
Raja Ignis memiliki dua orang pangeran yang sampai saat ini belum diputuskan siapakah putra mahkota yang berhak mewarisi takhta. Oleh karena itu, para bangsawan dan kaum kelas atas menjadi bimbang untuk menentukan kepada siapa mereka menyerahkan dukungannya. Pada akhirnya, munculah dua faksi kuat yang mendukung masing-masing pangeran.
Faksi bangsawan dipimpin oleh satu-satunya duke di dalam kerajaan. Mereka secara rahasia mempererat hubungan dengan pangeran pertama dan melakukan perjanjian-perjanjian di belakang layar. Bahkan tersebar rumor bahwa orang-orang ini melibatkan berbagai macam ritual terlarang untuk membangun kekuatan yang lebih besar.
Faksi pedagang dipimpin oleh Marquis Canaria. Mereka secara aktif mendukung pangeran kedua yang merupakan keturunan langsung dari Sang Ratu. Sejauh ini dukungan rakyat banyak berpusat pada mereka. Namun, hal tersebut tidaklah terlalu memiliki pengaruh di kalangan pergaulan kelas atas.
Kedua belah pihak tentu saja selalu terlibat dalam perang dingin yang tidak berkesudahan dan saling mengirimkan mata-mata satu sama lain. Namun, walaupun suasananya semakin memanas seiring berjalannya waktu, tidak ada satu pun dari kedua faksi yang secara agresif menyerang kandidat yang ada. Mereka hanya memberikan segala dukungan untuk menaikan nilai dari kandidat masing-masing dan berusaha menarik minat kaum kelas atas yang masih menempatkan diri pada posisi netral.
Satu tahun terakhir, setelah Putri Estelle berhasil meraih prestasi, pangeran pertama tampaknya memulai pergerakan secara langsung. Mungkin beliau berpikir bahwa pemberian hadiah yang dilakukan oleh Yang Mulia Raja kepada putri tersebut adalah bentuk dari ketertarikan Sang Penguasa. Mengetahui kenyataan bahwa Sang Putri adalah adik seibu dari Pangeran Kedua yang merupakan keturunan langsung Sang Ratu, beberapa bangsawan menarik dukungan mereka terhadap pangeran pertama. Tentu saja hal ini bukanlah kabar yang bagus bagi faksi bangsawan. Jadi, tidak heran jika Pangeran Pertama merasa bahwa posisinya mulai goyah.
Imbas dari kekacauan yang terjadi di kalangan pergaulan kelas atas merembet kepada hubungan multinasional. Rencana awal yang diputuskan oleh Duke untuk mengirim Pangeran Pertama ke negara tetangga guna menaikan nilainya di mata para bangsawan mendadak mengalami perubahan. Orang-orang ini tampaknya merasa bahwa prestasi kecil dalam kemenangan turnamen persahabatan sudah tidak cukup lagi untuk menaikan pamor Sang Pangeran. Oleh karena itu, rencana alternatif yang sudah mereka buat mulai dijalankan.
Pangeran Pertama tiba-tiba memutuskan untuk memimpin salah satu divisi guna menekan serangan iblis. Beliau mengatasnamakan pembebasan tanah air dari ras iblis dan mulai sibuk mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kepergiannya. Tentu saja mengurus dokumen logistik dan mendata pasukan yang akan bekerja di bawah perintahnya cukup memakan waktu sehingga kepergiannya ke negara tetangga tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Sebenarnya keputusan mendadak seperti ini tidak mungkin untuk disetujui begitu saja. Apalagi sampai mengabaikan undangan yang datang dari negara tetangga. Namun, karena invasi iblis adalah sesuatu yang sangat mendesak serta koneksi kuat dari Duke, Raja memutuskan untuk memberikan izin dan berpikir bahwa Kerajaan Cygnus pasti akan mengerti dengan keadaan yang sedang dialami oleh negara ini. Sebagai gantinya, Beliau mengirim Putri Estelle sebagai pengganti Pangeran Pertama.
Kenapa Raja tidak mengirim Pangeran Kedua untuk menghadiri undangan yang datang dari Kerajaan Cygnus? Alasannya sama dengan kasus Pangeran Pertama. Pangeran Kedua sudah lebih dulu terjun ke medan perang dan memimpin unit yang sudah susah payah dia susun dari nol. Jadi, Putri Estelle yang merupakan putri dengan nilai tertinggilah yang dikirim sebagai gantinya. Lagipula dia adalah satu-satunya putri yang tertarik dengan pedang dan sihir. Tentu saja mengirimnya akan menjadi pilihan terbaik yang bisa diambil. Namun, dari sinilah permasalahannya dimulai.
"Ada peluang yang cukup besar dimana Yang Mulia Putri akan menjadi target assassinasi."
Evans mengatakan rincian permasalahannya kepada Alma. Tentu saja dia tidak menceritakan semua masalah internal kerajaan kepada gadis itu. Dia hanya menceritakan hal umum yang perlu diketahui saja.
"Begitu. Jadi, kau berpikir bahwa para bangsawan yang tidak menyukai Putri akan mengirim pembunuh bayaran dan memicu perang." Alma kelihatannya memahami permasalahan ini dengan baik.
Entah apakah Yang Mulia Putri terbunuh oleh assassin dari negara lain maupun para bandit, kenyataan bahwa Beliau telah mati di negara ini akan menjadi masalah yang sangat serius. Skenario terburuknya, Raja Ignis akan mendeklarasikan perang terhadap Kerajaan Cygnus dengan memanfaatkan kematian putrinya. Kemudian, dalam perang besar itu, prestasi dalam memenangkan perang adalah sebuah batu loncatan yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Jika Pangeran Pertama memimpin pasukan dan berhasil meraih kemenangan, faksi bangsawan tentu akan jauh semakin kuat.
Memang eksekusi rencana mereka tidak akan mungkin berjalan dengan mudah. Apalagi musuh sebenarnya yang mereka hadapi adalah pemimpin dari faksi pedagang, Marquis Canaria. Jika ingin meraih prestasi yang besar, mereka harus lebih berjasa daripada Sang Marquis. Peluangnya terlampau kecil bagi mereka untuk dapat meraihnya. Sedikit saja melakukan kesalahan, Marquis Canaria akan mendapatkan segalanya dan faksi pedagang menjadi tidak terkalahkan.
"Dan tergantung hasil dari perang tersebut, keseimbangan kekuatan di negaraku akan goyah." Evans mengatakannya dengan sedikit khawatir.
Normalnya memang mustahil bahwa faksi bangsawan akan memenangkan kompetisi ini. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang diterima olehnya melalui mata-mata yang tersebar di beberapa posisi penting faksi bangsawan, Pangeran Pertama telah berhasil menemukan senjata rahasia yang dapat membantunya memenangkan kompetisi. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran bahkan bagi Marquis Canaria itu sendiri.
Sebenarnya Evans ingin menyampaikan masalah ini juga pada Alma, tetapi menurutnya informasi tersebut terlalu vital dan memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi. Orang luar tidak seharusnya tahu sampai sejauh itu. Jadi, dia memilih untuk tidak mengatakan kebenarannya.
"Apa kau pikir kalian akan menang?" Mendengar kata-kata Alma, Evans sedikit tertegun.
Selama ini tidak ada satu pun negara di benua ini yang sanggup menandingi kekuatan militer negaranya. Bahkan bagi Kerajaan Cygnus, Marquis Canaria masih merupakan ancaman yang nyata. Bukan hanya dari segi kekuatan, kemahirannya dalam mengkoordinasi pasukan juga sangat unggul. Jadi, wajar jika dia berpikir bahwa negaranya akan menang.
"Bukankah sudah jelas? Namun, tetap saja pengorbanan Yang Mulia Putri terlalu menyedihkan. Oleh karena itu, aku memilih untuk mencari cara guna mencegah perang dan ..."
"Negaramu terlalu naif. Apa kau pikir Kerajaan Cygnus tak memiliki senjata rahasia?"
Begitu mendengar perkataan Alma, Evans langsung menelan kata-katanya. Jantungnya berdegup semakin cepat, seakan kata-kata dingin tersebut merupakan sebuah ancaman yang tidak dapat dia remehkan. Lelaki itu sedikit merasa khawatir.
"A-apa maksudmu? Senjata rahasia?" Dia mulai gugup.
"Kemarin aku baru saja bertemu dengan Yang Mulia Raja dan dia tahu persis mengenai sabotase ini. Namun, kenapa dia tidak memperketat penjagaan terhadap Putri Estelle? Jawaban yang bisa kusimpulkan hanya satu, karena dia yakin bahwa dirinya bisa mengatasi kerajaanmu dalam perang yang akan datang." Ucapan dingin itu seperti menusuk ke dalam dirinya, membuat tubuhnya mulai berkeringat dingin.
Awalnya Evans berpikir bahwa Raja Cygnus yang masih muda terlalu naif. Orang itu hanya terjebak dalam kemewahan dan tidak mengerti apa-apa tentang hubungan internasional. Jadi, wajar baginya untuk berpikir bahwa Raja Cygnus tidak meningkatkan penjagaan karena Beliau tidak tahu-menahu tentang potensi perang di masa depan dan jumlah kerugian yang akan diterima oleh kerajaannya kelak. Akan tetapi, setelah mendengar perkataan Alma, dia baru sadar bahwa dirinya sendirilah yang terlalu naif. Walaupun begitu, Evans tetap tidak percaya bahwa negara ini akan menang melawan Pangeran Pertama.
"Tapi Pangeran Pertama sudah terbukti mendapat bantuan dari para iblis! Mana mungkin negara ini ..."
Ketika menyadari bahwa kekhawatirannya telah membuat dirinya ceroboh dan mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia negara, Evans segera menghentikan ucapannya. Dia langsung terdiam di kursinya seraya sedikit mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari kontak mata di antara mereka.
"Jadi, itu sebabnya kau tidak yakin untuk melindungi majikanmu sendirian, ya? Lawanmu bukanlah assassin biasa, melainkan ras iblis yang bekerja di bawah Pangeran Pertama, benar?"
"Masalahnya, iblis saja tidak akan cukup. Jika pasukan iblis yang terlibat hanya sekelas archdemon, kalian tidak mungkin sanggup untuk mencederai kerajaan ini."
"A-apa maksudmu?!" Kata-kata Alma terang saja membuat Evans terkejut.
Berdasarkan salah satu dari empat kitab suci keagamaan, dikatakan bahwa archdemon adalah gelar bangsawan yang diberikan kepada iblis kuat. Kekuatan mereka bahkan tidak bisa dibandingkan dengan jenis iblis kelas bencana. Mereka adalah makhluk yang menduduki ranah legenda. Sulit dipercaya bahwa makhluk mengerikan seperti itu bahkan tidak cukup kuat untuk menghancurkan Kerajaan Cygnus.
"Apa kau pikir hanya orang-oramgmu saja yang melakukan perjanjian terlarang dengan para monster? Kenyataannya, Kerajaan Cygnus juga melakukannya. Parahnya lagi, monster yang mereka miliki sanggup untuk membunuh dua archdemon sekaligus hanya dalam waktu beberapa menit saja."
Evans benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Wajahnya memucat setelah mendengarkan informasi tak masuk akal yang dikatakan oleh Alma. Dia bahkan mulai meragukan ucapan-ucapan berlebihan yang didengarnya.
"A-apa kau punya bukti?"
Alma hanya memejamkan matanya beberapa saat sebelum membalas kata-kata yang keluar dari mulut Viscount Evans.
"Aku hanya orang luar. Tugasku terbatas pada memberikan peringatan. Mencari bukti adalah tugasmu."
Evans tentu saja tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Dia harus membuat laporan kepada pihak Kerajaan Ignis dan berusaha menekan jumlah korban seminimal mungkin jika memang terjadi perang. Namun, melaporkan rumor bukanlah pilihan yang baik. Setidaknya dia harus mendapatkan bukti yang cukup untuk meyakinkan pihaknya.
"Kalau begitu, bagaimana bisa aku memegang kata-katamu?"
Walaupun tidak ada hal lain yang dapat mengubah kredibilitas sebuah rumor selain bukti yang tidak terbantahkan, Evans masih berharap ada sesuatu yang bisa membuatnya yakin. Sayangnya, jawaban Alma masih tetap tidak memuaskan.
"Jika kau tak percaya, maka cobalah."
Lelaki itu hanya menunduk lemah dengan bahu yang merosot. Dia menghela napasnya seraya menatap meja kayu di hadapannya.
Baginya, informasi yang diberikan oleh seorang petualang peringkat A cukup dapat dipercaya. Namun, tanpa adanya bukti, Raja Ignis tidak akan mau mendengarkannya. Jadi, dirinya berusaha untuk memutar otak agar peringatan ini bisa diterima oleh pihaknya dengan baik.
"Kalau begitu, mari kita masuk ke topik utama." Saat suasana semakin sunyi tanpa adanya pembicaraan di antara mereka, Alma memecahkan kesunyian sekaligus mengalihkan topik. "Berapa lama aku harus menjaga Sang Putri dan dimulai dari kapan?"
Mendengar perkataan yang baru saja Alma sampaikan, Evans langsung ingat tujuan awal dirinya mendatangi ruangan ini. Dia segera mengesampingkan topik sebelumnya dan membalas perkataan Alma dengan agak terburu-buru.
"Ah ... aku hampir melupakannya. Beliau akan berada di sini selama tujuh hari ke depan. Kau hanya perlu melindunginya selama waktu tersebut."
Sebenarnya perjalanan pulang juga sangat berbahaya. Pangeran Pertama bisa saja memutuskan untuk menyerang pada saat mereka melakukan perjalanan untuk kembali ke Kerajaan Ignis. Namun, karena ini adalah permintaan khusus yang awalnya ditolak oleh Alma, Evans tidak mau terlalu serakah. Jadi, dia hanya meminta pengawalan selama berada di ibukota saja. Selanjutnya, dia akan mencoba memperpanjang kontrak saat bersiap untuk meninggalkan ibukota.
"Kalau begitu, kita sepakat, 'kan?"
Evans merespon pertanyaan tersebut dengan sebuah anggukan. Dia cukup lega karena berhasil mendapatkan seseorang yang memiliki pengalaman nyata tentang para iblis. Sekarang Evans yakin bahwa peluang mereka untuk bertahan dari segala macam percobaan pembunuhan meningkat secara signifikan.
Mereka berdua terus membahas tentang rincian pekerjaan yang akan Alma lakukan dan menentukan harga yang tepat. Evans juga sempat beberapa kali terlibat perdebatan ringan, tetapi tidak terlalu berpengaruh dengan hasil akhir kontrak. Kemudian, setelah dia merasa bahwa semua informasi yang dibutuhkan cukup, mereka mulai meninggalkan ruangan khusus tersebut.
Kedua orang itu menuruni tangga menuju lantai satu dan langsung menghadap ke depan meja resepsionis. Evans mulai mengisi perkamen mengenai permintaan khusus yang dia buat seraya mengabaikan semua tatapan penuh penasaran yang berasal dari berbagai petualang. Hal ini tentu saja membuatnya agak gugup, tetapi pada akhirnya dia berhasil menyelesaikan semua prosedur dengan tanpa hambatan.
Alma berpamitan kepadanya saat kontrak mereka telah disahkan secara resmi. Gadis itu berjanji akan datang ke tempat dimana Evans tinggal pada keesokan harinya. Jadi, dia juga mengucapkan salam perpisahan kepada gadis itu dan lekas pergi menuju kediaman majikannya untuk memberi tahu tentang hal ini.
----------
Dipublikasikan di Mangatoon pada Hari Sabtu 28 Desember 2019
Pukul 12:00 PM
Note : -