
saat ini di sebuah ruangan yang bernuansa coklat dan putih itu terdapat sosok gadis yang kini masih tertidur di atas kasur king size.
tak beberapa lama sosok itu terlihat kini mencoba membuka matanya untuk menyesuaikan penglihatan nya.
saat mata itu berhasil terbuka lebar sosok gadis tersebut menatap ke arah sekeliling nya dengan alis terangkat karena merasa asing dengan tempat sekaligus udara di sini.
sedang asik-asiknya menatap ke arah setiap sudut ruangan tersebut tak lama gadis itu tersentak ketika mendengar suara yang asing di telinga nya.
"apa bisa lakukan sekarang"ucap suara berat tersebut.
"bisa tuan saya akan melakukan apa yang anda perintahkan"ucap seseorang lagi.
"baik lah, pasti kan semua nya berhasil jika ingin nyawa mu selamat"ucap suara berat itu.
Rafani iya yang mendengar suara itu pun hanya mengangkat alis nya heran menatap ke arah pintu berwarna putri tersebut, namun tak lama matanya membulat ketika mendapati sosok laki-laki yang kini memakai kemeja putih yang bisa di simpulkan adalah dokter yang mulai berjalan ke arah nya.
sosok laki-laki tersebut masih tidak sadar jika Rafani sebenarnya sudah bangun, iya Berjalan mendekat ke arah ranjang Rafani dan mendongak menatap ke arah gadis yang kini duduk di ranjang.
"astaga, nona azahra "ucap sang laki-laki tersebut kaget Rafani iya ya mendengar ucapan laki-laki tersebut pun tak kalah kaget.
"siapa"ucap Rafani menatap laki-laki tersebut heran.
"apa anda lupa sama saya nona, saya Gibran dokter yang dulu berkerja di rumah sakit anda "ucap Gibran menjelaskan.
Rafani iya yang mendengar nama Gibran pun langsung tersentak karena sebelumnya iya sempat mendapatkan informasi dari Laura jika salah satu dokter terbaik di rumah sakit yang iya bangun tiba-tiba menghilang. dan sekarang apa ini dia di kaget kan dengan sosok itu yang tiba-tiba ada di hadapan nya.
"bagaimana kau bisa ada di sini"ucap Rafani menatap Gibran penuh akan penjelasan.
"maaf kan saya nona, saya terpaksa melakukan semuanya karena paksaan dari tuan satria"ucap Gibran merunduk, Rafani yang mendengar nya tersentak.
"satria"ucap Rafani yang di angguki oleh Gibran.
"ini di mana Gibran, dan apa tujuan nya membawa saya ke sini"ucap Rafani.
"nona kita ada di Jerman"ucap Gibran menjelaskan sambil menatap terkejut ke arah gadis di depan nya.
"dan tujuan tuan satria bawa nona ke sini ada yang tidak lain untuk menyuruh saya menyabotase ingatan nona"ucap Gibran membuat aida terkejut bukan main.
"ap-apa"ucap Rafani kaget.
"kenapa bisa begini Gibran dan apa-apaan ini. apa Lo mau jadi dokter ilegal hah"sentak Rafani menatap tajam ke arah Gibran yang kini merunduk.
"maaf kan saya nona maaf kan saya"ucap Gibran meminta maaf sambil membungkuk kan kelapa nya beberapa kali.
"apa Lo masih mau menuruti kemauan satria"ucap Rafani menatap ke arah Gibran.
"tidak nona, asal nona mau berkerja sama dengan saya. lagian saya tidak enak terhadap nona yang selama ini sudah baik terhadap saya"ucap Gibran menatap ke arah rafani.
"kerja sama apa"ucap Rafani menatap ke arah Gibran.
"nona cukup melupakan keluarga nona, dan pura-pura menganggap keluarga satria adalah keluarga nona"ucap Gibran, Rafani yang mendengar nya menatap Gibran dengan alis terangkat.
"Lo suruh gue hilang ingatan"ucap Rafani yang di angguki pelan oleh Gibran.
"tuan satria memiliki putri yang seumuran dengan nona, namun tiba-tiba putri tuan satria menghilang yang membuat tuan satria kehilangan dan ingin memiliki putri namun istrinya meninggal"ucap Gibran Rafani yang mendengar nya terdiam.
"kenapa bisa"ucap Rafani.
"saya sudah mencari tau putri tuan satria sebenarnya salah satu dari anak Arsenal, namun karena istri Arsenal pernah mengandung bayi kembar hal itu membuat keyakinan saya berkurang "ucap Gibran Rafani yang mendengar itu membalak.
apa-apaan ini apa lagi klo benar salah satu putri satria ada di Arsenal lalu gimna tentang azahra zela dan anak nya terdahulu bukan kah azahra anak Abraham dan zela anak nya apa jangan-jangan zela adalah anak satria. arghhhhh ini sangat bikin pusing.
"mungkin tuan satria menganggap nona sebagai putri nya"ucap Gibran yang membuat Rafani menggeleng.
"gue bukan anak satria gua anak yang di culik oleh Arsenal dari keluarga Abraham "sentak Rafani kuat membuat Gibran termundur kaget.
"maaf nona saya juga tidak tau, mungkin bisa aja salah satu dari nona dan nona zela adalah anak tuan satria "ucap Gibran.
"tapi jika itu benar lalu anak Arsenal di mana"ucap Rafani yang sekarang tambah bingung.
"saya sudah mencari tau tentang hal itu nona bahkan saya sudah mencari tau tentang dokter yang membuatu persalinan istri Arsenal namun sayang nya jejak dokter tersebut menghilang, sampai pada akhirnya saya di bawa pergi oleh tuan satria "jelas Gibran Rafani yang mendengar nya hanya diam.
"ini sangat ada yang janggal, jika benar zela anak satria tapi gue bisa liat jika Arsenal sangat sayang terhadap zela"ucap Rafani lagi seolah berfikir.
"apakah zela benar-benar anak Arsenal, lalu putri tuan satria di sembunyikan di tempat lain"ucap Gibran Rafani yang mendengar nya menggeleng pelan.
"jika Lo sudah beres dengan urusan gue apa rencana Lo selanjutnya "ucap Rafani menatap ke arah dokter tersebut.
"saya bisa pulang ke Eropa nona"ucap Gibran Rafani tampak berpikir.
"bantu saya Gibran, bisa kan "ucap Rafani menatap ke arah Gibran.
"apa nona"ucap Gibran.
"setelah pulang ke Eropa, pastikan Lo menemui keluarga Abraham atau Akbar dan kasih surat ini"ucap Rafani sambil memberi kan amplop berwarna putih tersebut.
Gibran mengambil amplop tersebut sambil menatap ke arah nona nya.
"baik lah nona, tapi gimna dengan nona"ucap Gibran.
"tidak apa, tidak perlu khawatir. saya yakin jika mereka membaca surat itu mereka bakal paham dan di sini saya bakal baik-baik aja"ucap Rafani Gibran mengangguk.
"baik lah nona"ucap Gibran.
"lalu sekarang apa yang bakal Lo lakuin "ucap Rafani.
"kita tinggal tunggu waktu kurang lebih 3 jam nona, saya tidak bisa keluar sekarang karena akan ketahuan nantinya "ucap Gibran Rafani pun mengangguk.
"baik lakukan sandiwara seasli mungkin "ucap Rafani yang mendapatkan anggukan kepala dari Gibran.
Rafani pun memilih untuk diam menatap ke arah luar jendela yang sempat di buka oleh Gibran, yang kini menampilkan sebuah pandangan bangunan-bangunan pencakar langit di kota Jerman tersebut dan tak lama kota tersebut mendadak turun hujan membasahi bangun-bangun itu. Rafani yang melihat hal tersebut menutup kan bibir beberapa saat sambil memikirkan semua yang di katakan oleh Gibran tdi soal satria.
"apa lagi ini"Guam Rafani dalam hati sambil menghela nafas panjang nya.