RE:Verse

RE:Verse
10.VI Kupu-kupu



Kenyataan bahwa Almaria berhasil mengalahkan archdemon seorang diri merupakan kabar yang tidak terduga. Tentu saja, beberapa pendeta peringkat tinggi mulai tertarik kepadanya. Sayangnya, Demigod --selaku penguasa tertinggi-- mengatakan bahwa mereka tidak diperkenankan untuk mengganggunya.


Biasanya, orang berbahaya seperti itu lebih dari cukup untuk menggerakkan setidaknya satu kelonpok dari enam pendeta. Namun, pada kenyataannya Demigod malah memberi perintah yang sebaliknya. Tentu saja titah yang diterima oleh mereka membuat semua orang merasa penasaran dengan alasan di balik semua ini. Akibatnya, Carmen yang pernah berhubungan langsung dengan Almaria menjadi pusat perhatian di kalangan para pendeta.


Hari ini tepat sehari berlalu setelah kejadian di Desa Werewolf. Keadaan dari para petualang yang pergi bersama Almaria tampaknya mulai membaik dan kabarnya akan diperkenankan untuk keluar dari ruang perawatan kuil. Sementara itu, seorang gadis pendeta yang menjadi korban dari keganasan archdemon sebenarnya hanya mengalami luka fisik yang ringan. Hanya saja, beban mental yang diterimanya luar biasa fatal. Untungnya, keimanannya pada Sang Dewi membantu proses penyembuhan dengan cukup signifikan.


Memikirkan tentang gadis pendeta itu membuat Carmen mengingat kata-kata terakhir yang dia dengar darinya. Gadis tersebut memohon kepada Carmen untuk pergi ke sebuah rumah kayu sederhana di atas bukit dekat dengan batas terluar desa dan merawat seseorang yang sedang sakit. Kabarnya, orang yang dirawat di sana memiliki penyakit misterius dan sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu, gadis pendeta tersebut merawatnya secara pribadi di kediamannya.


Carmen merasa sedikit penasaran setelah mendengarkan cerita mengenai orang sakit itu. Karena sudah tidak memiliki tugas lagi dan kebetulan hari ini dia akan menjelaskan keadaan Almaria pada kakaknya, Carmen memutuskan untuk mampir ke tempat tersebut dan akan coba untuk membantu.


Urusan bersama Yehezkiel memang tidak terlalu lama. Dia hanya melihat keadaan Almaria yang masih terbaring tak sadarkan diri di sebuah penginapan dan menjelaskan semua yang diketahuinya pada Yehezkiel. Kemudian, setelah menyampaikan metode pengobatan yang paling efektif dan berjanji akan membantu kesembuhan adiknya, Carmen langsung pergi ke kediaman gadis pendeta.


Rumah kayu yang dimaksud tampak sangat sederhana. Gadis itu membangunnya di atas sebuah bukit yang jauh dari rumah-rumah lainnya. Mungkin dirinya memang tidak begitu suka dengan keramaian. Oleh karena itu, dia memilih untuk membangun rumah di tempat terpencil seperti ini.


Sadar bahwa gadis pendeta tersebut masih dirawat di kuil membuat Carmen tidak mau repot-repot mengetuk pintu. Dia memilih untuk langsung menggunakan kunci yang diberikan oleh gadis pendeta itu sebelumnya dan lekas masuk ke dalam.


Dilihat dari dalam pun rumah itu tidak menimbulkan kesan yang lain. Bahkan, kesan sederhana yang ditimbulkan dari peralatan-peralatan di tempat ini membuat penilaian Carmen sebelumnya menjadi semakin kuat.


Peralatan makan yang tertata rapi di atas meja hanyalah alat-alat yang terbuat dari bambu dan kayu. Tempat duduk yang disusun tepat di samping meja juga terlihat tidak terlalu nyaman untuk diduduki. Selain itu, dinding-dinding kayu di sini sama sekali tidak dihias dengan apa pun, benar-benar layaknya rumah sederhana milik rakyat pedesaan pada umumnya.


Ketika Carmen memperhatikan semuanya dalam diam, dirinya mendengar suara napas yang agak berat dari salah satu ruangan yang dihalangi kain lusuh. Dia yang memang memiliki keperluan untuk menemui seseorang di tempat ini segera melangkah untuk masuk ke dalam ruangan dimana suara itu terdengar.


Tempatnya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan ruangan di luar. Dinding kayu polos, meja dan kursi yang dibuat dengan kasar, dan berbagai peralatan makan dari kayu disimpan begitu saja. Selain itu, di ruangan sempit tersebut terdapat sebuah tempat tidur lusuh yang dibuat hanya dengan memasukan jerami kering ke dalam selembar kain putih kumal.


Di atas tempat tidur lusuh yang dibuat seadanya, terbaring seorang wanita keriput yang dipenuhi bekas luka mengering. Matanya terpejam rapat sementara hembusan napasnya terkesan begitu berat. Tangan dan kakinya masing-masing diikat dan dihubungkan dengan balok kayu yang menancap kuat ke dalam tanah. Tampaknya ada alasan khusus kenapa sosok menyedihkan itu sampai harus dipasung sedemikian rupa.


"Apakah ada orang?"


Tidak diduga, wanita itu berbicara dengan cukup lancar sementara kedua bola matanya tetap dalam keadaan terpejam. Carmen yang mendengar ucapan tersebut segera berjalan mendekatinya dan duduk di satu-satunya kursi kayu yang ada di sana.


"Aku kira keadaanmu tak separah ini. Jika mengetahuinya dengan baik, aku pasti akan datang lebih cepat untuk mengurusmu."


Setelah mendengarkan perkataan Carmen, wanita itu tertawa sebentar sebelum membuka mata. Dia memalingkan wajahnya untuk menatap Carmen dengan kedua bola mata yang semakin memudar.


"Tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir. Aku mustahil mati hanya karena tidak diurus dan tidak makan. Malahan, aku menantikan kematianku yang tidak kunjung datang."


Setelah memandang jubah pendeta yang dipakai olehnya, kelihatanya wanita itu langsung menyadari bahwa Carmen adalah seorang pendeta. Walaupun begitu, rasanya tidak sopan untuk berbicara seperti itu kepada seseorang yang baru pertama kali ditemui. Namun, gadis pendeta yang terbiasa dipandang rendah oleh pendeta lain seperti dirinya tidak terlalu peduli dengan kesopanan.


Pandangan Carmen menajam saat mendengar kata-katanya. Dia langsung sadar dengan penderitaan macam apa yang sedang dialami oleh wanita itu.


"Kau ... siapa namamu?"


"Apakah itu penting, Tuan Pendeta? Sebesar apa pun usahamu, kau tak akan bisa menyembuhkanku. Jadi, pulanglah."


Carmen mengepalkan kedua tangannya saat mendengarkan kata-kata dari wanita tersebut yang dia nilai semakin tidak sopan. Namun, melihat dari ciri-ciri penyakitnya, gadis itu memaklumi perlakuannya dan memilih untuk memancingnya bicara.


"Aku memang mengakuinya. Urusanmu dengan Ancient tidak mungkin dapat aku selesaikan."


Mendengar ucapan Carmen yang tidak terduga, wanita itu tiba-tiba membelalakan kedua matanya. Dia memandang dengan raut wajah penuh rasa terkejut.


"Kau ... apa kau tahu mengenai Ancient?! Apa kau tahu apa yang sudah menimpaku? Siapa kau sebenarnya?!"


Saat meliat reaksinya, Carmen tersenyum merasa puas. Dia membalas kata-kata itu dengan nada yang datar.


"Aku salah satu orang yang masuk dalam kelompok enam pendeta. Kau bisa memanggilku Carmen. Mengenai masalahmu, siapa ancient yang kau singgung?"


Di dunia ini, tidak banyak orang yang mengetahui tentang sosok yang disebut ancient. Mereka adalah entitas yang masih sangat misterius. Bahkan untuk orang sekaliber enam pendeta, hanya segelintir yang mengetahuinya. Mungkin inilah sebabnya wanita itu sangat terkejut saat menyadari bahwa Carmen memiliki pengetahuan tentang mereka.


"Aku telah menyinggung Atropos untuk melenyapkan seseorang. Oleh karena itu, Atropos menghentikan catatan kehidupanku sehingga Maut menolak kematianku."


Setelah mendengarkan nama Atropos beberaa waktu lalu melalui perbincangan antara Naga dengan Empress Glastila, Carmen mendiskusikan hal ini dengan Demigod. Hasil dari diskusi itu membuat dirinya mengetahui satu lagi simbol dari ancient yang mengatur dunia dari balik layar, yaitu Atropos.


Atropos adalah simbol dari benang takdir. Entitas tersebut memegang, menulis, dan mengatur takdir dari segala makhluk dalam tiga dunia. Bahkan Dewi Hestia sekalipun masih terikat oleh Atropos itu sendiri.


"Alasan apa yang membuat Atropos melakukan ini padamu?" Carmen merasa sedikit tertarik.


"Aku sendiri tidak mengetahuinya. Ancient bukanlah entitas yang dapat dimengerti. Atropos merupakan simbol takdir. Dia adalah gabungan dari miliaran benang takdir dan memiliki karakter yang tidak terhingga. Makhluk tertinggi sekalipun tidak akan dapat mengerti dirinya."


Pengetahuan dasar mengenai Ancient sangatlah sedikit. Bahkan di antara tiga dunia, orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Ancient hanya tiga orang saja. Di antara mereka, Demigod adalah satu-satunya makhluk yang diklaim pernah benar-benar melihatnya.


"Sangat mengerikan dan tidak masuk akal. Jadi, tubuhmu hancur dan ditolak oleh Maut akibat menulis ulang takdir."


Carmen bergumam beberapa saat. Dia cukup terkejut, senang, sekaligus takut karena secara kebetulan dapat menemukan informasi baru mengenai fakta-fakta tentang para ancient. Hal ini merupakan informasi berharga yang tidak ternilai harganya.


"Michell." Saat Carmen masih memikirkan mengenai fakta tentang Atropos, wanita itu tiba-tiba berbicara.


"Maaf?" Dia yang baru sadar dari lamunan bertanya tidak mengerti.


"Namaku Michell. Percaya atau tidak, aku datang dari waktu yang berbeda."


"Ah ... "


Mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh wanita itu, Carmen langsung menyadarinya. Saat dirinya menghubungkan apa yang dikatakan oleh Naga sebelumnya dengan keberadaan wanita di hadapannya, dia yakin bahwa orang bernama Michell adalah kunci yang membuat aturan dunia mulai runtuh.


"Kau mengubah benang takdir kuno dengan menulis ulang Atropos?!" Suara Carmen meninggi.


"Semua ini diperlukan demi menyelamatkan orang-orangku dan melenyapkan musuh kami."


Mendengar jawaban datar dari gadis itu, Carmen semakin tenggelam dalam kemarahan.


"Apa kau sadar ulahmu itu menimbulkan efek kupu-kupu?!"


Tidak mengerti dengan apa yang Carmen maksud, Michell bertanya penasaran.


"Efek kupu-kupu? Apa yang kau maksud?"


"Singkatnya kepakan sayap kupu-kupu di sini suatu saat dapat mengakibatkan bencana yang disebabkan oleh hembusan anginya beberapa bulan kemudian!"


Penjelasan Carmen tentunya tidak mungkin dapat menjawab rasa penasaran wanita itu. Namun, Carmen juga tidak berniat untuk benar-benar menjelaskan keadaan genting yang sedang terjadi. Lagipula dia merasa bahwa Michell sudah tidak memiliki kepentingan lagi dengan masalah ini.


Apa yang dijelaskan olehnya hanyalah pemikiran secara logika sederhana, bukan benar-benar akan menjadi kenyataan. Lagipula mana mungkin kepakan sayap dari seekor kupu-kupu mengakibatkan bencana. Namun, sistem dunia yang kompleks sangat peka terhadap kondisi awal. Jika perkataan Carmen diaplikasikan pada dunia, kemungkinan tersebut naik menjadi hampir seratus persen.


Efek kupu-kupu membuat kondisi awal dari dunia sedikit berubah. Jika dikatakan dengan bahasa yang lebih dapat dimengerti, hal ini sama saja dengan mengubah masa lalu sehingga masa depan akan mengalami perubahan yang sangat signifikan. Pada awalnya Michell mungkin menargetkan perubahan masa depan ini agar dunia menjadi jauh lebih baik. Namun, dunia tidaklah sesederhana itu.


Setiap sistem dunia saling berhubungan erat dengan bagian-bagian yang tak terhingga. Walau orang-orang tidak menyadari keanehan dari suatu keadaan yang tidak kasat mata dan di luar indra makhluk hidup, Carmen yakin bahwa aturan dunia sudah mulai menyimpang. Jika ini dibiarkan terus, pada suatu waktu, keseimbangan Ancient mungkin akan runtuh dan membuat dunia ini berakhir.


Atropos secara berkala akan mengubah tatanan dunia untuk keperluan memperbaiki benang takdir yang telah rusak. Sementara itu, Maut --Sang Ruler of Death-- akan menolak kematian orang-orang yang memiliki benang takdir kuat. Pada suatu waktu, kedua simbol yang menjadi pondasi utama ketiga dunia itu akan saling bertubrukan dan menghasilkan penyimpangan aturan dasar dunia.


Kalimat sederhana untuk menjelaskan apa yang terjadi akibat satu kesalahan kecil ini hanya satu, yaitu dunia sedang menuju era yang baru. Entah itu akan menciptakan revolusi besar-besaran atau malah menghancurkan dunia ini sampai tidak tersisa. Semuanya ditentukan oleh para ancient. Dewi Hestia sekalipun tidak dapat ikut campur untuk mencegah penyimpangan dunia ini.


"Aku harus segera menemui Demigod!"


Pada saat dia mencapai kesimpulan genting ini, Carmen memutuskan untuk menyampaikan informasi yang dia dapatkan sesegera mungkin.


Gadis itu langsung membuat lubang dimensi dan lekas pergi menuju Kuil Ortodox. Dia mengabaikan ucapan-ucapan Michell yang tampaknya masih kebingungan dengan sikap Carmen yang tiba-tiba panik.


-----


Riwayat Penyuntingan :


• 21 Juli 2019


• 30 Juli 2019