
Rafani dan ceshen masih di dalam ruangan itu ceshen yang sibuk melihat-lihat tugas kantor Sabang lain sedangkan Rafani sibuk membalas chat sisi.
"**Lo cari tau tentang keluarga Abimana"
^^^"ok, entar gue kabarin lagi**"^^^
setelah melihat itu Rafani menatap jam di ponsel nya yang menunjukkan pukul 10:15 iya pun bangkit dari duduk nya ceshen yang melihat itu hanya diam.
Rafani keluar dari ruangan itu dan melihat ke arah Giovan yang sibuk dengan komputer nya sedangkan Devi dan Akila sibuk akan memahami berkas-berkas entah berkas apa.
"kalian dah selesai "ucap Rafani yang mengagetkan ketiga nya.
"CK, sialan gue kaget anjir"ucap Akila kesal memandang ke arah rafani dengan mendelik.
"belom sih Ra, elo gimana "ucap Devi.
"gue udah, lah tumben belom gio biasanya kerja Lo gesit"ucap Rafani menatap Giovan yang kini menatap nya dengan dengusan.
"gimna gue mau selesai cepat jika gue cari nya aja sendiri liat nih teman Lo yang ada bikin nyusahin "ucap giovan Akila dan Devi serontak menoleh garang ke arah Giovan yang kini meringis Rafani yang melihat itu tertawa kecil.
"ya udah gue duluan ya good luck semuanya"ucap Rafani dan berlalu pergi.
"hufff, enak banget dah jadi Rafani dah selesai aja kerjaan nya"Guam Akila.
"ya makanya klo mau selesai cepat bantuin"ucap giovan.
"CK, bantuin kek gimana sih sini biar gue yang bantuin"ucap Devi mendekat ke arah Giovan sedangkan Giovan agak termundur ketika melihat wajah Devi mendekat dengan nya iya mencoba menahan senyum geli.
_#skip.
Rafani kini berada di dalam kamar nya yang dulu iya menatap ke arah luar jendela yang kini memperlihatkan cuaca yang sangat tidak bersahabat di mana sepertinya akan turun hujan.
"pliss tuhan jangan turun hujan untuk malam ini"Guam Rafani pelan namun nampak gelisah di saat iya mulai melihat ada kilatan kecil Rafani yang melihat itu meringis.
duarrr.
"AAAAAAAAAA, MAMA ADA PETIR"triak Rafani yang kini sudah berlari dan bersembunyi di bawah meja sambil membekap kepala ketika mendengar suara petir.
duarrr..
Rafani yang masih mendengar suara petir pun menggigit bibir bawah nya kuat iya tak berani menatap ke arah kasur nya karena melihat kilatan yang sangat terang itu iya terus bersembunyi di bawah meja.
_#sekip.
ceshen berjalan ke arah tangga untuk menunju lantai dua setelah iya keluar dari ruangan bawah tanah iya berjalan santai dan sesekali memegang dadanya ketika mendengar suara geleduk yang sangat keras itu.
dan Samapi lah dia di depan kamar nya saat iya mau membuka pintu iya tersentak mendengar suara teriakan seseorang di samping kamar nya.
"tuh anak ngapain sih teriak-teriak"Guam ceshen dan langsung masuk ke dalam kamar nya.
Sechan berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya ke kasur iya yang melihat kilatan geleduk yang sangat dahsyat mendengus kesel.
tak lama handphone ceshen berbunyi menandakan ada panggilan masuk ceshen yang melihat itu pun menatap handphone nya dan mengangkat panggilan dari ayah nya itu.
"ceshen "ucap Johan.
"ada apa yah"ucap ceshen.
"di sini hujan dan berpetir apa di sana juga hujan"ucap Johan.
"iya di sini juga hujan yah cuma petir nya sangat kuat"ucap ceshen.
"astaga ceshen "teriak Johan Ceshen yang mendengar nya mengumpat pelan.
"apa sih yah"kesel ceshen.
"kamu cepat temui Rafani dia takut akan petir cen"ucap Johan yang tak kalah panik nya sekarang.
saat sampai di depan kamar Rafani ceshen tersentak mendengar teriakkan Rafani Tampa pikir panjang ceshen pun langsung membuka pintu itu yang kebetulan gak di kunci.
"CK, sialan kenapa gak di kunci sih pintu nya kalo ada orang lain masuk gimna"Guam ceshen pelan iya menatap kamar itu yang gelap dan kosong hanya sedikit cahaya yang di timbulkan oleh kilatan petir.
ceshen menajamkan penglihatan nya dan menyelusuri ruangan itu sampai tak lama iya melihat ringkuk kan kaki yang berasal dari bawah meja.
"fan itu Lo"ucap ceshen mendekat sosok Rafani iya ya mendengar suar itu pun tersentak iya ingin melihat siapa orang nya namun tak jadi ketika melihat keliatan petir itu.
"hiks hiks, mama tolong araa"Guam nya terisak kecil ceshen yang mendengar suara itu pun langsung berjongkok.
"heh,, Lo tenang ini gue ayokk keluar kenapa di bawah meja entar kepala Lo terhantuk lagi"ucap ceshen memegang tangan Rafani sedangkan Rafani menggeleng kecil ceshen yang melihat itu diam.
"gak mau, aku mau pulang cen hiks aku mau sama ayah"ucap Rafani terisak.
"masa Lo lupa kalo hujan kan jalan di tanjakan di tutup"ucap ceshen Rafani yang mendengar nya terdiam.
"ayokk sini ada gue jangan di bawah meja"ucap ceshen menarik tangan rafani pelan Rafani yang melihat itu pun berusaha keluar dari kolong meja.
saat Rafani sudah keluar ceshen berdiri di susul oleh Rafani ceshen terdiam menatap mata yang biasa nya tajam kini meisaratkan ketakutan iya membekap pipi Rafani supaya iya melihat nya.
"gak usah takut ada gue sekarang"ucap Ceshen Rafani yang mendengar nya mengangguk ceshen membawa Rafani keranjang dan mendudukkannya di sana.
"ko Lo bisa ke kamar gue"ucap Rafani menatap ke arah ceshen yang di samping nya.
"gue denger teriakan Lo tadi makanya ke sini"ucap ceshen Rafani hanya mengangguk.
"udah mending Lo tidur ini dah jam 11 malam"ucap ceshen menatap jam tangan nya.
"tapi masih ada kilatan nya gue gak mau tidur"ucap Rafani menggeleng ceshen yang mendengar nya menghela nafas.
ceshen menarik bahu Rafani supaya mau tidur an di atas pahanya Rafani tak menolak iya merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pahanya ceshen dengan kepala menghadap ke perut.
"udah Lo tidur biar gue temanin"Ical ceshen.
"tapi"
"gak ada tapi-tapian Lo tidur sekarang merem"ucap ceshen Rafani yang mendengar nya mendengus.
"shok akrab sekali anda"batin nya dalam hati.
namun Rafani tetap memejamkan matanya yang kini mulai mengantuk gara-gara mendapatkan elusan di kepalanya.
ceshen yang melihat itu tersenyum kecil iya menatap sekeliling kamar Rafani dan tak lama tersentak ketika melihat satu foto di sana.
iya melihat sosok gadis memakai seragam SMP drahma ceshen tentu tau dia ingat sama gadis itu yang tak lain adalah Rafani Azahra yang dulu sempet menolong nya.
ceshen Menoleh ke arah bawah iya tersenyum tipis melihat Rafani yang tertidur di paha nya.
"gue gak nyangka jika akan di pertemukan lagi dengan Lo"Guam ceshen.
"walaupun gue tau jika tubuh Lo berbeda dengan jiwa Lo ,Lo tetap sama kek dulu pemberani dan cantik tentunya "ucap ceshen terkekeh kecil mengusap rambut Rafani.
ceshen iya menggeser tubuh Rafani di atas kasur yang gak terlalu besar yang muat dengan satu orang namun ceshen tak peduli.
iya menggeser pelan tubuh Rafani dan menaiki kasur milik Rafani ceshen menarik selimut dan menutup tubuh mereka berdua di mana ceshen yang kini menarik Rafani kedalam pelukan nya.
Rafani yang merasakan itu pun menatap senyu ceshen.
"eh ,sen"Guam pelan Rafani dengan mata yang menyipit.
"udah Lo tidur "ucap ceshen sambil membenarkan tubuh Rafani iya meletakkan kepala Rafani di atas Tangan nya dan tangan satunya menepuk-nepuk kepala Rafani pelan biar bisa kembali tidur.
Rafani yang awal nya tersentak kini iya hanya diam dan membiarkan apa yang di lakukan ceshen iya meletakkan tangan kirinya di dadanya dan tangan kanan nya mencengkram kaos ceshen dan menggesek-gesek kan kepala nya di dada ceshen mencari kenyamanan setelah nya iya menutup matanya ceshen yang merasakan Rafani mencari kenyamanan di dalam pelukan nya pun serontak memejamkan matanya dan membuka nya lagi saat iya mendengar suara dengkuran halus Rafani.
"CK, gue cowok normal jika Lo lupa"Guam ceshen di atas kepala Rafani yang kini meringkuk tidur di pelukan nya dengan damai ceshen yang melihat itu menghela nafas nya panjang.