RE:Verse

RE:Verse
22.III Sebuah Kisah



Jauh di masa lalu, saat dunia fana masih hanya sebuah konsep, berdirilah tujuh kerajaan besar yang menguasai seluruh dataran dunia. Masing-masing dipimpin oleh orang-orang yang hebat. Namun, tak ada seorang pun yang mengingat peraturan ketuhanan hingga Pencipta mengutuk masing-masing dari mereka. Hal ini diperparah dengan penduduk yang mengikuti pola pikir raja-rajanya.


Setiap kerajaan bertekad untuk menguasai dunia sehingga perang di antara mereka bukanlah hal yang langka. Peperangan dan perbuatan dosa menjadi bagian dari hidup masyarakat pada masa itu. Tidak ada yang peduli lagi dengan kemurkaan dari Sang Pencipta.


Setelah jutaan tahun berlalu dengan semakin rusaknya dunia di tangan mereka, lahirlah seorang anak lelaki dari kalangan orang-orang biasa. Kehidupannya dijalani sebagaimana anak-anak normal pada umumnya. Namun, karena kecerdasannya berada pada tingkat yang sangat tinggi, di usianya yang menginjak delapan tahun, dia mulai mempertanyakan tentang konsep ketuhanan.


Tahun-tahun berikutnya dia habiskan dengan meneliti alam dan sekitarnya hingga sampailah pada kesimpulan bahwa zat yang maha kuasa pastilah mengendalikan dunia ini dari luar konsep realitas yang dia rasakan. Walaupun dia tak dapat membuktikan kebenaran dari kesimpulannya, anak itu sangat yakin dengan apa yang dia percayai. Hingga suatu saat, sebuah kejadian di luar akal sehat dialami olehnya.


Anak lelaki yang mulai menginjak remaja itu dipanggil menuju dunia yang sama sekali berbeda. Dia melangkahkan kaki di suatu tempat yang sama sekali bukan dunianya, disambut oleh makhluk bersayap perak yang mengenalkan diri sebagai salah satu dari para malaikat, dan diberi tahu bahwa Pencipta telah mengangkat derajatnya.


Lelaki itu satu tingkat dengan para malaikat dan diberikan hak untuk keluar masuk Kerajaan Langit dengan bebas.


Selama seribu tahun dia lalui dengan berdoa dan memuja Sang Pencipta serta menyebarkan ajaran ketuhanan yang diyakininya, menjadi orang paling patuh di kalangan penghuni dunia bawah, bahkan lebih patuh daripada para malaikat. Banyak dari mereka yang memuji dirinya, menganggapnya sebagai pemimpin dari para malaikat dan dengan senang hati membantu lelaki itu jika dia mengalami masalah.


Setelah sekian lama mengabdikan diri, sebuah berita bahagia sampai pada telinganya. Pencipta memutuskan untuk menaikan kembali derajatnya menjadi seorang Heaven Lord dan memberikanya sayap perak indah serta keabadian. Dia yang sangat bahagia sampai bersujud seketika itu juga seraya memanjatkan kalimat-kalimat pujian dan rasa syukur yang mendalam.


Setelah kenaikan derajatnya, dia bertambah patuh terhadap Pencipta, menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berdoa dan memuji Sang Penguasa Alam Semesta. Semua kegiatan yang dia lakukan tidak lain adalah untuk memuja tuannya yang tercinta.


Dalam dua ribu tahun setelahnya, dia mengalami kenaikan derajat kembali, menjadikan pemuda itu sebagai salah satu dari sedikit makhluk yang memiliki derajat tinggi. Namanya sangat dikenal dan memiliki banyak julukan-julukan yang sangat mulia.


Pada suatu waktu, seorang utusan --Heaven Dragon God-- mendatanginya. Lelaki itu tahu bahwa hal baik yang sudah lama ditunggu olehnya pasti akan datang. Jadi, dia menyambut kedatangan utusan itu dengan perjamuan yang meriah.


Sesuai yang diduga olehmya, derajat tertinggi yang diincarnya telah dinobatkan kepadanya. Pada hari itu, statusnya sebagai Deka Logos telah dicabut dan diganti menjadi Heaven Demon God. Lelaki tersebut tak henti-hentinya mengucap syukur dan bertekad untuk mematuhi segala perintah dari Sang Pencipta. Namun, ujian berat mulai berdatangan setelahnya.


Ujian pertama adalah perintah untuk menurunkan penghakiman pada rakyat yang tengah berperang. Kemurkaan Pencipta membuatnya harus turun tangan untuk menggenapi sumpahnya. Walaupun berat untuk membantai orang dari bangsanya sendiri, tidak ada pilihan baginya mengingat perintah dari Sang Pencipta adalah mutlak. Oleh karena itu, walau air matanya mengalir deras, dia melakukan tugasnya dengan segenap kemampuan dan menggunakan philosopher's stone yang telah dianugerahkan kepadanya.


Setelah tugas yang dia jalani selesai, semua orang menyambutnya dengan suka cita. Mereka memuji atas segala macam hal yang dia perbuat, mengatakan bahwa orang-orang yang ingkar pantas mendapat hukuman yang amat pedih. Hal ini tentu saja menyakiti hatinya. Walau bagaimana pun, mereka tetaplah orang-orang dari bangsanya sendiri.


Kemurkaan Pencipta semakin memuncak saat tanda-tanda dari kebesaran-Nya sama sekali tidak dilirik oleh orang-orang ingkar itu. Lalu, kalimat yang membuat seluruh makhluk jatuh dalam ketakutan pun mulai diuacapkan.


Pencipta berfirman, "kami akan meninggalkan dunia itu. Cabut semua berkah darinya dan berhenti berhubungan dengan mereka. Semua yang menghuni dunia bawah akan jatuh dalam keingkaran abadi hingga hari penghakiman."


Semua orang yang mendengarnya mulai menangis, berharap bahwa mereka tidak akan pernah mengalami nasib yang serupa dengan apa yang baru saja menimpa dunia itu. Tidak terkecuali dengan satu-satunya Heaven God yang berasal dari dunia yang sama. Dia bahkan menangis dan bersujud di hadapan Sang Pencipta begitu lama.


Seribu tahun setelah Sang Pencipta meninggalkan dunia ciptaanya, firman kedua mulai menggema, sebuah kabar mengenai dunia baru yang akan diciptakan oleh-Nya. Juga, menyatakan bahwa kedua heaven god diberkahi dengan satu sihir penciptaan. Sebuah sihir ketuhanan yang sanggup untuk memengaruhi konsep alam semesta.


Dengan menggunakan batu yang dikenal sebagai philosopher's stone, lelaki itu --bersama Heaven Dragon God yang dipimpin olehnya-- membantu segala bentuk penciptaan, menjadikan dunia baru itu dipenuhi dengan keindahan dan berkah yang luar biasa. Enam ribu tahun masa penciptaan mereka lalui dengan penuh sukacita. Dia mendapatkan gelar sebagai Tangan Kanan Tuhan dan menjadi pemimpin bagi semua makhluk setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.


Pada suatu waktu, tepat beberapa hari setelah penciptaan selesai, Pintu Nubuat Ketuhanan tiba-tiba memperlihatkan beberapa kalimat. Para malaikat yang membacanya langsung jatuh ke dalam kengerian seraya melaporkannya pada yang lain. Heaven Lord, Acient Angel, Deka Logos, bahkan Heaven Dragon God sekalipun ketakutan setelah membaca kalimat yang tertulis di sana.


Mereka berbondong-bondong mendatangi kediaman Sang Pemimpin dan melaporkan temuannya. Lelaki itu kemudian datang dan membaca kalimat yang tertulis pada Pintu Nubuat Ketuhanan dengan mata kepalanya sendiri.


Akan ada satu makhluk yang beribadah selama 800.000 tahun. Namun, karena satu kesalahan, seluruh ibadahnya tidak diterima dan terlaknat hingga hari penghakiman.


Sang Pemimpin yang membaca kalimat tersebut menjadi murka. Dia mengucapkan sumpah serapah dengan suara yang lantang.


"Beraninya suatu makhluk melanggar perintah ketuhanan. Aku, pemimpin dari seluruh makhluk, mengutuk siapa saja yang berani melakukan itu."


Mendengar kalimatnya, semua yang hadir merasakan kebimbangan yang teramat sangat. Lalu, untuk meredakan kebimbangannya, salah satu dari mereka memohon pada Sang Pemimpin untuk memanjatkan doa agar mereka terhindar dari nubuat yang tertulis.


"Wahai pemimpin kami yang agung. Hamba mohon, berdoalah kepada Sang Pencipta untuk keselamatan kami semua. Kami tidak ingin menjadi makhluk yang ingkar."


Mereka tahu bahwa doa darinya selalu dijawab oleh Pencipta. Tidak ada seorang pun yang lebih mereka percayai selain doa dari Sang Pemimpin. Oleh karena itu, mereka memohon belas kasih padanya.


Mendengar permintaan yang tulus dari para pengikutnya, dia mulai memanjatkan doa saat itu juga.


"Wahai Pencipta Kami yang Maha Agung. Aku, pemimpin dari seluruh makhluk, memohon kepada-Mu untuk meberkati para bawahanku dengan karunia-Mu. Jauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan ingkar yang akan membuat-Mu murka."


Puluhan ribu tahun berlalu tanpa ada satu pun makhluk yang diusir dari Kerajaan Langit. Hal ini membuat semuanya yakin bahwa doa dari Sang Pemimpin telah membatalkan nubuat yang ada. Hingga pada suatu hari, Pencipta berfirman pada seluruh makhluk.


"Sesungguhnya, kami akan menunjuk pemimpin bagi dunia yang baru ini."


Pada saat itu dunia telah dihuni oleh berbagai macam ras yang masih hidup dalam tatanan yang buta akan ketuhanan. Oleh sebab itu, dibutuhkan seorang perantara untuk menunjukan kebesaran Pencipta. Seseorang yang dimaksud akan dianggap sebagai seorang dewa oleh semuanya dan disembah layaknya mereka menyembah Sang Pencipta.


Tentu saja semua orang tahu bahwa Sang Pemimpin adalah orang yang paling pantas untuk mendapatkan gelar tersebut. Jadi, mereka sudah tahu siapa orang yang pasti akan ditunjuk untuk menjadi pemimpin di dunia. Namun, pemikiran mereka adalah sebuah tindakan mendahului Sang Pencipta dan tidak memiliki dasar yang jelas.


Suatu hari, seluruh penghuni Kerajaan Langit --termasuk Sang Pemimpin-- dikumpulkan di bawah takhta ketuhanan. Mereka menunduk hormat pada zat yang maha kuasa di tempat tersebut. Tidak ada seorang pun yang berani menatap-Nya secara langsung.


Lalu, seorang wanita cantik dengan dua pasang sayap putih keperakan yang bersinar menerangi altar tiba-tiba berdiri membelakangi takhta. Semuanya merasa heran, berusaha mencuri pandang pada wanita yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Wahai Pencipta Kami yang Maha Agung, siapakah gerangan makhluk yang berada di hadapan Anda?" Sang Pemimpin bertanya dengan penuh penasaran.


Mendengar pertanyaanya, Sang Pencipta memberikan balasan.


"Perkenalkanlah dirimu wahai makhluk yang kami muliakan diantara yang lainnya."


Wanita itu membungkuk hormat sebelum mengucapkan kalimat perkenalan.


"Nama saya adalah Hestia el Nilfheim. Saya seorang Heaven God."


Lalu, Pencipta berfirman, "kami menciptakanmu untuk memimpin dunia. Sekarang, hormatlah kalian kepadanya."


Walaupun semuanya merasa bahwa apa yang terjadi di sini sungguh di luar dari prediksi mereka, tidak ada yang berani membantah dan segera melakukan penghormatan sesuai perintah-Nya.


Kecuali satu orang di antara mereka.


"Wahai Pencipta Kami yang Maha Agung, mengapa engkau menjadikan makhluk yang belum mengerti akan nilai-nilai penyembahan sebagai pemimpin di dunia?"


"Sesungguhnya kami mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."


Jawaban yang diterima olehnya benar-benar tidak menjawab apa pun. Oleh karenanya, dia tidak sudi untuk membungkuk hormat pada wanita itu dan memilih untuk diam di barisannya.


Menyadari tingkah lakunya, Pencipta berfirman, "wahai pemimpin dari seluruh makhluk, apa yang menghalangimu untuk memberi hormat pada makhluk yang kami ciptakan? Apakah kamu menyombongkan dirimu ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?"


Mendengar pertanyaan dari Sang Pencipta, bukan permintaan maaf yang terucap darinya, melainkan sebuah kalimat seakan menantang.


"Wahai Tuhanku, aku memang lebih mulia darinya. Tidak terhitung jumlah ibadahku pada-Mu sementara dia tidak sampai setahun berada di dunia. Akulah yang menciptakan dunia itu. Jadi, aku adalah satu-satunya makhluk yang cocok untuk menjadi dewa bagi mereka yang menempati mahakaryaku."


Pernyataannya membuat Sang Pencipta murka dan mengucapkan kalimat yang menyebabkan semua makhluk jatuh ke dalam ketakutan luar biasa. Beberapa dari mereka bahkan gemetar sesaat setelah mendengarkan kata-kata yang terucap dari-Nya.


"Keluarlah kamu dari dunia ini, kembalilah ke dunia tempat asalmu berada. Kami menyegelmu hingga hari yang dijanjikan. Sesungguhnya kamu adalah termasuk orang-orang yang diusir."


Setelah kejadian itu, Sang Pemimpin tidak berhak lagi berada di Kerajaan Langit dan kembali ke dunia tempatnya berasal. Dia bahkan dikutuk untuk menyatu dengan tanah dan lumpur hingga waktu yang tidak ditentukan. Namun, sebelum pergi meninggalkan Kerajaan Langit, dia bersumpah akan membalas perlakuan yang diterimanya dan membuktikan bahwa pilihan Sang Pencipta adalah salah.


"Aku akan membuktikan bahwa aku lebih pantas untuk mengatur dunia dan disembah daripada wanita laknat pilihan-Mu. Ingat itu baik-baik!" Dia mengatakannya sebelum tubuhnya melebur menjadi lumpur dan jatuh ke Tartarus.


----------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 20 Juni 2020 pukul 12:00 PM


Note :


Berasa familier dengan kisah ini? Ya, saya nyontek dan melakukan plagiarisme uwu