
Perjamuan yang diadakan di dalam aula istana utama hampir selesai, tetapi Estelle masih tetap di kursinya. Dirinya belum memutuskan seseorang yang akan dia minta untuk menjadi guru baginya.
Para petualang yang datang berpenampilan terlalu kasar dan tidak sedap dipandang. Bagi Estelle yang selalu menilai orang melalui penampilan, para petualang yang berada di dalam aula malah membuatnya tidak nyaman. Inilah sebabnya gadis itu masih belum memutuskan seseorang yang cocok.
"Haa~"
Estelle mengembuskan napasnya sementara tangan kanannya menggenggam cangkir kaca dan mendekatkan cangkir itu ke mulutnya. Bibir tipisnya menghisap cairan merah yang menggenangi bagian dalam cangkir.
Ketika dia mengalihkan pandangan ke arah para putra dan Putri bangsawan yang terkadang meliriknya, Estelle kembali mengingat kejadian sebelumnya.
Instruktur yang selama ini mengajarinya sekaligus kesatria terkuat kerajaan, Marquis Canaria, tiba-tiba meraih petualang peringkat A yang Estelle temui di Kerajaan Cygnus beberapa waktu lalu. Pemandangan aneh itu disaksikan oleh semua tamu yang berpartisipasi hingga membuat kesunyian.
Pada awalnya Estelle ingin bertanya mengenai hubungan mereka berdua. Namun, ketika dirinya memperhatikan keduanya pergi meninggalkan aula menuju ruang istirahat, dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Tampaknya semua tamu juga merasakan hal yang sama. Soalnya, acara kembali dilanjutkan seperti biasa setelah kepergian mereka dan berjalan lancar seakan tidak terjadi apa-apa.
Pandangan Estelle beralih kepada Sang Pahlawan dan Empress Glastila yang sedang sibuk mengobrol dengan komandan pasukan dari berbagai negara, terlihat melakukan pembicaraan yang serius. Di antara mereka, terdapat dua orang elf yang ikut dalam diskusi. Salah satu dari keduanya pastilah seorang pendeta yang menempati kursi kelima. Sayangnya, Estelle tidak tahu siapa orangnya.
Berbeda dengan Sang Pahlawan dan Empress Glastila yang fokus pada kelas guardian, pendeta kursi kelima merupakan seseorang yang mengasah kemampuannya hingga menjadi seorang wiseman, bentuk kelas lanjutan dari acolyte. Orang-orang pada kelas ini biasanya berdiri di garis belakang sebagai barisan pendukung dan unit penyembuh. Walaupun bukan seorang penyerang, keberadaannya dapat membalikan keadaan dalam peperangan.
Selain dari tiga tokoh yang berada di sini, seperti namanya, kelompok Enam Pendeta masih memiliki tiga anggota lagi. Kursi keenam adalah seorang sorcerer manusia yang berasal dari kerajaan kecil di ujung barat benua. Dikarenakan alasan yang tidak diketahui, Demigod kelihatannya tidak mengikutsertakannya dalam perang kali ini.
Seseorang yang menempati posisi Kursi Kedua tidak pernah dipublikasikan. Menurut rumor, pendeta ini hanya bekerja di Kuil Ortodox dan tak pernah meninggalkan tempat itu. Jika menilai dari rumor yang beredar, bisa ditarik kesimpulan bahwa kemampuannya tidak cocok untuk pertempuran. Posisinya mungkin sebagai penyusun rencana dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang berhubungan dengan administrasi.
Posisi pertama ditempati oleh Demigod sendiri. Tidak banyak orang yang berkesempatan untuk melihatnya dan tak ada seorang pun yang tahu ras dari Demigod itu sendiri. Namun, mengingat beliau telah memimpin kuil sejak ribuan tahun lalu dan letak dari kuil yang berada di Benua Alfheim, kemungkinan besar beliau adalah seorang elf.
Alasan dibalik kenapa Demigod tidak pernah meninggalkan kuil telah disebutkan oleh para pendeta di seluruh kuil yang tersebar di kerajaan dan sudah menjadi pengetahuan paling dasar dimana anak-anak dari kalangan rakyat jelata pun mengetahuinya. Karena aura sucinya yang terlampau murni, kedatangannya ke dunia yang tercemar oleh dosa makhluk hidup akan membuat lingkungan di sekitarnya terbakar hingga menjadi abu. Oleh karena itu, Demigod mengurung dirinya di dalam Kuil Ortodox, tempat yang paling murni di dunia ini.
Tentu saja, semua anggota dari Enam Pendeta adalah para wanderer, sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan seseorang yang menguasai beberapa kelas dari lima kelas dasar yang berbeda.
Estelle sebenarnya mendambakan Sang Pahlawan untuk menjadi guru sementara baginya. Namun, dalam situasi yang mengancam dunia seperti ini, tampaknya mustahil untuk meminta hal seperti itu. Jadi, Estelle memutuskan untuk tidak datang menghadapnya.
Ketika perjamuan mendekati acara penutup, ayah Estelle --Raja Ignis XVIII-- yang sejak tadi duduk di atas kursi takhta bersama Sang Ratu mulai bangkit dan berjalan menuju ruangan lain diikuti oleh para anggota dari Enam Pendeta. Estelle yang sama sekali tidak tertarik hanya menatapnya sekilas sebelum kembali meneguk jus di hadapannya.
Tepat setelah dirinya menyimpan gelas kaca ke atas meja seperti sebelumnya, semua mata para tamu tiba-tiba memandang ke arah yang sama, yaitu pintu yang menghubungkan ruang istirahat dengan aula perjamuan. Bola mata biru Estelle memandang ke arah yang sama ketika menyadari perubahan suasana di sekitarnya, lalu terdiam saat tahu apa yang membuat semuanya memperhatikan tempat itu.
Seorang pria berjalan menuju ke arahnya diikuti oleh gadis petualang peringkat A yang tak asing lagi. Tujuan dari langkah kaki mereka sangat jelas, yaitu untuk datang menghampirinya. Menyadari hal ini membuat Estelle sedikit kehilangan ketenangannya.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berdiri sekitar satu langkah di hadapannya. Estelle yang masih membeku dalam duduknya buru-buru berdiri pada saat pria itu membungkuk sebagai salam hormat.
"Saya meminta izin untuk memperkenalkan seseorang kepada Anda, Yang Mulia."
Sebenarnya Estelle tidak perlu untuk bangkit dari kursinya karena posisinya lebih tinggi daripada pria bangsawan itu. Namun, karena dirinya merupakan seorang murid dari pria di hadapannya, Estelle memutuskan untuk berdiri sebagai bentuk penghormatan.
"Saya memberikan izin, Guru." Dia menjawab dengan kalimat yang sopan.
Setelah mendengar jawaban dari mulut Estelle, pria bangsawan itu mengambil satu langkah mundur, lalu gadis petualang yang sejak tadi berada di belakangnya sedikit mendekat ke arah Estelle. Gadis itu menggeser kaki kanannya ke belakang dan sedikit menekuk kedua lututnya sementara kedua tangannya menarik kedua sisi rok hitamnya. Kemudian, dia membungkuk hormat kepada Estelle.
"Putri bungsu dari Keluarga Marquis Canaria, Almaria von Canaria, memberi hormat kepada permata kerajaan, Yang Mulia Putri Estelle."
Estelle sedikit kehilangan sikap sempurnanya ketika mendengar kata-kata itu. Namun, tidak sampai satu detik, dia sudah berhasil memperbaiki posturnya kembali dan memberikan salam hormat yang sama.
"Senang bertemu dengan Anda, Putri Almaria. Mari duduk dan berbincang jika Anda berkenan."
Estelle mempersilakannya duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya seraya menunjukan senyum ramah kepada gadis berambut hitam itu.
"Terima kasih atas undangannya, Yang Mulia."
Pikiran Estelle berkeliaran ketika mereka saling berhadapan. Dia juga tiba-tiba mengingat kembali kejadian yang dialaminya ketika berada di Kerajaan Cygnus.
Pada pertemuan pertama mereka, gadis petualang di hadapannya memberikan salam hormat layaknya seorang putri dari keluarga bangsawan tinggi. Sekarang Estelle tahu alasan di balik salam hormat tersebut. Dia mungkin melakukannya secara tidak sengaja karena sudah terbiasa dengan salam seperti itu.
Sekelebat ingatan setelah kejadian itu tiba-tiba terbesit di kepalanya. Adegan dimana dirinya menampar gadis yang sekarang tengah duduk di hadapannya terasa masih sangat segar. Hal ini membuat Estelle khawatir dan berkeringat dingin.
"Mohon maafkan saya karena tidak memperkenalkan diri dengan benar ketika pertemuan pertama saya dengan Anda, Yang Mulia."
Estelle terhentak dari kursinya saat gadis itu memulai pembicaraan.
Marquis Canaria baru saja undur diri untuk bergabung dengan pertemuan yang melibatkan Raja Ignis XVIII dan Enam Pendeta beberapa waktu lalu. Kini hanya ada mereka berdua di meja ini.
"A-ah ... tidak apa-apa. Juga, Anda tidak perlu berbicara terlalu formal. Panggil saya Estelle jika Anda berkenan."
Tentu saja mustahil bagi seseorang untuk memanggil namanya langsung seperti itu. Estelle yang sedikit terguncang hanya berbicara tanpa pikir panjang. Jadi, dia sendiri tidak bermaksud untuk memintanya.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya berbicara dengan nyaman, Putri. Keberatankah Anda jika saya memanggil Anda dengan panggilan Putri Estelle?"
"Tidak sama sekali. Saya mengizinkannya."
Gadis itu tidak membalas kata-katanya.
Suasana di sekitarnya terasa sangat canggung. Estelle tidak tahu harus bertingkah seperti apa di hadapannya. Namun, jika dia tidak segera memulai pembicaraan kembali, keadaannya akan jauh lebih canggung lagi. Jadi, dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Um, maaf, apakah saya boleh mengajukan pertanyaan yang agak sensitif dan bersifat pribadi kepada Anda?"
Gadis berambut hitam di hadapannya sedikit mengubah raut wajah datarnya sebelum dirinya merespon pertanyaan Estelle.
"Tentu saja. Tidak ada kata tidak bagi Anda, Putri. Saya bahkan akan memotong leher saya sendiri tanpa ragu jika Anda memintanya."
"Tolong jangan!" Estelle langsung meresponnya tanpa pikir panjang saat kata-kata berbahaya mengalir dari mulut Almaria.
"Saya hanya bercanda." Dia meneguk jus miliknya sebelum melanjutkan ucapannya. "Jadi, apa yang ingin Anda tanyakan?"
Estelle agak kesal dengan lelucon yang tiba-tiba dilemparkan di dalam suasana canggung mereka. Namun, berkat leluconnya jugalah Estelle merasa suasananya menjadi sedikit mencair.
"Sebenarnya ... " Estelle agak ragu untuk sesaat, tetapi dia pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pertanyaannya, "bagaimana Anda bisa selamat?"
Kejadian yang telah menimpa seluruh anggota keluarga Marquis Canaria sudah tersebar ke seluruh wilayah kerajaan. Memang tidak ada yang berani secara terang-terangan membicarakannya, tetapi semua orang --terutama para bangsawan-- tahu tentang kejadian ini.
Menurut desas-desus yang dia dengar, tidak ada seorang pun yang selamat dalam kejadian itu. Mayat Nyonya Canaria ditemukan di bibir hutan dengan tubuh yang mengenaskan sementara putra dan putrinya ditemukan sekitar dua kilometer dari tempat penyerangan. Memang tidak ada mayat di sana, tetapi bercak darah menyebar di sekitar tempat itu dan telah dikonfirmasi melalui sihir bahwa bercak darah yang telah mengering adalah milik putra dan putri Sang Marquis. Sayangnya, tidak ada bercak darah dari para pelaku yang dapat dilacak. Tampaknya mereka telah meminum ramuan khusus sebelum melakukan penyerangan, membuat orang-orang yakin bahwa penyerangan ini telah direncanakan dengan matang.
Kemungkinan bahwa mereka selamat dan berhasil melarikan diri cukup tinggi. Namun, seiring berlalunya waktu dan tak ada berita mengenai keduanya, orang-orang mulai menduga bahwa mereka juga mati pada kejadian mengerikan itu. Kedua mayatnya mungkin habis dimakan oleh monster penghuni hutan hingga tidak meninggalkan jejak apa pun selain darah.
Beberapa hari setelah kejadian itu, sebuah gua yang dibanjiri oleh bercak darah ditemukan oleh para tim pencari. Mayat-mayat para bandit tergeletak begitu saja dan mulai membusuk. Anehnya, di antara banyaknya noda darah mengering yang ada di sana, darah Putri Marquis juga tercampur. Tentu saja rumor baru mengenai kematian Putri Marquis mulai tersebar di kalangan masyarakat kelas atas.
Sang Putri diculik oleh bandit dan mati bersama para bandit saat penyerangnya berhasil melacak keberadaannya. Rumor seperti itu bermunculan di mana-mana. Namun, tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana bisa mayatnya tidak ada di tempat kejadian.
Estelle secara pribadi memercayai rumor tersebut. Menurutnya, jika memang mereka selamat, seharusnya keduanya telah ditemukan oleh tim pencari yang secara langsung dipimpin oleh Sang Marquis sendiri. Kenyataan bahwa tim pencari tak menemukan secuil pun jejak membuat Estelle yakin bahwa keduanya telah mati dan tubuhnya habis oleh monster.
"Sebenarnya saya tidak mau membahas hal ini lagi. Namu, karena Anda yang memintanya, saya akan menjelaskannya sedikit." Almaria menyesap kembali jus miliknya sebelum melanjutkan ucapannya.
Kisah yang dijelaskan olehnya benar-benar tidak dapat dipercaya. Jika Estelle tidak diberi tahu sebelumnya bahwa ini adalah cerita yang benar-benar terjadi, dia mungkin akan menganggapnya sebagai dongeng yang dibuat oleh para penyair jalanan yang tampil di penginapan rakyat jelata.
Setelah kematian ibunya, Almaria dan kakaknya berhasil melarikan diri ke dalam hutan. Namun, pada akhirnya mereka dikejar dan diserang di sana. Kakaknya yang dipersiapkan untuk menjadi marquis berikutnya tentu saja melawan hanya dengan tangan kosong dan memberikan waktu bagi Almaria untuk melarikan diri.
Entah bagaimana dia dapat meloloskan diri dari para pengejar yang berusaha membunuhnya. Almaria memutuskan untuk beristirahat ketika melihat sebuah gua. Sayangnya, gua itu ternyata merupakan sarang dari kelompok bandit yang selama ini meresahkan penduduk setempat.
Setelah melihatnya, para bandit tentu saja langsung menyeret masuk Almaria secara paksa. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa gadis yang mereka bawa masuk adalah keturunan terakhir dari keluarga bangsawan tinggi setempat.
"Setelah saya dibawa ke dalam, mereka melakukan ini dan itu. Saya akan menjelaskannya secara rinci jika Anda ingin mengetahuinya."
"Tidak! Tolong lewati bagian menyeramkannya." Estelle langsung membalas ucapan gadis itu dengan agak panik.
Di umurnya yang masih sangat muda, Estelle hanya membayangkan bahwa para bandit --yang identik dengan kekejian-- pasti memiliki semacam kesenangan dengan cara menyiksa seseorang yang diculik oleh mereka. Tentu saja, bayangan di kepalanya hanya terbatas pada cambuk, api, senjata tajam, dan pukulan. Tidak ada hal aneh lain yang terlintas dalam pikirannya.
"Di sanalah saya menemukan senjata yang saya gunakan saat ini."
Almaria menunjuk belati dan pedang hitam yang digunakan olehnya.
"Senjata-senjata ini memiliki ingatan. Cara bertarung, ketajaman penglihatan, kecepatan, semua yang saya butuhkan untuk menjadi kuat. Begitu saya menyentuhnya, saya menghabisi semua bandit dan berhasil melarikan diri."
Almaria menjelaskannya lebih lanjut, mengatakan bahwa belati dan pedang miliknya bukanlah senjata normal pada umumnya, melainkan salah satu dari sedikit demoniac weapons yang tersebar di dunia fana. Tentu saja, untuk memberikan pemiliknya kekuatan secara instan, ada harga yang harus dibayarkan. Tergantung kecocokan pemiliknya, senjata-senjata itu akan menguras daya hidup pemiliknya setiap kali digunakan. Parahnya lagi, hanya ada sedikit orang yang cocok dengan senjata-senjata itu.
"Kebanyakan orang akan langsung mati tepat setelah mereka menyentuhnya."
Penjelasannya sekaligus menjawab alasan dibalik kenapa para bandit tidak menggunakannya. Di antara mereka mungkin tidak ada seorang pun yang berani menyentuh belati dan pedang hitam itu.
Sekarang semua yang dia dengar melalui rumor menjadi terhubung dan menjawab rasa penasaran Estelle.
Bercak darah di tempat kejadian pertama memang milik keduanya. Namun, Almaria tidak mati di sana dan berhasil melarikan diri. Darah miliknya yang berada di gua markas para bandit dan misteri bagaimana semua bandit mati juga sudah terjawab.
Sayangnya, keberadaan kakanya masih menjadi misteri bahkan bagi Almaria sendiri. Dia menjelaskan bahwa setelah berpisah dengan kakaknya, dirinya tidak pernah melihat kakanya lagi. Mendengar hal ini membuat Estelle merasa sangat bersalah kepada Almaria karena telah memperlakukannya dengan sangat kasar di pertemuan pertama mereka.
"Karena saya berpikir akan berbahaya jika kembali hari itu juga, saya memutuskan untuk melintasi Hutan Besar Eryas menuju Kota Trowell di Kerajaan Cygnus. Di sanalah saya mendaftar sebagai petualang dan bertemu dengan Viscount Evans tepat setelah saya menyelesaikan misi pengawalan menuju ibukota." Almaria menyelesaikan ceritanya sampai di sana.
Pada awalnya Estelle merasa iri ketika mendengar bagaimana Almaria menjadi kuat hanya karena senjatanya. Namun, saat dia memikirkan jalan hidup yang sangat berat dan berliku yang dialaminya, Estelle menyadari keegoisannya sendiri. Jika itu dirinya, dia mungkin tidak akan tahan dan menjadi gila ketika menghadapi berbagai masalah seperti itu.
Suasananya kembali canggung ketika kisah tentang perjalanan hidup Almaria yang berlangsung beberapa bulan lalu berakhir. Mereka tenggelam dalam keheningan seperti sebelumnya.
Di tengah keheningan itu, Estelle tiba-tiba mengingat sesuatu yang dirinya lupakan beberapa waktu lalu. Bersamaan dengan selesainya acara perjamuan yang diadakan di dalam aula istana utama Kerajaan Ignis, Estelle mengucapkan kalimat yang membuat Almaria menumpahkan jus yang sedang diminumnya.
"Bisakah Anda menjadi instruktur sementara saya?"
----------------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 01 Agustus 2020 pukul 12:00 PM
Note :
- Kenapa Estelle gak kenal Almaria?
• Alma belum melakukan pesta kedewasaan. Dia juga jarang banget ke ibukota. Pesta Kedewasaan atau Debutan adalah hari dimana seorang putra atau putri bangsawan mencapai usia dewasa secara hukum (15 tahun) dan diperkenalkan secara resmi di kalangan para bangsawan.
- Kenapa Alma nyembunyiin keberadaan kakaknya?
• Sederhana aja. Karena memang gak ada perintah untuk menyebutkannya. Dia mengambil tindakan yang menurutnya paling aman.
+ Kalo dia bilang kakaknya masih hidup, kakanya perlu untuk menemui ayahnya di masa depan.
+ Kalo dia bilang kakanya mati, kakaknya harus sembunyi dari mata publik selamanya.
+ Satu-satunya pilihan teraman adalah "tidak tahu". Dengan mengatakan tidak tahu, kakaknya bebas memutuskan apakah dia mau tampil ataukah terus bersembunyi.
Di bab ini kenapa Alma mendadak jadi pinter?! Apa jangan-jangan dia pura-pura **** selama ini? Gak, otaknya cuma akan jalan kalo digunain buat nipu.