Rafani Azahra

Rafani Azahra
hadiah



sudah dua Minggu berlalu saat ini di sebuah vila tempat tinggal Rafani dan teman-temannya yang lain sudah kedatangan tujuh sosok laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Edward,Leon, Johan, Abraham, Samuel, satria dan Tristan.


"bagaimana rencana kalian sekarang"ucap Tristan menatap ke arah tujuh anak muda di depan nya.


"semuanya sudah selesai tinggal tunggu komando dari Rafani"ucap giovan membuat para orang tua mengangguk.


"langsung bergerak"ucap Rafani yang baru turun dari lantai atas bersama Akila mereka semua menatap ke arah gadis tersebut.


"Giovan sama Aryan ikut gue ke tempat zela"ucap Akila yang di angguki mereka.


"alfatan sama ceshen atur posisi"ucap Rafani yang di angguki mereka berdua.


"gue sama Zidan mantau pergerakan mereka dari rumah, untuk barang dan petunjuk gue serahkan sama Giovan"ucap Rafani yang di angguki mereka.


"kalo begitu apa kita boleh ikut"ucap Samuel membuat mereka saling tatap.


"tunggu target sebenarnya"ucap ceshen membuat mereka mengangguk.


"kalo mereka gerak sekarang, gue dan Rafani ada langsung kabarin dan kalian siap di posisi"ucap Zidan.


"tapi kalo gak keburu gimana"ucap Akila membuat mereka saling tatap.


"seperti nya kehadiran kami berguna"ucap Johan membuat Rafani mendengus.


"lakukan sekarang"ucap Rafani membuat mereka mengangguk.


"ok, sebagai jaga-jaga bom rakit sudah gue kasih ke anak buah"ucap alfatan yang di angguki oleh Rafani.


"ok, jika semuanya sudah selesai dan ada pergerakan dari Arsenal kita langsung sesuai rencana, sisa nya bisa kita kendalikan para orang tua"ucap Rafani membuat mereka melotot.


"apa, mau ikut kan"ucap Rafani membuat mereka mendengus.


"keturunan siapa sih, seenaknya deh, pengen di sentil ginjal nya"geregetan Leon membuat yang lain Terkekeh.


"gak tau, gue bahkan gak seperti itu dulu apakah dia benar-benar cucuku"ucap Edward membuat Rafani mendengus.


"salah kan putra mu tuan Leon, karena saya seperti ini atas didikan dia"ucap Rafani membuat Johan membalak.


"WAHHHH, anak asem berani kamu fitnah saya hah"kesal Johan membuat ceshen mendengus.


"mantu mu yah"ketus ceshen yang mendapatkan cibiran dari Johan.


"kenapa malah bertengkar gini, kapan gerak nya kalian"ucap Abraham membuat mereka tersadar.


"gara-gara anak mu ini"ucap Johan yang mendapat kan melotot an dari Rafani.


"sudah, semuanya gerak sekarang kita berangkat ke posisi masing-masing"ucap satria yang di angguki mereka.


"sepertinya saya bakal ambil alih posisi alfatan"ucap Samuel yang mendapat anggukan dari alfatan.


"terimakasih ayah, Al juga gak yakin bisa sampai tepat waktu"ucap alfatan yang mendapat anggukan dari Samuel.


"baik lah posisi menantu saya biar saya ikut adil"ucap satria yang mendapat anggukan dari Giovan.


"saya bagikan pengalihan"ucap Abraham membuat Zidan dan Akila tersenyum.


"cih, terpaksa saya di bagian pemantau"ucap Johan membuat Rafani tersenyum miring.


"apa tuan Jo butuh bantuan"ucap Rafani membuat Johan mendengus.


"tidak saya cuma mantau pergerakan dari arah lain aja biar rencana otak kamu berhasil"ucap nya membuat Rafani mendelik.


"setelah kalian selesai mancing Arsenal pastikan langsung ke posisi ceshen gue sama opa tunggu di posisi, sedangkan ayah satria tunggu di tempat zela mau"ucap Rafani membuat satria menghela nafas.


"gak masalah"ucap satria yang di angguki mereka.


"jika semuanya sudah berjalan, gak usah tunggu mereka mundur sekali gerak Langsung ke posisi Giovan dan berbagai ke posisi gue sama yang lain kita fokus lawan anak buah Arsenal dan untuk opa Edward sama opa Leon Mungkin kalian bisa bergerak buat ringkus Arsenal "ucap Rafani membuat mereka mengangguk.


"lebih menguntungkan seperti ini"ucap Rafani yang di angguki oleh mereka.


"ok kalo gitu kita berangkat"ucap Akila yang di angguki aryan dan Giovan.


"Van kotak nya dah ada"ucap Zidan, Giovan yang mendengar nya mengangguk.


"ini bakal menjadi hadiah yang sangat indah untuk Arsenal"ucap giovan yang di angguki oleh yang lain.


"baik lah setelah rencana awal sudah selesai lanjut rencana dua dan tiga paham"ucap Rafani yang di angguki mereka.


"kalo gitu saya bakal mantau dari sini"ucap Johan yang di angguki yang lain.


"di kamar aja alat-alat nya sudah lengkap di sana"ucap Rafani yang di angguki Johan.


_______


"selamat sore zela"Akila masuk ke dalam ruangan Tempat di tahan nya zela, zela yang mendengar suara tersebut menatap tajam ke arah Akila yang kini berjalan ke arah nya sambil tersenyum miring.


"mau apa Lo hah?? lepasin gue anjeng"teriak zela membuat Akila Terkekeh.


"Lo gak pantes buat bebas, pantes nya ma-ti"ucap Akila tidak lupa untuk menekan kata mati di sana membuat zela membalak.


"Lo jangan macam-macam Akila, Lo itu sepupu gue"bentak zela membuat Akila mendengus.


"cih, gue gak Sudi punya sepupu kek Lo"ucap Akila membuat zela menggerang marah.


"kurang aj--"


jilbab..srettt.


"arghhhhh "zela terpekik di kala merasakan sakit di bagian tangan nya iya menatap ke arah tangan nya melotot.


"Lo apa kan tangan gue setan"murka zela di saat sudah melihat pergelangan tangan nya yang sudah tergeletak.


"hadiah buat bokap Lo"ucap Akila membuat zela menatap nya tajam sambil meringis kecil.


akila menatap ke arah Giovan yang kini sudah masuk mengambil tangan zela Tersebut dan meletakkan nya di dalam wadah.


"tugas selesai, sekarang kita pisah di sini gue mau nyusul Zidan dan om Abraham "ucap Akila yang di angguki oleh Aryan dan Giovan.


"gue ke om Tristan lakukan dengan cepat"ucap Aryan yang di angguki oleh Giovan.


"kalian siksa dia dengan air jeruk"ucap Aryan ke arah anak buah alfatan yang berjaga.


"baik tuan"ucap mereka ketika melihat Aryan dan Giovan sudah pergi.


skip.


Giovan saat ini sudah berada tak jauh dari tempat naungan Arsenal selama ini, iya masih menunggu kehadiran salah satu anak buah alfatan untuk mengantarkan paket ke arah Arsenal.


tok..tok..tok.


"tuan saya sudah siap"ucap laki-laki yang baru saja mengetuk kaca mobil Giovan.


"lakukan dengan sempurna, kasih kode siap siaga ke arah jarum jam 11"ucap giovan yang di angguki laki-laki tersebut.


"baik tuan"ucap nya, setelahnya Giovan pun langsung berangkat meninggalkan tempat tersebut menyisakan anak buah nya tadi yang sudah siap berpakaian seperti kurir.


di posisi lainnya sudah ada ceshen dan alfatan yang bersembunyi di balik pohon tak jauh dari keberadaan lingkup rumah Arsenal.


mereka berdua saling pandang di saat melihat sosok laki-laki pengantar yang berjalan menuju gerbang halaman rumah Arsenal.


"dia anggap tim 3"ucap alfatan membuat ceshen menatap ke arah laki-laki tersebut.


ceshen dan alfatan mengangguk di saat melihat kode siap siaga yang di berikan oleh anak buah alfatan.