RE:Verse

RE:Verse
Tambahan I Demihuman



[Sekadar tambahan. Dilewat juga gak apa-apa]


Di dunia dengan berbagai macam ras yang hidup di dalamnya, kemungkinan untuk terlahir sebagai darah campuran cukup kecil. Hal ini terjadi karena setiap ras memiliki harga diri yang tinggi dan menganggap ras lain lebih rendah darinya. Jadi, pernikahan lintas ras hampir tidak pernah terjadi.


Biasanya pernikahan yang terjadi di antara kedua ras yang berbeda selalu memiliki kepentingan di baliknya. Akan tetapi, banyak di antaranya hanya dilakukan untuk memuaskan salah satu pihak yang derajatnya lebih tinggi. Setelah puas, tidak sedikit dari mereka yang membunuh pasangannya untuk mencegah memiliki keturunan.


Memang pola yang mirip selalu terjadi jika membicarakan tentang pernikahan lintas ras. Hanya saja, kemungkinan untuk lahirnya keturunan dari hubungan ini tidaklah nol. Setidaknya ada satu atau dua anak tidak beruntung yang lahir dan memiliki darah campuran dalam kurun waktu seratus tahun. Merekalah yang sering disebut sebagai demihuman.


Salah satu kasus unik yang paling terkenal dan masih memiliki sedikit hubungan dengan masalah ini tentu saja kisah hidup pemimpin Kekaisaran Dwarf yang luar biasa. Lahir dengan nama Glastila la Goldmace Arbellion, dia adalah keturunan dari salah satu putri Kerajaan Dwarf dengan Raja dari Kerajaan Elf yang sanggup mengakhiri perang besar antara sembilan kerajaan dwarf, menyatukan semuanya menjadi kekaisaran, dan berdiri paling puncak di antara para dwarf. Empress Glastila adalah satu-satunya demihuman yang dihormati bahkan oleh mereka yang berdarah murni.


Kisah hebat inilah yang menjadi penyemangat hidup Lilly, salah satu dari sedikit demihuman yang berhasil bertahan hidup di dunia kejam ini. Ayahnya adalah seorang bangsawan manusia yang serakah. Di masa lalu, beliau menculik seorang gadis elf pemberani yang pergi untuk berpetualang ke wilayah manusia. Kemudian, bangsawan busuk itu memperlakukan elf tersebut layaknya budak sampai akhir hayatnya yang menyedihkan.


Sebelum wanita elf itu meninggal, dia sempat melahirkan seorang anak dari hubungan mereka berdua. Nama yang diberikan untuknya tepat sebelum menghembuskan napas terakhirnya adalah nama dari sebuah bunga yang hanya tumbuh di dalam hutan elf, Lilly. Wanita itu berharap setidaknya Lilly bisa kembali ke tanah kelahirannya kelak. Namun, dunia bukanlah tempat dimana keadilan berpihak kepada mereka yang membutuhkan.


Sejak kecil Lilly sudah menjadi seorang budak. Statusnya sebagai half-elf bahkan membuat perlakuan orang-orang lebih kejam kepadanya. Mereka merasa bahwa demihuman sepertinya adalah sebuah aib yang lebih rendah daripada hewan ternak. Oleh karenanya, Lilly sering berpindah tangan dari majikan satu ke tangan majikan yang lain.


Berbeda dengan nasibnya yang buruk, Lilly tumbuh menjadi gadis dengan wajah yang cantik. Fitur oriental, bentuk tubuh yang khas, sepasang telinga memanjang, dan rambut pirang kusutnya merupakan ciri khusus dari elf, membawa kecantikan unik yang tidak pernah ada sebelumnya. Dia juga memiliki pandangan mata yang menyejukan dengan warna hijau pudar kebiruan, seakan sosoknya merupakan jelmaan dari salah satu penghuni langit.


Sayangnya kecantikan itu tidak mempengaruhi nasib buruknya.


Suatu ketika, Lilly dibeli oleh salah satu bangsawan muda kaya di ibukota. Sesampainya di sebuah mansion milik bangsawan tersebut, tubuhnya dibersihkan oleh para pelayan dan didandani dengan gaun yang mahal. Lilly bahkan terpesona saat dia memandangi dirinya di depan cermin. Gadis itu benar-benar cantik.


Segala kebutuhannya disediakan oleh para pelayan walaupun tersirat jelas bahwa mereka sebenarnya enggan untuk mengurus Lilly. Dia bahkan menjalani perawatan tubuh dan mendapat makanan yang teratur. Hidupnya sangat dimanjakan di kediaman itu.


Selang beberapa bulan kemudian, tragedi datang setelah tubuhnya dinyatakan sehat oleh tabib pribadi yang selama ini merawatnya.


Pagi itu cuacanya agak mendung, tetapi penglihatan Lilly yang tajam sanggup menatap kereta kuda majikannya yang sedang memasuki mansion. Awalnya gadis itu sedikit gugup mengingat bahwa beberapa bulan terakhir majikannya tidak pernah datang berkunjung ke mansion ini. Namun, sebagai budak yang telah diperlakukan dengan sangat baik, Lilly bertekad untuk mengabdi sepenuhnya kepada Sang Majikan yang baik hati. Akan tetapi, sejak hari itu Lilly seakan hidup di dalam neraka yang sesungguhnya. Dia diperlakukan seperti tikus, bahkan jauh lebih kejam.


Selain dipaksa untuk melukai dirinya sendiri, dia juga hanya diperbolehkan untuk tidur di lantai dan tidak diizinkan mengenakan sehelai pun pakaian. Setiap malam tubuhnya akan menggigil kedinginan dan saat hari menjelang pagi perlakuan majikannya yang sangat kejam terus datang tanpa henti.


Semua kemewahan yang selama ini dia dapatkan langsung hilang begitu saja, seakan sumber kebahagiaan dan harapan yang terlanjur tertanam beberapa bulan terakhir hanyalah mimpi indah belaka. Lilly bahkan kehilangan beberapa gigi dan sebelah bola matanya rusak. Dia juga dipaksa untuk memotong kedua daun telinganya sendiri. Tubuhnya yang cantik kini hancur dan mulai membusuk hingga mendatangkan serangga-serangga pemakan bangkai. Meskipun begitu, tekadnya untuk hidup tidak pernah benar-benar padam.


Hari dimana Lilly menghirup udara segar akhirnya datang. Sayangnya, hal ini tidaklah berlangsung lama.


Tubuhnya yang sudah rusak dianggap tidak berguna lagi oleh majikannya. Maka dari itu, dia dijual ke pedagang budak dengan hanya satu koin perak. Kemudian, gadis itu beberapa kali dimasukan ke dalam pelelangan di ibukota. Namun, entah apakah bisa disebut sebagai keberuntungan atau kemalangan, tidak ada seorang pun yang mau membelinya karena tubuhnya sudah terlanjur membusuk.


"Jika di pelelangan besok kau masih tidak menjadi uang, aku akan memotongmu dan menjadikanmu sup untuk makanan para budak lain."


Kata-kata bernada marah yang keluar dari mulut pedagang budak seakan menghancurkan harapan terakhirnya. Lilly sudah benar-benar kehilangan pegangan hidupnya, mulai tidak percaya dengan keajaiban dan keadilan di dunia busuk ini.


Empress Glastila, apakah Beliau juga mengalami semua penghinaan ini sebelum menaklukan para dwarf?


Gadis itu duduk termenung di dalam penjara bawah tanah sempit yang sudah dia tinggali hampir satu bulan terakhir.


Keesokan harinya, saat hari menjelang siang, pedagang budak mendatangi tempatnya berada. Melalui bola mata yang hampir buta, Lilly melihat seorang lelaki yang membawa pedang mulai mendekat ke arahnya. Mendapati pemandangan seperti itu, dia langsung ingat dengan ucapan pedagang budak sebelumnya.


Perasaan takut dan khawatir mulai merasuk ke dalam tubuhnya yang setengah membusuk, membuat Lilly sedikit gemetar di tengah tatapan tajam dari dua orang laki-laki di hadapannya. Walaupun begitu, dia memang sudah menyiapkan mentalnya sendiri dan bertekad untuk menghadapinya.


Di dalam hatinya yang dipenuhi rasa takut, Lilly memohon pada takdir kematian di hadapannya. Gadis itu tidak mau merasakan sakit menjelang kematiannya. Jadi, setidaknya Lilly ingin kematiannya berlangsung cepat. Namun, lelaki di hadapannya tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak terduga.


"Berapa harga untuk gadis ini?"


Lilly tidak mengerti dengan ucapan datar yang tiba-tiba memasuki kedua lubang telinganya. Sekali lagi dia menatap pemuda yang kini mengalihkan pangangan ke arah pedagang budak.


"Karena dia adalah demihuman langka yang sanggup bertahan hidup sampai sekarang, saya menghargainya dua keping emas."


Tepat setelah perkataan pedagang budak, lelaki itu langsung membalas ucapannya tanpa ada keraguan sedikit pun.


"Aku akan membelinya. Tolong urus semuanya dengan cepat karena aku ingin membawanya sekarang."


"Terima kasih banyak, Tuan. Anda bisa menunggu di atas. Saya akan mengurusnya secepat mungkin."


Pedagang Budak sedikit menunduk saat pemuda itu meninggalkan ruangan bawah tanah. Dia kelihatannya sangat senang karena berhasil menjual barang yang sudah di ambang kematian. Pria paruh baya itu bahkan sempat menyeringai ke arah Lilly dan melontarkan kata-kata kasar.


"Kau beruntung. Pembelimu adalah petualang. Dia mungkin akan menjadikanmu sebagai umpan bagi monster. Setidaknya kematianmu akan membawa manfaat bagi majikanmu."


Bersamaan dengan kalimat kasar tersebut, Lilly dibawa keluar dari penjara bawah tanah milik pedagang budak.


Tubuhnya kini dibalut oleh kain lusuh yang sudah tidak layak pakai. Dia juga sempat dibersihkan sekadar untuk menghilangkan bau busuk yang menyengat darinya. Walaupun begitu, penampilan rusaknya terkesan tidak berubah.


Pertama kali Lilly berjalan di tempat umum, dia cukup ragu. Seperti yang sudah dia duga sebelumnya, semua mata memandang dengan tatapan jijik yang sama. Untungnya, berkat kedua daun telinganya yang sudah terpotong, orang-orang tidak tahu bahwa dirinya adalah half-elf. Kalau mereka tahu, mungkin pandangan orang-orang akan jauh lebih menghina daripada sekarang.


Tepat di depannya, seorang pemuda dengan pedang yang tersarung memegangi tangan kanannya dan berjalan menyusuri kios-kios. Lelaki itu menyentuhnya tanpa menunjukan perasaan jijik dan merendahkan.


Lilly sebenarnya merasa sangat heran dengan perlakuan tidak biasa ini. Biasanya orang-orang akan selalu merasa terganggu dengan kehadirannya. Bahkan, pelayan di mansion sebelumnya juga melayani Lilly dengan penuh keengganan. Jadi, dia tak pernah sedikit pun berharap perlakuan seperti ini akan datang di sisa waktu hidupnya.


"Lilly, 'kan?"


Di tengah langkah kaki mereka, lelaki itu berbicara tanpa menoleh. Lilly yang masih belum pulih dari kebingungan segera menjawabnya dengan tergesa-gesa.


"Eh ... y-ya, Tuanku."


"Apa kau mau sembuh?"


Pertanyaan itu terasa seperti sambaran petir di siang bolong. Dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud di balik pertanyaannya. Jadi, Lilly memberanikan diri untuk bertanya sekadar memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


"Maaf, Tuan?"


"Sembuh. Maksudku, semua lukamu akan menghilang tanpa bekas. Mata dan telingamu juga akan kembali. Apakah kau mau itu?"


"Apakah Anda bisa menyembuhkan saya?"


Setelah bertanya dengan kalimat yang ragu, Sang Tuan menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap ke arahnya, sedikit tersenyum ramah sebelum menganggukan kepala.