
Kerajaan Ignis dua bulan setelah deklarasi pertama dari Demigod yang menggerakan seluruh negara untuk ikut berpartisipasi dalam perang dunia.
Ibukota Kerajaan Ignis menjadi tempat paling ramai. Ribuan prajurit dari berbagai negara berkumpul di sini untuk beberapa hari sebelum akhirnya pergi menuju garis depan. Bukan hanya prajurit manusia, bahkan dwarf dan elf mudah sekali ditemui di ibukota.
Serikat pedagang mengakomodasi berbagai kebutuhan logistik yang didanai langsung oleh keluarga kerajaan dan pihak kuil. Ratusan ton bahan pangan dikumpulkan dan dikirim ke garis depan setiap harinya. Melibatkan lebih dari seribu perusahaan dagang di seluruh dunia yang bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebutuhan para prajurit.
Di tengah jalanan utama distrik bangsawan yang ramai, sebuah kereta mewah yang dikawal oleh beberapa prajurit berkuda berjalan menuju istana. Lambang keluarga kerajaan diukir dengan bubuk emas murni pada bagian samping kereta, menandakan bahwa properti itu sendiri merupakan kendaraan pribadi milik salah seorang anggota keluarga kerajaan.
Di dalam kereta, sosok gadis berambut pirang duduk dengan gaya dan posisi yang mencerminkan seorang bangsawan. Ornamen bunga rumit yang menghiasi kepalanya dan gaun putih mahal yang dia kenakan merupakan produk yang dibuat khusus untuknya beberapa minggu lalu.
Kedua bola mata biru cerahnya memandang ke arah seseorang di hadapannya, dimana sosok wanita muda yang berusia sekitar dua puluh tahunan duduk berhadapan dengannya, mengenakan seragam pelayan istana Kerajaan Ignis. Menyadari tatapan dari gadis itu, wanita pelayan mulai berbicara.
"Apakah Anda membutuhkan sesuatu, Yang Mulia Putri?"
Menanggapi pertanyaan tersebut, gadis itu hanya menjawab dengan kalimat pendek.
"Tidak ada. Juga, kau boleh memanggilku 'nona' mulai sekarang."
Pelayan itu tersenyum dengan tanggapan tersebut.
Biasanya, seorang aristokrat hanya memperbolehkan seseorang memanggilnya dengan sebutan seperti itu dalam dua kondisi. Kondisi pertama adalah panggilan antara dua aristokrat yang sudah akrab dan kondisi kedua adalah ketika seorang pelayan atau kesatria diakui oleh bangsawan tersebut. Jadi, kata-kata barusan bisa diartikan bahwa majikannya telah mengakui wanita pelayan itu.
"Saya senang Anda mengizinkan saya untuk mulai memanggil Anda seperti itu, Nona. Para pelayan istana juga mulai senang dengan sikap Anda yang baik."
Menanggapi pernyataan tersebut dari pelayannya, dia mengerutkan dahinya. Kalimat terakhirnya jelas memiliki maksud tersembunyi yang samar.
Para pelayan 'mulai' senang dengan sikapnya yang baik. Kalau mereka mulai senang, ini berarti sebelumnya mereka tidak senang melayaninya. Jika mereka tidak senang, berarti sikapnya sebelumnya tidaklah baik. Logika sederhana seperti ini merupakan salah satu pengetahuan dasar yang harus dimiliki setiap bangsawan. Jadi, dia langsung menyadarinya dalam sekali mendengar.
"Begitukah? Aku juga turut bersyukur mendengar kalian bahagia akhir-akhir ini. Kuharap kebahagiaan ini juga akan menyebar ke orang-orang lain di ibukota dan krisis dunia yang sedang kita hadapi dapat terselesaikan dengan baik."
Wanita pelayan itu sedikit membungkuk setelah mendengar kata-katanya.
"Tentu saja, kebaikan Nona Estelle harus sampai ke telinga semua orang."
Ucapan gadis bangsawan bernama Estelle itu bisa diartikan sebagai permintaan penyebaran rumor. Pasalnya, reputasi Estelle sudah cukup buruk di antara para bangsawan maupun rakyat ibukota. Jadi, ketika Estelle mengatakan kalimat tersebut, wanita pelayan langsung menanggapinya dengan jawaban seperti itu.
"Ah, tentang krisis dunia, kudengar penyambutan kali ini akan mengundang Pahlawan dan Kaisar Dwarf saat ini, sebenarnya aku agak gugup sekarang."
Wanita yang duduk di hadapannya tersenyum lembut ketika mendengar kata-kata Estelle. Karena dia sudah mengenal Estelle sejak kecil, dirinya dapat membaca suasana hati Estelle hanya dari sikap dan raut wajahnya. Jadi, sejak awal dirinya tahu bahwa Estelle sedang gugup. Namun, wanita itu memutuskan untuk tetap diam sampai sekarang.
Mendengar pengakuan langsung dari Estelle membuatnya sedikit bahagia. Biasanya gadis itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada siapa pun selain ibu pengasuhnya yang kini sudah meninggal.
"Saya dengar akan ada tiga anggota dari Enam Pendeta yang hadir. Selain itu, beberapa perwakilan kelompok petualang berperingkat tinggi juga akan hadir."
Acara yang diadakan di aula istana kali ini adalah jamuan makan bagi para pelopor yang akan terjun ke garis depan. Jadi, para petualang yang hadir setidaknya peringkat S dan di atasnya.
Bagi Estelle sendiri, bertemu dengan orang-orang hebat seperti itu adalah kesempatan yang bagus. Dia mungkin bisa menyewa salah satunya dan memintanya menjadi guru untuk beberpa hari ke depan sebelum mereka pergi menuju garis depan.
Memikirkan hal itu membuat Estelle sedikit cemas sekaligus bersemangat.
Pintu gerbang utama istana segera dibuka saat rombongan Estelle mendekat. Para imperial knight tidak repot-repot memeriksanya dan membiarkan mereka masuk. Tentu saja, penjagaan yang terkesan kurang ketat seperti ini hanya berlaku bagi rombongan anggota keluarga kerajaan. Orang luar yang ingin memasuki istana pastinya akan melewati serangkaian pemeriksaan merepotkan yang bahkan menghabiskan waktu lebih dati satu jam.
Kereta berhenti di depan istana milik Estelle. Kemudian, kesatria pribadinya --Viscount Evans-- membukakan pintu kereta dan mengulurkan tanganya seraya membungkuk hormat kepada Estelle. Tangan kirinya meraih tangan kanan Evans sebelum dirinya melangkah menuruni tangga.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Putri."
Beberapa pelayan yang dipimpin oleh seorang kepala pelayan istana membungkuk di hadapannya, terbagi dua dan saling berhadapan membentuk jalan baginya untuk melangkah menuju istana miliknya.
Estelle berjalan dengan anggun, melewati para pelayan yang masih membungkuk hormat padanya.
Setelah memasuki istana, Kepala Pelayan yang melangkah sedikit di belakangnya mulai berbicara.
"Yang Mulia, jadwal Anda hari ini adalah untuk menghadiri perjamuan di istana utama. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum perjamuan. Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"
Estelle menjawab tanpa menolehkan wajahnya.
"Siapkan air hangat untuk mandi. Pilihkan gaun dan aksesoris yang cocok. Jangan menggunakan ornamen yang rumit, gaun sederhana saja sudah cukup."
"Dimengerti." Kepala Pelayan membungkuk hormat sebelum berbalik dang melangkah pergi.
Ketika Estelle memasuki kamarnya yang mewah dan menutup pintu, tidak ada siapa pun lagi di sekitarnya. Kesatria pribadi yang seharusnya selalu berada di sampingnya juga berhenti mengikutinya dan berjaga di balik pintu kamarnya. Jadi, dia bebas untuk melakukan apa pun.
Estelle merebahkan dirinya di tempat tidur seraya melepas semua ornamen yang memenuhi kepalanya. Dia menghela napas seakan kelelahan.
"Menjadi Putri yang sesungguhnya benar-benar melelahkan."
Selama ini dia selalu bertingkah seenaknya tanpa memperhatikan tata krama. Oleh karena itulah banyak kaum bangsawan yang menilainya buruk dan reputasinya semakin merosot. Pada awalnya Estelle tidak terlalu peduli. Namun, setelah mendengar kalimat pedas dari seorang petualang yang ditemuinya di Ibukota Kerajaan Cygnus, pikiran Estelle menjadi sedikit terbuka.
Aku akan membuktikan bahwa orang sepertiku pun dapat berubah menjadi seorng putri yang memiliki reputasi tinggi.
Inilah alasan yang membuatnya memutuskan untuk mulai bersikap layaknya seorang Putri. Sayangnya, kehidupan seperti ini sama sekali tidak cocok untuknya.
Ketika dia hampir terlelap karena kelelahan secara mental, seseorang mengetuk pintunya.
Estelle langsung melompat dari tempat tidurnya dan duduk pada sebuah sofa mewah yang dibalut dengan kulit binatang. Dia menegakkan tubuhnya sebelum berbicara dengan nada yang anggun.
"Silakan masuk."
"Yang Mulia Putri, air mandi sudah siap."
Mendengar hal itu, Estelle bangkit dari kursinya dan berjalan menuju salah satu pintu yang ada di kamarnya. Dia berdiri di depan pintu tersebut seraya merentangkan kedua tangannya. Kemudian, ketiga pelayan yang berada di belakangnya segera mendekat dan melepaskan gaun yang Estelle pakai. Gadis itu membuka pintu di hadapannya setelah tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.
Kamar mandi yang biasanya dipakai olehnya terhubung dengan dua ruangan. Ruangan pertama adalah kamarnya, sedangkan ruangan di seberang kamar mandi adalah lemarinya. Jadi, dia bisa sampai di kamar mandi hanya dengan melalui pintu di kamarnya tanpa harus repot-repot keluar dari kamar pribadinya.
Gadis itu berendam di dalam air hangat berwarna putih yang penuh dengan berbagai macam bunga. Punggung dan tangannya dibersihkan oleh dua orang pelayan sementara satu pelayan yang tersisa memijat pelipisnya dengan lembut.
"Betapa nyamannya." Estelle menghela napas cukup panjang.
Salah satu bagian terindah menjadi seorang bangsawan adalah menikmati mandi. Estelle sangat menyukai waktu santai seperti ini sampai-sampai dia sering menghabiskan waktu sekitar satu jam hanya untuk berendam. Dia juga termasuk orang yang sering mandi, setidaknya tiga kali sehari pada waktu pagi, siang, dan malam. Mungkin inilah alasn kenapa kulitnya benar-benar halus dan lembut walaupun sering terpapar debu dan kotoran ketika dia berlatih mengayunkan pedang.
Gaun yang digunakan Estelle kali ini adalah gaun biru muda yang selaras dengan ornamen bunga yang dikenakan olehnya sebagai penghias rambut. Tidak banyak kilauan permata pada gaun itu, tetapi kain yang berkilau setiap terkena cahaya membawa kesan mewah tersendiri. Gaun itu adalah sesuatu yang dibuat dengan benang logam lunak khusus yang teras lembut dan berkilau.
Aula istana yang menjadi tempat perjamuan sudah ramai ketika dirinya memasuki ruangan. Ada berbagai macam golongan mulai dari bangsawan tinggi hingga para petualang yang hadir dalam acara ini. Jadi, sesuatu seperti pesta dansa ditiadakan dan sebagai gantinya, alkohol dan makanan mewah yang dibuat khusus dengan bahan berkualitas tinggi sangat melimpah.
Estelle yang baru saja memasuki aula segera menempati salah satu set meja yang masih kosong dan memilih untuk memperhatikan para tamu dari jauh.
Kedatangannya sebenarnya diumumkan oleh salah seorang petugas yang bertanggung jawab atas pesta ini, tetapi tampaknya orang-orang tidak begitu mempedulikannya. Walaupun begitu, Estelle tidak terlalu peduli. Apa yang ada di dalam pikirannya hanyalah untuk mencari seseorang yang layak menjadi gurunya.
Pada saat dia memandangi setiap tamu, seorang pria tiba-tiba mendekat dan berlutut di hadapan Estelle. Dia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Estelle sebelum mulai berbicara.
"Saya memberi hormat kepada permata kerajaan, Yang Mulia Putri Estelle."
Saat Estelle mendengarnya, dia menumpangkan telapak tangan kanannya ke atas telapak tangan pria yang terulur itu. Pria tersebut lalu mengecup punggung tangan kanan Estelle sebagai tanda penghormatan.
"Senang bertemu dengan Anda lagi, Guru."
Sosok yang berlutut dan mencium tangannya adalah seorang pria bangsawan berpangkat tinggi yang mungkin berusia sekitar 40 tahunan. Tentu saja, dia memberi hormat bukan dengan tujuan untuk menggoda Estelle yang bahkan belum mencapai usia dewasa. Jadi, Estelle tidak terlalu terganggu dengan kehadirannya.
Pria itu kini berdiri dan duduk pada salah satu kursi yang kosong, berhadapan dengan Estelle dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja bulat kecil yang terbuat dari kaca berkualitas tinggi.
"Anda telah tumbuh menjadi gadis yang manis, Yang Mulia. Bagaimana dengan kesibukan Anda di akademi akhir-akhir ini?"
Estelle tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang terucap dari mulut pria itu.
"Berkat pelatihan Anda, saya tidak kesulitan selama di akademi. Saya juga mendapatkan kesempatan mengunjungi negara tetangga untuk menghadiri turnamen persahabatan."
Mendengar ucapan Estelle, wajah pria itu sedikit berubah. Raut wajahnya menunjukan ekspresi penuh penyesalan. Mungkin dirinya teringat dengan kejadian yang menimpa ibukota kerajaan tetangga beberapa waktu lalu. Suatu berita mengenai penyerangan sekelompok iblis yang hampir saja melukai Estelle. Untungnya, berkat seorang petualang tertentu yang dipekerjakan oleh Viscount Evans, Estelle bisa kembali ke istana tanpa cedera.
Ketika suasananya menjadi canggung, salah satu petugas kembali mengumumkan seseorang yang baru saja datang.
"Memberi tahukan kedatangan Pahlawan Robbert dan Empress Glastila!"
Suasana langsung berubah hening ketika nama dari dua guardian terkuat diumumkan. Tidak ada seorang tamu pun yang tak memalingkan wajah ke arah pintu. Begitu pula dengan Estelle yang cukup penasaran dan ingin melihat mereka secara langsung.
Seorang pria tinggi dengan massa otot yang besar berjalan memasuki ruangan. Dia mengenakan pakaian khas militer berwarna hitam yang memiliki lambang kuil di bagian dadanya. Tangan kanannya melambai sementara garis senyum lebar menghiasi wajahnya yang tampan.
Estelle tertegun dengan ketampanan luar biasa yang baru saja memasuki aula. Namun, dia segera menyadarkan dirinya sendiri dan berpaling memandang sosok yang berjalan di belakang Sang Pahlawan.
Seorang anak perempuan pendek yang mengenakan gaun perang berwarna merah darah melangkah dengan kaki yang ramping. Fitur wajah khas anak-anak didukung oleh rambut cokelat yang diikat dengan gaya twintail. Daun telinganya yang meruncing lebih dari cukup untuk membedakannya dengan manusia.
"Jadi, itukah Empress Glastila?"
Estelle menelan ludah ketika melihat sosok terkenal yang bahkan sering muncul pada buku dongeng anak-anak.
Sang Pahlawan memang luar biasa, tetapi ini bukan kali pertama Estelle melihatnya. Jadi, antusiasmenya sedikit menurun saat dia melihatnya hari ini. Namun, Empress Glastila adalah kasus yang sama sekali berbeda. Orang itu jarang sekali meninggalkan Kekaisaran Dwarf. Bahkan, di antara para dwarf sendiri, tidak banyak yang berkesempatan untuk melihatnya secara langsung.
Ketika Estelle masih jatuh ke dalam kebahagiaan, pria bangsawan yang sejak tadi memperhatikan mulai berdiri dari kursinya. Estelle yang terkejut dengan tingkahnya yang tiba-tiba berubah secara reflek memandang ke arannya. Kedua tangan pria itu sedikit gemetar, wajahnya yang mulai menunjukan tanda awal penuaan mengungkapkan rasa penuh keterkejutan, sementara itu kedua bola matanya sedikit memerah.
Ini adalah kali pertama Estelle melihat raut wajahnya seperti itu. Perasaan tidak nyaman yang Estelle lihat melalui wajahnya agak membuat dirinya terganggu.
"Ada apa, Guru?"
Estelle bertanya, tetapi pria tersebut tidak merespon pertanyaannya.
Lelaki itu segera berdiri dari kursinya dan berlari menuju rombongan yang baru saja masuk, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Estelle sebelumnya. Kemudian, pria itu meraih salah satu anggota rombongan dan memeluknya dengan erat.
"Whoah?!"
Sikapnya yang mendekat secara tiba-tiba tampaknya membuat Empress Glastila terkejut dan reflek melompat menabrak Sang Pahlawan. Namun, Estelle sama sekali tidak memperhatikan kedua tokoh utama tersebut. Dirinya malah fokus pada sosok yang jatuh ke dalam pelukan pria itu.
"... petualang bertopeng peringkat A?"
Estelle langsung mengenalinya hanya dalam satu kali melihat. Sosok itu merupakan gadis petualang yang sebelumnya dia sewa. Kedua matanya tidak mungkin salah mengenali karena topeng khas yang digunakan olehnya masih dia kenakan untuk menutupi sebagian kecil wajahnya yang datar.
Ketika Estelle jatuh ke dalam kebingungan tentang hubungan apa yang mereka miliki, raut wajah datar gadis itu mulai goyah. Kedua bola mata cokelatnya memerah dan basah sebelum akhirnya menitikan air mata yang membasahi wajahnya. Kedua tangan kurus yang terlihat rapuh tetapi memiliki kekuatan di luar imajinasi manusia balas memeluk erat punggung pria tersebut diikuti dengan pecahnya tangisan gadis itu yang menghancurkan keheningan di dalam aula.
------------------
Dipublikasikan di Mngatoon pada Hari Sabtu 25 Juli 2020 pukul 12:00 PM
Note : -