
sudah tiga hari berlalu dan saat ini di sebuah gedung hotel yang megah dan mewah di salah satu ruangan yang sangat takjub sudah ada beberapa orang yang datang dari kalangan atas guna menghadiri acara pernikahan Bianca dan ceshen.
di sana di kursi tamu kehormatan sudah ada keluarga besarnya Akbar dan juga Abimana di mana mereka kini tengah sibuk mengobrol dengan rekan bisnis yang baru berdatangan.
kini semua orang terdiam ketika menatap ke arah pintu aula ketika melihat beberapa laki-laki yang berjalan pelan ke arah mereka dengan tatapan angkuh nya.
Johan iya yang melihat itu hanya diam sekilas melirik ke arah Leon yang kini mengangguk pelan.
"ahh,, selamat datang tuan Arsenal tuan alfan dan tuan Andre juga terimakasih sudah bersedia mehadiri pernikahan cucu saya"ucap Leon berjabat tangan yang di balas oleh mereka dengan senyuman.
"kami merasa bangga bisa di undang oleh keluarga anda tuan Leon dan juga tuan Johan "ucap Arsenal tersenyum menjabat tangan Leon dan Johan bergantian.
mereka pun kembali duduk di tempat yang di sediakan sambil menunggu tamu yang lain tak jauh dari mereka sudah ada Abimana yang menyambut hangat tamu mereka dari keluarga Abraham Samuel Hendra Herman dafit Tristan setelah mereka tadi sudah mengucapkan selamat dari keluarga Abraham.
"sepertinya Rencana kita berhasil"ucap Abimana pelan menatap ke arah Samuel dan juga Abraham yang mengangguk.
"kita tinggal tunggu target yang sebenarnya"ucap Tristan mereka pun mengangguk.
"usaha kan kalo ini kita gak akan gagal"ucap dafit.
"benar anak-anak sudah susah payah buat susun strategi ini"ucap Abraham yang dia angguki mereka.
"apa mereka belum datang, dari tadi aku tidak melihat mereka"ucap Samuel.
"mungkin mereka lagi ada di satu ruangan"ucap Herman.
"aku harap semua nya berjalan lancar "ucap Hendra yang di angguki oleh mereka.
"baik lah para tuan lebih baik jangan terlalu tegang di sini acara putra ku yang harus di korbankan "Ical Samuel yang membuat mereka terkekeh pelan.
"kita pasti berhasil aku percaya terhadap anak-anak kita"ucap Abraham yang di angguki oleh mereka.
pandangan mereka beralih terhadap sosok muda yang kini sudah bergabung dengan Arsenal Abraham dan yang lain melihat itu hanya diam.
"jika benar dia ada di pihak mereka aku orang pertama yang bakal membunuh nya"ucap Abraham menatap sosok itu yang kini hormat kepada Arsenal.
"mari kita liat seperti apa kerja dia"ucap Samuel yang di angguki oleh yang lain.
_#skip.
di ruangan lain sudah ada Velia bela dan fatan yang kini fokus menatap layar laptop di depan nya.
semua orang kini sudah berada di dalam ruangan tersebut sambil melihat layar besar di depan mereka Rafani iya menatap ke arah layar yang kini menampilkan satu ruangan tersebut dengan datar.
"sepertinya tinggal satu orang yang kita tunggu"ucap Velia menatap ke arah rafani.
"kalian yakin dia bakal datang"ucap Zidan.
"pasti dia bakal datang cuma kita gak tau apa rencana dia untuk saat ini"ucap giovan yang di angguki oleh mereka semua.
"giovan Zidan udah saat nya pencar kan anak buah kalian "ucap ceshen membuat Zidan dan Giovan keluar.
tak lama mereka menegak saat melihat para pengusaha mendekat ke arah pintu aula yang kini menampilkan sosok pria yang berjalan dengan beberapa bodyguard di belakang nya.
"dia udah datang Ra"ucap Velia Rafani yang melihat itu mengangguk.
"apa Lo yakin itu dia"ucap ceshen pelan Rafani yang mendengar nya menoleh dengan tersenyum tipis.
ceshen yang melihat itu hanya diam dan kembali menatap ke arah layar.
"jadi gimna selanjutnya,, sepertinya Rencana kita bocor"ucap ceshen lagi.
"kita terlalu fokus akan orang-orang di hadapan kita Tampa sadar jika kita melupakan satu manusia"ucap Rafani yang membuat semua orang tersentak.
"maksud Lo apa Rafani"ucap fatan menatap nya bingung.
"tidak ada pilihan rencana ini tetap seperti ini walaupun yang di sana hanya lah kambing hitam"ucap nya lagi.
"Dila pastikan setelah lengah alfatan mendekat ke Lo"ucap Rafani yang di angguki oleh dia.
"terus itu siapa"ucap Akila menatap ke arah layar besar di depan nya.
"menurut Lo ada sosok laki-laki yang seumuran sama ayah gue namun tubuh jelas-jelas sangat muda"ucap Rafani lagi mereka pun terdiam.
sesaat terdiam Akila membulatkan matanya menatap ke arah rafani tak percaya.
"jangan bilang dia"ucapan Akila yang langsung di angguki oleh Rafani.
"sial sembunyi di mana dia selama ini"geram Alika.
"emang siapa sih"ucap tilo yang heran.
"eh tunggu-tunggu itu siapa"heboh Aryan menunjuk layar di depan nya.
"teryata musuh kita ada dua"ucap ceshen yang di angguki oleh Rafani.
"ok, kita mulai dari sekarang kalian udah tau apa tugas kalian kan"ucap Velia mereka semua pun mengangguk.
"semoga berhasil"ucap Devi.
"kita bakal pantau dari sini"ucap Akila lagi yang di angguki oleh mereka.
"sen"ucap Rafani menatap ke arah ceshen yang juga menatap ke arah nya.
"gue bakal urus dia apa Lo sanggup urus yang satunya sebelum gue dateng"ucap Rafani ceshen yang mendengar nya mengangkat alis.
"yakin Lo bisa sendiri"ucap ceshen Rafani mengangguk.
"dia gak terlalu berbahaya jadi gue pasti bisa sendiri"ucap Rafani.
ceshen yang mendengar nya menghela nafas dan mengangguk pelan.
"kalo ada apa-apa Kabarin gue langsung"ucap ceshen Rafani mengangguk.
setelah nya mereka pun keluar dengan memakai topeng ceshen dan Rafani menunju tempat yang berbeda.
Rafani berjalan ke arah lantai bawah saat di tikungan iya melihat sosok pemuda yang tadi sempat di lihat nya yang kini mau memasuki lift Rafani yang melihat itu pun langsung berjalan namun langkah nya terhenti di kala ponsel nya berdering.
Rafani mengangkat alis nya heran ketika mendapati Clara yang menelpon nya.
"ada apa cla"ucap Rafani.
"___"
"aghhh, brengsek jangan ada yang sentuh dia atau Lo semua mati"ucap Rafani marah setelah nya Rafani langsung mematikan sambungan telpon dan berlari ke arah lift untuk sampai di bawah.
di tempat lain di sebuah ruangan sudah ada Clara yang kini meringkuk ketakutan ketika melihat dia orang yang kini menatap nya tajam.
salah satu orang kini memegang ponsel nya dan ingin menghubungi seseorang yang membuat Clara membalak ketika mendengar suara itu.
"ada apa cla"ucap sosok yang di seberang sana.
"jika adx Lo mau selamat pergi ke tempat yang gue kasih jangan pernah bawa siapapun"ucap sosok itu.
"aghhh, brengsek jangan ada yang sentuh dia atau Lo semua mati"ucap nya lagi.
sosok yang mendengar suara marah itu pun hanya terkekeh kecil.
"tergantung dengan kehadiran Lo"ucap nya lagi yang langsung mendapati ponsel nya mati.
sosok laki-laki itu menatap ke arah gadis yang kini terdiam tanpa bersuara.
"Lo yakin dia bakal ke sini"ucap sosok laki-laki yang lain.
"gue yakin pasti dia bakal nolong adx nya"ucap sosok itu.
"ook, kita tunggu aja"ucap nya lagi yang di angguki oleh sosok laki-laki tadi.
saat ini di tempat Rafani iya menatap sekilas gedung di depan nya yang sekarang sudah ramai dan terdengar suara MC Rafani menduga bahwa acara sudah di mulai.
Rafani mendongak menatap ke arah gedung itu dengan tatapan sulit di artikan.
"gue harap kalian berhasil gak ada yang terluka"ucap Rafani.
"maaf tidak bisa melihat keberhasilan kalian "ucap nya lagi dan langsung masuk ke dalam mobil dan melanjutkan mobil nya di jalan raya dengan cepat.
_#skip.
saat ini di dalam gedung semua orang nampak diam mendengar kata demi kata dari MC pembawa acara.
"selamat untuk kedua mempelai semoga kalian selalu di beri kebahagiaan"ucap sang MC yang langsung di angguki oleh sang pengantin.
"dan para tamu silahkan bergantian mengucapkan salam terhadap para pengantin dan selamat menikmati makanan yang sudah di sediakan"ucap sang MC dan langsung turun dari panggung dan mempersilahkan para penyanyi yang kini mengisi acara.
"maaf jika saya mengganggu ketenangan para tamu undangan"ucap sosok gadis yang kini beralih memegang MC saat tadi dia sudah mengambil MC dari tangan penyayi.
"saya hanya sedikit ingin memberi kalian sebuah video tentang perjalanan kedua pengantin kita"ucap sang MC.
"baik lah mati kita putar video nya"ucap nya lagi dan tak lama lampu di dalam ruangan langsung padam dan tak lama sebuah layar seperti bioskop kini menyala menampilkan sebuah video yang membuat semua orang menunggu.
"baiklah selamat bersenang-senang Arsenal"Guam Velia tersenyum miring menatap layar di depan nya.
"putar"ucap Velia menatap ke arah fatan yang kini mengangguk dan langsung memutar sebuah video.
semua orang kini terkejut menatap video yang di tayangkan membuat semua orang kini mencibir.
"eh, itu bukan nya putri Arsenal ya iih,, ko sedang melakukan tindakan seperti itu dengan laki-laki"
"laki-laki itu juga anak nya Andre"
"eh iya bener gila parah banget sih apa mereka tidak malu melakukan seperti itu"
"bukan kah sama aja menjelek-jelekkan nama keluarga"
semua tamu undangan terus mencibir dan mengata-ngatai kedua orang di dalam video.
saat ini Arsenal dan Andre mereka kompak menatap ke layar dengan tatapan terkejut dan mengepalkan tangan nya kuat saat mendengar hinaan demi hinaan.
tak beberapa lama kini Video di ubah dengan video lainnya yang langsung membuat Arsenal terdiam ketika mendapati sebuah video pembunuhan di keluarga Alexander yang membuat orang terkejut bukan main.
"jadi yang membunuh keluarga Alexander adalah Arsenal "
"parah padahal pembunuh nya ada di sini tapi kenapa polisi tidak melanjutkan kasus ini"
"apa Arsenal juga yang membunuhnya kedua keluarga itu"
Arsenal kini iya mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih ketika mendengar pembicaraan orang-orang.
tak lama lampu di nyalakan dan langsung membuat Arsenal Alfan dan Andre di serbu oleh tamu lain namun kini mereka di lindungi oleh para anak buah Arsenal.
"dasar pembunuh kamu Arsenal"
"kamu pantas di penjara bukan malah bernafas dengan lega"
"gak anak gak bapak nya sama aja pembawa sial kalian"
begitu lah omongan para tamu undangan yang kini membuat Arsenal berusaha menahan amarah nya.
Abraham Johan Abimana Samuel Tristan Herman Hendra dan dafit kini menatap Arsenal Andre dan Alfan dengan tersenyum tipis Arsenal Andre dan Alfan yang melihat itu mengepalkan tangan mereka kuat dengan kilatan mata tajam penuh akan dendam.
"jika tentang dia yang menculik putri ku dulu terbongkar mungkin lebih banyak cacian yang iya dapat kan"ucap Abraham menatap dingin ke arah Arsenal yang di angguki oleh yang lain.
saat ini di lingkup selatan dan Utara sudah ada Akila dan Devi dan di lingkup barat sudah ada sisi yang kini mengawasi para tamu undangan sudah siap ingin menyelamatkan mereka.
begitu juga anak buah Zidan dan Giovan yang sudah menyebar di dalam ruangan tersebut.
Vero tilo Aryan kini berada tak jauh dari Malik dan Andre Aryan menatap ke arah panggung melihat sosok pengantin pria yang kini juga menatap ke arah nya sambil mengangguk pelan.
dan di balik panggung sudah ada Dila dan alfatan entah sejak kapan dia tau-tau sudah ada di sisi Dila Tampa ketahuan oleh Arsenal yang kini sudah di maki-maki oleh tamu.
sedangkan di ruangan atas Velia bela dan fatan mereka masih fokus menatap pergerakan yang kini mulai terlihat membuat mereka saling tatap.
"giovan mereka mulai bergerak"ucap fatan Giovan yang mendengar handset di telinga nya yang menimbulkan suara pun mengangguk.
iya menoleh ke arah Zidan dan langsung berjalan ke arah keluarga besar para pengantin.
Arsenal kini iya memandang keluarga yang kini nampak bahagia di atas panggung dengan dengan kilatan tajamnya iya menatap ke arah mereka dengan tatapan benci dan setelahnya iya pun berguam.
"tembak kedua pengantin"ucap nya yang membuat Andre dan Alfan menoleh dengan diam.
sosok yang berada di atas lantai atas kini mengarah kan pistol nya ke arah kedua pengantin laki-laki dan jari telunjuk nya sudah tergerak untuk menekan pelatuk.
"udah saat nya"ucap alfatan yang kini di angguki oleh Dila.
mereka pun keluar dari belakang panggung dan tak lupa Dila dan alfatan mengarahkan pistolnya ke arah lantai atas.
dorrrr..
dorrr..
akhhh...
"AAAAAA"
semua orang terkejut ketika mendengar suara tembakan yang berasal dari lantai atas.
"SEMUANYA CEPAT TURUN"teriak Dila.
Arsenal iya membalak terkejut menatap anak buah nya yang kini sudah tertembak begitu juga alfan dan Andre yang kini menatap tajam ke arah Dila dan tersentak menatap ke arah alfatan.
"kurang ajar kamu dasar penghianat"sentak Arsenal menatap tajam ke arah alfatan.
"bukan kah wajar jika saya penghianat ke pada orang-orang yang membunuh keluarga saya"ucap Alfatan yang membuat Arsenal mengepalkan tangannya kuat.
"AKAN KU BUNUH KALIAN, SEMUA SERANG MEREKA"triak Arsenal yang kini anak buah Arsenal entah datang dari mana langsung menyerang anak buah Giovan dan Zidan yang juga sama-sama menyerang.
Arsenal yang melihat persiapan itu menggeram marah.
para tamu sudah di selamat kan kini di ruangan itu sudah penuh akan laki-laki yang saling beradu.
dengan Vero tilo dan Aryan yang menyerang ke arah Andre dan satu anak buah nya dan juga ada Tian dan fatan yang tau-tau sudah ada membantu untuk menyerang Alfan.
tak jauh dari sana sudah ada Abraham dan Johan yang menyerang Arsenal dengan membabi buta.
ruangan itu kini di penuhi akan perkelahian di mana Dila yang juga ikut menyerang bersama alfatan.
Zidan iya kini fokus ke arah beberapa orang yang membawa senjata membuat nya menganjungkan pistol nya dan menembak mereka yang membawa senjata.
dorrrr...
dorrrr.
dorrrr..
perkelahian tidak bisa di hindari untuk saat ini semua yang ada di sana sudah hancur tidak terbentuk para keluarga Samuel Abimana Dafit Herman Hendra Tristan mereka juga ikut menyerang.
Velia dan bela kini mereka juga sudah panik ketika melihat perkelahian itu di dalam sana juga ada para istri dan juga Bianca yang kini nampak gusar.
di ruangan lain ceshen iya yang sedari tadi mengikuti satu laki-laki dan dua bodyguard pun menatap nya dengan Nanar.
"bughhh,,, sialan kenapa Lo berkhianat dari kita semua goblok"murka ceshen menatap lawan nya dengan tatapan tajam.
"gue minta maaf"ucap Sosok laki-laki itu menatap ceshen dengan tatapan datar.
"seenaknya Lo minta maaf hah, jadi elo yang membocorkan semua ini gion kita salah apa hah salah apa sampe-sampe Lo kaya gini"triak ceshen.
"gue terpaksa ceshen"sentak gion yang sudah terduduk lemah di lantai.
"gue terpaksa bocorin semua nya karena keluarga gue dalam bahaya adx gue di tahan sama Bastian dan satria nyokap gue juga di ancam bakal di bunuh"triak gion lagi.
bughhhh..
"gue gak perduli soal itu"ucap ceshen yang kini berdiri menatap tajam ke arah gion namun tersentak ketika mengingat satu orang lagi.
"apa jangan-jangan lawan Rafani Satria"Guam ceshen.
"agrhhhhh.. sialan Lo gion sialan"
bughhhh...
bguhhhh....
arghhh..
ceshen berlari ke luar ruangan meninggalkan gion yang kini sudah tidak sadarkan diri.
"ceshen Rafani bersama Bastian kalian di jebak"ucap gion pelan namun naas nya ceshen sudah keluar membuat gion menggerang merasakan sakit di tubuh nya.
"RAFANI "tirak ceshen terus berlari namun tidak menemukan sosok Rafani.
ceshen menggerang menatap kebodohan nya membiarkan Rafani melawan Sarita sendiri.
ceshen turun ke bawah ketika melihat perkelahian yang sangat mengerikan namun langkah nya terhenti ketika mendapati sosok yang kini masuk ke dalam lift tanpa pikir panjang ceshen langsung mengejar mereka.
"WOYYYY"triak ceshen mengejar.
bguhhhh..
"anjeng"ucap salah satu mereka yang kini terdorong dengan tendangan ceshen.
ceshen menatap lima orang itu dengan tajam.
"dimana Rafani"ucap ceshen.
mereka yang mendengar itu pun terkekeh menatap ke arah ceshen dengan tersenyum miring.
"apa kau perduli dengan gadis itu"ucap sosok laki-laki ceshen yang mendengar nya tersentak iya berbalik badan dan membalak menatap Alatas ayah nya gion.
"kurang ajar"triak ceshen dan langsung menyerang Alatas bersama anak buah nya sendiri.
Velia iya ya menatap hal itu serontak membalak.
"bangsat"umpat nya kasar.
"kita masuk dalam jebakan Vero cepat naik ke atas masuk lorong B bantu ceshen cepat"ucap Velia membuat mereka semua terkejut Vero tempa berlama-lama langsung berlari untuk menyelamatkan ceshen.
setelah sampai Vero membalak menatap ceshen yang kini melawan beberapa orang.
"SETAN"triak Vero dan langsung berlari menghajar membuat Alatas terkejut ketika melihat bantuan itu datang.
"sial, lebih baik aku kabur"Guam Alatas dan hendak masuk ke dalam lift namun.
dorrr..
dorrr.
"akhhhh"triak Alatas ketika mendapati ke-dua kaki nya tertembak.
"mau kemana kamu Alatas"ucap Leon dan Edward membuat Alatas yang mendengar suara itu membalak dan terdiam kaku.
ya memang rencana ceshen dan Rafani iyalah menyerang satria namun itu hanya pengalihan karena yang akan berurusan sama Satria adalah Edward dan Leon namun mereka terkejut jika tidak ada satria membuat mereka paham jika mereka kini memasuki perangkap satria.
"Velia kasih tau semua orang jangan biarkan ada yang lolos"ucap Edward yang langsung di angguki oleh Velia.