RE:Verse

RE:Verse
21.III Dua Melawan Satu



Ayunan pedang dua tangan besarnya tinggal sedikit lagi mengenai leherku. Kalau saja aku hanyalah manusia rata-rata sebagaimana yang biasa kutemui belakangan ini, aku yakin bahwa diriku bahkan tak akan menyadari apa yang sebenarnya terjadi sebelum akhirnya kepalaku terpenggal.


Jeda serangan yang dilancarkan Glastila tidak sampai memakan waktu satu detik. Kalau kuhitung secara kasar, sejak serangan pertamanya yang diarahkan pada Alma sampai ayunan pedangnya yang sekarang hampir mengenai leherku, mungkin hanya sekitar 3 detik baru saja berlalu. Untuk ukuran para dwarf yang terkenal lambat, Glastila bisa dibilang luar biasa cepat.


Aku tidak menghentikan ayunan pedang besar Glastila. Tidak, mungkin lebih cocok jika kubilang bahwa aku tidak mau repot-repot menahannya karena tangan kiri Alma sudah menahannya dengan menggunakan belati lain miliknya.


Sekali lagi, dentuman yang keras antara logam dengan logam yang saling beradu memekakkan telingaku. Kali ini karena letak tumbukan berada tepat di hadapanku, hembusan angin dan percikan api yang berhamburan terlihat sangat jelas.


Setelah berhasil menangkis serangan kuat Glastila, Alma menusukan belati di tangan kanannya di celah antara pedang dua tangan dan perisai besar Glatila. Namun, dwarf itu tampaknya segera menyadarinya dan melompat mundur untuk memberi jarak antara kami berdua dengan dirinya.


"Yah~ Biasanya yang dapat menahan serangan seorang guardian hanyalah guardian itu sendiri. Sulit membayangkan ada seseorang yang bisa menangkis seranganku hanya dengan belati kecil seperti itu."


Glastila berbicara dengan nada yang ringan seolah-olah kami sedang berada dalam suasana yang santai. Bisa-bisanya dia sesantai itu setelah mencoba membunuhku tanpa alasan yang jelas.


Ketika kami menyadari bahwa Glastila sedang tidak dalam mode untuk menyerang, Alma tiba-tiba mengacungkan belati di tangan kanannya dan membalas ucapan Glastila.


"Ya, Anda juga. Dari segi kekuatan, Anda mungkin setara dengan archdemon."


Anak ini ... memang benar bahwa kemampuan Glastila hanya sebatas acient demon peringkat rendah. Namun, mengatakannya secara langsung seperti itu tentu saja akan langsung menyulut emosinya yang tidak stabil. Jujur saja, jika dia mengamuk di sini, kami berdua akan dalam bahaya.


Bagaimana caraku pergi dari sini? Membuka segelku hanya akan membuatku mencair tanpa sisa, sedangkan melawannya tidak akan menghasilkan apa pun selain kekalahan. Ditambah lagi, ucapan Alma barusan semakin memperburuk suasana.


Saat aku semakin jatuh ke dalam kekhawatiran, Glastila tiba-tiba tertawa. Dia hanya berdiri di sana dengan tawanya yang menggema di dalam ruangan kosong ini.


Serius, apanya yang lucu? Alma bahkan terlihat sama kebingungannya denganku.


Dia tertawa cukup lama sebelum akhirnya berhenti dan mulai kembali berbicara. Kali ini Glastila menyeringai dengan wajah yang mengancam.


"Menarik sekali. Mari kita lihat seberapa tangguhnya seseorang yang kau samakan dengan archdemon ini."


Glastila melesat jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Lantai marmer yang menjadi pijakannya bahkan hancur saat dia melompat ke arah kami seraya mengayunkan pedang besarnya.


Sasarannya kali ini adalah Alma. Aku melihat bagaimana dia mengayunkan pedang besar layaknya mengayunkan pedang kayu yang ringan. Setiap serangannya mengandung kekuatan yang sanggup melukai raja iblis sekalipun. Untungnya Alma menyadari dengan baik bahwa tingkat kekuatan mereka berada pada dimensi yang berbeda. Jadi, dirinya memilih untuk menghindar alih-alih menahannya seperti sebelumnya.


Glastila memang sangat cepat bila dibandingkan dengan para dwarf yang berada pada kelas yang sama dengannya, tetapi hanya itu saja. Alma sendiri memiliki kelincahan dan reflek yang jauh lebih baik. Bahkan jika dibandingkan dengan ancient demon lain, dia adalah yang paling lincah dan mahir dalam menghindari serangan. Walaupun begitu, karena dia menggerakan tubuh seorang manusia, aku melihat bahwa banyak gerakannya yang canggung dan beberapa kali hampir terkena serangan Glastila.


Aku yakin dia masih belum terbiasa dengan tubuhnya yang jauh lebih kecil daripada tubuh aslinya.


Jika aku terus membiarkannya seperti ini, Alma tidak akan bisa terus mengimbanginya sampai akhir. Mencari jalan keluar memang perlu, tetapi semuanya akan percuma jika Alma dikalahkan. Glastila pasti akan mengejarku setelah mengalahkan Alma tidak peduli sejauh apa aku pergi dari sini. Belum lagi para penjaga dan prajurit yang berkeliaran di kastil. Mustahil aku bisa menangani mereka dengan kekuatanku yang sekarang.


Kalau begitu, lebih baik aku mengurus Glastila terlebih dahulu sampai setidaknya dia cedera. Kalau pemimpinya cedera, aku yakin sebagian besar prajurit akan teralihkan padanya sehingga memudahkan kami untuk keluar.


Karena sudah terlanjur terlibat dalam bahaya yang bisa mengancam nyawa, mari kita sedikit serius sekarang.


Aku memusatkan semua mana milikku ke seluruh tubuh untuk memperkuat dan meningkatkan kecepatan. Walau tidak secepat ketika aku dalam mode penuh, gerakanku seharusnya masih dapat mengimbangi Glastila. Ditambah dengan penglihatanku yang tajam, aku yakin diriku masih bisa mengenainya.


Kulihat Alma melompat mundur cukup jauh saat pedang besar Glastila terayun menghantam lantai marmer dan menghancurkan segalanya. Dia mungkin tahu bahwa Glastila membutuhkan sedikit waktu untuk menarik pedangnya kembali sehingga Alma memanfaatkannya untuk mundur dan mengatur pernapasannya sendiri.


Gadis itu melompat cukup tinggi saat berusaha membuka jarak dengan Glastila. Di tengah-tengah lompatannya tersebut, dia juga melemparkan kedua belati di tangannya dengan sekuat tenaga.


Belatinya melesat dengan kecepatan suara, mengeluarkan gelombang kejut yang mengganggu. Dengan kecepatan mengerikan seperti itu, orang biasa tentu saja tidak akan selamat. Namun, kalau itu Glastila, aku yakin dia bisa bertahan dari serangannya.


Benar saja, Glastila mengangkat perisai besar miliknya untuk menahan serangan dari kedua belati milik Alma yang melesat ke arahnya. Kali ini suara dentuman logam dan percikan api di sekitar perisainya jauh lebih intens dari sebelumnya. Kedua kaki pendek Glastila bahkan sedikit terdorong ke belakang ketika dirinya bertahan dari serangan itu.


Alma yang pastinya sudah memprediksi bahwa serangannya tidak akan berhasil mulai meraih senjata terakhir miliknya. Dia menggenggam gagang pedang hitam di punggungnya, kemudian menariknya. Seketika itu juga mana kental miliknya terpancar keluar, mendorong udara di sekitarnya sehingga menciptakan gelombang udara yang menekan ke segala arah.


Ah, apa dia akan baik-baik saja dengan mana sebanyak itu? Terakhir kali dia menggunakan mana secara berlebihan, tubuhnya hancur sampai bentuk yang tak bisa dikenali.


"Pedang sekuat itu, bagaimana kau bisa memilikinya?"


Glastila yang menyadari perubahan kapasitas mana yang terpancar dari tubuh Alma bergumam dengan nada serius. Entah kenapa aku merasa dia tidak cocok untuk memasang wajah seperti itu.


Tidak selang berapa lama, aku melihat kulit Alma mulai memerah. Kurasa tubuhnya memang tidak cukup kuat untuk menampung begitu banyak mana. Jika terus seperti ini, dia akan berakhir menyedihkan seperti terakhir kali.


Sialan, padahal dulu tidak ada aturan yang merepotkan seperti ini. Kenapa tiba-tiba semuanya berubah jadi begini?


Mengabaikan keterkejutan Glastila, Alma yang sadar bahwa tubuhnya mulai mengalami efek samping dari pelepasan segelnya segera melesat ke arah Glastila. Dia meningkatkan kecepatan dengan signifikan, menghantam Glastila yang masih terkejut di tempatnya berdiri.


Ketika serangan Alma datang padanya, aku melihat sebuah pola aneh yang bersinar di kedua punggung tangan Glastila. Kemudian, entah bagaimana gerakan Glastila menjadi jauh lebih baik dan cepat dalam mengambil keputusan sehingga bisa mengimbangi serangan Alma tanpa masalah. Dia juga semakin lincah sampai-sampai beberapa gerakannya tidak berhasil kutangkap dengan kemampuan mataku saat ini. Benar-benar berbeda dengan gerakannya yang sebelumnya.


Pada saat aku melawannya di masa lalu, Glastila sadar bahwa kekuatanku sangat besar. Jadi, dia melawanku dengan kekuatan penuhnya sejak awal. Sekarang, karena dia tidak menganggap kami sebagai ancaman, Glastila mungkin tidak menghadapi kami dengan serius. Namun, ketika Alma mencabut pedang hitamnya, dia mungkin akhirnya merasa terancam oleh Alma. Kurasa wajar jika dia mulai bertindak serius.


Karena aku menyegel hampir semua kekuatanku, aku gagal mengetahui seberapa banyak Glastila menggunakan kekuatannya saat awal pertarungan kami. Kupikir dia sudah serius karena aku merasakan perbedaan kekuatan yang besar antara orang-orang yang selama ini kutemui dengan Glastila. Namun, tampaknya tidak seperti itu.


Kalau dipikir-pikir benar juga. Glastila yang kukenal sanggup menandingi acient demon peringkat rendah. Jadi, seharusnya dia jauh lebih kuat daripada yang sampai sekarang kulihat. Jika memang seperti itu, kami harus mengalahkannya sebelum dia menjadi lebih serius lagi.


Glastila mengayunkan pedang besarnya di sela-sela serangan Alma yang berhasil dia tahan menggunakan perisainya. Akan tetapi, sebelum pedang besar itu mengenai tubuh Alma, dia berhasil menyesuaikan pedang hitamnya dan langsung menangkis pedang besar itu dengan sekuat tenaga.


Pedang dua tangan besar miliknya terlepas dari genggamannya, terpental dan berputar di udara. Menyadari sebuah kesempatan besar seperti ini, aku langsung memusatkan semua kekuatanku pada kedua kaki dan lengan kananku yang sudah mengepal.


Jika aku berhasil mengenainya dengan seluruh tenagaku saat ini yang juga diperkuat oleh sarung tangan milikku, aku yakin Glastila tidak akan selamat. Aku pasti bisa membunuhnya hanya dengan sekali serangan.


Kulihat Alma kembali mengayunkan pedangnya, kali ini dia berhasil menggores tangan kanan Glastila. Walaupun lukanya tidak terlalu dalam, aku yakin syarat untuk mengaktifkan kutukan pada pedang hitamnya telah terpenuhi.


Kami pasti menang.


Ketika jarakku dengan mereka sudah sangat dekat, aku mengayunkan tinjuku pada kepala Glastila yang masih fokus terhadap Alma. Kukerahkan seluruh kekuatanku pada serangan ini dengan maksud untuk menghancurkan Glastila dalam satu kali serangan. Namun, sebelum pukulanku mengenainya, dia kelihatanya menyadariku dan segera menghalangi lintasan seranganku dengan menggunakan perisainya.


Tanganku memukul perisai besar itu, menghasilkan bunyi dentuman yang sangat keras. Akibat pukulan kuatku, tubuh kecil Glastila bahkan terhempas sangat jauh, menabrak salah satu pilar dan menghancurkannya.


Sialan, aku tidak mengira bahwa perisainya sanggup menahan seluruh kekuatanku. Yah, setidaknya dia pasti terluka parah.


Sekarang, sebelum dia mampu untuk berdiri lagi, lebih baik aku menghabisinya.


"Mari selesaikan ini."


Aku memberi perintah kepada Alma yang kini sudah menyarungkan kembali pedang hitamnya. Menyadari apa yang kumaksud, Alma mengambil salah satu belatinya dan berjalan menuju tempat dimana Glastila tenggelam dalam tumpukan batu. Namun, ketika jarak kami dengannya semakin dekat, tiba-tiba reruntuhan pilar itu meledak dan menyebarkan bebatuan ke segala arah. Di sana, Aku melihat Glastila yang berdiri dengan memar di sekujur tubuhnya.


"Regenerate."


Ketika Glastila menggumamkan kata tersebut, tubuhnya mulai pulih dengan cepat. Semua lukanya menutup seakan tidak ada apa pun yang pernah menimpanya.


Tidak bagus, ini benar-benar tidak bagus. Sejauh yang kutahu, Glastila menguasai ketiga tingkatan mantra regenerasi. Kalau begitu, setidaknya kami harus mengalahkannya dua kali lagi jika ingin menang darinya. Permasalahannya, kami tidak punya cukup mana untuk melawannya selama itu.


Aku jatuh ke dalam kekhawatiranku sementara Alma mulai mempersiapkan diri untuk kembali bertarung. Namun, alih-alih menyerang satu sama lain, pemandangan di depanku malah menghancurkan kekhawatiranku.


Glastila menjatuhkan perisai besar miliknya dan bertepuk tangan. Kemudian, dia berbicara dengan nada khasnya yang cukup mirip dengan nada milik Cellica.


"Yah~ luar biasa. Tidak kusangka kontraktor yang dibicarakan oleh Naga akan sekuat ini." Glastila tersenyum ke arah kami seraya terus menepukan kedua tangannya. "Hei, iblis peringkat apa yang melakukan kontrak denganmu?"


Pertanyaannya membuatku dan Alma terdiam. Namun, sebelum aku menyadarinya, Alma tiba-tiba menjawab tanpa persetujuanku.


"Fiora."


Apa yang dia lakukan?! Kenapa kau menjawab seperti itu seakan-akan ini hanya masalah kecil?!


Aku panik memperkirakan tanggapan seperti apa yang akan ditunjukan Glastila. Skenario terburuknya, dia mungkin akan menghadapi kami dengan serius sekarang. Namun, ketika aku melihatnya, Glastila sepertinya tidak terlalu peduli dengan jawaban Alma.


"Heh~ itu di luar ekspektasiku. Walaupun begitu, karena kau bisa mengendalikannya dengan baik, kurasa tidak ada masalah."


Glastila sepertinya tidak peduli selama dia pikir Alma dapat mengendalikannya. Syukurlah kalau begitu. Kalau boleh, aku juga ingin menghindari konflik di antara kita sekarang juga. Mari lakukan lagi ketika aku berhasil termanifestasi dengan sempurna.


"Sekarang," Glastila tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arahku. Jujur, ini agak membuatku khawatir. Dia menujuk diriku dengan jari telunjuk tangan kanannya seraya berkata, "kau juga seorang kontraktor, 'kan?"


Ucapannya membuat diriku dan Alma membeku dalam diam.


---------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 09 Mei 2020 pukul 12:00 PM


Note :


Sedikit pembahasan tentang Glastila. Dia ini punya 7 mantra pemulihan (tiga mantra kegelapan regenerasi dan empat mantra suci heall). Jadi, kalo pertarungan mereka berlanjut, MC perlu mengalahkan Glastila sebanyak 7 kali lagi.


Maaf terlambat apdet, my body isn't delicious (lagi gak enak badan). Gara2 puasa, maag-ku kambuh dan ternyata parah. Sampe skrg masuh belum mendingan, jadi mungkin apdet selanjutnya juga akan telat heu.