Rafani Azahra

Rafani Azahra
memikirkan rencana



malam ini di ruang tamu di rumah besar satria benar-benar ramai akan kumpul nya keluarga Rafani maupun keluarga sahabat nya.


Rafani menatap ke arah layar laptop di depan nya yang menampilkan sosok Tian yang kini menggendong bayi berumur satu tahun depan Bianca yang mengelus perut besarnya.


melihat hal tersebut membuat Rafani tersenyum bahagia, pandangan nya beralih ke arah Dila sang sekretaris yang kini juga sama mengelus perut nya yang lebih besar dari pada milik Bianca Jangan Lupakan sang suami nya yang fokus akan laptop.


Rafani menatap ke arah sang sahabat yang kini sudah terisak di dalam dekapan sang Suami hal itu membuat Rafani Terkekeh pandangan Rafani menatap ke arah sisi yang kini berbicara panjang ke arah Vero.


"kalian baik-baik aja"ucap Rafani membuat mereka mengangguk pelan.


"gak kerasa keponakan gue udah mau tiga"ucap Rafani sambil terkekeh membuat yang lain ikut tertawa.


"sorry ya gak bisa ikut kesana huaaaaa"ucap Devi yang membuat Giovan semakin mendengus kesel melihat hal tersebut semakin membuat Rafani tertawa.


"kapan Lo mau nyusul bikin anak kalian juga pada kuliah kan"ucap Rafani membuat sisi sama Devi diam.


"gue sih gak terlalu ya, apa lagi kak Vero masih sibuk kelihatan nya"ucap sisi.


"Halah, sibuk-sibuknya Vero juga dia bakal minta ini elo kali yang mau nunda anak"ucap Akila membuat sisi melotot.


"ini gue belum tau, si zela gimna"semua orang yang mendengar hal tersebut kompak diam.


Rafani yang melihat itu mengangkat alis nya heran."ada apa, dia masih di tangan kalian kan"ucap Rafani.


"zela meninggal "


degggg..


deka dan Rafani begitu juga Bastian yang mendengar hal tersebut terkejut mereka menatap ke arah anggota keluarga Rafani.


"mak-maksudnya"ucap deka menatap ke arah gion yang tadi berbicara.


"zela meninggal di saat iya mau melahirkan anak nya"ucap gion membuat deka terdiam.


"te-terus anak nya"ucap deka, Rafani yang melihat itu menatap datar ke arah deka.


"reaksi Lo ko gitu"ucap tilo mengangkat alis nya bingung.


"karena dia bokap dari si bayi"ucap Rafani membuat semua orang terkejut.


"ko bisa,"ucap tilo dan Gion serempak yang kini benar-benar terkejut.


"lah si tai, Lo pada lupa si zela kan yang sering di jamah sama deka"ucap Akila membuat yang lain terdiam.


"ko gue bisa lupa"ucap tilo yang membuat semua orang memutar bola matanya jengah.


"pada saat itu zela emang berhasil menyelamatkan anak nya tapi bayi Lo ikut meninggal satu bulan setelah zela pergi"


jduarrrr..


bagai tersambar petir deka kini terduduk lemas dengan tatapan memerah Bastian iya ya melihat itu menatap tajam ke arah deka.


"jadi Lo yang bikin adx gue hamil "sentak Bastian yang kini menarik kerah deka yang menatap kosong.


"i-ini juga rencana keluarga gue"ucap deka membuat Bastian menatap nya nyalang.


"brengs*k"


bguhhhh..


bguhhhh..


bguhhhh..


Rafani menatap datar ke arah deka yang sudah babak belur dengan Bastian yang masih ingin menghajar nya.


"kenapa Lo gak mau tanggung jawab hah"sentak Bastian di depan wajah deka.


"sebelum gue sentuh adx Lo di sana dia udah jebol duluan "ucap deka membuat Bastian menatap nya nyalang.


Rafani yang melihat itu menghela nafas panjang iya memijit pelipisnya yang berdenyut.


"diam dulu udah diam"ucap Rafani menatap ke arah mereka berdua.


"biar dah gue yang jelas in gimna"ucap Rafani membuat deka menatap ke arah nya begitu juga dengan Bastian.


mereka semua memilih diam menatap ke arah rafani yang kini menatap ke arah layar laptop.


"yang di katakan bang deka benar tentang, zela tapi di sini bang deka salah jika pun zela sudah sering di jamah sama orang tapi belum tentu itu anak orang karena sejak detik itu zela selalu ngelakuin hal itu sama deka"ucap Rafani.


"dari mana Lo tau"ucap deka.


"bang giovan, Zidan dan yang lain mantau kalian dari awal, jadi itu gak salah lagian sebelum gue di bawa waktu itu gue sempet tes DNA dan hasil nya sama"ucap Rafani membuat semua orang Terdiam.


"jika Lo gak percaya silahkan ke Eropa cari nama dokter suci tunangan dokter Gibran"ucap Rafani membuat deka merunduk.


"seharusnya gue tanggung jawab, zela maaf in gue "batin deka dalam hati.


Rafani menghela nafas iya bangkit dari duduk nya membuat semua orang mendongak menatap ke arah nya.


"gak ada gunanya Lo nyesel, ingat sekarang ada pingken cewek Lo"ucap Rafani.


"kita fokus akan Arsenal saat ini"ucap Rafani yang kini duduk di samping ceshen.


"jadi mau gimana rencana nya"ucap Samuel melirik ke sekelilingnya.


"tapi cara satu-satunya kita memang gunakan ide dari Clara"ucap Tristan membuat yang lain mengangguk.


"masalahnya pada Rafani"ucap Johan membuat Rafani menatap ke arah mereka.


"Lo mau"ucap Rafani pelan ke arah ceshen yang kini hanya menampilkan senyum kecil nya.


melihat hal tersebut Rafani juga tau apa artinya, "CK masa datang-datang dah mau nikah aja gue"Gerutu Rafani.


"mau ngumpat yang jelas "ucap Akila membuat Rafani memutar bola matanya jengah.


"kenapa gak kak Velia aja kan dia juga anak ayah lagi bang Bastian anak dia"ucap Rafani membuat Velia terkejut.


"enak aja Lo dex, gue masih mau kuliah "ucap Velia membuat Rafani mencibir.


"kak setidaknya kalo itu Lo otomatis datang Arsenal seratus persen kak"ucap Clara membuat Rafani menutup kan bibirnya.


"harus banget Melalui pernikahan, kenapa gak kita lancar aja"ucap Rafani membuat mereka terdiam.


"gue dah CK sih keberadaan Arsenal tapi gak di temukan di daerah Eropa "ucap Zidan.


"di Jakarta juga gak ada"ucap giovan menatap ke arah rafani.


"Australia sama di sini"ucap Rafani membuat Giovan dan Zidan terdiam.


"tapi Ra, peluang keberhasilan rencana emang sama Lo"ucap Akila.


"huffff, harus banget "Guam Rafani yang sama sekali tidak pernah kepikiran untuk ke sana.


"gak perlu terburu-buru kamu bisa memikirkan semua nya"ucap satria membuat Rafani mengangguk.


"udah malem lebih baik kalian pada istirahat "ucap Edward membuat yang lain pada mengangguk.


Rafani kini berdiri dan melangkahkan kakinya menuju tangga lantai dua di mana kamarnya berada.


"Ara Tunggu "langkah Rafani terhenti di kala mendengar suara tersebut iya menoleh dan mendapati ceshen yang kini tengah berjalan ke arah nya.


"kenapa "ucap Rafani menatap heran laki-laki itu.


"ada yang mau gue omongin "ucap ceshen membuat Rafani mengangguk.


"taman belakang "ucap Rafani yang langsung di ikuti oleh ceshen Dari belakang.