
Hari itu cuaca sangatlah cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan rumput-rumput hijau yang berembun karena tiupan angin dingin sepanjang malam. Mereka bergerak-gerak ketika kelinci-kelinci putih menginjak dan memakannya dengan lahap.
Tak jauh dari sana, duduk di bawah salah satu pohon yang rindang, seorang gadis kecil berusia sebelas tahun memandang dengan senyuman yang menyungging di wajahnya. Rambut cokelatnya yang lurus dia mainkan dengan jari-jari kecilnya secara tidak sadar. Kedua bola mata cokelat itu memandang ke arah salah satu anak kelinci putih yang baru lahir beberapa hari lalu.
Gadis itu mulai bangkit, berjalan mendekati anak kelinci yang sejak tadi menarik perhatiannya, lalu mengambilnya secara perlahan. Bulu-bulu putih itu terasa begitu lembut, menggelitik seluruh telapak tangannya yang dipenuhi bekas luka mengering. Sensasi tersebut tentunya membuat Sang Gadis merasa semakin gembira.
"Kau begitu kecil dan lucu. Bulumu cantik dan terlihat sangat cocok untukmu." Dia berbicara pada kelinci yang hanya sebesar kedua telapak tangannya.
Gadis itu mulai menggosok anak kelinci tersebut tepat di pipi kanannya, memejamkan mata seraya tersenyum dengan sensasi menyenangkan yang ditimbulkan dari bulu-bulu putih itu. Jauh di dalam hatinya, dia bersyukur bahwa dirinya dapat dekat dengan kelinci-kelinci liar di sana.
Kemudian, setelah puas bermain dengan anak kelinci mungil itu, dia kembali berbicara.
"Kau tahu? Ibuku selalu tampak murung. Padahal aku tahu bahwa dia akan terlihat cantik saat tersenyum. Namun, karena mungkin aku adalah anak yang nakal, dia selalu memandangku dengan tatapan benci."
Gadis itu kembali berdiri dari posisi jongkoknya.
"Tapi kau sangat lucu. Aku menyukaimu, aku yakin ibu juga akan menyukaimu. Jadi, bagaimana kalau kau tinggal di rumahku?"
Kedua bola matanya memandang dalam ke wajah anak kelinci di telapak tangannya, menatap pada kedua bola mata merah gelap kelinci kecil tersebut.
"Ah, jangan khawatir. Aku akan sering membawamu ke sini untuk bertemu saudara-saudaramu."
Gadis itu tersenyum manis sebelum berbalik untuk melangkah pergi meninggalkan padang rumput kecil itu. Namun, salah satu kelinci tiba-tiba mengeluarkan suara seraya mendorong salah satu kaki gadis itu. Dia seakan melarang Sang Gadis untuk melangkahkan kakinya.
Sadar akan sosok kelinci itu, dia mengalihkan pandangan ke arah kakinya. Tepat di atas jari-jari kaki kanannya, seekor kelinci putih dewasa dengan badan yang gempal menindihnya, memberikan sensasi lembut yang sedikit menggelitik.
"Ah, apakah kau ibunya?" Gadis itu berjongkok dan mendekatkan anak kelinci di tangannya dengan kelinci dewasa di hadapannya.
Kedua hewan itu menempelkan hidungnya beberapa kali sebelum saling mengusap kepala mereka dengan bulu-bulu halus di pipinya. Suasana hangat itu semakin membuat Sang Gadis merasa bahagia.
"Bukankah hubungan antara ibu dan anak seharusnya seperti ini? Benar-benar hari yang indah. Maaf karena telah membawa anakmu tanpa izin." Dia terlihat menyesal.
"Namaku Carmen. Senang bertemu denganmu. Namun, aku harus segera pergi atau ibu akan mulai memakiku dan ayah mungkin akan memukuliku lagi."
"Sekarang, biarkan aku membawanya ke rumahku."
Walaupun gadis itu berbicara dengan nada yang lembut, kelinci betina dewasa di kakinya tentu saja tidak mengizinkannya untuk membawa kelinci kecil itu. Dia tetap menduduki kaki kanan gadis tersebut tanpa mau menyingkir.
"Kau, apakah kau sangat sayang pada anakmu?"
Gadis itu berbicara dengan nada yang sedih. Beberapa waktu kemudian, wajahnya yang manis berubah menjadi raut wajah penuh kemarahan. Gadis itu mulai menatap anak kelinci di kedua telapak tangannya seraya kembali berbicara.
"Kau punya seorang ibu yang baik. Karena kau punya ibu yang baik, kau menjadi tidak mirip denganku. Karena kau tidak mirip denganku, aku jadi membencimu."
Setelah ucapannya selesai, gadis itu mengangkat kaki kirinya tinggi-tinggi. Lalu, tanpa perasaan ragu, dia menginjak kepala kelinci dewasa itu sekencang yang dia bisa. Hal ini membuat seluruh kelinci beralih memandangnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya berlari menjauhi padang rumput tersebut. Mereka menghilang di balik hutan tanpa butuh waktu lama.
"Aku akan membuat ibumu sama dengan ibuku. Dengan begitu, kita berdua akan kembali mirip."
Dia menendang kelinci betina di hadapannya dengan kaki kanan, membuatnya terpental beberapa meter dan terkapar dengan luka yang sangat parah. Setelah itu, dia kembali mendekatinya dan menendang untuk kedua kalinya. Kali ini kelinci betina itu tergeletak lemah di atas rerumputan dengan noda darah mengotori bulu putihnya yang indah.
"Dengan begini, kita menjadi semakin mirip."
Gadis itu memiringkan kepala seraya tersenyum tulus. Dia melangkah pergi dengan kedua tangan yang masih memegangi seekor anak kelinci putih. Wajahnya yang cantik dan polos tidak sedikit pun terlihat menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya.
-----
Dipublikasikan di mangatoon pada Hari Selasa 05 November 2019
Pukul 13:39 PM
Note : Kependekan? Namanya juga part bonus heu ...
Awalnya kupikir akan kupublish Sabtu, tapi aneh aja memublish bab bonus sebagai pengganti bab wajib. Jadi, kuputuskan untuk publish sekarang dan Hari Sabtu akan tetap ada bab baru.