RE:Verse

RE:Verse
19.I Hukuman Dewa



Hempasan angin dan debu disertai dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah membuat Estelle sedikit terkejut. Penglihatan dan pernapasannya agak terganggu hingga dirinya terbatuk. Ketika debu di sekitarnya mulai menipis, Estelle melihat seseorang tepat berdiri membelakanginya.


Sosok di hadapannya adalah seorang gadis muda dengan rambut lurus berwarna hitam. Dia mengenakan sepotong kain hitam tipis yang terlihat rapuh. Sepasang belati dan pedang hitam tersarung rapi di punggung serta pinggangnya.


Begitu melihatnya, satu orang langsung terbesit di dalam ingatannya. Walaupun dia belum melihat wajahnya, Estelle sangat yakin bahwa sosok yang berdiri membelakanginya adalah orang yang membuatnya jengkel hingga sekarang. Seorang petualang yang menghinanya kemarin dan memperlakukannya dengan sangat tidak sopan.


"Apa yang kau lakukan di tengah pertarunganku?!" Estelle langsung membentaknya dengan marah. Akan tetapi, gadis itu tidak bergeming sama sekali.


"Hei kau dengar aku?! Gara-gara kau,  aku pasti didiskualifikasi!" Suaranya semakin meninggi, tetapi gadis itu tetap diam.


"Kau harusnya berterima kasih." Seseorng yang berbicara padanya bukanlah gadis petualang menjengkelkan itu, tetapi gadis kecil yang menjadi lawannya beberapa waktu lalu. "Aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi dia seperti menahan sesuatu yang berbahaya."


Gadis kecil itu memandang ke bawah. Melihatnya mengalihkan pandangan, Estelle mengikuti arah tatapannya. Dia melihat bagaimana kaki petualang itu sedikit terkubur di tanah. Sementara itu, tangan kirinya terangkat ke atas seakan sedang menahan sesuatu yang tidak kasat mata.


Sebelum Estelle dapat memahami situasinya, suara teriakan tiba-tiba terdengar dari berbagai sudut arena. Para penonton berhamburan, berusaha meninggalkan tempat duduk mereka secepat mungkin. Dia bahkan melihat beberapa orang tengah terbakar oleh api, berteriak dan berguling karena panas.


"Apa yang terjadi?!" Di tengah kepanikan semua orang, Estelle sama sekali tidak mengerti dengan pemandangan di depannya.


Gadis petualang itu tiba-tiba mencabut salah satu belatinya dan menyayat udara kosong di hadapannya. Awalnya Estelle merasa aneh dengan apa yang dilakukan olehnya, tetapi sesuatu yang tidak terduga membuatnya menelan ludah ketakutan.


Cairan hitam mengalir keluar melalui udara kosong di hadapan mereka, membasahi tanah dan menyebarkan bau busuk yang tajam. Kemudian, sesuatu yang mengerikan tiba-tiba penampakan wujudnya disertai dengan auman berat.


Makhluk yang tiba-tiba muncul di hadapannya menyerupai kucing hitam. Namun, tubuhnya ditutupi dengan sisik dan ukurannya bahkan jauh lebih besar daripada seorang warrior. Monster itu juga memiliki sayap hitam menyerupai sayap seekor kelelawar.


Tubuhnya yang sangat besar tiba-tiba roboh. Kedua bola matanya yang mengerikan mulai menutup secara perlahan. Kelihatannya monster itu baru saja mati.


"Apa itu?" Estelle yang terkejut memekik ketakutan. Baru kali ini dia melihat sesuatu sebesar itu.


"Jangan jauh-jauh dariku. Masih ada lusinan monster seperti ini dan kupikir mereka mengincarmu."


Gadis itu akhirnya berbicara dengan nada yang dingin. Dia menoleh ke arah Estelle, memperlihatkan wajahnya yang tertutup sepenuhnya oleh topeng yang biasa dia singkap sebelumnya.


Semburan api keluar entah dari mana, melahap para penonton yang berkerumun untuk keluar dari tempat itu. Bahkan ruangan yang sebelumnya ditempati oleh raja kini meledak dengan suara yang memekakan telinga. Situasinya semakin parah dari waktu ke waktu.


"Mereka datang lagi, tolong jangan bergerak dari posisi kalian." Petualang itu kembali berbicara seraya menarik belati lainnya.


Estelle tidak melihat apa pun di sekitarnya, tetapi dia yakin bahwa apa yang dikatakan oleh petualang itu adalah kebenaran. Jadi, dia kembali meraih pedangnya dan bersiaga di tempat.


"Melawan musuh yang tak terlihat benar-benar menjengkelkan. Bukankah kau setuju?"


Gadis pengguna gauntlet di sebelahnya juga memasang kuda-kuda dan berbicara padanya. Estelle mengangguk tanpa mengucapkan kata apa pun.


Saat mereka tetap waspada, petualang berambut hitam mulai bergerak. Dia melesat dengan kecepatan yang tidak pernah Estelle lihat sebelumnya. Pergerakannya juga sangat lincah dan setiap ayunannya tidak menunjukan gerakan yang berlebihan. Serangannya sangat cepat, kuat, dan mematikan.


Satu-persatu monster bersisik berjatuhan di arena. Hujan cairan berwarna hitam membasahi tanah, menyebarkan bau busuk yang sangat mengganggu indera penciuman. Beberapa monster kehilangan bagian tubuh mereka. Bahkan ada sebagian kecil yang terpenggal hingga kepalanya menggelinding di tanah.


"He-hey, siapa sebenarnya dia itu? Dari mana kau dapat pengawal muda yang sangat kuat?" Bukan hanya Estelle, gadis di sampingnya juga sangat terkejut dengan pemandangan di hadapannya.


"Dia petualang kota ini. Kalau tidak salah peringkatnya adalah A."


Mendengar ucapannya, gadis di sebelahnya menghela napas seraya menggelengkan kepala.


"Peringkat A tidak sehebat itu. Kemampuannya harusnya berada pada peringkat yang lebih tinggi. Kurasa dia tidak bisa dipromosikan karena belum ikut dalam turnamen."


Turnamen yang dimaksud oleh si gadis gauntlet adalah sebuah acara yang diadakan oleh Guild Petualang. Estelle pernah mendengar bahwa bagi petualang peringkat A, mereka harus melalui turnamen untuk bisa naik ke peringkat yang lebih tinggi lagi. Jadi, di antara para peringkat A, perbedaan kemampuan mereka sebenarnya sangat bervariasi.


Di tengah pertarungan yang tidak berimbang antara petualang dengan para momster yang tak terlihat, suara yang sangat familier tiba-tiba terdengar.


"Nona Estelle!"


Estelle mengalihkan pandangan pada seorang pria dengan fullplate armor yang berlari ke arahnya. Orang itu mendekat dengan cepat seakan armor miliknya tidaklah berat sama sekali. Beberapa langkah di belakangnya, ksatria lain ikut berlari mendekat.


Setelah berhasil memotong jarak, orang itu memberikan beberapa cincin padanya.


"Maaf membuat Anda menunggu. Saya membawakan semua aksesoris Anda."


"Aku menerima permintaan maafmu."


Estelle meraih semua aksesoris dan memakainya pada masing-masing jari. Sekarang dia merasa sedikit baikan setelah memakai semuanya. Dengan jumlah sebanyak ini harusnya Estelle bisa menggunakan mana dengan sangat boros tanpa perlu khawatir kehabisan.


"Baiklah, bagaimana kalau kita membantu petualang itu sekarang?" Estelle mengatakannya dengan penuh percaya diri.


"Tidak perlu. Aku sudah mengurus semuanya. Lebih baik cepat pergi dari sini dan serahkan sisanya pada imperial knight serta para petualang yang dikirim kemari."


Seseorang yang menjawab perkataannya adalah petualang peringkat A itu. Estelle yang mendengar ucapannya memalingkan wajah dengan kesal. Dia memang tidak menyukainya, tetapi mengusirnya sekarang tidak terlalu baik. Estelle tidak percaya para ksatria yang menjaganya dapat bertarung melawan sesuatu yang tidak dapat dilihat.


"Kalau begitu, sebaiknya kita pergi sekarang." Pemimpin rombongan --Viscount Evans-- menyatakan pendapatnya.


"Aku akan memimpin. Kalian jagalah garda belakang. Dan kau, bocah elf, lebih baik tidak menjauhi rombongan kami jika kau masih ingin hidup."


"Elf?!"


Estelle terkejut dengan ucapan petualang itu dan reflek memandang ke arah gadis pengguna gauntlet di sampingnya. Sepasang telinga yang sedikit memanjang sudah lebih dari cukup baginya untuk tahu bahwa gadis itu bukan manusia. Bisa-bisanya dia tidak sadar dengan hal ini saat dirinya bertarung beberapa waktu lalu.


"Namaku Cellica dan aku seorang dwarf, bukan elf! Aku juga lebih tua darimu, anak nakal! Sebaiknya kau ingat itu baik-baik atau aku akan marah!"


"Kalau kau terus berteriak seperti ini, aku akan meninggalkanmu."


"Kuh! Dasar gadis kecil menyebalkan!"


Mereka mulai meninggalkan arena dengan langkah yang cepat, memasuki lorong arena dan menuju pintu keluar. Kelihatannya tidak ada monster apa pun yang tersisa di dalam sini. Semuanya sedang diurus oleh imperial knight yang bertindak cepat sehingga Estelle merasa jauh lebih tenang.


"Bagaimana dengan putra bangsawan lainnya?"


Ketika Estelle mulai merasa lebih baik, dia mengingat tentang anggota rombongan yang lain. Penasaran karena mereka tidak ada bersamanya, dirinya bertanya kepada Viscount Evans.


"Mereka sudah dievakuasi terlebih dahulu oleh ksatria lain."


Mendengar jawaban dari Evans, Estelle jauh lebih tenang. Dia bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk terjadi kepada salah satu dari anggota delegasi.


Mereka berlari melewati lorong yang sudah mulai sepi. Beberapa jejak darah sedikit tercecer menodai lantai dan dinding batu yang mereka pijak, tetapi tidak ada satu pun mayat yang dapat terlihat. Mungkin darah itu berasal dari seseorang yang hanya terluka. Namun, kemungkinan bahwa para monster memakan mereka sehingga tidak meninggalkan mayat juga cukup tinggi. Jadi, mereka tidak boleh menurunkan kewaspadaan hingga huru-hara dapat diatasi.


Ketika Estelle berhasil keluar dari arena, dia melihat pemandangan tidak terduga. Bukan hanya arena, bangunan-bangunan akademi juga terbakar dan mengeluarkan asap hitam yang mulai menutupi langit. Dia bahkan yakin bahwa sebagian kecil wilayah ibukota mengalami serangan yang sama.


"Bukankah ini gila? Berapa banyak sebenarnya monster yang menyerang? Bagaimana mungkin mereka bisa lolos sampai kemari?" Gadis bernama Cellica berbicara dengan suara penuh kecemasan.


Estelle tidak yakin bagaimana harus menjawab. Apa yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah bergabung dengan rombongan dan sebisa mungkin segera pergi menjauhi ibukota. Tidak ada waktu baginya untuk memikirkan bagaimana cara para monster itu bisa sampai kemari.


"Di mana rombongan kita?" Estelle menyisir setiap tempat, memandang orang-orang yang berlarian tak tentu arah.


Ketika dirinya masih sibuk dengan pencariannya, suara gemuruh kembali meledak tepat di hadapannya. Kali ini disertai dengan cairan hitam berbau busuk yang terciprat kemana-mana.


Pandangan Estelle langsung menuju ke hadapannya, menatap petualang bertopeng itu. Kaki ramping gadis petualang tersebut menendang udara kosong, diikuti suara dentuman keras seakan kakinya menabrak benda solid tidak terlihat.


"Tolong mundur sedikit, Yang Mulia. Dia mengincarmu."


Mendengar ucapan dinginnya, Estelle membalasnya dengan penuh ketidak puasan.


"Aku bisa bertarung. Kau lihat sendiri 'kan bagaimana penampilanku di arena?"


Gadis petualang itu mengalihkan wajahnya ke arah Estelle, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Jika itu adalah serangga yang ada di arena, Anda mungkin bisa menanganinya. Namun, musuh kali ini ... "


Gadis itu menghentikan kata-katanya seraya mengalihkan pandangan ke arah berlawanan. Dia mengangkat tangan kirinya sejajar dengan tubuhnya, lalu mengucapkan sesuatu dengan nada yang dingin.


"Peringkat tiga harusnya dapat menggunakan sihir tanpa perapalan. Bodoh sekali menghabiskan waktu untuk merapalkan mantra dan membiarkanku tahu hanya karena tidak mau membuang banyak mana."


Sesaat setelah ucapannya selesai, berkas cahaya merah gelap melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa.


"Serangan sihir?!" Cellica tampak terkejut, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindarinya.


Jarak mereka terlalu dekat dengan jangkauan serang dari sinar itu. Sudah terlambat baginya jika ingin menghindari serangan tersebut.


Wajah Estelle diterpa dengan udara panas yang menyakitkan. Kulitnya langsung memerah, hampir mengelupas karena tidak sanggup menahan gelombang panas yang menyerangnya. Menyadari hal ini membuatnya langsung mengalirkan mana pada seluruh tubuhnya dengan putus asa. Dia berharap bahwa daya tahan tubuh yang diperkuat dengan mana akan sanggup menetralisir gelombang panas itu.


"Bertahanlah, Nona!" Estelle dapat mendengar suara Evans yang kini berdiri tepat di depannya. "Semuanya, lindungi Yang Mulia dengan nyawa kalian!"


Penglihatannya yang sesaat buram karena intensitas cahaya berlebihan kini sudah mulai beradaptasi. Dia melihat ke depan sekali lagi untuk mengkonfirmasi apakah mereka berhasil bertahan dari serangan mendadak tersebut. Ketika dirinya memandang arah serangan itu, kedua mata Estelle melebar karena terkejut.


Melalui sela-sela para ksatria, dia melihat gadis petualang di hadapannya menahan sihir luar biasa itu hanya dengan telapak tangan kirinya, membuat cahaya merah gelap di depan mereka tersebar ke segala arah. Dia tidak memercayai apa yang dilihat oleh kedua bola matanya. Gadis itu bahkan terkesan tidak terpengaruh oleh serangan yang seharusnya dapat menghanguskan lusinan orang dengan mudah.


Bagaimana bisa dia melakukannya? Seberapa banyak pertarungan yang dialaminya untuk mencapai tingkat seperti itu?


Saat itulah Estelle menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya sekarang hanyalah setingkat siswa lainnya. Dia memang hebat jika dibandingkan dengan anak-anak di akademi, tetapi akan jadi berbeda jika dibandingkan dengan para petualang yang selalu terlibat dalam pertarungan hidup dan mati.


Kekuatan semacam itu tidak akan pernah bisa didapatkan hanya dengan latihan. Bukan hanya kekuatannya, dia juga kelihatannya tahu kapan musuh akan menyerang dan bagaimana cara menangkal serangannya. Gadis di hadapannya pasti sudah melewati ratusan pertempuran melawan monster-monster seperti ini sebelumnya.


"Giliranku."


Gadis berambut hitam itu bergumam pelan. Lalu, tepat setelah ucapannya selesai, tiga buah lingkaran sihir berwarna merah pekat muncul dari udara kosong di sekitarnya. Ketiganya menembakan sinar panas yang identik dengan sihir yang baru saja diarahkan kepada mereka. Ukurannya bahkan jauh lebih besar dan terang daripada serangan musuh.


Bebatuan di hadapan mereka meleleh akibat gelombang panas dari serangan sihir tersebut. Pohon-pohon di sekitar bahkan terbakar walaupun sebenarnya tidak menyentuh cahaya merah itu secara langsung.


Ketiga sinar merah berakhir dengan menabrak salah satu gedung sekolah yang mulai meleleh akibat panas yang berlebihan. Saat serangannya berakhir, jejak lava dapat terlihat pada jalanan batu dan rumput-rumput yang hangus terbakar.


"Itu ... benar-benar gila."


Semua orang --termasuk Estelle-- langsung setuju dengan kata-kata yang diucapkan Cellica. Sihir kegelapan berelemen api seharusnya tidak akan menimbulkan dampak separah ini. Daya rusaknya lebih mirip hukuman langsung dari tangan dewa daripada disebut serangan manusia.


"Ah, kau bisa menghindar, ya? Padahal aku memasukan sebagian besar mana milikku pada serangan itu. Pilihan yang bagus untuk menghindarinya. Kalau kau memilih menggunakan perisai sihir, sekarang tubuhmu mungkin sudah menjadi abu."


Setelah Estelle mendengar suara dingin gadis petualang itu lagi, dia kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Lalu, saat dirinya menatap sedikit lebih jauh, dia bisa menangkap sosok monster raksasa bersayap yang berdiri dengan dua kaki. Tubuhnya dipenuhi luka, tetapi sosoknya yang mengerikan masih mendominasi. Estelle yang tiba-tiba merasakan kengerian mulai jatuh berlutut memandangi makhluk yang seakan menjadi sumber mimpi buruknya.


---------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu, 07 Maret 2020 pukul 12:00 PM


Note :


Masih ada aja yang promot di komen hedeh ... padahal dah kupampang jelas di sinopsis bahwa ku melarang siapa aja buat promot di lapakku.


Ah aku lagi bikin projek baru juga. Mampir yak kalo ada waktu :3