
Garis depan Ibukota Catonia, tujuh hari setelah peperangan secara resmi dimulai.
Benteng kota telah rusak akibat penyerangan dari salah satu pasukan iblis yang dipimpin oleh acient demon tertentu beberapa waktu lalu. Banyak penduduk pada saat itu yang berakhir menjadi santapan para iblis dan ditarik menuju domain mereka. Untungnya, kerusakan lebih lanjut dapat dicegah berkat kedatangan Empress Glastila dan Sang Pahlawan. Pertarungan sengit antara pasukan iblis dengan Sang Pahlawan berlangsung seharian penuh sebelum akhirnya pemimpin musuh yang merupakan acient demon berhasil dimusnahkan.
Sisa dari penduduk yang selamat pada akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan kota setelah mimpi buruk itu. Oleh karenanya, Ibukota Catonia berakhir menjadi kota mati dan hanya dihuni oleh para pasukan penyerang. Bangunan-bangunan di dalam kota kini beralih fungsi menjadi kamp militer, ruang perawatan, dan peristirahatan bagi para prajurit yang berhasil kembali hidup-hidup dari medan perang.
Dalam waktu seminggu ini, jumlah korban dari pihak makhluk fana diperkirakan mencapai lima puluh ribu jiwa dan garis depan tidak berubah sedikit pun. Para iblis yang pada dasarnya jauh lebih kuat daripada makhluk fana tampaknya terlalu sulit untuk dipukul mundur.
Sampai hari ini, kelihatannya iblis terkuat yang muncul hanyalah beberapa archdemon yang memimpin sekelompok kecil iblis lemah. Namun, tetap saja, menerobos garis pertahanan iblis masih terlalu sulit untuk dilakukan. Jadi, panglima tertinggi dalam perang kali ini memutuskan untuk mengikis pasukan musuh sedikit demi sedikit.
Di atas benteng terluar kota yang mengalami kerusakan pada beberapa bagian, para prajurit dari Kekaisaran Dwarf tampak sibuk mengangkut meriam-meriam generasi terbaru untuk ditempatkan di sana. Mereka mengangkutnya menggunakan tali dengan dibantu oleh para penyihir yang bisa menggunakan mantra berelemen angin untuk meringankan bobot meriam yang luar biasa berat.
Sinar-sinar merah darah beberapa kali melesat menuju benteng, tetapi perisai-perisa cahaya bermunculan di langit untuk menghalau serangan tersebut. Kekuatan yang sangat bertentangan itu saling menghancurkan dan berakhir meledak, membakar udara di atas langit diikuti suara gemuruh yang begitu keras.
Tandu-tandu terus berdatangan dari garis depan, membawa para prajurit terluka menuju kamp-kamp perawatan yang telah disiapkan oleh pihak kuil untuk disembuhkan. Para prajurit yang berhasil terselamatkan kemudian akan beristirahat selama beberapa hari dan mengganti perlengkapannya sebelum kembali dikirim ke garis depan untuk menggantikan mereka yang terluka atau kelelahan.
Hari-hari mencekam ini terus berlanjut dan tidak menunjukan tanda-tanda akan berhenti.
"Kekuatanku sudah menipis. Selanjutnya giliranmu."
Seorang gadis kecil yang berdiri di atas benteng berbicara dengan nada yang dingin ke arah gadis lain yang sedang duduk di atas benteng tersebut seraya mengayunkan kakinya. Bola matanya yang memancarkan cahaya putih redup memandang tajam kepada lawan bicaranya, jelas terlihat tidak senang dengan gadis berambut hitam yang masih duduk di sampingnya.
Sosok berambut hitam itu mulai menggeser topengnya, menutupi seluruh wajah datarnya dengan topeng logam aneh yang sejak awal tersingkap di samping wajahnya. Suaranya yang tanpa emosi mulai terdengar.
"Kau hanya dapat bertahan satu hari? Naga, bukankah sebagai rekan dari pendeta kursi keempat, kau itu terlalu lemah?"
Tekanan aura suci yang terpancar dari gadis dwarf yang berdiri di belakang gadis bertopeng itu tiba-tiba menguat, membuat benteng yang mereka pijak menghitam seraya mengeluarkan asap hitam dan bau terbakar yang cukup menyengat. Untungnya, pncaran itu hanya terjadi sesaat. Kalau saja berlangsung selama beberapa menit, mungkin benteng akan meleleh membentuk danau lava.
"Jangan samakan aku dengan para reptil bodoh. Sebagai salah satu luminous yang telah mencapai gelar heaven dragon lord, menyamakanku dengan seekor reptil adalah sebuah bentuk penghinaan tak termaafkan."
Tepat setelah kata-kata itu terucap, bola api dengan berbagai ukuran tiba-tiba melesat ke arah mereka. Untungnya, sebuah perisai raksasa berwarna merah pekat menghalangi lintasan beberapa bola api itu sehingga orang-orang yang berada di sana dapat terhindar dari dampak serangan.
"Hah ... " Kali ini giliran si gadis berambut hitam yang berbicara. "Melakukan ini setiap hari benar-benar merepotkan. Kenapa juga kita harus menjaga benteng seperti ini. Apakah para makhluk fana tidak ada yang bisa menghalangi mantra-mantra lemah seperti ini?"
Menanggapi keluhan seperti itu, sosok yang disebut naga membalas dengan nada yang datar pula.
"Mereka yang kuat pergi ke garis depan untuk menghadapi para archdemon. Enam Pendeta tidak diizinkan untuk ikut campur dengan alasan menghemat tenaga. Oleh karena itulah kita ditempatkan di garis belakang untuk melindungi benteng."
Pasukan khusus yang terdiri dari para anggota Enam Pendeta disiapkan untuk bertarung melawan Garfagos. Alasan inilah yang mendasari kenapa mereka tidak diizinkan untuk ikut berperang di garis depan. Mereka harus berada dalam performa tertinggi begitu kemunculan Garfagos dikonfirmasi di medan perang.
"Omong-omong, bukankah lawan kita nanti adalah saudaramu? Aku penasaran kenapa kau mau bergabung dengan kami dan melawannya."
Naga membuka topik pembicaraan ketika gadis bertopeng itu sibuk menghalau serangan lain yang baru saja mengarah ke benteng.
"Lucu sekali kau membicarakan tentang saudara kepada iblis." Gadis bertopeng itu masih duduk dengan tenang walaupun serangan sihir yang mengarah ke benteng semakin intens. "Aku hanya memilih kubu yang paling menguntungkan. Lagipula dia pernah sekali menginvasi kastilku. Nyawanya bahkan tidak cukup untuk menebus tindakan kurang ajar itu."
Walaupun Naga sebenarnya adalah seorang dragon lord yang berasal dari kerajaan langit, tetapi usianya tidaklah setua itu. Dunia bawah telah disegel jauh sebelum dirinya terlahir ke dunia. Jadi, dia tidak terlalu banyak tahu tentang para iblis yang dirumorkan tidak memiliki konsep kasih sayang. Mungkin pertanyaan dia sebelumnya didasarkan pada rasa penasarannya tentang pandangan iblis terhadap iblis lain yang memiliki hubungan darah.
"Sejujurnya, kalau bisa memilih, aku lebih memilih untuk tidak ikut campur. Lebih baik para iblis pulang dengan tenang ke dunia bawah."
"Kau ingin mereka semua pulang supaya dirimu menjadi satu-satunya iblis di dunia fana, 'kan? Bukankah itu terlalu serakah?"
Mendengar ucapan itu, gadis berambut hitam di hadapan Naga menggelengkan kepalanya. Nada yang mengiringi kata-katanya sedikit menunjukan emosi yang sulit dijelaskan.
Mendengar ucapan seperti itu, Naga hanya bisa berdiri dalam diam. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut salah satu makhluk dunia bawah.
Pemikiran untuk mengasihani makhluk lain seharusnya tidak pernah sedikit pun terlintas di pikiran para iblis. Mereka cenderung hidup untuk dirinya sendiri, saling memanfaatkan untuk mencapai puncak kejayaan dirinya masing-masing.
Naga tidak pernah menyangka bahwa iblis pertama yang diajaknya untuk saling berkomunikasi justru mengatakan hal-hal yang seharusnya mustahil diucapkan oleh para iblis.
Dia sedikit menyunggingkan senyum mengejek ketika mencapai suatu kesimpulan.
"Bahkan iblis peringkat tinggi sepertimu pun tetap terpengaruh, ya?"
Di sela-sela kesibukannya dalam menciptakan mantra pertahanan untuk melindungi benteng, gadis bertopeng itu memalingkan kepalanya untuk memandang ke arah Naga seraya mengajukan sebuah pertanyaan.
"Apa yang kau bicarakan?"
Naga yang masih menunjukan raut wajah penuh kesombongan menjawab dengan dingin.
"Sebagai sesama makhluk yang terikat dalam kontrak bejana, aku tahu betul bagaimana sifat asliku perlahan-lahan terkikis oleh sifat dan pola pikir makhluk yang menjadi wadahku."
Kontrak bejana adalah sebuah kontrak yang dilakukan untuk menyegel makhluk dari langit atau dunia bawah ke dalam tubuh makhluk fana. Ketika kontrak itu dibuat, kedua makhluk yang terhubung akan saling berbagi ingatan hidup mereka, berusaha mengikis satu sama lain. Pada akhirnya, akibat ingatan yang saling tumpang tindih, kedua makhluk yang melakukan kontrak perlahan akan mengalami perubahan sifat.
Naga sendiri --selaku makhluk yang dikontrak-- mengalami hal ini dan dia sudah menyadarinya sejak lama. Walaupun begitu, karena kehidupan dari wadahnya hanya dihabiskan di dalam ruang isolasi, Naga tidak berubah terlalu jauh. Tetap saja, rasa takut, kesepian, kesedihan, dan emosi kuat lainnya yang timbul akibat hidup selamanya di dalam ruang isolasi membuat pikiran Naga menjadi kacau.
Berbeda dengan Naga, Acient Demon Fiora menempati tubuh seorang gadis bangsawan tinggi. Pengalaman hidup dan pembelajarannya tentang kemanusiaan tidak dapat dibandingkan dengan rakyat jelata. Pengalaman-pengalaman itu pastilah mengikis sifat dan pola pikir Fiora jauh lebih parah daripada yang dialaminya. Perubahan sifatnya sudah tidak diragukan lagi.
Gadis bertopeng itu kembali berbalik memandang garis depan setelah mendengar kata-kata Naga. Dia terdiam beberapa saat, lalu bergumam dengan suara yang pelan.
"Begitukah? Jadi, ingatan-ingatan yang kulihat selama ini akan mengubahku secara perlahan?"
Naga mengerutkan dahinya, tidak menyangka bahwa iblis sejati di hadapannya tetap tenang setelah menyadari kenyataan tersebut. Mungkin makhluk itu memang tidak terlalu memedulikan hal-hal remeh ini. Namun, tetap saja, perubahan yang dia tuju akan merugikan dirinya sebagai salah satu dari delapan monarch. Dia akan terjebak dengan perasaan-perasaan seorang manusia, menjadikannya ragu dalam mengambil keputusan di masa depan.
Yah, itu bukan urusanku.
Naga tidak peduli dengan perubahan yang dialami Fiora. Malahan, perubahan Fiora yang seperti ini akan menjadi langkah yang bagus. Terkikisnya pola pikir iblis akan membuat mereka cenderung memilih jalan kedamaian alih-alih menuruti keserakahannya untuk menguasai dunia. Di masa depan, Fiora mungkin malah akan terus ikut mempertahankan dunia ini dari invasi para iblis.
Ketika keduanya kembali saling diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sebuah gerbang dimensi tiba-tiba muncul di samping keduanya. Hanya dengan melihat hal itu, mereka berdua langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi di garis depan.
--------------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 12 September 2020 pukul 12:00 PM.
Note :
• Kenapa aura suci yang dipancarkan Naga justru membakar lingkungan di sekitarnya?
Lingkungan yang sudah ternoda oleh dosa akan terbakar ketika aura suci yang kuat mengenainya. Alasan ini jugalah yang mendasari kenapa Demigod tidak pernah bersedia keluar dari kuilnya. Daratan akan berubah menjadi lautan lava begitu Demigod menginjakan kakinya di benua manusia.
Moodku sedang buruk akhir-akhir ini karena ada spam komen di semua karyaku. Mungkin ini bab terakhir yang kuapdet. Apakah bakal apdet lagi atau gak, ya tergantung moodku.
Maaf yang dah baca sampe sini.