memandang kami. Kurasa alasan yang dikemukakan oleh Carmen dapat dia terima dengan baik. "Aku mengerti. Siapa saja yang berada di sana?"
"Kursi Ketiga sebagai pelopor dan Kursi Kelima sebagai barisan belakang."
"Dan itu masih tidak cukup? Apa yang sebenarnya dilakukan si pendeta elf menyedihkan itu?"
"Masalahnya sama sekali berbeda, Yang Mulia. Musuh melemparkan mantra yang sanggup memanggil api hitam dan Kursi Kelima sibuk dengan pemadaman api hingga sekarang."
"Api neraka, ya? Kudengar api seperti itu mustahil untuk dipadamkan hanya dengan sihir elemen biasa."
Melempar api neraka? Sungguh masalah yang serius.
Jenis api neraka bahkan tidak akan padam setelah dua belas tahun dan akan membuat wilayah yang terbakar menjadi lautan lava. Setidaknya butuh mantra di atas gerbang kegelapan empat belas untuk memanifestasikan api sekuat itu. Sejauh ini hanya para acient demon dan di atasnya yang bisa menggunakannya.
Kalau begitu, apakah sudah ada acient demon yang terpanggil kemari? Siapa pun itu, aku mengucapkan belasungkawa karena telah menarik perhatian dari berbagai macam orang merepotkan. Tidak lama lagi dia mungkin akan mati.
"Panggil Naga dan para guardian kemari. Kita akan menuju garis depan!"
Glastila meraih perisai dan pedangnya kembali seraya memberikan perintah pada prajurit wanita di hadapannya. Prajurit itu langsung menjawab sebelum berbalik dan kembali berlari menuju pintu keluar.
"Kejayaan bagi Kekaisaran Dwarf!"
Setelah itu, keadaan ruang takhta menjadi sibuk. Sekitar seratus prajurit yang terdiri dari para wanita dan pria pendek berotot mulai berdatangan. Mereka menggunakan set armor lengkap dan membawa perisai serta pedang dua tangan tebal. Beberapa orang membawa sebuah kapak logam di punggungnya, kurasa itu akan digunakan sebagai senjata cadangan.
Ketika aku masih memperhatikan kesibukan mereka seraya kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa, suasana ruangan tiba-tiba menjadi semakin panas dan pengap. Aku bahkan kesulitan untuk bernapas, seakan udara kian menipis.
Kulihat Alma mulai gemetar sebelum akhirnya jatuh terduduk dan bertumpu pada kedua tangannya. Aku juga hampir melakukan hal yang sama, tetapi masih sanggup untuk tetap bertumpu hanya pada kedua kakiku.
Ketika kami masih terjebak dalam penderitaan yang menyakitkan ini, seorang gadis kecil mulai melangkah memasuki ruangan. Dia mengenakan gaun putih bersih yang melambai setiap dirinya melangkah. Tubuhnya sangat kurus dan terlihat menyedihkan, tetapi wajahnya tidak menunjukan emosi apa pun.
Begitu jarak di antara kami semakin dekat, gadis itu beralih memandang ke arahku dan Alma. Dia menatap tajam melalui bola mata putihnya yang memancarkan cahaya. Pada saat itulah raut wajahnya sedikit berubah, seakan berusaha untuk mengintimidasi kami berdua.
Bola mata yang memancarkan cahaya adalah bukti betapa pekatnya mana yang dia pancarkan. Hal ini juga memengaruhi suhu dan tekanan udara di sekitarnya, membuat kami para iblis merasa tersiksa berada di dekat gadis itu. Walaupun begitu, membocorkan sejumlah besar mana bukanlah hal yang bijak. Aku tidak mengerti kenapa dia menggunakan mana miliknya hanya untuk disia-siakan.
Apakah dia sedang menyombongkan diri dan berusaha untuk terlihat kuat? Jujur saja, jika dia menghadapi Fiora dalam mode penuhnya, dia bahkan tidak akan bisa bertahan lebih dari dua menit. Pada akhirnya orang-orang lemah selalu mengabaikan fakta bahwa ada seseorang yang jauh lebih kuat daripada dirinya.
"Kita akan berangkat sekarang juga." Glastila mulai berbicara setelah menyadari gadis sombong itu mendatanginya. "Pendeta, bawa kami ke garis depan."
Perintahnya ditujukan kepada Carmen. Sementara itu, kelihatannya kami berdua telah dilupakan. Menyadari hal ini membuat aku dan Alma tampak menyedihkan. Apakah kami telah sepenuhnya menyatu dengan udara?
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Carmen menjawab seraya membungkukan tubuhnya sebagai tanda penghormatan.
Tanpa menunggu waktu lama, sebuah retakan raksasa tercipta di hadapan kami. Lubangnya jauh lebih besar daripada retakan yang biasa kami lihat selama ini. Kalau sebesar itu, bahkan ribuan prajurit bisa dipindahkan dengan mudah. Betapa praktisnya kemampuan yang dimiliki oleh Carmen. Aku jadi ingin membawanya ke sisiku.
"Semuanya, maju!" Bersamaan dengan teriakan Glastila, orang-orang di ruangan ini mulai berlari ke arah lubang dimensi disertai dengan teriakan-teriakan penyemangat.
Seperti yang kuduga dari para penggila perang. Bukannya takut, mereka malah semakin menggila.
Satu-persatu prajurit mulai lenyap, menghilang ke balik lubang dimensi di hadapan kami. Ketika gadis sombong bermata putih itu juga lenyap, aku dan Alma akhirnya merasa jauh lebih baik. Tekanan mana yang dipancarkannya benar-benar mengganggu.
Orang yang tersisa di sini kini hanya diriku, Alma, dan Carmen yang berdiri tepat di hadapan lubang dimensi. Dia memandang ke arah kami, lalu Carmen berbicara.
"Entah apakah aku sedang beruntung atau tidak, aku bertemu dengan kalian di waktu yang tepat."
Lubang raksasa di hadapan kami mulai memudar, kemudian lenyap begitu saja. Kelihatannya Carmen tidak bermaksud untuk ikut bertempur di garis depan. Yah, mengingat kemampuannya yang hanya berguna untuk menciptakan lubang dimensi, aku tak yakin dia hebat dalam pertempuran.
"Kalian akan ikut denganku ke Kuil Ortodox. Demigod telah memutuskan untuk mengundang kalian dalam rangka untuk memberikan izin penggunaan sihir kegelapan."
Ah, aku bahkan hampir lupa mengenai hal ini. Alma butuh sebuah tanda untuk dapat menggunakan mantra kegelapan dengan bebas. Kabar baik bahwa Demigod memanggilnya untuk memberikan tanda tersebut. Namun, perasaanku sungguh tidak enak.
Carmen mulai meretakan dimensi yang baru, kali ini lubang yang tercipta hanya cukup untuk dilewati satu orang. Dia kemudian berbalik menatap kami seraya kembali berbicara.
"Mari ikuti aku. Demigod telah menunggu kalian berdua di kuil."
Kami berdua pada awalnya hanya terdiam merasa ragu dengan apa yang harus dilakukan. Hal ini tampaknya disadari oleh Carmen sehingga dia mengucapkan kalimat yang membuatku mengerutkan dahi.
"Jangan khawatir. Beliau sudah tahu bahwa kalian berdua adalah kontraktor. Bahkan beliau tahu dari awal. Melihat tidak adanya perintah untuk melawan kalian sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Demigod memberikan izin atas kontrak yang kalian buat."
Dia sudah tahu dari awal? Setahuku hanya para penghuni langit yang memiliki kepekaan luar biasa terhadap mana kegelapan yang sanggup mendeteksi para iblis di dunia fana. Kalau begitu, apakah dia sebenarnya adalah salah satu makhluk yang menghuni langit?
Mari kesampingkan terlebih dahulu tentang identitasnya.
Perkataan Carmen kelihatannya cukup dapat dimengerti. Demigod tidak menargetkan kami walaupun beberapa dari Enam Pendeta pada kenyataannya sudah menyadari Alma sebagai kontraktor. Mungkin saja pemikirannya sama dengan Glastila. Dia hanya akan menyerang para iblis yang merusak dunia fana.
Kalau memang begitu, betapa naifnya Demigod ini. Kebaikannya kelak akan menuntun dunia ini pada kehancuran. Yah, kurasa kenaifannya membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah bagiku. Lagipula dia adalah seorang penghuni langit. Naif sudah menjadi sifat mereka yang mendarah daging.
Aku memandang ke arah Alma yang berdiri di sampingku dan menganggukan kepala. Dia juga melakukan hal yang sama sebagai jawaban atas anggukanku.
Aku penasaran dengan orang yang disebut Demigod ini. Apakah dia orang yang kukenal dari kalangan penghuni langit? Ataukah hanya penghuni langit muda naif tak berpengalaman yang baru terlahir beberapa ribu tahun belakangan?
Aku melangkah menuju lubang dimensi mengikuti Carmen dari belakang. Alma juga mengikuti kami. Pada akhirnya kita bertiga memasuki lubang dimensi menuju Kuil Ortodox.
Baiklah, mari kita periksa sendiri identitas asli dari orang ini.
---------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 23 Mei 2020 pukul 12:00 PM.
Note : Besok lebaran uwu
Tapi korona belum reda dan malah banyak rakyat paok apatis yang bermunculan.