
Biasanya wilayah terluar dari sebuah kerajaan akan dipercayakan pada mereka yang mendapatkan gelar marquis. Namun, karena wilayah ini hanya berbatasan dengan sebuah hutan lebat yang sulit untuk ditembus dan peperangan hanya akan terjadi jauh di kedalaman hutan yang memiliki area rerumputan luas, Sang Raja memutuskan untuk menyerahkannya pada Earl Garcia.
Tempat yang diduduki olehnya terbilang cukup luas. Terdapat tiga kota utama dan satu ibukota yang masing-masing dipimpin oleh seorang viscount sementara ibukota sendiri merupakan wilayah khusus yang diurus langsung oleh earl. Ketiga kota utama memiliki beberapa kota kecil yang diurus oleh para baron yang dipercaya oleh Sang Earl sendiri.
Sistemnya memang cukup rumit, tetapi anehnya bekerja dengan efisiensi yang tinggi dan diterapkan di hampir semua wilayah kerajaan.
Salah satu kota utama yang menempati wilayah terluar dipimpin oleh seorang bangsawan yang dikenal sebagai Viscount Eurellia. Sementara itu, kota yang benar-benar berbatasan langsung dengan Hutan Besar Eryas adalah wilayah kedudukan milik Baron Cromwell yang disebut sebagai Kota Agarten.
Layaknya sebuah kota pada umumnya, Agarten memiliki sebuah benteng yang menjulang tinggi mengelilingi seluruh wilayah kota dengan desa-desa dan ladang yang tersebar di luar dinding. Sementara itu, Mansion Sang Baron berdiri di pusat kota, berdekatan dengan Kuil, Guild Petualang, dan Guild Perdagangan. Sedangkan penginapan-penginapan dan restoran mewah cukup jarang ditemui karena sedikitnya para pengembara dan pedagang keliling yang jauh-jauh datang ke kota paling ujung ini. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Kota Agarten sangat lambat untuk berkembang.
Mengetahui sedikit asal-usul dan keadaan kota, Carmen berjalan santai menuju gerbang pemeriksaan. Dia melirik ke arah ladang-ladang kering dan rusak yang seakan tidak pernah dirawat. Gadis itu bahkan tidak bisa menemukan para prajurit Orde Cromwell yang seharusnya berdiri di samping kanan dan kiri gerbang dengan tombak di tangan mereka.
"Sepi dan suram. Bahkan lebih suram daripada hidupku."
Carmen menghela napas seraya berjalan melewati gerbang begitu saja setelah sadar bahwa tidak ada siapa pun yang bertugas untuk memeriksa.
"Apa terjadi krisis ekonomi besar-besaran?"
Dia memiringkan kepala, beberapa kali memalingkan wajahnya untuk memandang rumah-rumah yang terkesan tidak terurus. Melalui pandangannya, Carmen melihat batang-batang kayu tergeletak di jalanan, jendela-jendela dari beberapa rumah yang sudah pecah dan usang, serta kereta-kereta kuda yang terparkir sembarangan. Hal ini membuat kesan suram sebelumnya bahkan meningkat dua kali lipat.
Di dalam kesunyian yang membuat Carmen jatuh ke dalam kekhawatiran, dia melihat salah satu pintu rumah mulai terbuka dengan suara berderit yang cukup mengganggu. Kemudian, seorang pria tua dengan wajah seakan kelelahan berjalan keluar dan membalas tatapan Carmen.
"A-apakah Anda seorang pendeta?" Pria tua itu berbicara dengan ragu setelah melihat jubah pendeta yang dipakai olehnya.
Walaupun firasat dalam hatinya mulai berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di kota ini, dia berusaha untuk tetap tenang dan menjawab pertanyaan dari pria tua di hadapannya dengan jelas.
"Saya adalah Pendeta Campbell dari Kuil Ortodox. Saya dikirim kemari atas nama Demigod."
"De-d ... ?"
Tanpa menyelesaikan kalimatnya, butiran air mata mulai merembes dari kedua bola matanya yang berkaca-kaca. Dia berlutut, mengeluarkan isak tangis yang cukup keras seraya menggosok air matanya yang terus-menerus keluar.
"Syukurlah ... syukurlah! Sudah lama kami hidup dalam rasa takut dan mengurung diri di dalam rumah untuk menghindari mimpi buruk ini!" Kini lelaki itu bahkan menunduk di jalanan batu sementara air matanya tetap tidak berhenti. "Terima kasih kepada-Mu, wahai Dewi Hestia. Anda sudah mengirim salah satu utusan-Mu kemari."
Melihat reaksinya yang luar biasa, Carmen berusaha terlihat berwibawa seraya melangkah mendekati pria tua tersebut. Dia berlutut di sampingnya, menepuk punggungnya beberapa kali, dan mulai berbicara untuk lebih menenangkan pria tua di hadapannya yang masih jatuh ke dalam tangisan.
"Anda bisa tenang sekarang. Dewi Hestia tidak pernah meninggalkan kita. Kota ini sudah berada dalam lindungan-Nya melalui diriku."
Mendengar ucapan Carmen yang tulus, isak tangisnya berangsur mereda. Kepalanya kembali terangkat, menatap wajah Carmen yang tersenyum dengan kedua bola mata cokelat pudar yang masih berkaca-kaca. Di tengah-tengah isak tangisnya, pria itu masih sempat untuk berkata-kata.
"Mendengar kabar tersebut dari Anda benar-benar membuat saya sangat bahagia."
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
"Ah ... " Seakan telah melupakan hal yang sangat krusial, pria tersebut sedikit tersentak. "Maafkan saya karena telah membuang waktu Anda yang berharga! Nama saya Poulter, salah seorang pelayan di Guild Petualang."
Seperti namanya, Guild Petualang adalah tempat berkumpulnya para petualang. Walaupun tempat itu bukanlah restoran atau penginapan, biasanya aula dipenuhi oleh kursi-kursi dan meja kayu sebagai tempat duduk bagi para pengunjungnya. Beberapa makanan serta minuman bisa kau pesan di sana. Rasanya pun tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan restoran-restoran kelas menengah ke bawah. Jadi, jelas akan ada beberapa orang yang dipekerjakan sebagai pelayan. Namun, baru kali ini Carmen mendengar seorang pria tua menjadi pelayan di sebuah tempat suram seperti itu.
"Akhir-akhir ini selalu ada monster berkeliaran dan memakan mayat-mayat warga. Lalu, mereka ... "
Entah karena apa, pria tua itu tiba-tiba berhenti bicara. Wajahnya juga mulai memucat semakin parah dengan tatapan yang berangsur kosong. Tubuhnya bahkan mulai gemetar seakan mengingat sebuah mimpi yang teramat buruk.
Sebagai reaksi dari berhentinya ucapan orang tua tersebut, Carmen memiringkan kepala sedikit kebingungan. Namun, tidak butuh waktu lama sampai tangisan pria itu kembali pecah dan berubah menjadi sangat histeris. Dia bahkan mulai membentur-benturkan kepalanya ke jalanan batu di hadapannya.
"He-hei tenanglah!" Masih dalam keadaan panik dan kebingungan, gadis itu berusaha menahan pria tua yang dihadapinya.
Apa-apaan dengan orang ini?! Jauh di dalam hatinya, Carmen benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Maafkan aku! Maafkan aku!"
"Iya, iya aku maafkan! Cepat tenanglah!"
"Karena salahku, Istri dan anakku ... aku tidak terima mereka kehilangan nyawa!"
"Aku juga tidak rela! Jadi, tenangkan dirimu sebelum kau berakhir dengan ikut menyusul mereka!"
"Jika memang itu takdirku maka ..."
"Dasar pria tua bau tanah! Kau membuat hariku tambah merepotkan!"
Habis dengan kesabaran yang dia miliki, Carmen meraih baju lelaki itu dan mengangkatnya dengan kasar hingga wajah mereka kembali bertatapan. Kemudian, gadis itu menampar keningnya sangat kuat tanpa sedikit pun menahan diri.
Tepat setelah tamparan kerasnya mendarat dengan sempurna hingga menghasilkan suara yang cukup kencang, pria tua tersebut terdorong ke belakang sebelum akhirnya jatuh terlentang dengan kedua bola mata yang putih dan mulut terbuka.
Gadis itu menghela napas dalam setelah kejadian tidak terduga di hadapannya. Karena tidak memiliki banyak waktu dan harus menyelesaikan penyelidikannya sesegera mungkin, Carmen bermaksud untuk menanyakannya langsung ke penguasa wilayah ini. Namun, melihat pria tua menyedihkan yang terlentang tak sadarkan diri di hadapannya, dia memutuskan untuk menggunakan sedikit sihir penguatan tubuh yang berasal dari item sihir miliknya dan membopongnya menuju bangunan dimana dia keluar sebelumnya.
Tempat yang dia masuki adalah sebuah bangunan kecil sederhana yang lantai pertamanya digunakan sebagai sebuah toko. Sayangnya, bagian dalam bangunan tersebut sangat berantakan dan tidak terawat. Perabotan-perabotan dan lemari kayu yang berada di sana juga sudah rusak parah.
Mengingat apa yang dia katakan mengenai keluarganya, wajar jika tempat ini sudah tidak terurus dan dia jatuh ke dalam depresi luar biasa. Namun, bukan berarti semua ini harus terjadi.
Gadis itu sudah sering melihat penderitaan semacam ini di berbagai belahan dunia. Jadi, hatinya benar-benar sudah sangat kuat melihat semua pemandangan di hadapannya. Sayangnya, dia juga tidak bisa melakukan banyak hal.
"Kegilaan seperti apa sebenarnya yang membuatmu seperti ini?"
Saat Carmen sedikit merasa bersalah karena secara tidak langsung telah memaksa pria tua itu untuk membuka kembali mimpi buruknya dengan cara memberi pertanyaan mengenai musibah yang menimpa kota, seorang wanita paruh baya tiba-tiba turun dari tangga kayu di hadapannya.
"Ya ampun, apa yang terjadi pada suamiku?!"
Mendengar ucapannya, Carmen memekik kaget.
"E-eh?! Sua ... mi?!"
Gadis itu langsung membeku di tempat. Dia masih ingat dengan jelas bahwa pria tua yang masih dibopong olehnya mengatakan sesuatu tentang kematian istri dan anaknya. Jika memang seperti itu, lalu siapa sebenarnya wanita paruh baya di hadapannya?
"Ta-tapi tadi dia bilang bahwa istri dan anaknya sudah ... "
"Ah, maafkan tingkah suamiku yang mengganggu. Dia memiliki gangguan kejiwaan yang sudah lama diderita olehnya."
Wanita itu membungkuk dengan tulus ke arah Carmen yang masih membeku kebingungan. Kedua alisnya yang berkerut sudah cukup untuk menunjukan bahwa gadis itu merasa terguncang dengan semuanya.
Setelah menjelaskan situasinya dan meluruskan kesalah pahaman, wanita tua itu membopong suaminya untuk menggantikan Carmen. Kemudian, dia memohon pamit untuk mengantarkan suaminya terlebih dahulu menuju kamarnya di lantai dua dan meminta Carmen untuk menunggunya sebentar. Sayangnya, gadis itu tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan. Jadi, dia mengabaikan kesopanan dan langsung bertanya tepat sebelum wanita tua tersebut menaiki tangga.
"Sebelumnya, saya mohon maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Saya adalah Pendeta Ordo Campbell, rekan kelompok kursi ketiga dari Enam Pendeta. Saya kemari untuk penyelidikan dan tidak memiliki cukup waktu luang. Apakah Anda tahu sesuatu?"
"Pendeta, ya?" Wanita itu berhenti, tetapi tidak mau repot-repot berbalik untuk menatapnya. Dia bahkan mengubah suaranya menjadi nada yang tidak menyenangkan. "Aku tidak begitu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah lebih baik untuk bertanya langsung pada Sang Baron?"
Mendengar jawaban yang tidak terduga, Carmen hanya bisa membalasnya dengan nada yang datar.
"Yah, kurasa memang harusnya seperti itu."
Setelah mendengar balasan Carmen, wanita tua tersebut mulai melangkah menaiki tangga seraya membopong suaminya yang masih belum sadarkan diri tanpa mengucapkan apa pun lagi. Namun, saat dia hampir menghilang dari pandangan gadis muda itu, dirinya mengucapkan sebuah kalimat dengan nada datar yang aneh.
"Berhati-hatilah. Semoga Dewi Hestia melindungi Anda dari kota ini."
Kalimat dengan nada dalam yang keluar dari mulutnya membuat perasaan Carmen menjadi tidak enak. Dia merasakan sebuah firasat yang buruk tentang tempat ini dan ingin segera meninggalkannya. Namun, gadis itu tidak punya pilihan lain selain menyelesaikan penyelidikannya terlebih dahulu. Jadi, dia memutuskan untuk berbalik dan pergi menuju rumah Sang Baron dengan perasaan was-was.
-----
Selasa, 18 Juni 2019
Pukul 01:50 PM
Catatan : -