RE:Verse

RE:Verse
19.II Bawahan



Pandangan mata Estelle semakin meredup saat dia menatap langsung ke arah monster yang berdiri tak jauh darinya. Perasaan ngeri menerornya, seolah monster di hadapannya adalah sumber dari mimpi buruknya selama ini.


Ketika monster itu mulai melesat ke arahnya, Estelle melihat bayangan kematiannya sendiri. Tekanan intimidasi yang diarahkan kepadanya membuat Estelle berhalusinasi akan kematiannya. Dia berusaha menjauh dari tempat itu, tetapi tubuhnya tidak bisa digerakan. Semua anggota tubuhnya seperti ditekan oleh sesuatu sehingga dirinya tidak dapat berpindah.


Apa aku akan mati di sini?


Jarak di antara mereka semakin dekat. Estelle bisa melihat kelima jari raksasa berujung runcing yang terhunus ke arahnya, siap mengoyak apa pun yang berada dalam lintasannya. Dia yakin bahwa ksatria yang dilengkapi oleh armor dan perisai di hadapannya bahkan tidak akan bisa melindunginya. Mustahil baginya untuk bisa menghindar maupun menangkis sesuatu seperti itu.


Petualang bertopeng yang berdiri paling depan sukses menghindari monster itu hanya dengan sedikit gerakan. Hal ini membuat Estelle terdiam tak percaya.


Bola matanya yang diperkuat oleh mana dari empat batu sihir cincinnya memang bisa menangkap pergerakan yang sangat cepat, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa mengimbangi. Sebagai hasilnya, Estelle tidak akan kesulitan untuk menangkap gerakan lawan yang bahkan tiga kali lebih cepat daripada dirinya. Namun, untuk menghindar seperti gadis petualang itu, dia tidak yakin ada orang lain yang sanggup melakukannya. Bahkan gurunya sendiri tidak pernah menunjukan kelincahan seperti itu.


Ujung dari jari-jari monster bersisik semakin mendekat, siap menembus perisai dan armor logam milik Evans. Walaupun begitu, Evans sama sekali tidak bergerak. Ksatria itu mungkin yakin bahwa dirinya sanggup menahan serangan musuh, tetapi Estelle lebih percaya bahwa Evans dan ksatria lain memilih untuk diam karena dirinya berada tepat di belakang mereka.


Pengorbanan para ksatria memang sudah sewajarnya terjadi. Walaupun begitu, jauh di dalam hatinya Estelle tidak mau seseorang mati hanya karena melindunginya. Bagi mereka mungkin sebuah kehormatan untuk mati dalam melindungi anggota keluarga kerajaan. Namun, bagi Estelle sendiri, dirinya mungkin akan terbebani seumur hidupnya. Jadi, dia berusaha sekuat tenaga untuk bergerak, melawan rasa takutnya sendiri untuk menghindar sekaligus menarik semua orang pada detik-detik terakhir.


Dia mengerahkan semua tenaganya untuk melompat, menabrak seorang ksatria dan bermaksud menjatuhkan semuanya. Estelle tidak mau ada seseorang yang mati di antara mereka.


Dorongannya hanya menjatuhkan dua orang ksatria di belakang. Sementara itu, sisanya --termasuk Evans-- masih berdiri kokoh menghalangi lintasan monster.


"Kalian menghindarlah!" Estelle berteriak secara tidak sadar.


Tepat saat ujung jari monster itu berada di depan perisai milik Evans, gerakannya tiba-tiba berhenti. Estelle yang kebingungan menatapnya dengan wajah tidak mengerti. Lalu, saat gadis itu tahu penyebabnya, Estelle tidak bisa berkata-kata lagi.


"Yakin ingin melawanku dengan tangan kosong? Belatiku bisa membelahmu semudah memotong mentega."


Seseorang yang berbicara adalah petualang bertopeng yang disewa olehnya. Tangan kiri gadis itu memegangi sayap kiri monster raksasa tersebut, membuatnya berhenti tepat sebelum jarinya mengenai Evans. Sementara itu, tangan kanannya mengacungkan belati hitam miliknya seakan sedang memamerkannya ke arah monster tersebut.


"Bagaimana bisa kau mengimbangiku dengan tubuh kecil itu?"


"D-dia bisa bicara?!" Estelle terkejut saat mendengar suara mengerikan yang keluar dari monster di hadapannya.


Orang lain kelihatannya tidak begitu terkejut, mereka malah seperti keheranan dengan pertanyaan yang diajukan oleh Estelle barusan. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang secara terang-terangan menunjukannya.


"Kau tidak sedang berada di posisi untuk bertanya."


Tangan kiri gadis petualang itu melemparkan monster yang bisa bicara ke belakang dengan kekuatan yang mengejutkan. Tubuh raksasa yang dipenuhi sisik itu terlempar sekitar dua puluh meter sebelum menabrak salah satu bangunan dan merobohkannya. Kemudian, gadis bertopeng tersebut melesat menjauhi rombongan untuk memotong jarak dengan musuhnya.


Suasananya menjadi agak hening saat keduanya membuka jarak dari mereka. Estelle yang merasa bahwa ancaman telah menjauh hanya bisa berlutut di tanah dengan lemah.


"Nona, apakah Anda baik-baik saja?"


Melihatnya seperti itu, Evans mendekatinya dan membantunya berdiri. Tampaknya ksatria lain juga mengkhawatirkannya. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara langsung padanya karena itu tidak sopan. Sebagai gantinya, hanya Evans --ksatria pribadinya-- yang berbicara.


"Apa-apaan monster itu? Dia bisa bicara!" Estelle mengeluarkan isi pikirannya saat dia mulai tenang.


"Yah, sebenarnya tidak aneh juga. Ada banyak monster yang bisa bicara seperti naga bumi, lizardmen, bahkan werebeast sekalipun. Walaupun beberapa memiliki kecerdasan yang rendah, tetapi Sang Dewi memberkati mereka dengan kemampuan berbicara." Seseorang yang menjelaskannya adalah Cellica.


Menurut legenda, bahasa diturunkan oleh Dewi Hestia untuk memudahkan makhluk hidup dalam berkomunikasi. Kelihatannya "makhluk hidup" sendiri tidak terbatas hanya pada ras elf, dwarf, dan manusia. Estelle baru kali ini mendengar sesuatu seperti itu.


"Daripada hal sepele seperti itu, aku malah lebih tidak mengerti kenapa ada manusia dengan kekuatan setara dengan monster."


Cellica memandangi pemandangan tidak menyenangkan sekaligus menakjubkan di hadapan mereka. Dimana monster bersisik sedang melakukan serangan mematikan yang bahkan hempasan anginnya sampi ke arah mereka. Namun, gadis bertopeng yang menghadapinya bukan cuma mengimbangi kekuatannya dan menahan beberapa serangan, tetapi juga bergerak dengan langkah yang sangat efisien. Siapa pun bisa tahu hanya dengan sekali lihat bahwa dia sedang bermain-main dengan sesuatu yang seakan datang dari mimpi buruk itu.


"Mu-mungkin dia seorang dwarf?" Evans berbicara.


Akan lebih masuk akal jika gadis itu sebenarnya adalah dwarf. Kekuatannya yang besar dan tubuhnya yang kecil merupakan ciri khas dari setiap dwarf. Jadi, tidak mengherankan kalau gadis itu memiliki kekuatan besar dalam tubuhnya yang kecil.


"Tidak, itu tidak mungkin." Cellica menggelengkan kepalanya. "Selain kaisar dwarf saat ini, Empress Glastila, beberapa tentara elitnya memang memiliki kekuatan yang mengerikan. Namun, mereka bergerak sangat lambat. Jadi, menggunakan belati sama saja dengan bunuh diri bagi para dwarf. Kasusku dan Empress Glastila berbeda karena kami adalah half-dwarf."


"Bagaimana kalau dia juga seorang half-dwarf? Orangtuanya adalah dwarf yang menikah dengan manusia?" Kali ini Estelle yang mengajukan pertanyaan.


Jika dia adalah persilangan antara manusia dengan dwarf, itu membuktikan bagaimana telinganya tidak terlihat meruncing. Namun, kecepatan yang dimilikinya bukanlah kecepatan yang biasa dimiliki oleh manusia. Jadi, hal ini tidak menjelaskan bagaimana dia bisa bergerak dengan sangat lincah sekaligus efisien.


"Hmm~ Sebenarnya ada satu hal yang jauh lebih memungkinkan."


"Apa itu?" Estelle bertanya dengan antusias. Dia bahkan tidak sadar sejak kapan dirinya menjadi sangat tertarik dengan topik ini.


"Di Ibukota Arbellion, pusat dari Kekaisaran Dwarf, ada seorang gadis kuil bernama Titania yang ditunjuk menjadi anggota kelompok kursi keempat pendeta. Dia hanyalah gadis biasa, tetapi di dalam tubuhnya bersemayam jiwa salah satu dari heaven dragon lord. Kita menyebutnya sebagai kontrak-- whoa?!"


Ketika konsentrasi semua orang teralihkan, monster besar itu tiba-tiba jatuh di hadapan semua orang. Jalanan batu di sekitarnya hancur berantakan, meninggalkan jejak hantaman keras yang sempat menggetarkan tanah. Estelle bahkan kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk ke belakang.


Pandangannya beralih kepada petualang bertopeng yang kini melangkah santai ke arah mereka. Tangan kanannya masih menggenggam belati hitam yang sejak awal selalu dibawa olehnya. Sementara itu, belati hitam lain dan sebilah pedang satu tangan masih tersarung rapi tanpa sekalipun disentuh. Hal ini membuat kesan seakan untuk menghadapi monster di hadapan mereka, dia sama sekali tidak perlu repot-repot mengerahkan semua kemampuannya.


Tangan kiri petualang itu mencengkram salah satu tanduk monster yang kini terkapar di atas bebatuan, menariknya dengan kasar dan menodongkan belatinya ke arah leher.


Tubuh monster itu dipenuhi dengan luka di mana-mana. Cairan kental berwarna hitam terus mengaliri seluruh tubuhnya dari celah luka-luka itu, menyebarkan bau yang sangat tak tertahankan.


Estelle langsung menutupi hidungnya untuk melindungi dirinya dari bau yang menyengat saat gadis petualang itu bertanya kepada monster tersebut.


"Apa kau pikir aku akan menjawabmu, Manusia?" Walaupun tubuhnya sudah berantakan, suara monster itu masih tetap mengerikan.


"Sebenarnya aku pernah melihatmu sekilas. Kupikir aku hanya salah lihat. Namun, saat melihat gerakanmu yang payah dalam bertarung, sekarang aku yakin."


Ucapan gadis bertopeng itu agak bias. Walaupun begitu, Estelle sedikit banyak mengetahui maksud di balik kata-katanya. Mungkin di suatu tempat, petualang bertopeng di hadapannya pernah berhadapan dengan monster ini sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, alasan kenapa gadis bertopeng itu dapat mengenali serangan sihir dan mengimbangi pergerakan musuhnya menjadi sedikit masuk akal. Mungkin saja dia mengingat semua pola serangannya melalui pertempuran sebelumnya di masa lalu.


"Jangan bermain-main denganku. Lord Aragorn baru saja memanggilku sebulan yang lalu dan ini kali pertama aku keluar. Mustahil ada manusia yang mengenaliku."


"Aragorn, ya? Jadi kau disuruh oleh Demon Lord Aragorn?" Kedua bola mata monster itu beralih, seakan menghindari tatapan petualang yang memegangi salah satu tanduknya.


Estelle yang mendengarkan percakapan di antara mereka mengerutkan dahi. Ksatria di sekitarnya yang masih dalam posisi melindunginya juga kelihatannya terganggu dengan sesuatu. Mungkin mereka sedang memikirkn hal yang sama.


"Walaupun mengerikan, kupikir dia agak bodoh." Cellica yang berdiri di sebelahnya berbisik ke telinga Estelle yang langsung dibalas dengan anggukan setuju olehnya.


Sepertinya tidak pernah ada pertemuan apa pun di antara mereka sebelumnya. Petualang bertopeng dan monster di hadapan mereka hanya pernah bertemu sekali dan itu adalah sekarang. Lalu, kenapa petualang tersebut mengatakan bahwa dia pernah melihat monster itu? Jawaban yang bisa Estelle pikirkan --dan mungkin juga dipikirkan oleh semua orang-- adalah bahwa petualang bertopeng itu hanya mengucapkan omong kosong dengan tujuan untuk menipu monster di hadapannya. Hanya dengan melakukan tipuan sederhana, dirinya menggiring monster itu untuk membicarakan sesuatu yang harusnya ditutupi.


Tentu saja tipuan seperti ini tidak akan efektif jika musuhnya cukup cerdas. Kenyataan bahwa monster itu mengatakannya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia hanya memiliki kekuatan dan penampilan yang mengerikan saja sementara kecerdasannya mungkin rendah. Estelle merasa malu karena takut terhadap musuh seperti ini.


"Aku akan membiarkanmu kali ini. Sebagai gantinya, katakan ini pada si cengeng Aragorn. Jika dia berani mengirim siapa pun untuk berurusan denganku lagi, aku akan meluangkan waktu lagi dengannya di dalam laciku."


Setelah menyelesaikan kata-katanya, gadis itu mengerahkan tenaganya untuk melemparkan monster di hadapan mereka ke langit. Jalan batu yang dia pijak bahkan hancur saat dirinya melakukan lemparan itu, membuat monster raksasa setinggi tiga meter terhempas jauh sebelum akhirnya lenyap dari pandangan mereka.


"Ke-kenapa kau tidak membunuhnya?!" Estelle yang sadar bahwa musuhnya telah melarikan diri langsung mempertanyakan pilihan yang diambil gadis petualang itu.


Gadis tersebut hanya menghela napasnya seraya menyarungkan kembali belatinya. Dia juga menyingkap topeng yang menghalangi wajahnya, menunjukan raut wajah datarnya yang biasa.


"Aragorn itu agak gila dan terlalu menyayangi anak buahnya. Dia mungkin akan mengamuk saat tahu anak buahnya mati. Melawannya saat kehilangan akal sangat merepotkan. Yah, sebenarnya sifatnya didapat darik-- dari pemimpinnya. Kalian mungkin tidak tahu, tetapi Aragorn adalah bawahan langsung Gatekeeper Fiora. Lebih baik jangan memancing kemarahannya."


Entah kenapa, saat gadis itu menjelaskanya, nada dan raut wajahnya sedikit berubah. Walaupun samar, Estelle tahu bahwa dia menunjukan perasaan khawatir. Mungkin saja dirinya cemas tentang sosok yang disebutkan olehnya.


"Tu-tunggu dulu!" Estelle tiba-tiba menyadari sesuatu saat memikirkan kembali nama yang disebutkan olehnya.


"Gatekeeper Fiora?! Acient demon yang itu?!" Evans dan para ksatria lain juga kelihatannya menyadari hal ini.


"Yang itu?" Mendengar perubahan nada yang tiba-tiba, gadis petualang di hadapan mereka hanya memiringkan kepala kebingungan.


Acient Demon Fiora atau sering juga disebut sebagai Gatekeeper Fiora sebenarnya banyak diceritakan dalam Kitab Kegelapan yang memang menjelaskan kisah-kisah para iblis. Namanya cukup dikenal di kalangan bangsawan dan para ksatria yang sedikit mendalami agama. Namun, petualang sepertinya tidak memiliki pengetahuan ini mengingat mereka hidup bebas sesuka hati tanpa terikat oleh agama. Jadi, kelihatannya wajar kalau dia tidak mengetahuinya.


"Mungkin kau tidak tahu karena tidak pernah membaca keempat kitab suci. Menurut Kitab Kegelapan, Gatekeeper Fiora adalah salah satu panglima besar iblis yang sanggup menandingi seven deadly sins. Kisahnya saat membantai Raja Iblis Envy seorang diri menjadi tolak ukur betapa berbahayanya monster itu." Evans menjelaskan secara garis besar yang dirinya ketahui mengenai Gatekeeper Fiora.


"Si-siapa sebenarnya yang menulis kitab suci ini?!"


Entah kenapa, gadis petualang itu benar-benar kehilangan ketenangannya. Dia sepertinya sangat terkejut dengan kata-kata Evans. Hal ini membuat Estelle ingin tertawa, tetapi dia berusaha untuk menahannya.


"Tentu saja Demigod. Memangnya siapa lagi? Lagipula kenapa kau sekaget itu?" Cellica yang sejak tadi diam mulai masuk kembali dalam percakapan.


"Ah, maksudku ... "


Gadis petualang itu tampaknya baru sadar bahwa karakternya mulai berubah. Dia terdiam untuk beberapa waktu sebelum kembali bicara dengan wajah dan nada datar seperti sebelumnya.


"Dari mana Demigod tahu mengenai kisah-kisah itu? Apakah dia mewawancarai iblis sebelumnya?"


"Ah ... "


Semua orang terdiam dengan pertanyaan tak terduga yang diajukan olehnya. Tidak ada seorang pun yang sanggup atau berani menjawabnya karena takut mendapatkan karma buruk. Sebagai gantinya, mereka mengalihkan topik dan kembali melanjutkan perjalanan untuk keluar dari akademi. Untungnya, seluruh monster yang tersisa tampaknya ikut mundur dari medan perang.


------------------------


Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 14 Maret 2020 pukul 12:00 PM.


Note :


Agak antiklimaks, yak? skrip aslinya itu harusnya pindah ke Yehezkiel. Tapi karena menurutku kurang penting dan sebelumnya pernah ada yang protes karena aku mengulang scene yang sama dari sudut pandang berbeda, kupikir bagian dia mending diskip aja. Sebagai hasilnya, aku memilih untuk menutup Arc ini dengan sudut pandang Estelle.


Setelah ini masuk Arc baru dan Alma akan bepergian bareng lagi dengan Yehezkiel. Jadi, kemungkinan sekitar 80% bagian di Arc selanjutnya akan menurut sudut pandng Yehezkiel. Entah kenapa aku merasa MC-nya malah jadi si Alma, bukan si Yehezkiel. Abisnya mau gimana lagi, bagian action kebanyakan dilahap sama Alma. Ah, kabar buruk, Arc selanjutnya itu hampir nol action. Apakah harus kuselingi dengan scene perang antara Imperial Knight yang dipimpin oleh Marquis Canaria melawan para bawahan Greed King? Enggak juga gapapa sih sbnernya, soalnya Arc itu pendek.


Btw projek novel "Melintasi Dunia" sudah mencapai Episode 5 dan akan up setiap hari minggu. Genrenya lebih ke scifi ringan ala LN daripada fantasi. Mampir yak kalo ada waktu :3


Waaa, noteku panjang bet. Udah yak, dadah :3