RE:Verse

RE:Verse
22.II Demigod



Wilayah yang disebut sebagai Kuil Ortodox merupakan kastil melayang yang terletak tepat di atas Kota Suci Artheos. Walaupun disebut sebagai Kastil Melayang, sebenarnya itu adalah sebuah pulau mengambang kecil. Namun, karena ukuran kastilnya sangat besar sampai-sampai terlihat jelas dari daratan, orang-orang lebih memilih untuk menyebutnya kastil melayang alih-alih pulau melayang.


Melalui pandangan dari kedua bola mata cokelatnya, Alma melihat ribuan prajurit yang dilapisi oleh full plate armor berwarna perak dengan lambang keagamaan dibariskan pada halaman depan kastil yang luas. Beberapa membawa perisai dan pedang satu tangan yang memancarkan aura tidak menyenangkan sementara sisanya tampak seperti pasukan logistik. Bukan hanya para prajurit, Alma juga melihat ada begitu banyak elf di antara mereka yang tampak seperti seorang pendeta.


Jelas sekali ini bukanlah kejadian yang normal.


"Nona Pendeta Campbell, apakah ada sesuatu yang terjadi di sini?" Suara seorang pemuda tiba-tiba memecahkan pemikirannya.


Kelihatannya bukan hanya Alma yang merasa heran dengan pemandangan yang dilihat olehnya, tetapi tuannya juga merasakan hal yang sama.


"Ah, mereka?"


Seorang pendeta wanita berambut cokelat di hadapan Alma menunjuk ke arah halaman yang ramai. Tuannya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.


"Lima hari lalu sebuah serangan besar meratakan Kota Catonia sampai benar-benar rata. Untungnya berkat bantuan tiga dari Enam Pendeta, pasukan iblis dapat diatasi."


Ketika gadis pendeta itu berbelok memasuki sebuah lorong, dia menghentikan penjelasannya sekadar untuk menyapa pendeta lain yang berpapasan dengan mereka. Tuannya membungkukan tubuh sekadar untuk menunjukan salam hormat, jadi Alma melakukannya juga walaupun sensasi panas menyesakan semakin mencekiknya.


Mereka kembali berjalan seperti biasanya, masuk lebih jauh ke dalam kastil. Pada saat tak ada siapa pun kecuali mereka di sana, Carmen kembali melanjutkan pembicaraan.


"Setelah pertempuran habis-habisan itu, para tokoh penting dari pihak kuil, kerajaan manusia, kerajaan elf, dan kekaisaran dwarf mengadakan pertemuan resmi. Hasil dari pertemuan itu adalah untuk menggerakan kekuatan militer secara penuh, lalu menyerang domain iblis dari berbagai arah. Aku tidak tahu detailnya, tetapi yang jelas, semua bangsawan dan pihak kuil diperintahkan untuk mengirim setidaknya 40% dari jumlah kekuatan militernya."


Jika menghitung total penduduk di dunia ini secara kasar, kemungkinan akan ada jutaan prajurit yang berkumpul di sana. Bahkan untuk Raja Iblis sekalipun, Alma tidak yakin apakah iblis akan dapat menangani jumlah kekuatan mengerikan seperti itu.


Jauh di dalam hatinya, Alma bersyukur tuannya tidak memilih untuk ikut campur ke dalam masalah ini. Kalau sampai Sang Tuan menyuruhnya ke medan perang, dia yakin pasti dirinya akan mati dengan cepat. Memikirkan hal ini membuat Alma diselimuti oleh ketakutan.


"Berapa banyak kira-kira jumlah logistik yang perlu dikirimkan untuk memberi makan orang sebanyak itu?"


Menanggapi pertanyaan tuannya, Carmen menghela napas sebelum menjawab, "itu dia masalahnya. Mereka pasti akan mengeksploitasiku dan menunjukku sebagai penanggung jawab transportasi dan logistik. Aku akan digunakan sampai kering dan dibuang ketika sudah tak berguna."


Mengingat kemampuannya untuk berpindah dengan cepat bahkan sampai melintasi benua, tidak heran jika pendeta itu akan digunakan untuk memobilisasi para prajurit. Memang Alma merasa sedikit kasihan padanya, tetapi bukan berarti dia peduli juga dengan nasib pendeta itu.


"Yah, bukankah itu risiko pekerjaan?"


Pertanyaan Sang Tuan sepertinya hanya untuk basa-basi. Namun, gerak-gerik Carmen cukup banyak berubah. Langkahnya melambat dan dia bergumam sendiri untuk beberapa saat.


"Pekerjaan, ya? Kurasa memang seperti itu. Mau bagaimana lagi, 'kan?"


Baik Alma maupun tuannya memilih untuk tidak membalas gumamannya. Jadi, mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.


Kastil ini memiliki dua puluh lantai dan ratusan ruangan. Setiap ruangan digunakan oleh para pendeta untuk pekerjaan mereka. Sedangkan untuk asrama bagi para pendeta dan prajurit terletak pada bangunan yang berada di sekitar kastil. Hanya beberapa pendeta berpengaruh yang mendapatkan kamar di dalam kastil.


Lantai paling atas merupakan ruangan pribadi yang ditempati oleh tokoh pemimpin kuil, demigod itu sendiri. Menurut Carmen, Demigod tidak pernah sekalipun keluar dari ruangannya. Bahkan di antara para penghuni Kuil Ortodox, hanya sedikit orang yang pernah melihatnya. Jadi, diundang olehnya sering dianggap sebagai berkah bagi orang-orang biasa.


Tetap saja, Alma tidak begitu peduli dengan sesuatu yang sepele seperti ini.


Carmen membawa Alma dan tuannya menuju sebuah ruangan kecil tanpa adanya jalan lain. Pada awalnya Alma kebingungan dan ingin bertanya soal hal ini, tetapi sebelum dia sempat menanyakan sesuatu, lantai tiba-tiba melayang dan membawa mereka naik.


Guna memudahkan para pendeta dalam berpindah, ada sebuah piringan batu yang biasa digunakan untuk naik atau turun lantai kastil. Alma mengerti betapa bergunanya alat sihir ini, tetapi dia masih tetap kebingungan dengan alasan dibalik kenapa mereka harus menggunakannya. Menurutnya, akan lebih cepat jika Carmen membuka gerbang yang dapat langsung memindahkan mereka tepat ke hadapan Demigod.


Mereka sampai pada lantai dua puluh tanpa ada masalah. Selain itu, segala macam ketidak nyamanan yang mengganggunya hingga sekarang telah berkurang dengan signifikan. Gadis itu merasakan kesejukan yang selama beberapa hari ini didambakannya. Alma yang menyadari hal ini menghela napas penuh kelegaan.


Sama seperti ruang takhta Kekaisaran Dwarf sebelumnya, sebuah pintu ganda berdiri di hadapan mereka. Hanya saja, berbeda dengan pintu ruang takhta Kekaisaran Dwarf yang menggunakan logam, pintu ganda ini terbuat dari kayu yang dipoles halus dan dihias menggunakan ukiran rumit.


"Baiklah, kita akan langsung masuk ke dalam karena aku yakin Demigod juga sudah menyadari keberadaan kita."


Perkataan Carmen menyadarkan Alma bahwa seseorang yang dihadapinya sekarang bukanlah pemimpin biasa seperti Empress Glastila. Mungkin saja orang ini dapat melihat menembus dirinya dan langsung bisa mengidentifikasi jiwa sejati yang berada di dalamnya.


Selama ini Alma selalu bergerak tanpa terlalu banyak memikirkannya karena dia yakin bahwa Sang Tuan tidak akan membawanya ke dalam bahaya yang tak bisa dia tangani. Dirinya percaya dengan tuannya lebih dari apa pun. Sang Tuan pastinya telah mempersiapkan segalanya dengan baik tanpa ada celah. Jadi, akan menjadi tidak sopan jika Alma mengkhawatirkan hal-hal lain saat bersama dengan tuannya.


Namun, kali ini entah kenapa dia merasa sedikit ketakutan. Instingnya sebagai iblis memberikan perintah untuk segera menjauh dari sana. Akan tetapi, rasa takutnya kepada Sang Tuan membuat Alma tidak berani untuk melarikan diri. Pada akhirnya dia hanya bisa ikut masuk ke dalam begitu Carmen membukakan pintu.


Pilar-pilar batu sederhana menahan ruangan luas itu, membuat Alma mengingat kembali tentang ruang takhta milik Glastila. Akan tetapi, tempat ini tidak diterangi oleh batu-batu sihir seperti di sana. Sebagai gantinya, langit-langit dilengkapi dengan jendela kaca yang dia yakini didatangkan langsung dari negeri dwarf, membiarkan cahaya dari luar menembusnya dan menerangi ruangan ini.


Tidak ada kursi takhta apa pun di dalamnya. Sebagai gantinya, Alma melihat sebuah patung raksasa yang menggambarkan layaknya seorang wanita sedang memanjatkan doa. Kedua telinganya melancip seperti para elf, tetapi jelas tidak menggambarkan elf sama sekali. Alasan dibaliknya adalah kenyataan bahwa patung tersebut digambarkan memiliki dua pasang sayap besar pada punggungnya.


Tepat di bawah patung mencolok itu, seorang wanita berambut perak berdiri dalam diam seraya memberikan senyuman menenangkan. Tubuhnya dibalut dengan gaun putih mewah yang berkilauan saat terkena cahaya, seakan dibuat menggunakan benang logam khusus. Pergelangan kaki dan tangannya yang mengintip dari balik gaun menunjukan kulit putih pucat, selaras dengan wajah cantiknya yang terlihat tidak manusiawi.


Daripada makhluk hidup, Alma merasa bahwa orang itu lebih cocok disebut sebagai patung realistis yang terbuat dari mayat yang diawetkan oleh sihir.


Kedua matanya tertutup hingga sekarang, tetapi telinganya yang lancip beberapa kali bergerak seakan menilai posisi mereka bertiga melalui suara.


"Pendeta Ordo Campbell, bisakah Anda meninggalkan kami?"


Suaranya begitu lembut tanpa menunjukan niat jahat apa pun. Selain itu, Alma juga tidak merasakan pancaran menyakitkan yang biasa menyerangnya saat menghadapi seorang pendeta. Orang ini benar-benar bukan pendeta pada umumnya.


"Sesuai perinrah Anda." Carmen membungkukan tubuhnya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan mereka bertiga di dalam ruangan tersebut.


Suasananya menjadi hening ketika Carmen meninggalkan mereka. Kelihatannya baik orang asing di hadapannya maupun Sang Tuan, dua-duanya saling mewaspadai satu sama lain. Menyadari hal ini, Alma juga ikut mewaspadainya.


Sekitar lima menit berlalu tanpa kata-kata sebelum akhirnya orang di hadapan Alma memberi hormat dan mulai berbicara.


"Selamat datang di istana saya, wahai kontraktor yang terhormat. Saya adalah orang yang disebut sebagai Demigod. Tolong panggil saya seperti itu jika Anda tidak keberatan."


Tuannya balas membungkuk dan mulai memperkenalkan diri.


"Kami memberi salam kepada Anda, Yang Mulia. Nama saya Yehezkiel, seorang petualang."


Setelahnya, Alma mengikuti apa yang dilakukan tuannya.


"Nama saya Almaria, seorang petualang yang juga merupakan seorang kontraktor."


Setelah perkenalan sederhana itu, Demigod hanya membalasnya dengan senyuman ramah seperti sebelumnya. Kemudian, dia melangkah mendekati mereka dengan perlahan. Hal ini membuat Alma kembali menaikan kewaspadaannya.


"Tidak perlu waspada seperti itu. Tujuan saya memanggil Anda berdua adalah untuk membahas sesuatu mengenai domain iblis serta memberikan izin penggunaan mana kegelapan."


Jaraknya kini hanya beberapa langkah di depan Alma. Namun, kelihatannya Demigod tidak berniat untuk mendekat lebih dari itu karena langkahnya tiba-tiba berhenti.


"Apakah Anda meminta kami untuk ikut andil dalam perang?"


Menanggapi pertanyaan dari tuannya, Demigod tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Lalu, apa yang ingin Anda minta kepada kami?"


Demigod tidak langsung menjawab pertanyaannya. Dia hanya diam tanpa berkata apa-apa. Kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.


Ketika Alma mulai tidak nyaman dengan gerak-geriknya yang aneh, Demigod kembali membuka mulutnya.


"Sebelum saya mengatakannya, ada sebuah kisah yang ingin saya ceritakan kepada Anda. Kisah ini tidak tertulis di dalam kitab manapun, tetapi karena sangat menarik, saya ingin Anda berdua mendengarkannya sebelum kita melanjutkan kepada topik utama. Apakah Anda tidak keberatan?"


Tidak perlu untuk Alma menyetujuinya ataupun tidak. Karena ini hanyalah sebuah hal sepele, Alma akan menyerahkan semua pilihan kepada tuannya. Tampaknya Sang Tuan juga memiliki pemikiran yang sama karena dia tidak menanyakan pendapat Alma terlebih dahulu dan memilih untuk langsung menjawab.


"Kami tidak keberatan."


Setelah itu, masih dengan kedua matanya yang tertutup rapat, Demigod mulai menceritakan kisah asing yang tidak pernah Alma dengar sebelumnya. Ceritanya terkesan seperti dongeng untuk anak-anak, sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang anak, Malaikat, dan Pencipta.


Semakin lama Alma mendengarkannya, semakin dia tidak mengerti dengan alasan kenapa Demigod menceritakannya. Namun, ketika bagian terakhir mulai dikisahkan, Alma menangkap sesuatu yang membuatnya mengerutkan dahi.


Sebelum Alma berhasil mengambil kesimpulan dari kisah tersebut dan memahami sepenuhnya, suara dentuman keras menghancurkan segala pikirannya.


Sosok Sang Tuan sudah tidak ada di sisinya lagi, dia bergerak sangat cepat sampai-sampai lantai batu di tempat dia berdiri sebelumnya hancur berkeping-keping. Hempasan angin dan ledakan suara yang berasal dari pergerakan luar biasa cepat menghancurkan kaca-kaca di atas mereka, menyebabkan pecahan kaca berjatuhan.


Alma segera memakai topengnya dan fokus memandang ke depan, ke arah Sang Tuan yang telah menusuk kepala Demigod dengan pedang iblis terkuatnya, Pedang Hecate. Kepala pucatnya tertembus sampai ke belakang, membawakan kematian langsung kepada sosok itu. Namun, saat Alma melihatnya dengan lebih teliti, garis senyuman tipis di bibir Demigod sama sekali tidak hilang.


"Bukankah tidak sopan menyerang saat saya baru selesai menceritakan sebuah kisah yang menarik?"


Wanita itu masih dapat mengucapkan sesuatu, bahkan nada suaranya masih tenang seperti sebelumnya seakan luka fatal yang dideritanya bukanlah apa-apa.


"Jawab aku, siapa kau sebenarnya? Apa Hestia yang mengirimu? Aku bisa memberimu kutukan kematian langsung melalui Hecate jika kau tak menjawab pertanyaanku."


"Seperti yang saya duga. Anda benar-benar orangnya. Saya tidak percaya bahkan sihir penciptaan tidak sanggup melenyapkan Anda dari dunia ini."


Sang Tuan menarik pedangnya lalu memenggal leher Demigod dengan ayunan yang kuat sampai-sampai patung di belakang mereka hancur berantakan hanya karena sayatannya yang diperluas oleh sihir. Akan tetapi, walaupun lehernya terpotong dengan rapi, luka Demigod langsung pulih tanpa meninggalkan bekas apa pun. Bahkan luka tusukan di wajahnya sudah tidak terlihat lagi.


"Kau tahu mengenai itu juga?! Apa kau pahlawan brengsek itu?! Apa kau orang sialan yang mengirimku ke masa lalu?!"


"Tenanglah sedikit. Dinginkan kepala Anda. Bukankah terdengar terlalu memaksa jika Anda menilai saya sebagai Sang Pahlawan? Marah seperti itu dan menilai berdasarkan nafsu belaka tanpa menggunakan akal jelas bukan kebiasaan Anda."


Alma sama sekali tidak mengerti dengan situasinya. Dia juga tidak memahami apa yang mereka berdua bicarakan. Jadi, setidaknya sampai ada perintah dari tuannya, Alma tidak mau ikut campur ke dalam pertarungan.


Anehnya, setelah mendengar perkataan Demigod, tuannya mulai kembali tenang. Kata-kata yang terucap darinya juga sudah tak menunjukan kemarahan yang sebelumnya dia perlihatkan.


"Apa kau mengenalku secara pribadi? Apa kau akan melaporkan keberadaanku kepada Hestia?"


"Apa yang Anda bicarakan? Kenapa saya harus menghubungi Dewi Hestia hanya karena seorang manusia bersikap tidak sopan kepada saya? Lagipula saya butuh bantuan Anda. Akan menjadi masalah jika Dewi Hestia menurunkan kemurkaannya kepada Anda."


Sang Tuan menyarungkan Hecate kembali ke dalam sarung pedangnya seraya menghela napas. Menyadari hal ini membuat Alma sedikit tenang.


"Baiklah, aku mengerti. Kau tak akan melaporkanku dan sebagai gantinya, aku harus mendengarkan permintaanmu. Sesuatu semacam itu, 'kan?"


Demigod menepuk tangannya sekali seraya kembali menunjukan senyumannya.


"Saya merasa sangat tersentuh karena Anda cepat mengerti seperti biasanya. Menemui Anda memang pilihan yang sangat bijak. Mari tinggalkan sapaan ramah kita dan segera menuju topik utama."


Setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, Demigod menghapus senyumnya. Dia memasang wajah serius yang entah kenapa mengintimidasi Alma. Namun, sampai detik ini orang itu masih tidak juga membuka matanya.


Aku tidak percaya tadi itu hanya sapaan. Alma berusaha untuk menyatu dengan latar belakang agar tidak mengganggu mereka.


----------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 13 Juni 2020 pukul 12:00 PM


Note :


Sebenernya ku mau tulis kisah yang diceritain Demigod, tapi ternyata kepanjangan. Aku bingung apa mending tu kisah dijadiin bab selanjutnya aja yak minggu depan :3